Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Kekhawatiran semu


__ADS_3

"Berarti bang El sama bang Sakti ?" tanya Nadia dengan air mata menggenang hendak berhamburan keluar.


"Perjalanan menuju rumah sakit, cari tau keadaan mereka dengan alat yang sudah di ajarkan Rafael,"


"Hah....? pasti karena om nolak nikah sama tante Anna kan?" tanya gadis itu yakin menghentikan langkah Ibra yang sudah terburu-buru karena panik.


"Cukup Nadia, sekarang udah bukan waktunya untuk ini, masalahku dengan Anna bukan sesuatu yang harus kamu campuri," bentaknya keras.


Ibra bukan orang yang mudah untuk di ajak negosiasi sejak awal, ketenangannya selama ini karena ada Sakti di sekelilingnya dan menjadi tuas pengaman ketika emosinya sudah berada di ambang batas.


Biasanya Sakti akan mengambil alih ketika dirinya merasa Ibra sudah terlihat tidak bersahabat dan ingin memakan orang di sekitarnya.


"Seperti bom waktu, ia bisa meledak kapan saja, kamu harusnya udah tau dan nggak membuatnya kembali seperti ini Nadia, ah bang Sakti, " ucap Nadia bergetar pada diri sendiri menatap sorot mata Ibra yang benar-benar membuatnya takut. Ini adalah kali pertama Ibra benar-benar marah setelah awal-awal pernikahan mereka dulu.


"Aku tidak akan menunggumu jika kau masih saja tidak bergerak bocah," bentaknya lagi.


Tanpa ba bi bu Nadia berjalan mengikuti Ibra yang sudah lebih dulu berjalan di depannya. Ibra bahkan pergi hanya dengan menggunakan celana pendek dan kaos yang di siapkan Nadia sebelumnya.


Tak hanya Ibra, Nadia juga hanya memakai celana panjang berwarna putih dan memakai kaos rumahan berwarna abu-abu yang terlihat sederhana, tapi dengan harga yang sangat fantastis tentunya.


Ibra mengendarai mobil sendiri dengan Nadia duduk di samping kursinya, "kosongkan jalan untukku segera," ucap Ibra dengan seseorang yang Nadia sendiri juga tidak tau siapa.


Setelah memakai sabuk pengaman Ibra langsung menancap gas mobil dengan kecepatan yang tidak main-main, tanpa memperhitungkan Nadia yang sudah gemetar ketakutan karena sejak awal Ibra sudah sangat ngawur dalam mengendarai mobil saat ini, ia bahkan berkali-kali menerobos lampu merah, tapi herannya tidak satupun polisi yang menghentikannya.


"Om..... " lirih Nadia.


"Aku nggak peduli apapun, yang penting mereka berdua harus selamat," otak Ibra saat ini sedang kacau, ia tidak melihat seorang gadis semakin bergetar ketakutan di dalam mobilnya, hingga suara isakan Nadia membuyarkan konsentrasi Ibra hingga kemudian ia menepikan mobilnya.


Ibra menatap gadis di sampingnya dengan jelas, wajah Nadia terlihat pucat dengan peluh memenuhi tubuhnya, tubuhnya juga bergetar karena takut, ia sungguh tidak berani melihat ke arah Ibra.


"Huft Sorry, aku hanya ingin segera melihat kondisi mereka berdua, aku nggak ingin kehilangan seseorang lagi karena oma," ucapnya dengan jelas kemudian mulai berkendara dengan kecepatan sedang agar tidak membuat Nadia semakin takut.


Nadia perlahan mulai mengontrol emosi setelah Ibra berkendara dengan lebih tenang, "tenangkan dirimu dan bersikap seperti tidak ada apa-apa, ketika kita turun dari mobil semua akan memperhatikan kita," ucap Ibra.


"Siapa sebenarnya yang tidak bisa mengontrol sikapnya, dari tatapan matanya saja udah keliatan kalo om Ibra nggak baik-baik aja,"


Dengan hening mobil melaju di jalanan ramai ibu kota, setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit dari rumah Nadia, mereka berdua kini sudah sampai di depan gedung besar rumah sakit, beberapa sudah berjajar rapi menyambut kedatangan Ibra, kedua pintu mobil sudah di buka, Ibra keluar dengan wajah datar miliknya, diikuti Nadia yang kini sudah berdiri sejajar dengan suaminya itu.

__ADS_1


"Kita masuk om," ucapnya lembut menggenggam lengan Ibra dengan senyum semanis mungkin untuk menutupi kekhawatiran yang kami berdua rasakan.


"Selamat datang tuan muda," salam mereka serentak.


Seperti biasa, Ibra hanya melenggang masuk tanpa kembali menyapa mereka, benar-benar tidak suka basa-basi.


"Tumben tuan muda datang hanya memakai pakaian seperti itu, tapi meskipun pakai kaos tetep tamvan maksimal," ucap salah seorang dengan ekor mata mengikuti kemana tubuh Ibra pergi.


"Hus gitu gitu pasti harganya puluhan juta,"


"Betul tuh, tapi hari ini kayak gua bukan ngeliat pak Ibra tau nggak, biasanya beliau nggak pernah tuh keluar dengan gaya pakaian seperti ini, ada apa ya?" tanya yang lain.


Semua orang masih bertanya-tanya tentang alasan kedatangan Ibra ke rumah sakit, terlebih dengan pakaian seperti itu, entah siapa orang yang sangat penting yang membuat seorang CEO perusahaan ternama Negara ini khawatir dan segera bergegas datang ke rumah sakit tanpa memperhatikan penampilannya.


***


Ruang rawat Rafael


"Di mana mereka?" tanya Ibra di balik pintu.


Ibra masuk kedalam ruangan segera setelah pengawal memberitahukan lokasi kedua sahabat dan asistennya itu.


"Auh.... om... " Nadia menggosok dahinya yang terbentur bagian belakang tubuh Ibra.


Ibra menghentikan langkahnya ketika ia melihat sosok yang berada di atas ranjang, matanya melotot tak percaya melihat keadaan mereka berdua.


"Kalian..... "


Pletak


Sebuah sandal melayang tepat di depan kepala Rafael, bukannya marah, Rafael bahkan tertawa terbahak-bahak melihat kepanikan yang terlihat sangat jelas di wajah Ibra untuknya.


"Haha lu kira gua bisa mati dengan tenang ninggalin lo berkelana di dunia yang udah nggak karu-karuan ini sendirian bro ? haha," ucapnya dengan tawa tanpa henti.


"Kau..... "


"Sini om biar Nadia," ucap Nadia mengambil alih sandal yang saat ini di pegang oleh Ibra.

__ADS_1


"Bang El nakal, nakal, nakal....Nadia sampai di marahin om Ibra karena abang tau nggak," kejar Nadia dengan sandal terangkat di udara hendak memukul Rafael karena juga merasa kesal dan menyesal karena sangat khawatir dengan kedua abang itu.


Ibra hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Nadia dan Rafael yang masih saja bermain kejar-kejaran seperti anak kucing.


"Selamat malam tuan muda," ucap Sakti


melakukan penghormatan formal seperti biasa.


Ibra menatap Sakti penuh tanya, "apa yang terjadi?"


Flashback on


Sakti bersama dengan Rafael turun langsung untuk memecahkan persoalan pemegang saham yang tiba-tiba menarik saham secara bersamaan beberapa minggu terakhir ini.


Awalnya Sakti dan Rafael hanya berniat negosiasi dengan cara baik-baik, namun ternyata dia mendapatkan sambutan yang luar biasa dari Delta Internasional secara langsung tepat setelah tiba.


"Bom ?" lirih Rafael menatap Sakti ketika keduanya sudah berada di dalam sebuah ruangan yang tidak ada seorang pun di sana.


Drap drap drap drap


Suara langkah kaki seirama terdengar bergerak mendekati Sakti dan Rafael, "Seperti dugaan, Delta Internasional memang sangat ahli dalam hal mengancam seseorang untuk tunduk dan patuh pada mereka, ah waktunya bermain, rasanya otot-otot tubuhku mulai merenggang,"


Beberapa orang berpakaian hitam dengan peralatan lengkap sudah terlihat berjalan mendekati Sakti dan Rafael, terlihat sosok pemimpin di antara mereka semua.


Rafael dan Sakti tersenyum, "hanya karena ingin mengontrol tuan muda anda bisa sampai bersikap seperti ini ?"


"Aku ingin tuan muda di bawah kendali nyonyaku, hanya dia yang pantas menjadi pewaris Delta Internasional, tapi sebelum itu, aku harus memastikan bahwa dia bisa dan layak menerimanya." ucap seseorang yang kini berada di hadapan Sakti dan Rafael.


"Cih, Ibra selalu bisa dan layak, kau hanya ingin mengontrol Ibra agar mau menjadi boneka kalian dan mau melakukan apapun yang kalian inginkan,"


"Bereskan mereka, karena nona Anna sudah gagal mendapatkan tuan muda, maka kalian berdua yang akan menjadi kelemahan tuan muda berikutnya," ucap orang itu kemudian langsung memberi perintah untuk menaklukkan Rafael dan Sakti.


Tidak semudah itu ferguso hahaha," ucap Rafael membahana di ruangan tersebut.


"Kemari dan tangkap kami," teriak Rafael.


***

__ADS_1


__ADS_2