Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Mayat Hidup


__ADS_3

"Nadia..... Nadia buka pintunya.... " teriak Rafael dari luar pintu kamar.


"Bang, nanti lagi ya, abang El teriak-teriak mulu," ucap Nadia yang langsung pergi tanpa mematikan layar yang masih ada Sakti di sana.


Setelah semua pintu ruang rahasia benar-benar terkunci, ia bergegas membuka pintu kamarnya dengan malas.


Terlihat Rafael di sana yang tengah menunggunya, "makan ya," ucapnya pada Nadia.


Nadia yang saat ini benar-benar tidak terawat, ia yang biasanya sangat ceria dan mudah sekali tersenyum kini berubah menjadi sangat murung.


Seolah dunianya hancur setelah kepergian Ibra dari rumah ini empat hari yang lalu, meskipun dirinya sudah mengetahui alasan Ibra pergi tanpa berpamitan dengannya, ia masih tidak tenang karena Ibra yang sedang sakit tanpa ia disisinya.


"Aku sedang tidak lapar bang, abang makan aja duluan," ucap Nadia malas kemudian menutup pintu.


Namun Rafael lebih dulu menahan pintu itu sebelum Nadia berhasil menutup nya dengan sempurna.


"Sebesar inikah pengaruh Ibra di hidup lu?" tanyanya kemudian.


Nadia berbalik dan melihat baik-baik mata saudara laki-laki nya, kemudian tersenyum, "sangat besar, abang nggak akan tau selama abang belum menemukan sosok yang dengannya abang ingin membagi semuanya, percuma Nadia jelasin karena abang nggak akan pernah faham,"


"Nadia, cinta itu... "


"Abang, kalo bahagia Nadia itu mas Ibra, masihkah abang bersikap seperti ini,"


Rafael mengerutkan dahinya, "mas Ibra udah cerita semuanya sebelum pergi, perihal abang yang minta mas Ibra untuk menceraikan ku," jelasnya tidak ingin menyimpan semuanya lagi.


"Abang juga nggak pengen kayak gini dek, tapi lu berhak bahagia, lu masih muda, lu bisa ketemu dan jalan bareng temen-temen lu, lu bisa kuliah dan belajar di kampus yang lu pengen, lu bisa ngelakuin apapun yang lu mau dengan apa yang kita punya sekarang," jelas Rafael.


"Nadia cuma pengen suami Nadia, surat cerai dari mas Ibra udah Nadia bakar, nggak peduli itu abang atau siapapun, tapi kita nggak akan pisah gimanapun dan apapun kondisinya," tegas Nadia.


"Jangan keras kepala Nadia," Rafael menarik nafas berat.


"Abang juga jangan keras kepala boleh nggak?" tanya Nadia.


"Kok gua?"


"Kan abang yang nakal, pake bikin keributan kayak gini," tambahnya.


"Loh, ini kan demi lu,"


"Abang pernah nanya nggak kebahagiaanku apa? apa abang pernah nanya apa yang aku pengen ? enggak kan?" ucap Nadia lagi.

__ADS_1


"Cukup Nadia, gua nggak mau kita bahas ini lagi, besok lu ikut gua kerja di perusahaan sebagai karyawan magang,"


"Udah jelas kan? yang posesif dan pemaksa itu abang, mas Ibra bahkan masih bertanya apa yang aku inginkan lebih dulu,"


"Nadia kenapa selalu Ibra, lu ngga bisa bandingin gua sama dia terus,"


"Karena sebelum memaksa Nadia, mas Ibra selalu meminta bang Sakti bertanya lebih dulu apa yang aku inginkan, nggak kayak abang," kesal Nadia kemudian menutup pintu dengan keras.


"Hah.... kenapa kita jadi kayak gini sih sekarang,"


"Aish... " desahnya kesal dengan mere*as rambut kepalanya sendiri frustasi.


***


Ibrahim baru saja bangun dari tidurnya karena mual yang ia kembali ia rasakan, hoek hoek hoek.


"Tuan muda," ucap Sakti di balik pintu.


Ibra sedang berada di dalam kamar mandi dengan pintu terkunci, Sakti tidak berani melangkah masuk dan menunggu Ibra di luar pintu kamar mandi.


Sampai Ibra keluar dan muncul di balik pintu dengan wajah yang semakin pucat, "apa hasil tesnya belum keluar? tubuhku terasa aneh sekali," ucapnya pada Sakti.


"Tidak biasanya Luna lelet seperti ini, aku tidak bisa kemanapun dengan tubuh ini,"


Sebuah nada dering ponsel pertanda panggilan video masuk memutus pembicaraan di antara mereka.


"Siapa? kau tidak mengangkatnya?" tanya Ibra ketika melihat Sakti ragu-ragu untuk menerima panggilan itu.


"Ini nona muda,"


"Kau selingkuh dengan istriku sampai ragu-ragu mengangkatnya seperti itu hah?"


"Hah.... bu bukann tuan muda, kami tidak selingkuh, sejak tadi nona menanyakan kabar anda, tapi saya khawatir anda masih tidak siap untuk memberikan kabar kepada nona muda,"


"Apa maksud mu tidak siap? aku selalu siap jika itu untuknya," ucap Ibra kesal.


"Tuan muda sakit menjadi semakin sensitif, sabar Sakti," tenangnya pada diri sendiri.


"Angkat saja, dia sudah memanggil beberapa kali, jangan membuat dia menunggu, itu tidak sopan," tegas saja.


Dengan segera Sakti menyambungkan ponselnya dengan layar televisi besar yang menghadap langsung ranjang Ibra, untuk menghilangkan kecurigaan tuannya.

__ADS_1


"Abang Sakti.... mas Ibra mana...?" itu adalah teriakan pertama Nadia ketika Sakti menerima panggilan video itu sebelum tau bahwa Ibra juga ada di sana mendengarnya.


"Buka mata Anda nona, tuan sedang berada di hadapan anda," ucap Sakti.


Mendengar ucapan Sakti membuat Nadia membuka matanya yang terasa ringan seketika, rona bahagia di campur dengan khawatir terlihat menjadi satu di wajah itu.


"Mas.... kenapa mas jadi seperti mayat hidup kayak gitu," ucap Nadia spontan ketika melihat suaminya menjadi kurus dan berwajah pucat sempurna.


"Kau mendoakan ku agar cepat mati hah?"


"Bukan seperti itu mas Ibra, tapi coba mengacalah, mas Ibra sangat pucat dan bertambah kurus, aku seperti istri yang tidak merawat suaminya dengan baik," ucapnya sedih.


"Tuan muda selalu mengeluarkan isi perutnya bahkan setelah makan nona, itu yang membuat berat badan beliau menurun drastis."


"Lalu bagaimana denganmu hah? bukan hanya aku yang kurus, lihatlah tubuhmu itu, seperti tidak ada daging sama sekali didalam nya, dan mata panda itu, astaga Nadia, kau menangisi ku berhari-hari ?"


"Hehe," ucapnya meringis dengan mata terpejam.


"Aku sudah bilang jangan menangis untuk siapapun kan? apa Rafael tidak merawat mu dengan baik?" tanyanya lagi.


"Abang selalu menggedor pintu kamarku setiap hari,"


"Jelas dia melakukan itu jika kau tidak memakan makananmu Nadia," tebak Ibra begitu saja.


"Aku makan, hanya sedikit hehe," ucapnya dengan mempergakan sedikit dengan kedua jari tangan kanannya.


"Tapi mas, abang El minta aku buat jadi karyawan magang di perusahaan, gimana?"


"Uhm... Sakti bagaimana menurutmu?" tanya Ibra tidak ingin gegabah mengambil kesimpulan seorang diri.


"Itu baik untuk pengalaman nona muda tuan, meskipun Harbank bukan perusahaan yang bergerak dibidang ilmu yang dipelajari nona, tapi sebagai pemilik sangat bagus untuk mengetahui bagaimana kondisi perusahaan dari segala sisi," jelas Sakti.


"Selain itu kita bisa bertemu diam-diam di belakang Rafael, akan sangat sulit untuk keluar jika kau berada di rumah saja, tapi terserah padamu Nadia, sebagai istriku tidak ada siapapun yang punya hak memaksa dan mengganggu apapun yang kau putuskan," tambah Ibrahim.


Nadia tersenyum, ia teringat ketika memilih tempat tinggal, Ibra memberi pilihan sepenuhnya kepada Nadia untuk tinggal di rumah yang mana, seperti pendidikan yang juga ia ambil, ia juga bertanya apa yang ingin Nadia pelajari.


Sebagai suami, Ibra tidak mengekang Nadia sepenuhnya, "baiklah aku akan bekerja besok, mas Ibra cepat sehat ya,"


"Tunggu... jangan di tutup dulu, Sakti kau keluar lah, mengganggu saja,"


Sakti yang sejak tadi hanya diam semakin bingung dimana letak ia mengganggu, namun karena malas berdebat hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar meninggalkan Ibra.

__ADS_1


__ADS_2