
Hari ini adalah hari kepulangan Nadia dan kedua putra putrinya, ia hanya pulang berdua dengan Ibra, bahkan Sakti tidak menjadi pengemudi untuk perjalanan pulangnya hari ini.
"Mas... kenapa semuanya nggak ikut? bahkan abang Sakti pun," tanya Nadia sedikit tidak gembira.
"Sakti sedang menggantikan aku sekarang, ada pertemuan penting dengan para direktur bagian di kantor pusat,"
"Abang El dan kak Luna...?" tanyanya.
"Kenapa menanyakan mereka secara bersamaan begitu? seperti mereka sepaket saja,"
"Aku kan hanya bertanya," ucap Nadia memajukan bibirnya.
Cup
"Mas Ibra...mas Ibra akan merusak riasan ku," teriaknya sedikit kesal.
Flashback On
Ibra mendatangkan seorang perias dan memaksanya mau untuk di rias agar tidak terlihat pucat.
"aku khawatir ada media di luar sana yang siap menunggu di depan rumah kita, jadi pakai riasannya oke, aku ingin istriku terlihat cantik," ucap Ibra kala itu yang tidak bisa di tolak oleh Nadia.
Flashback Off
"Jangan memajukan bibirmu seperti itu, mereka sangat menggodaku," bisik Ibra di telinga Nadia yang membuat pipi wanita itu merona.
"Mas Ibra... kita sudah punya bayi,"
"Kenapa? aku masih bisa membuat bayi-bayi yang lain, bagaimana jika dua puluh lima? aku bisa membiayai mereka semua," ucap Ibra yang semakin membuat mata Nadia melotot sempurna.
"Mas Ibra... dua puluh lima??? " ucapnya sembari melotot tidak percaya dengan apa yang ada di pikiran suaminya saat ini.
"Ha... ha... ha... tunggu milikku sembuh, dan kau akan tau aku lebih kuat dari sebelumnya," ucap Ibra yang semakin senang menggoda istri polosnya ini.
"Mas Ibra... mereka masih bayi... dia bisa mendengar kita,"
"Mereka akan tau jika kedua orang tuanya pasangan yang harmonis sayang," ucapnya yang sudah mendaratkan bibirnya di bibir Nadia, memberikan kecupan kecil dan meninggal kan jejak gigitan di sana.
Baru saja Ibra mulai menggerakkan lidahnya untuk membuka bibir istrinya ini, namun suara putranya memecahkan suasana romantis yang baru saja ia bangun.
"Cih... putramu itu sejak semalam menggangguku saja, ia lebih banyak menghabiskan waktu untuk tidur dan terus saja menangis sepanjang malam ketika aku sedang bersenang-senang denganmu," Ucapnya sembari menarik nafas.
Nadia hanya tertawa mendengar ucapan suaminya ini, putranya itu memang menangis sejak malam ketika Ibra berada di sekitar ibunya, dan yang lucu bayi kecil itu diam ketika Ibra memutuskan untuk tidur di sofa malam itu.
Melihat putranya itu menangis membuat Ibra segera beranjak mendekati keranjang bayi dan mengambil putranya itu ke dalam gendongannya.
__ADS_1
"Come on son, daddy sudah tidak menyentuh your mom, berhenti menangis oke, kau akan mengganggu tidur saudaramu jika terus menangis begini," ucap Ibra lembut dengan membawa putranya itu di pelukannya.
Nadia tersenyum, aura dingin dalam diri Ibra berangsur-angsur hilang setiap harinya, ia menjadi lebih sabar dan bisa mengendalikan diri lebih baik sekarang, sangat jauh berbeda dengan Ibra yang ia temui pertama kali waktu itu, benar-benar jauh, bahkan sampai seperti bukan Ibra.
"Semua sudah siap tuan muda," ucap salah seorang pengawal yang baru saja masuk.
"Panggilkan perawat yang akan menjaga anak-anakku," perintahnya.
"Dia sepertinya sangat nyaman di pelukan mas Ibra, dia langsung diam dan tertidur begitu mas Ibra menggendongnya."
"Itu karena aku menjauh darimu dan menggendongnya," jawab Ibra.
"Dia sangat mirip dengan mas Ibra bukan, kalian berdua sama-sama posesif,"
Ibra berfikir, benar juga batinnya, kemudian sebuah senyuman terlihat di bibir laki-laki itu, "tapi princess kita sangat mirip denganku, dia seperti aku, lihatlah...aku seperti melihat diriku sendiri versi mini," tambah Ibra.
"Mas Ibra akan memberi mereka nama siapa?" tanya Nadia lagi.
"Kau akan tau nanti," ucapnya.
"Mari tuan muda,"
"Ah... kalian sudah datang... bantu bawa mereka... " ucapnya kemudian menyerahkan bayi laki-laki yang sebelumnya berada di gendongannya kepada perawat itu.
"Kemarilah... aku akan membantumu... " ucap Ibra yang membantu Nadia turun dari ranjang dan berpindah ke kursi roda.
"Lihatlah, dia sudah cemburu, sifatnya seratus persen mirip mas Ibra," ucap Nadia lagi.
"Calm son... aku akan membantumu turun lebih dulu," ucapnya pada Nadia.
***
Ibrahim dan Nadia sudah berada di dalam mobil, kali ini ia tidak memakai mobil yang biasanya ia pakai, ia memakai mobil yang lebih besar agar kedua perawat untuk bayinya bisa masuk juga dan berada di dalam satu mobil yang sama dengannya.
"Kemari kan dulu dia mas, nanti mas Ibra akan kesulitan masuk,"
"Tidak, duduk saja dengan tenang di sana, aku akan membawanya," ucap Ibra menenangkan.
Hampir tiga puluh lima menit perjalanan yang di tempuh untuk sampai ke rumah, seperti biasa, banyak petugas bersih-bersih yang hilir mudik membersihkan halaman rumah ini.
"Mommy dan daddy sudah kembali mas?" tanyanya ketika tidak ada seorangpun yang menyambutnya di luar, hanya beberapa orang pelayan yang bersiap berdiri menyambut mereka.
"Mereka masih ada pekerjaan, setelah selesai mereka akan pulang dan menyambut kita, jangan mengkhawatirkan apapun oke," ucapnya.
Nadia hanya mengangguk mendengar ucapan suaminya, "aku merasa sudah lama sekali tidak melihat mereka semua, aku terlalu lama berada di rumah sakit, tapi Delta memang besar, sangat aneh jika mereka semua bermalas-malasan dan menungguku," batinnya.
__ADS_1
"Bantu nyonya turun," ucap Ibra pada beberapa pelayan wanita yang membukakan pintu untuk istrinya.
"Aku mau di bantu mas Ibra, biasanya mas Ibra tidak pernah membiarkan orang lain menyentuh ku, " ucapnya dengan tersenyum.
Ibra tersenyum, "baiklah, tunggu aku, aku akan membantumu," ucapnya pada Nadia dengan lembut. yang membuat iri semua orang yang melihatnya.
Ibra turun lebih dulu dengan putranya yang masih tertidur di gendongannya, kemudian membantu Nadia turun dengan tangan yang lain.
"Dia tidak bangun?"
"Tentu saja, karena dia ada bersamaku, jika aku meninggalkannya dan seorang diri membantumu, dia pasti langsung menangis," ucapnya pada Nadia.
"Sudah ayo masuk," ucapnya.
Keduanya berjalan beriringan diikuti oleh dua orang perawat di belakangnya, baru saja melewati pintu rumah yang sudah di buka oleh seorang pelayan, sebuah dekorasi pesta yang bisa di bilang sangat mewah sudah ada di depan matanya, meskipun hanya di hadiri oleh orang-orang terdekatnya saja, tapi dekorasinya diluar ekspektasi.
"Welcome Nadia... " teriak semua orang dengan bahagianya.
"Welcome to home dek?" ucap Rafael yang memeluk adik kecil kesayangan nya ini.
Oekk oekk
"Lepaskan istriku, kau tidak lihat keponakanmu ini Sangat posesif jika ada yang mendekati ibunya," jelas Ibra membuat Rafael melongo tidak percaya.
"Hay boy... paman El akan merebut ibumu...ayo menangislah lebih keras... " ucap Rafael semakin membuat bayi itu menangis.
"Kemari... ayo duduk di sini...jangan hanya berdiri saja." ajak Aisyah.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan mom?"
"No no... ini untuk menyambut cucu-cucuku.... "
"Makanan ini?"
"Makan lah nak, nanti juga akan kita bagikan sebagai sedekah atas rasa syukur karena mereka berdua sudah lahir di keluarga ini," jelas Attar menambah i.
"Siapa nama mereka berdua?" tanya Luna yang gemas dengan bayi perempuan yang baru saja membuka matanya itu.
"Kanaka Arsyanendra Ibrahim dan Kanaya Arsyakayla Ibrahim,"
***
Jangan lupa tinggalkan jejak berupa like komen dan vote jika cerita ini bagus menurut teman-teman semua.
Jika ada yang memberikan hadiah juga boleh, author akan menerima dengan senang hati, hehehe
__ADS_1
Salam sayang semua.