
"Ada apa?"
"Tidak ada apa-apa tuan muda, silahkan di lanjutkan, saya mohon maaf," ucapnya dengan membungkuk kepada semua orang.
Namun tatapan Ibra masih tidak berhenti menatap Sakti penuh curiga, perasaanya tidak enak dengan gelagat Sakti yang tidak biasa.
"Jangan menatap saya seperti itu tuan muda," batinnya ketika Ibra tetap tidak berpaling darinya sejak tadi.
"Saya rasa pertemuan kita cukup sampai di sini, jika masih ada yang perlu di tanyakan, kalian bisa bertanya langsung pada Sakti yang berdiri di samping saya," jelas Ibra seolah memberi penekanan bahwa ia harus segera pergi dari sini begitu ia bangun dari duduknya.
"Sangat susah berbohong kepada tuan muda dengan kepekaan beliau ini, beliau tidak bisa melihat perubahan orang sedikit saja," batin Sakti lagi.
Semua orang ikut berdiri ketika sosok muda itu mulai bergerak melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan di ikuti Sakti di belakangnya.
"Berikan ponselku?" ucapnya dengan mengulurkan tangan ke arah Sakti dengan mimik wajah serius.
"Matilah aku saat ini,"
"Ku bilang berikan ponselku?" bentak Ibra lebih keras tidak peduli bahkan ketika semua orang menatap mereka saat ini.
Mendengar suara Ibra yang kian meninggi, membuat Sakti tidak bisa membantah dan berkata-kata apapun, ia merogoh saku jasnya dan mengambil ponsel Ibra.
Dengan cepat Ibra mengambil ponsel di tangan Sakti begitu saja, kemudian melihat semua pesan masuk yang baru saja terkirim ke ponselnya.
"NADIA MELAHIRKAN!!!!!"
Sebuah pesan teks dari Luna benar-benar membuat laki-laki itu panik, ia bahkan tidak sempat marah kepada Sakti dan berlari begitu saja.
Hingga kemudian ia berhenti menoleh kepada Sakti, "kenapa masih berdiri di sana? kita harus cepat ke rumah sakit," ucap Ibra ketika Sakti masih berdiri di tempatnya menatap Ibra.
"Saat ini anda harus pulang terlebih dahulu tuan muda, saya akan menggantikan anda menemui client dalam satu kali rapat lagi," ucapnya.
"Lupakan tentang mereka, kenapa kau selalu di sibukkan dengan pekerjaan, anakku lebih penting," tambahnya.
Bukannya mendekat, Sakti bahkan melempar sebuah kunci mobil yang berada di saku jasnya yang lain.
"Kau berani melempar sesuatu padaku????? "
__ADS_1
Sakti tersenyum, "saya juga ingin memberikan anda akhir yang bahagia, salah satunya dengan semakin kuatnya Delta, anda harus pulang sekarang tuan muda, nona sedang menunggu anda," ucap Sakti dengan senyum anehnya itu.
"Aku akan pergi, pastikan kau benar-benar memberikan akhir yang bahagia untukku," ucap Ibra yang seketika berlari begitu menyelesaikan ucapannya.
Sakti hanya tersenyum menatap punggung Ibra yang sudah menghilang di balik pintu full kaca.
"Anda harus bahagia dan menikmati hidup anda mulai sekarang tuan muda,"
***
"Ayo cepat pulang, kalian semua pastikan semua habis tanpa sisa, jangan sisakan satu pun nyawa, atau aku yang akan mengambil nyawa kalian," teriaknya sebelum pergi dengan berlari.
"Tenang tuan, anda jangan berlari seperti itu," ucap Aga yang sudah kuwalahan dengan gerakan kaki Rafael yang dengan lincah melompat kesana-kemari dengan mudah.
"Ayo cepat... keponakan gua bakal lahir nih, gua nggak boleh kehilangan momen langka di hari kelahiran nya," tambah laki-laki itu masih dengan langkah yang semakin cepat.
"Tuan... tapi tolong berjalan dengan tenang, kita sedang berdiri di tepi tebing saat ini, jika anda tergelincir maka anda tetap tidak akan bisa menemui keponakan anda," tambah Aga yang khawatir campur kesal.
"Lu khawatirin diri lu sendiri kan sebenernya, karena lu nggak pernah lewat medan kayak gini,"
"Anda sudah tau tuan, jadi tolong pelan kan langkah anda, tuan ku Ibrahim juga pasti sudah berada di sisi nyonya Nadia saat ini," jawab Aga yang memang seratus persen takut, ini kali pertama dia melangkah di samping maut seperti ini.
"Inilah bedanya pro dan tidak, aku masih sangat awam dengan dunia ini," batin Aga.
***
Nadia sudah masuk ke dalam ruangan bersalin dengan Luna, dokter kandungan dan dua orang perawat di sampingnya.
Wanita itu masih terdiam menahan rasa sakit di perutnya bagian bawah, iya hanya menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit tanpa mengeluarkan suara.
"Nadia... kau bisa menangis bahkan berteriak jika memang sakit," ucap Luna yang saat itu tidak tega dengan gadis kecil di depan matanya ini.
Nadia tersenyum meskipun terlihat sekali di paksakan, "mas Ibra belum datang? aku hanya takut membuatnya khawatir, dia pasti sedang terburu-buru mengendarai mobilnya saat ini," jelas Nadia memaksakan mulutnya bergerak agar Luna bisa lebih mempercayainya.
"Bagaimana ? apakah sudah waktunya?" tanya Luna pada rekan dokter wanita di depannya.
Dokter itu menggeleng, "pembukaannya belum lengkap dok, kita masih harus menunggu beberapa saat ini," jawab dokter tersebut.
__ADS_1
"Duh... apa kita nggak bisa operasi saja? Ibra pasti bakal marah-marah kalo tau istrinya kesakitan kayak gini,"
"Nyonya sudah berbicara dengan kami, beliau ingin melahirkan secara normal dok," jelas dokter tersebut.
Tak lama pintu ruangan terbuka, Ibra baru saja muncul dari sana, "bagaimana? bagaimana keadaan istriku?" tanyanya pada semua orang, bukan bayinya, ia lebih dulu menanyakan Nadia.
"Mas.... mas Ib..ra... " ucap Nadia dengan masih menggigit bibirnya.
Ibra langsung mendekat pada istrinya itu, melihat wajah pucat penuh keringat itu membuat seluruh tenaganya runtuh, "apa sangat sakit?" tanyanya.
Nadia menggeleng pelan namun terlihat sekali gurat kesakitan di wajah Nadia, itu terlihat jelas.
"Kita bisa operasi, kita operasi saja ya, aku tidak bisa melihatmu kesakitan begini," tambah Ibra.
"Ah...." rintih Nadia dengan tubuh yang semakin melemah.
"Pembukaan sudah mendekati sempurna tuan, tolong anda bantu kami untuk tetap menguatkan nyonya muda," ucap dokter tersebut.
Perut Nadia semakin mulas, wanita itu sudah tidak kuat lagi rasanya, sakitnya sudah tidak mampu ia tahan, ia berusaha tetap membuka mata agar tidak terjaga dengan tangan Ibra yang sudah iya genggam sedari tadi, ia bahkan tidak sadar jika kuku jari jemari nya melukai Ibra.
"Nadia... kuat ya sayang... kamu pasti bisa lewatin ini, istriku kuat, kamu bisa," ucap Ibra dengan mata berair yang terus mengecup kening istrinya itu.
"Sudah waktunya nyonya, dorong perlahan nyonya... sedikit lagi... " suara riuh dokter dan perawat bersahutan memenuhi ruangan itu, Ibra tidak bergeming dari wajah Nadia, laki-laki itu tetap menatap wajah kesakitan Nadia di bawahnya dengan iba.
Hampir empat puluh lima menit Nadia berjuang di temani Ibra di sana, namun mereka semua masih belum juga kunjung keluar.
Semua orang selain Rafael dan Aga kini sudah menunggu di depan ruangan dengan was was, Attar dan Abrar sudah mondar mandir di sana berkali-kali, mereka gugup bukan main.
Aisyah dengan tasbih kecil di tangannya berdzikir tanpa henti agar cucu pertamanya bisa lahir dengan selamat.
"Oek.... oekkkk... "
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
__ADS_1
Salam sayang semua.