Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Gagal OTEWE


__ADS_3

Setelah banyak sekali perdebatan antara Ibra, Nadia dan Rafael terkait kepergiannya ke negara AB, akhirnya Rafael memutuskan untuk tidak berangkat ke sana dan memilih menetap di sini bersama Nadia dan calon keponakannya.


"Abis lu lahiran gua bakal pergi, udah janji nih kalian, Aga buatin kontraknya, pokoknya gua harus pergi ke negara AB" ucap Rafael.


"Aga sudah kembali berada di bawah perintah ku, kenapa menyuruhnya seperti itu," ucap Ibra yang langsung menyela ucapan Rafael.


"No no, sampai kapanpun dia tetep bakal ikut gua, gua udah terlanjur klik ama dia, cari orang buat cocok ama gua tuh susah Ibra, jadi sebagai adik ipar yang baik, si Aga buat gua ya," ucapnya lagi dengan rayuan maut versi imut.


"Abang, tapi kenapa pake kontrak, abang nggak percaya sama Nadia... abang kan keluarga Nadia satu-satunya, Nadia nggak mau kalo harus kehilangan keluarga Nadia lagi, negara AB itu negara dengan kejahatan paling banyak bang, Nadia nggak bisa kalo abang harus pergi ke sana." ucap Ibu hamil yang saat ini mulai mudah sekali terbawa perasaan.


"Astaga Nadia... abang kan pergi juga buat perusahaan, mati dari mana coba... abang nih yang buat senjata, abang juga harus lihat kejahatan seperti apa yang sedang trend di sana,biar abang bisa bikin produk baru ngerti?" ucapnya yang sudah pasrah mendengar rengekan adik kecilnya ini sejak tadi.


"Nggak ngerti... nggak mau tau pokoknya nggak boleh pergi, titik," ucapnya lagi tanpa bisa di bantah.


"Bukannya nggak percaya, tapi mana tega gua pergi kalo lu kayak gini lagi abis lahiran dek, auto iya iya aja gua akhirnya kalo lu yang bilang, mana wajah lu makin kesini makin mirip banget sama almarhum mommy, aish..." batin Rafael.


"Hm.... Aga... kau ingin tetap menjadi asisten pribadi Rafael atau kembali ke Harbank untuk membantuku secara langsung di sana,"


"Saya akan menjadi asisten tuan Rafael tuanku," jawab Aga tanpa berfikir yang membuat semua orang tercengang.


"Woo hoooo good job Aga.... you are the best," ucap Rafael yang mengacungkan empat jempol ke atas termasuk ibu jari kakinya pada Aga yang duduk di depannya.


Terlebih Ibra, laki-laki itu kini melonggarkan tali dasinya, "kenapa memilihnya ? apa yang spesial dari Rafael?" tanya Ibra.


"Tidak ada, itu hanya karena tuan Rafael sedikit gila, saya suka tantangan ketika bersamanya tuanku,"


Rafael yang saat itu mendengar ucapan Aga segera melemparkan sandal rumah saat itu di pakainya di tubuh Aga, "lu nggak bisa cari alasan yang lebih buruk ? aish.... sia sia gua muji lu," tambah Rafael.


"Hehe... akhirnya anda gagal otewe tuan... " ejek Aga dengan menampilkan seluruh deretan giginya.


"Awas lu... sini lu... sini.... " teriak Rafael berlari mengejar Aga.


Pada akhirnya, keluarga ini akan selalu berakhir dengan perdebatan dan keributan-keributan kecil yang justru membuat hangat seluruh rumah ini, seperti itulah mereka.

__ADS_1


***


Waktu berlalu begitu cepat, dengan banyaknya aktifitas dan kegiatan baru di Delta Internasional, tak terasa sudah hampir delapan bulan usia kandungan Nadia, perutnya kini kian membesar, yang mana membuat Ibra semakin protective padanya.


Ibra bahkan selalu mengikuti dan mendampingi Nadia ketika melakukan olahraga dan senam hamil di dalam rumah, karena Ibra memang tidak bisa jika mengikuti jadwal kelas hamil di luar di tengah jadwal padat nya.


Seorang perawat selalu stand by di samping Nadia setiap saat selama Ibra meninggalkan nya untuk bekerja, seluruh rumah sudah di pasang perekam rahasia milik Rafael, bahkan penjagaan rumah yang ketat juga sudah mereka siapkan.


Semua orang sangat berhati-hati dalam menjaga Nadia akhir-akhir ini, tidak boleh ini tidak boleh itu sudah menjadi sesuatu yang wajib Nadia dengar setiap hari.


Bahkan Aisyah selalu melakukan pemantauan langsung pada Nadia via video call hampir setiap hari, karena ini adalah cucu pertama keluarga ini, keturunan pertama setelah semua pembantaian yang terjadi pada generasi sebelumnya (generasi Ibra dan saudara-saudaranya).


Setelah melakukan senam hamil, Ibra membawa Nadia perlahan ke dalam kamar mereka, "mas Ibra... mas Ibra sakit? kenapa sampai muncul keringat dingin seperti ini ketika kita berada di dalam ruangan dengan suhu dingin seperti ini ?" tanya Nadia begitu melihat beberapa butir keringat yang bahkan sudah jatuh.


"Aku hanya terlalu lelah, akhir-akhir ini kepalaku sering pusing, mungkin kurang tidur," ucap Ibra kemudian membuka pintu kamar mereka yang masih gelap gulita.


"Mas harus jaga kesehatan juga dong, jangan terlalu lelah bekerja,"


"Sayang... maunya di panggil sayang mas,"


"Sejak hamil jadi makin manja ya anak daddy ini," ucap Ibra yang sudah mendaratkan kecupan bertubi-tubi pada perut Nadia.


Melihat sebuah gerakan di perut Nadia secara langsung membuat tangan Ibra mengelus pelan perut itu, "dek... satu bulan lagi kita main ya... sekarang kalo main jangan keras-keras, kasian mommy nya nak,"


"Dia ngerti mas," ucap Nadia ketika bayinya mulai bergerak-gerak pelan.


"Tentu dong, anak daddy kan anak hebat," puji Ibrahim lagi.


Nadia tersenyum, kemudian mengelus wajah di hadapan nya ini pelan, "mas mandi dulu ya, Nadia siapkan airnya," ucapnya sudah menggerakkan kaki yang kemudian sudah di tahan oleh Ibra.


"Ada banyak pelayan di rumah ini, biarkan mereka saja yang menyiapkannya,"


Nadia mengangguk kemudian menekan tombol di tangannya, tak selang berapa lama, dua orang pelayan mengetuk pintu kamar itu.

__ADS_1


"Masuk... "


"Ada yang bisa kami bantu nyonya,"


"Siapkan air untuk suamiku, pilih yang wangi bunga segar berwarna ungu, untuk takaran air dan apa saja yang akan menjadi campurannya, kalian bisa melihatnya di buku catatan yang ada di kamar mandi," jelas Nadia.


"Baik nyonya,"


"Apa yang harus kami siapkan untuk baju tuan nyonya," tanya pelayan lagi.


"Aku akan menyiapkan bajuku sendiri, pergilah," perintah Ibra.


Nadia yang siapkan mas, "nggak usah sayang, udah... jalan aja kamu udah susah dengan perut sebesar ini, sekarang cukup duduk di sini dan tunggu aku," ucapnya.


"Sayang...?" ulang Nadia dengan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya.


"Senang?" tanya Ibra yang melihat mata berbinar itu.


"Hu uhm... sangat senang... " ucapnya.


"Mas Ibra... terimakasih... " tambahnya lagi dengan sangat bahagia.


Ibra yang melihatnya juga ikut tersenyum, seperti ada sebuah energi yang tersalur begitu saja ke tubuhnya.


"Mas Ibra.. nanti begitu anak ini lahir, Nadia boleh ikut bantu abang El di Cyber... " tanyanya polos yang reflek mendapat tatapan sinis Ibra tidak suka.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.


Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe


Salam sayang semua.

__ADS_1


__ADS_2