Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Pamali


__ADS_3

"Dasar gak guna, bisanya ngomong terus dalam hati, keluar dari ruangan saya, " Sakti melongo seketika, gimana caranya tuan muda bisa tau sih, dia ada ilmu gituan kali yak, Sakti terus berbicara dalam hati sambil keluar dari ruangan kerja Ibra.


"Awww ... " ucap sakti ketika sebuah mouse mendarat di kepalanya.


"Ampun tuan muda" ucapnya sambil berlari pergi sebelum barang-barang yang lain juga mendarat di kepalanya.


***


Ibra kembali ke rumah keluarga besarnya ketika hari sudah menjelang malam, meskipun Ibra tidak menginginkan pernikahan ini namun tetap saja pernikahan membuat hatinya merasa tidak tenang karena takut melakukan kesalahan dan mempermalukan diri sendiri pada saat ijab qobul nanti.


Mobil keluaran terbaru berwarna biru itu memasuki halaman rumah besar yang sudah di sambut oleh semua pelayan, ini adalah pertama kalinya dalam sepuluh tahun Ibra kembali ke rumah.


Sekelebat ingatan muncul dalam ingatannya ketika ia melihat rumah besar itu, beberapa keringat dingin mulai membasahi dahinya, ingatan itu datang lagi seketika tanpa bisa di hentikan. "Ibraaa, ibraaaaa ......" suara seseorang yang memanggil namanya sembari menangis masih terasa jelas masuk di dalam gendang telinga Ibra.


"Tuan muda, tuan muda" ucap Sakti sembari menggoyangkan tubuh tuannya.


Ibra masih terus tenggelam dalam suara yang terus memanggil-manggil namanya. Tubuhnya semakin bergetar dengan tangan menutup kedua daun telinga. Mereka masih di dalam mobil dengan puluhan pelayan yang menatap ke arah mereka karena tuannya tidak kunjung keluar. Sakti segera mengambil obat di dalam laci depan mobil yang biasa di konsumsi tuannya ketika ingatan itu tiba-tiba muncul.


Sakti dengan hati-hati memasukkan obat tersebut kedalam mulut Ibra dan segera menyerahkan air mineral yang sebelumnya sudah ia buka tutupnya. Keringat dingin masih terlihat jelas di dahi Ibra, Sakti segera keluar dari mobil meninggalkan Ibra untuk menenangkan diri terlebih dahulu.


Sakti melihat satu persatu pelayan yang sudah berbaris rapi menunggu tuannya, hingga manik matanya berhenti tepat pada seorang laki-laki paruh baya kemudian tersenyum, "Masih ada pekerjaan yang harus dilakukan tuanku di dalam mobil, anda tidak perlu datang sendiri menyambut kedatangannya, " ucap Sakti.


Laki-laki paruh baya yang di panggil pak Mul itu tersenyum dengan mata menelisik apa yang di lakukan Ibra di dalam mobil, "bagaimana mungkin saya tidak menyambut kedatangan tuan muda yang sudah hampir sepuluh tahun tidak pulang." balasnya pada sakti dengan tersenyum.


Tak lama muncul Lusy dari balik pintu rumah dengan setelan celana dan jas menutup tubuhnya, kesan tua sangat jauh ketika melihat wanita itu paruh baya itu, ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri mencari keberadaan Ibra yang tidak tampak sama sekali batang hidungnya. "Dimanakah keberadaan tuan muda, Sakti ? kenapa dia tidak ada bersamamu ?" ucapnya heran ketika hanya melihat Sakti seorang diri.


Ibra yang sedari tadi menetralisir keadaannya di dalam mobil sudah mulai merasa kembali normal, suara-suara yang ia dengar memanggilnya perlahan menghilang. Ibra mengedarkan pandangannya di luar mobil dan melihat ada Lusy sedang mencarinya di sana.


Tanpa sadar tangan itu terkepal ketika melihat Lusy secara langsung, Wanita tua itu sungguh membuat amarahnya perlahan naik.


Brakkk,


Ibra menutup pintu mobil dengan suara keras hingga membuat semua mata menoleh ke arahnya, "Kau tidak mendidik mereka dengan baik Pak Mul ???" tanyanya pada pak Mulyono dengan tangan mengarah kepada beberapa pelayan yang berani menatap ke arahnya.


"Maafkan saya tuan muda, saya akan memperingatkan mereka, anda sangat tampan dan gagah sekarang, siapa yang tidak ingin melihat anda," ucap pak Mul dengan masih tersenyum.

__ADS_1


"Pecat atau pukul mereka seratus kali karena sudah berani menatapku, aku bukan pameran yang bisa dinikmati semua orang." ucap Ibra dengan mata yang sudah berapi-api menatap tajam pak Mul dan Lusy.


Ibra berjalan melewati para pelayan bak super model berjalan di karpet merah dengan pandangan mata mematikan masih menuju ke arah Lusy dan pak Mul. "Selamat datang tuan muda," ucap keduanya sembari menundukkan kepala ketika Ibra berada di hadapan mereka.


Ibra berhenti tepat di samping Lusy, "Aku bukan Ibra yang kau hancurkan sepuluh tahun yang lalu, tunggu dan lihat hadiah dariku nanti." bisiknya di telinga wanita itu dengan senyum mematikannya.


"Ahh hari ini aku akan menikah, melihat kalian semua membuat perasaanku jadi buruk, dimana pengantin ku aku ingin menemuinya." tanyanya lagi.


"Kau sudah datang nak? " ucap Aisyah dan Attar bersamaan dengan senyum di bibir mereka yang hendak keluar setelah mendengar berita kedatangan putra semata wayangnya.


"Dimana pengantin ku mom? " tanyanya.


"Kita sudah lama tidak bertemu dan kau menanyakan calon istrimu, wahh mommy bakal cemburu setiap hari." ucap Attar menggoda istrinya.


Aisyah melihat keringat di dahi putranya, kemeja basah karena keringat juga tak luput dari pandangannya. "Kita ke kamar mommy," ucapnya sambil menarik tangan putranya itu.


"Aishhh, sejak dulu dia selalu melupakanku jika menyangkut putranya." umpat Attar dengan suara kecil sambil berjalan mengikuti istri dan putranya itu.


***


Aisyah mendudukkan Ibra di sebuah sofa lembut di dalam kamarnya, ia menatap putranya itu dengan mata sendu, tangannya meraih wajah Ibra menghapus keringat yang masih berada disana.


"Mommy minta maaf harus membawamu ke rumah ini lagi, kamu masih sering mendengar suara-suara aneh itu?" tanyanya sendu masih terus menatap wajah Ibra.


"Don't worry mom, i am okey," jawabnya sambil memalingkan wajahnya.


"Kau selalu membuat kami khawatir karena selalu menghindar," ucap Attar yang baru saja masuk.


"Jangan berbicara kepada putraku seperti itu." ucapnya sengit.


"Dia juga putraku." sanggah nya lagi.


Ibra menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan orang tuanya, bagaimana mungkin mereka bisa betah hidup seperti ini hingga bertahun-tahun. ucapnya dalam hati.


"Aku yang melahirkannya... " sanggah Aisyah lagi tidak terima dengan pernyataan suaminya.

__ADS_1


"Cukup mom, dimana pengantin ku? kalian selalu saja berdebat" tanya Ibra menyela pembicaraan keduanya.


"Dia ada di kamar tamu," jelas Aisyah sambil menatap Ibra.


"Ibra nemuin dia dulu, daddy lanjutin aja debat sama mommy di atas ranjang" ucapnya lagi sambil tertawa keluar dari kamar itu.


"Dia sudah dewasa," ucap Attar dengan tersenyum kepada istrinya.


"Apa yang dewasa? harusnya daddy khawatir kenapa Ibra bisa bicara seperti itu, apa jangan-jangan dia sudah berdebat di atas ranjang," pikiran Aisyah menjadi kemana-mana.


***


Kamar Tamu


Ibra berjalan menaiki tangga menuju kamar tamu, langkahnya ia buat secepat mungkin bahkan kadang melompati beberapa anak tangga sekaligus, ia ingin segera bertemu dengan Nadia dan melanjutkan pembicaraan tentang peraturan yang harus mereka lakukan setelah menikah.


Ibra sudah sampai di depan pintu kamar tamu, tangannya hendak meraih gagang pintu, "tunggu tuan muda," tanganya berhenti dan menoleh ke sumber suara, sudah ada Sakti berlari ke arahnya.


"Anda tidak boleh masuk tuan muda," ucap Sakti dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


"Cih siapa kau memerintahku, " ucap Ibra acuh.


"Kata orang namanya Pamali tuan muda" ucap Sakti.


"Pamali? siapa dia ? bukankah kau bisa dengan mudah membunuhnya..." ucapnya lagi yang membuat Sakti menepuk jidatnya.


.


.


.


Jika kalian menyukai karya author jangan lupa beri dukungan like dan vote melalui koin atau poin ya.


Jangan lupa juga untuk klik favorit agar kalian bisa tau update cerita selanjutnya.

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan dan komentar positif teman-teman.


__ADS_2