Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Ibra Nadia


__ADS_3

"Kok berhenti om?" tanya Nadia pada Ibra ketika mobil yang ia kendarai menepi.


"Seperti yang kau inginkan," ucap Ibra datar seperti biasanya.


Dengan mata berbinar-binar Nadia menggenggam tangan Ibra, mencium dan menggosok telapak tangan Ibra di pipinya karena bahagia, "terimakasih om," ucapnya riang kemudian langsung keluar dari mobil dengan bertelanjang kaki dan berlari ke sana kemari menikmati lembutnya pasir pantai yang bersentuhan langsung dengan kulit kakinya.


Ibra hanya memperhatikan Nadia dari dalam mobil dengan tersenyum, ia tidak terlalu suka dengan pantai karena terik sinar matahari yang membakar kulitnya, belum pasir pantai yang menurutnya sangat mengganggu.


''Dengan wajah yang setiap hari semakin cantik, aku merasa sangat senang melihatnya bahagia seperti itu,'' gumam Ibra pelan dengan mata yang masih mengawasi gerak gerik Nadia, hingga kemudian ia tersadar dengan apa yang sudah ia lakukan.


"Aish apaan sih lo Ibra, ini adalah cara menghargai nya sebagai istri untuk terakhir kalinya, dia harus bahagia, kenapa lu jadi baper kayak gini sih," ucap Ibra memukul kepalanya pelan karena perasaan yang tidak terkendali.


Tok tok tok


Tanpa ia sadari Nadia sudah ada di samping mobilnya, Nadia terlihat mengetuk pintu kaca mobil agar Ibra keluar, "om... om... "


Pintu kaca mobil itu terbuka perlahan, "ada apa?"


"Ayo turun.... ngapain di mobil terus, seru tau main air...ayo..." ajak Nadia sedikit manja.


"Panas," jawab Ibra jujur.


"Pake sunblock dong om sayang, ayo turun," ucap Nadia lagi dengan mengelus rambut Ibra pelan.


"Om apa... ?" tanya Ibra dengan alis yang bertautan.


''Hah? om Ibra dong, om apa lagi coba, ayo keluar mangkanya biar fokus minum air laut dulu, om nggak fokus nih kayaknya," ucap Ibra memberi alasan.


"Mulut lu nggak bisa di kontrol banget Nadia," batin Nadia merutuki kebodohannya.


"Udah mau jadi janda hah? jelas matilah kalo minum air laut...Mangkanya kalo sekolah yang benar, biar agak pinter dikit" ketus Ibra.


"Hah iya ya, ayo turun dong om, kan nggak asik kalo Nadia main sendiri, nanti kalo Nadia tenggelam nggak ada yang nolong dong,"


"Heh, yakin banget kalo bakal di tolongin,"


''Yakin dong," ucapnya percaya diri kemudian membuka pintu mobil dan menarik tangan Ibra agar mau keluar dari mobil.

__ADS_1


Ibra hanya mengikuti kemana Nadia hendak membawanya, ia sesekali melangkah kecil mengikuti gerakan kaki mungil Nadia yang setengah berlari menariknya, "dia terlihat sangat senang, semudah ini membahagiakannya, aku bahkan tidak perlu mengeluarkan banyak uang seperti wanita-wanita yang lain,"


Nadia menuju sebuah kursi pantai yang baru saja di tinggalkan oleh seseorang, "kita duduk di sana ya om? tapi om yang bayarin, hehe,"


"Sejak kapan kamu pernah bayarin hah?"


"Dulu wee pas awal nikah," ucapnya menjulurkan lidah kemudian berlari menjauh dari Ibra yang menatap tajam ke arahnya.


Setelah perdebatan panjang akhirnya keduanya berakhir di atas kursi pantai, tentu saja dengan Kekesalan Ibra seperti biasa.


"Om... ''


" Hmm... "


"Om om... "


"Ketus mulu ih ngomongnya, rileks om rileks," ucap Nadia dengan menggosok dada Ibra lembut.


"Santai oke, kita kan disini mau fun," ucapnya lagi.


"Astaga Ibra, dia cuma pegang dada lu, rileks rileks," ucap Ibra menenangkan dirinya sendiri ketika detak jantungnya sudah tidak beraturan.


Nadia melihat ke arah pasangan itu, dia tersenyum, "siap pak bos, tapi bagi uangnya ya, hehe"


Tanpa lama, Ibra mengambil beberapa lembar uang di dalam dompet nya, dan menyerahkannya kepada Nadia, baru saja beberapa langkah Nadia hendak meninggalkan Ibra, namun Ibra menarik pergelangan tangan gadis itu, "jangan hilang, ingat aku ada di sini, tetep pakai kerudung dan kaca mata, jaga biar nggak ada yang ngenalin kamu, ingat jalannya kan? jangan membuat masalah," pesannya.


"Iya om, cuma di situ doang kok,"


"Jangan bawa kelapanya sendiri,"


"Bawel... " ucap Nadia kemudian pergi.


Gadis itu berjalan dengan menggerakkan tangan dan sedikit bergumam, "dasar om Ibra, susah banget ngaku kalau khawatir," senyumnya.


"Awww.... "


Nadia terjatuh ketika ada yang menabrak tubuhnya dengan keras, gadis itu sudah berada di atas pasir karena terjatuh.

__ADS_1


"Hey mbak, jalan tuh pake mata, jangan mentang-mentang cantik bisa seenaknya aja jalan, berasa jalan milik sendiri cyin....mau goda pacar saya ya," ucap perempuan yang menabrak Nadia hingga terjatuh tanpa dosa.


"Maaf mbak, biar ku bantu," ucap laki-laki yang berada di samping wanita itu mengulurkan tangan dengan sedikit menunduk.


"Kenapa kau membantunya, itu salahnya karena tidak melihat jalan," ucap wanita itu kemudian menarik tubuh pria yang kemungkinan adalah kekasihnya.


Nadia tersenyum, kemudian bangkit berniat meninggalkan mereka, namun wanita itu masih saja tidak Terima dan menarik tubuh Nadia hingga terhuyung kebelakang dan hampir terjatuh karena tidak seimbang.


"Kau benar-benar tidak sopan..... " geram wanita mengangkat tangannya hendak menampar Nadia ketika Nadia hendak pergi dan tidak takut sedikitpun.


"Berani menyentuhnya aku akan membuatmu masuk neraka lebih cepat," ucap Ibra yang sudah berdiri di belakang pasangan yang menabrak Nadia itu dengan mode garangnya.


Wanita itu menoleh, "cih hanya pasangan miskin saja belagu, gadis itu sengaja menabrak kekasih ku untuk menggodanya,"


Ibra menatap laki-laki yang di sebutkan wanita itu dari atas hingga bawah, "om.... kita pergi aja," ucap Nadia menenangkan Ibra agar tidak keluar kendali.


"Dia sudah memiliki aku, dia nggak akan sempat untuk menyukai pria sepertinya, kau kira dia buta hah?" sinis Ibra.


"Kau.... "


"Tunggu dan lihat saja, doakan saja mood ku selalu baik, agar aku tidak secepatnya mencari kalian,"


"Dasar penipu, sok sokan kaya lu," teriak wanita itu ketika Nadia menarik Ibra pergi dari sana.


"Kenapa kau membawaku pergi, rasanya aku ingin ******* wanita ular itu,"


"Sudah cukup om, lebih baik kita lanjut beli kelapa muda dan bersantai di sana,"


Setelah kejadian itu, Ibra memutuskan untuk mengikuti kemana saja Nadia pergi, hingga matahari sudah beranjak naik dan langit sudah mulai gelap di tambah beberapa kali petir menggelegar, membuat Ibra meminta Nadia untuk segera mencari penginapan yang akan mereka tempati malam ini.


"Kita pulang,"


"Oke ini udah hampir gelap om, mendung banget, bentar lagi tumpah nih kayaknya," tambah Nadia.


Keduanya semakin berjalan cepat ketika satu persatu butiran air menyentuh tubuh mereka sedikit demi sedikit, "come on Nadia, kau lupa kita tidak memiliki baju ganti, jadi jangan sampai basah," ucap Ibra mengulurkan tangannya kepada Nadia untuk mempermudah langkah gadis itu.


"Terimakasih sudah menjadi suami Nadia selama hampir satu tahun ini om, Nadia terbiasa untuk tidak bergantung kepada siapapun sejak kecil, karena tidak ada orang yang akan membantu Nadia sejak awal, tapi setelah adanya om di kehidupan Nadia, aku terbiasa bergantung kepadamu, untuk pertama kalinya aku ingin bisa bersamamu sampai akhir hidupku,"

__ADS_1


"Masuk lah cepat," ucap Ibra setelah berhasil membuka pintu untuk Nadia.


"Terimakasih om," ucapnya kemudian.


__ADS_2