Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Luv Daddy


__ADS_3

Saat ini Nadia dan Ibra sudah bersiap mendekati lift dengan dua orang pilihan di belakang mereka yang bertugas untuk selalu siaga dengan apa yang akan terjadi setelah Sakti dan Rafael harus di bius sementara waktu.


"Kau sudah siap?" tanya Ibra pada Nadia.


Nadia menggenggam jari tangan Ibra semakin erat, sejujurnya ada perasaan gugup ketika harus di hadapkan dengan puluhan orang yang hendak mewawancarai nya, ini merupakan hal baru.


"Kita tidak perlu menjawab pertanyaan mereka panjang lebar, jawaban resmi akan mereka dapatkan ketika jumpa pers di adakan oleh daddy, jadi tenanglah," ucap Ibra.


Ibra hanya mengenakan kaos dengan setelan jas berwarna hitam di tubuhnya, kesan formal yang biasa ia tunjukkan dengan kemeja dan dasi untuk sementara berusaha ia hilangkan, sama halnya dengan Nadia, gadis itu juga hanya mengenakan pakaian sewajarnya dengan tidak memberikan kesan berlebihan, dress selutut berwarna senada dengan setelan jas yang di pakai Ibra menjadi pilihannya, kesan anggun dan sopan melekat padanya dengan busana yang ia kenakan.


Tak terasa pintu lift terbuka, semua orang berhamburan mendekat ketika tau Ibra dan Nadia melangkah keluar dari dalam pintu besi otomatis itu.


"Tuan Ibra, itu tuan Ibra," teriak salah seorang di antaranya.


"Tuan bagaimana tanggapan anda tentang IA entertainment yang sudah bukan menjadi milik anda?"


"Apa yang terjadi dengan kedua sekertaris pribadi anda tuan Ibra? bagaimana bisa mereka bisa berakhir di sini?"


''Apa kondisi pak Sakti dan pak Rafael benar-benar parah hingga anda segera datang ke rumah sakit tanpa persiapan apa-apa?"


"Apa kehancuran perusahaan anda adalah salah satu sebab dilarikan nya kedua sekertaris anda ke rumah sakit?"


Semua pertanyaan keluar dari mulut satu persatu orang yang ada di sana, bahkan saking banyak nya membuat Ibra tidak begitu jelas mendengar pertanyaan mereka.


Nadia semakin menggenggam erat jari jemari Ibra, telapak tangan gadis itu sudah penuh dengan keringat dingin karena panik berada di situasi ini, sangat jauh berbeda dengan sikap tenang yang di tunjukkan Ibra kepada pencari berita.


"Kalian tidak lihat istriku sudah ketakutan karena kalian mengajukan banyak sekali pertanyaan, dia sudah cukup shock dengan apa yang terjadi pada kedua abangnya, jadi tolong jangan membuatnya semakin khawatir dengan pemberitaan yang ada di media," ucap Ibra senyum dengan sesekali bergantian menatap mata Nadia dan para wartawan.


Mendengar ucapan Ibra, ada beberapa orang yang tersenyum, ada juga yang tetap tidak menghiraukan perkataan Ibra, beberapa lagi menatap Nadia yang memang terlihat mematung sambil menggenggam erat jari suaminya.


"Bisakah kami mengajukan beberapa pertanyaan tuan?" ucap salah seorang di bagian paling depan.

__ADS_1


"Kita tunggu jadwal jumpa pers yang akan segera saya umumkan, sampai saat itu kami tidak akan menjawab pertanyaan apapun," tegas Ibra.


"Benarkah ini terjadi karena anda tidak ingin di jodohkan dengan wanita yang sudah di siapkan untuk anda? apa alasan anda untuk tidak menerimanya?" tanya orang yang tidak di kenal, pria bertopi itu berada di tengah kerumunan namun suara yang keluar benar-benar terdengar nyaring, "siapa dia ? sangat sulit melihat wajahnya dengan topi itu," batin Ibra.


Nadia menatap tajam seorang pria yang menanyakan pertanyaan mengesalkan menurutnya, ketakutannya seolah hilang tergantikan dengan emosi ketika mendengar nya, "karena suami saya tidak ingin, kenapa dia harus repot-repot melakukan sesuatu yang ia tidak inginkan, itu hal yang sangat sederhana, saya rasa anda sendiri bisa menjawabnya," jawab Nadia kesal setelah mendengar pertanyaan orang itu.


Ibra menatap Nadia tidak percaya, kemudian ia menarik jari jemari yang masih bertautan itu lalu menepuk pundak Nadia dengan senyum, "come on honey, kita harus pergi sekarang,"


"Beri jalan.... " ucap seseorang yang berada di belakang Ibra dan Nadia untuk mengamankan massa.


"Tuan, anda masih memiliki seseorang seperti pengawal, bagaimana mungkin anda masih memilikinya ketika perusahaan anda sedang dalam keadaan seperti ini, apakah anda masih memiliki dana cadangan atau seperti tabungan untuk keadaan darurat?" tanya yang lain lagi ketika Ibra sudah berada di tengah kerumunan hendak keluar dari lobby rumah sakit, namun hanya seringai yang keluar dari bibir Ibra saat itu.


"Jelas dia punya, dia putraku, dia masih memiliki aku sebagai ayahnya," ucap Attar tegas yang saat ini sedang di kawal oleh seseorang ketika berjalan di tengah-tengah kerumunan orang.


Kedatangan Attar semakin menghebohkan wartawan, yang mereka tau sebelumnya keluarga besar Attar tidak pernah turut campur dalam pendirian dan pembangunan IA entertainment, apalagi dalam hal pengelolaannya, namun sangat tidak di duga ketika dalam masalah seperti ini beliau datang untuk mengulurkan tangan kepada putranya.


"Daddy... " ucap Nadia kemudian meraih punggung tangan Attar dan menciumnya.


Gadis itu tersenyum ketika Attar mengelus rambutnya, "kami baik-baik saja dad," jawab Nadia.


"Sakti dan Rafael?"


Sebelum Ibra dan Nadia sempat menjawab pertanyaan Attar, pintu lift terbuka dan terlihat dua ranjang pasien di dorong keluar dari sana beserta alat-alat nya, dimana semakin membuat riuh para wartawan bergegas mengambil gambar dari apa yang mereka lihat.


"Pergilah bersama dengan mereka, daddy yang akan mengurus di sini," ucapnya pada Ibra.


"Jumpa pers akan di umumkan waktunya di website resmi perusahaan saya, sampai saat itu mohon kerjasama nya untuk tidak memberitakan hal-hal buruk yang belum jelas kebenarannya," tegas Attar.


Berbeda dengan Ibra yang berusaha mengeluarkan senyum dengan wajah tertekan, Attar sungguh tidak tersenyum sama sekali, "om Ibra bisa belajar akting seperti ini dari mana, dia benar-benar terlihat frustasi dengan senyum menyakitkan seperti itu," batin Nadia tidak percaya.


Ibra dan Nadia berjalan di belakang ranjang dorong Sakti dan Rafael, keduanya tetap menggenggam tangan satu sama lain, sementara Attar masih berdiri di tempatnya melihat ke arah putra putrinya yang sudah keluar dari pintu lobby.

__ADS_1


Flashback On


Malam itu Attar sedang duduk di meja kerja di rumahnya, mendengar berita tentang kondisi Sakti dan Rafael yang tidak baik dari salah satu orang suruhannya, kemudian ia langsung menghubungi Ibra.


"Halo Ibra.... " ucap Attar kala itu to the point.


"Plan B," jawab Ibra kemudian memutus sambungan telfon.


Attar beranjak dari duduknya, "Lusy...... Lusy..... " teriaknya.


"Kenapa teriak-teriak dad ? ada apa ? daddy butuh apa ?" tanya Aisyah yang saat itu kebetulan lewat di depan meja kerja suaminya.


"Iya tuan besar," sahut Lusy yang baru saja datang dengan lari tergopoh-gopoh.


''Hancurkan perusahaan Ibra," perintahnya yang mana semakin membuat Aisyah melongo tak percaya.


"Kerugiannya tuan ?"


''Akan menjadi keuntungan ku, dan milikku akan menjadi milik Ibra juga," tegasnya pada Lusy.


"Malam ini !! aku ingin besok pagi semua media sudah memberitakan tentang ini, dan jangan sampai bocor," tegasnya lagi.


"Laksanakan tuan," jawab Lusy.


"Pergilah," perintah Aisyah kemudian.


"Daddy ....? apa yang terjadi?"


"Kita harus menghancurkan perusahaan itu sebelum ibu yang menghancurkan nya, jika perusahaan itu menjadi milikku, Ibra masih bisa memilikinya nanti, tapi jika ibu yang mengambilnya aku yakin hanya ancaman yang akan Ibra dapatkan,"


Flashback Off

__ADS_1


__ADS_2