
"Seharusnya kalian bisa menjaga istriku dengan baik, bagaimana mungkin ada orang luar bisa keluar masuk dengan mudah tanpa kalian ketahui, Apa harus aku yang turun tangan sendiri seperti ini ha ???" bentaknya kesal pada dua orang yang baru saja datang.
Sakti berlari secepat mungkin ke arah sumber suara, suara Ibra terdengar sangat keras dan menggema di seluruh rumah. Benar saja, sebuah vas bunga bahkan sudah tidak karu-karuan bentuknya, ia sudah terpisah mengenaskan di lantai.
"Kau sudah tidak bisa mengajari mereka dengan benar ? hal seperti ini saja harus aku yang mengajari ?" bentak Ibra pada Sakti yang baru saja dan terlihat di depan matanya.
"Saya minta maaf tuan muda," ucap laki-laki itu dengan perasaan bersalah.
"Akhir-akhir ini tuan muda sangat mudah marah, ini salahku tidak mengendalikan semuanya dengan benar," sesal Sakti.
"Mereka di bawah kuasa ku, harusnya sejak awal kamu memberitahukan berita pernikahanmu padaku, tidak membawa paksa orang-orang ku seperti ini," ucap seseorang yang baru saja datang.
"Kalian pergilah, aku yang akan mengurusnya," ucap laki-laki itu lagi.
"Baik tuan," ucap mereka kemudian pergi.
Wajah garang dari pria yang baru saja datang berangsur-angsur berubah setelah kepergian kedua anak buahnya.
"Aishh, gue bahkan nggak pernah bayangin lo bisa nikah secepat ini," ucapnya kesal.
"Kenapa lo nggak bilang kalo lo bakal nikah waktu itu," ucapnya lagi karena tidak mendapat respon dari Ibra.
"Mulut lo rese' males gue dengernya," ucapnya kemudian pergi meninggalkan Sakti bersama Rafael.
Laki-laki itu adalah Rafael, salah satu tangan kanannya seperti Sakti, jika Sakti berurusan langsung dengan bisnis Ibra di dunia nyata, Rafael justru sebaliknya.
Rafael tak ubahnya seperti kartu As yang selalu ia keluarkan di akhir permainan, dan Sakti adalah orang yang secara langsung akan berbenturan dengan orang-orang di sekeliling Ibra.
"Apa yang membuatnya marah kali ini, ngapain lo tiba-tiba bawa orang gue ?" tanya Rafael pada Sakti yang masih diam mematung melihat kepergian tuannya.
"Aku yakin kau sudah tau, kenapa harus repot-repot bertanya padaku, aku sudah pusing dengan tuan muda jangan membuatku bertambah pusing, " jawabnya pada Rafael.
"Kalian berdua sama saja, nggak ada yang asik, benar-benar membosankan, " ucapnya kemudian melenggang pergi meninggalkan Sakti seorang diri.
"Aishhh rumah ini benar-benar bau busuk karena mayat wanita murahan itu padahal hanya beberapa menit saja," ucap Rafael yang kemudian menutup hidungnya dengan tangan kanannya.
***
__ADS_1
Kediaman Attar
Tidak ada yang berbeda dengan rumah besar itu, rumah itu semakin sepi setiap hari. Tidak ada gurauan, tidak ada percakapan, dan juga tidak ada tegur sapa dari yang lain.
"Huft rumah ini benar-benar sepi, andaikan saja anak-anak mau tinggal disini," ucapnya dengan suara kecil seperti berbisik.
"Kita hanya punya satu anak sekarang, Anak-anak yang mana ?" tanya Attar yang sejak tadi sudah mengikuti langkah istrinya dari belakang.
Aisyah yang mendengar suara suaminya itu segera menoleh ke sumber suara, "daddy ngikutin mommy ya, " ucapnya penuh selidik.
"No no, aku hanya lewat sayang," ucapnya kini menarik pinggang Aisyah untuk mendekat ke tubuhnya.
"Come on dad, kita sudah tua. Jangan bertingkah seperti remaja, kita seharusnya sudah punya cucu," ucapnya lembut.
"Abraham, kamu masih merindukannya," tanya Attar.
"Kita bahas yang lain saja," jawab Aisyah dengan memaksakan senyum di bibirnya.
"Aku minta maaf," ucapnya penuh penyesalan namun tetap tidak mendapat respon dari istrinya.
"Bagaimana kabar Ibra dan Nadia ? apa sudah ada kabar baik ?" tanyanya serius.
Aisyah mengangguk dengan senyum melekat di bibirnya cantiknya. "Aku akan memastikan kebahagiaan putra kita untuk menebus hal buruk yang terjadi pada putra kita yang lain, i'm sorry mom, sudah membuatmu berada di keluarga mengerikan ini karena menikah denganku, " batin Attar.
***
Rumah Nadia
Ibra kembali masuk ke dalam kamar dengan Nadia yang masih mondar-mandir di dalam kamarnya, gadis kecil itu bingung jika harus mandi tanpa ada pakaian, dia butuh pakaian ganti namun Ibra tidak memperbolehkannya keluar.
"Hey Gacil, masih belum mandi juga?" bentak Ibra yang baru saja datang dan masih melihat Nadia mondar-mandir di dalam kamarnya.
"He he he," gadis itu hanya tertawa cengengesan sambil melihat Ibra.
"Cepatlah mandi, sejak tadi aku sudah menyuruhmu mandi,"
"Tidak ada baju ganti yang bisa kupakai om,"
__ADS_1
"Ya ambillah, begitu saja harus di ajari,"
"Bukannya tadi om yang nggak ngasih izin Nadia keluar karena banyak orang,"
"Astaga, kau bisa mengambil nya sebentar, tidak perlu izinku untuk hal sepele seperti itu, benar-benar bodoh," ucapnya kesal.
Nadia hanya memajukan bibirnya mendengar perkataan suaminya, "Nadia yakin misalkan Nadia keluar pasti nanti om teriaknya gini, Hey Gacil kau sudah berani melawan ku sekarang? aku sudah bilang jangan keluar! jangan keluar!." ucapnya sembari menirukan gaya Ibra ketika memarahinya.
"Kau.... " teriak Ibra semakin kesal, namun Nadia segera berlari entah kemana dengan mulut tertawa dan kabur dari amukan Ibra.
"Wk wk wk wk wk," gadis itu masih terus berlari dengan tawanya dan menghadap belakang, bersiap jika Ibra mengejarnya hingga tidak melihat jalan di depannya.
"Aduuhh" rintih Nadia ketika tubuhnya mendarat ke lantai karena terantuk dada bidang seseorang.
"Maafkan aku nona, apa anda bekerja disini untuk melayani nona muda ? " tanya laki-laki itu kemudian mengulurkan tangannya ke arah Nadia untuk membantunya berdiri.
Dengan kening berkerut Nadia melihat laki-laki itu, "Anda siapa, kenapa berada di rumahku ?" tanya Nadia kemudian berdiri sendiri.
Mengetahui uluran tangannya tidak mendapat sambutan baik dari Nadia, laki-laki itu pun menarik tangannya yang masih berada di udara, (kayak apa aja sih thor di udara, xixixixi).
"Jatuh kan ? itu akibat tidak menurutiku," ucap Ibra yang baru saja datang.
"Justru karena Nadia menuruti om jadi hanya bisa mondar-mandir di kamar, om benar-benar aneh." ucap Nadia geleng-geleng kepala kemudian berjalan menuju kamarnya meninggalkan mereka.
"Pindahkan semua barang mu ke kamar ku, karena Rafael akan menempatinya." teriak Ibra.
"Hah gue ? kenapa gue ?" tanya Rafael yang masih tidak faham arah pembicaraan Ibra.
"Sudahlah kau diam saja dan lakukan perintah ku," ucapnya kemudian berjalan mengikuti Nadia yang tidak menghiraukan ucapannya.
"Mereka pisah kamar ? lalu kenapa harus bilang gue tinggal di sini ?" tanyanya pada diri sendiri.
"Lakukan saja, tuan hanya ingin tidur sekamar dengan nona muda," ucap Sakti yang baru saja datang.
"Yakin lu itu nona muda, masih bening dan imut-imut gitu selera Ibra?" tanya Rafael pada Sakti dengan mata melotot.
"Bukan selera bodoh, itu pilihan nyonya dan tuan besar," ucapnya sembari mengetuk kepala Rafael.
__ADS_1
"Gila bener, Ibra dapet daun muda gitu. Gue juga mau deh kalo di jodohin sama yang model begituan," ucap Rafael tersenyum membayangkan jika dirinya di jodohkan dengan gadis muda.