
"Sakti yang akan mimpin, gue cuma bilang bakal nyiapin beberapa orang, bukan berarti gue sendiri bakal turun
tangan, gue juga punya tugas buat menjamin keselamatan nya," tunjuk nya pada Nadia.
"Nadia bisa jaga diri sendiri bang, nggak perlu pakai jamin menjamin, kayak apa aja, abang bisa mimpin itu tadi yang di bilang om Ibra," jelasnya.
"Emang lu tau apa yang dibilang Ibra ?" tanya Rafael.
"Sekali dayung dua pulau terlampaui kan ? intinya menyelamatkan aku dan juga menyelamatkan nona Anna
meskipun akhirnya aku akan menggantikannya berada dalam bahaya sebagai orang yang dikenal publik sebagai istri om Ibra," jelas Nadia yang langsung faham dengan senyum, sejujurnya hatinya kini sedang dalam dilema, ia juga tidak tau apa yang ia rasakan.
"Anda tidak menggantikan nona, anda tetap anda, jika itu anda yang ada di posisi nona Anna, kami juga akan
melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan anda," ucap Sakti penuh keyakinan.
"No, no, sekalipun yang dikatakan bang Sakti salah, Nadia juga gak masalah kok. Nadia udah cukup bersyukur dengan hidup Nadia sekarang,"
"Bagus, aku memang butuh istri yang cerdas dan cepat tanggap sepertinya," ucap Ibra kemudian
mengacak-acak rambut Nadia tanpa ada perasaaan bersalah.
"Aku akan segera menemukan kamu An," batinnya sumringah tidak sabar.
Berbeda dengan Ibra, kini Sakti dan Rafael menatap Nadia dengan intens, mereka menangkap guratan aneh di wajah gadis belia itu, "Bagaimana perasaan nona sekarang ? tuan muda benar-benar tidak peka atau pura-pura tidak peka, bagaimana mungkin beliau berbicara dengan ekspresi aneh seperti itu, seolah nona bukan siapa-siapa,"
"Nih orang benar-benar, nggak bisa bohong dikit apa buat bahagian orang, gua tinju juga lu,"batin Rafael geram menatap Ibra yang bahkan merasa biasa saja seolah tidak ada yang terjadi.
Setelah perbincangan yang menurut Nadia sangat menyesakkan itu, akhirnya Ibra dan Sakti beranjak karena ada rapat dengan beberapa klien penting di ruangannya dan meninggalkan Nadia dengan Rafael di ruangannya untuk sementara waktu.
Setelah kepergian Ibra dan Sakti raut bahagia dan polosnya ikut pergi entah kemana, Nadia terus menerus merenung di sudut ruangan dengan menatap jendela yang langsung mengarah ke arah keramaian ibu kota, tatapan matanya sendu, sesekali air mata merembes dari sudut matanya, namun dengan cepat ia menghapus dengan ibu jari tangannya agar tidak terlihat oleh Rafael.
Awalnya Rafael berusaha acuh dan tidak terlalu peduli dengan perasaan Nadia, terlebih jika harus ikut campur
dengan hubungan pernikahan Ibra yang dia sangat jelas tau seperti apa, "Huffttt......"
Laki-laki itu kemudian beranjak dari kursi putarnya dan mendekat tepat di belakang gadis itu, "Ibra, tampan,
cerdas, kuat, suka menolong sesama dan hampir nggak pernah melumuri tangannya dengan darah, seseorang sepertinya mungkin aja udah mulai punah di dunia bisnis yang kejam ini, sangat wajar kalo lu jatuh cinta sama orang kayak dia, jadi jangan menyalahkan diri sendiri dengan perasaan itu, ?"
Nadia menoleh, "Aku tidak mencintainya, aku hanya merasa sedih aja gak tau kenapa," tambahnya.
"Sebagai abang lu, gua cuma mau pesen satu hal, cinta itu soal perasaan, kita emang nggak bisa ngendaliin siapa
__ADS_1
yang bakal kita cintai, tapi kita bisa milih,"
"Eh, abang bisa juga bijak ternyata," tanya Nadia sedikit heran.
"Pilih apa yang buat lu bahagia,"
"Om Ibra," jawab Nadia singkat.
"Sekarang lu bisa milih itu karena masih belum ada Anna di antara kalian berdua, gimana kalo Anna balik ? gua nggak yakin pilihan lo bakal sama," tambah Rafael.
Nadia terdiam, selama ini dia memang tidak pernah berfikir sampai sana, yang ia rasakan hanya merasa aman dan nyaman ketika berada di sisi Ibra, rasa syukurnya tidak pernah berhenti karena sosok yang menikahinya adalah Ibra. Namun hari ini pertanyaan bagaimana jika ada Anna benar-benar mengusiknya
"Paling nggak di usia ini gue lebih banyak makan garam kehidupan dari pada lo," jelas Rafael lagi.
***
Sore itu Ibra menyelesaikan pekerjaannya seperti biasa bersama Sakti, laki-laki itu selalu ingin segala hal tepat waktu dan estimasi, baik dalam perkiraan waktu maupun dana yang harus di keluarkan dalam sebuah proyek, semua harus tepat sesuai dengan anggaran yang sudah disepakati di awal.
"Panggil Nadia, kita akan pulang bersama sekaranv," perintahnya pada sakti.
"Hai om, Nadia sudah ada di sini, ayo kita pulang," ucapnya kembali riang yang baru saja memasuki
ruangan Ibra bersama Rafael dengan melambaikan kedua tangannya, ia berusaha sekuat tenaga untuk melupakan apa yang dia dengar dan lihat tadi.
"Baguslah, kita pulang sekarang," ucap Ibra yang kembali mengancingkan jas kemeja yang baru saja ia lepas kancingnya.
Nadia mendekati Ibra kemudian mengalungkan tangannya dengan lengan kekar Ibra, "Apa yang kau lakukan gacil ?" tanya Ibra kemudian dengan tatapan mata masih melihat tangan Nadia yang
berada di lengannya.
"Semua orang sudah mengetahui hubungan kita om, akan sangat aneh jika kita baru saja menikah tapi aku malah menggandeng tangan bang El atau bang Sakti, iya kan ?," jelasnya masuk akal dengan senyum ceria.
"Cerdas banget nih bocah, saat semua anak seusianya masih pada nongkrong dan ketawa-ketawa bareng temen sesukanya, dia malah terjebak dengan ketiga pria tua membosankan seperti kita, eh tapi gua belum setua itu juga sih," gumam Rafael dalam hati.
"Oh, oke ayo pulang, kita satu mobil saja El, biar keliatan akur," ucap Ibra lagi.
"Bilang aja lu mau irit bahan bakar kan ?, pakai alasan biar akur segala, nggak guna udah basi alasan lu,"
"Itu lu tau, bahan bakar pesawat lu aja udah keliatan, belom kapal pesiar yang di hawai, jangan lupain juga hewan-hewan yang lu anggep lucu itu, lu pikir siapa yang kasih mereka makan ha ?"
"Hehe elu kan baik bro," ucapnya kemudian.
Dengan langkah cepat laki-laki itu mengikuti langkah Ibra, Nadia dan Sakti yang sudah mendahului nya berjalan.
__ADS_1
"Jangan terlalu dengan El, kau akan semakin aneh jika dekat dengannya," ucap Ibra pada Nadia.
"Bang El alien om ?"
"Adik abang yang cantik, dari mananya abang terlihat seperti Alien ?" ucap Rafael yang tidak mendapat respon dari siapapun.
Saat ini mereka sudah memasuki lift yang mulai merangkak turun ke lantai dasar, dengan Rafael dan Sakti yang ada di belakang, Nadia yang berada di depannya justru tertawa pelan, karena Rafael akan menggila jika tau dirinya sedang menertawakan nya.
Ting, Pintu lift terbuka.
"Mohon maafkan kami tuan muda," ucap semua orang serentak.
Nadia menatap tak percaya kerumunan orang yang saat ini berada di hadapannya, puluhan orang berbaris rapi di depan lift tempatnya berdiri saat ini, "Apa yang mereka lakukan,"
Sakti keluar lebih dulu menghadang kerumunan orang itu agar tidak mendekat ke arah Ibra dan bertindak anarkis.
Setelah Sakti keluar, Rafael mengambil alih atas keamanan Ibra dan Nadia, pintu lift tertutup otomatis setelah Rafael menekan sesuatu di balik jas yang ia kenakan, dan tanpa menunggu lama lift mulai bergerak ke bawah, ini adalah jalan rahasia yang sengaja di buat khusus untuk melindungi Ibra jika terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Kita kemana om," tanya Nadia saat pintu lift terbuka dan hanya kegelapan yang ia lihat di depan matanya.
"Diam dan jangan banyak bertanya," tambah Ibra lagi.
Ada sebuah mobil tak jauh dari lift yang tadi digunakan Ibra, "silahkan masuk tuan," ucap Rafael yang tidak pecicilan seperti biasanya.
"Hah, bang El kok jadi berubah gini,"
"Sterilkan lokasi, kita hampir sampai," ucapnya pada sosok yang Nadia tidak ketahui siapa, yang pasti Rafael tidak menggunakan telfon untuk berbicara saat ini.
Tempat ini seperti sebuah lorong bawah tanah berukuran besar dan panjang, setelah sepuluh menit melakukan perjalanan dengan mobil, terlihat sebuah dinding terbuka ke atas, pintu dengan cepat tertutup setelah mobil yang di kendarai Rafael melewatinya.
"Parkiran? ada pintu rahasia di sebuah parkiran umum, siapa sebenarnya suamiku ini ?"
.
.
.
Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.
Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.
Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.
__ADS_1