
Sebagai suami, Ibra tidak mengekang Nadia sepenuhnya, "baiklah aku akan bekerja besok, mas Ibra cepat sehat ya,"
"Tunggu... jangan di tutup dulu, Sakti kau keluar lah, mengganggu saja,"
Sakti yang sejak tadi hanya diam semakin bingung dimana letak ia mengganggu, namun karena malas berdebat hingga akhirnya ia memutuskan untuk keluar meninggalkan Ibra.
"Aku hanya diam sejak panggilan nona berlangsung, aku bahkan beberapa kali menahan nafas, tapi aku masih tetep mengganggu tuan muda, apa yang harus kulakukan sebenarnya jika aku masih tetap salah meskipun tidak melakukan apa-apa," pikir Sakti di depan pintu kamar yang sudah tertutup itu.
"Ada apa mas, mas mau ngomong sesuatu sampai ngusir abang Sakti," ucapnya.
"Bajumu terlalu terbuka, aku tidak ingin siapapun melihatmu dengan pakaian itu," ucapnya.
"Dia terlihat sangat imut dengan kemeja besar itu, bagaimana aku rela jika Sakti melihat dia terlalu lama,"
"Baju?" ucap Nadia yang tengah melihat dirinya sendiri, saat ini ia sedang memakai kemeja putih yang biasanya Ibra pakai, di padu dengan celana pendek yang juga berwana putih, karena tubuh mungil Nadia sehingga membuat baju yang di pakainya terlihat kebesaran dan tenggelam di tubuhnya.
"Apa yang terbuka sih?" gumamnya.
"Pokoknya terbuka Nadia, hanya pakai itu jika ada aku," perintannya.
"Bahkan di depan Rafael pun jangan," tambah Ibra lagi.
"Iya mas, ini juga kan pas di kamar jadi pake ini mas, abis tadi kangen sama mas Ibra, jadi langsung telfon bang Sakti aja deh, nggak kepikiran sama baju," jawabnya masih dengan menatap dirinya sendiri yang membuat Ibra semakin gemas melihatnya.
Namun semakin melihat, ada sesak yang menjalar di hatinya, sesuatu yang hilang dan teramat sangat menyakitkan.
"Nadia lihat aku," ucapnya dengan nada suara yang sudah berbeda dari sebelumnya.
"Hmm... kenapa?" tanya Nadia yang kembali melihat layar di depannya.
"Apa kau tau bagaimana aku akhir-akhir ini ?" tanya Ibra dengan suara yang tersekat di tenggorokan.
__ADS_1
Nadia masih mendengar kan Ibra dengan baik, ia masih belum berkomentar apa-apa, hanya menatap laki-laki yang dicintainya itu dalam-dalam.
"Aku tak bisa tidur di malam hari, aku bahkan tak bisa menelan apapun, apa kau tau bahwa aku menjadi lebih hancur saat aku melihat padamu berada di layar itu dengan kondisi ini sekarang? aku merasa seperti sekarat, seolah kita sudah lama sekali tidak bertemu." Ibra menghela nafas berat.
"Meskipun nanti tak ada jalan kau untuk kembali padaku, meskipun kau melihat ke tempat yang lain, aku tak berfikir aku bisa melepaskan mu," ucap Ibra dengan menunduk karena emosi yang ia rasakan tidak mampu menahan air mata yang sudah beranak di pelupuk matanya.
Layar yang ada di depan Ibra kini mati karena Nadia yang sengaja mematikan sambungannya, gadis itu kini tengah menangis dan berjongkok di bawah meja karena tidak mampu lagi melihat Ibra seperti ini.
"Nadia juga nggak bisa menelan apapun mas, semua ini juga terasa sangat menyakitkan," ucapnya di tengah isak tangis dan sesak yang memenuhi rongga dadanya. Gadis itu menggenggam erat kemeja pada bagian dada yang terasa perih mendengar perkataan Ibra.
"Kenapa semuanya tidak berjalan seperti yang aku harapkan, kenapa?" ucapnya dengan memukul-mukul dinding yang ada di depannya.
"Padahal aku sudah berusaha keras membuatnya mencintaiku, tapi kenapa seperti ini ?"
"Memangnya apa salahku? apa salahku?" ucap Nadia dengan suara parau dan tangis menjadi satu.
"Nona muda... " lirih Sakti yang tanpa sadar meneteskan air mata karena sejak tadi mendengar ucapan Nadia karena ada beberapa sistem yang masih belum di off kan.
"Tu... tunggu.... kau menangis? ada apa? Ibra memarahimu?" tanyanya lagi panik.
Sakti menggelengkan kepala pelan, "Saya baru pertama kali mendengar nona muda berucap seperti ini nyonya besar, biasanya beliau selalu berfikiran positif apapun yang terjadi, beliau tidak pernah menyerah, tapi kali ini untuk pertama kalinya nona menangis dan bertanya kenapa semua ini terjadi padanya, dan tuan muda.... ini adalah ungkapan cinta paling menyakitkan yang keluar dari bibir tuan muda sejak saja saya bersamanya,"
"Ini lebih dari sekedar ungkapan aku mencintaimu nyonya, mendengar nya saja sangat menyakitkan," lirih Sakti namun masih terdengar jelas di telinga Aisyah.
Aisyah tersenyum meskipun kesedihan terlihat jelas di matanya, "jika ada yang bisa kubantu untuk mereka, bahkan jika nyawaku, aku akan memberikannya pada Rafael untuk membayar hutang putraku," ucap Aisyah yang kemudian meletakkan nampan berisi makanan di atas meja di sebelah pintu kamar Ibra dan pergi.
"Semoga kau bisa merasakannya El, kau harus merasakan pedihnya cinta seperti ini," ucapnya kesal.
Kedua orang yang sangat mencintai itu tengah merasakan perihnya rindu tanpa temu, mudah saja Ibra menemui Nadia dengan kekayaan dan kemampuan yang ia miliki, namun sebuah dinding kaca tebal seolah menghalangi keduanya. Rafael.
***
__ADS_1
Siang ini Rafael mulai menjalankan perusahaan untuk pertama kalinya, penyambutan presiden direktur baru sudah di lakukan secara sederhana dan tidak terlalu mengundang banyak orang.
Ada banyak hal yang harus ia lakukan dan pelajari, ini merupakan hal baru karena menjadi presdir sangat berbeda dengan apa yang dia kerjakan bersama Ibra biasanya.
Saat ini ia tengah sibuk menemui banyak orang untuk memulai banyak relasi dan hubungan, memang tidak sulit karena ia biasa menggantikan Ibra melakukan ini, namun sebuah tanggung jawab yang harus ia jaga membuatnya sedikit gelisah.
"Aga, atur agar Nadia bisa magang di perusahaan ini, dia harus banyak belajar dari pengalaman," tegasnya ketika sudah berada di dalam ruangan bernuansa putih.
"Tapi kecerdasan nona di atas Rata-rata tuan, jika hanya karyawan magang maka nona akan kesulitan bertahan di perusahaan ini, karyawan lain akan menekannya, apalagi nona masih belum genap dua puluh tahun," jelas Aga yang mengetahui betul bagaimana perusahaan ini bekerja.
"Itu bagus untuk membangun karakter diusia nya," jawab Rafael.
"Ini ruangan Ibra dulu? ini tidak seperti gayanya," ucapnya kemudian.
"Ini style anda tuan, ini memang sengaja disiapkan tuan Ibrahim untuk anda," jawab Aga.
"Nggak cuma rumah, semua style dari bangunan gedung perusahaan ini lu masih mikirin gua," gumam Rafael.
"Jika anda tidak suka, kamu akan merubah desainnya tuan,"
"Tidak, pakai ini saja," jelasnya.
"Nadia sudah memakan makanannya hari ini?"
"Saya sudah mencoba mengetuk pintu nona muda, namun tidak ada jawaban dari dalam, tidak lama tuan Sakti menelfon dan meminta saya menaruh makanan itu di depan pintu kamar nona muda saja tuan,"
"Sakti?"
"Tuan Sakti Seperti mengetahui sesuatu, beliau bahkan berbicara dengan parau seperti habis menangis,"
Rafael masih terdiam mendengar pembicaraan Aga, "Sakti sampai parau? ada kejadian apa yang gua nggak tau," pikirnya dengan tangan memijit kepala.
__ADS_1