Dipaksa Menikahi Pria Dingin

Dipaksa Menikahi Pria Dingin
Ulah Rafael


__ADS_3

Ibra dan Nadia baru saja keluar dari kamar mandi bersamaan dengan baju handuk couple berwarna hitam di tambah kombinasi motif sederhana berwarna gold.


Terlihat sekali kesan elegan dan glamor bahkan ketika keduanya hanya memakai handuk, di tambah rambut basah dengan butiran-butiran air yang masih menetes berjatuhan ke sana ke mari.


"Mas Ibra kemari, biar Nadia bantu keringkan rambutnya," ucapnya kemudian dengan tangan yang sudah di bentangkan bersama handuk.


Ibra mendekat begitu saja dan segera duduk di sebuah kursi yang berada tepat di depan Nadia berdiri, "bagaimana jika aku mengubah sedikit warna rambutku? apakah itu bagus?" tanyanya kemudian di tengah aktifitas Nadia menggosok dan memijit pelan kepala suaminya itu.


"Uhm... terserah mas Ibra saja, yang paling penting jangan sampai dengan perubahan warna rambut itu membuat citra mas Ibra ikut berubah menjadi buruk, "


"Kalau begitu, aku akan ubah gaya rambut saja, kau juga, kau semakin cantik jika memakai kerudung seperti saat kita kabur waktu itu," ucapnya.


Nadia melihat Ibra dengan senyum simpul agar tidak terlihat Ibra, "kau tersenyum, tersenyum saja, jangan bersembunyi seperti itu," ucap Ibra menggoda.


"Aku tidak tersenyum," bantah Nadia lembut.


"Aku tau kau tersenyum, kau memang semakin cantik dengan kerudung itu, itu cocok di wajahmu," ucapnya lagi.


"Kau tersenyum bukan?"


"Nadia nggak tersenyum mas, mana mana? nih nggak senyum kan?" ucapnya lagi dengan mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Ibra.


"Nah nggak senyum kan?" ucapnya lagi


Bukannya menjawab, Ibra malah hanya terpaku melihat wajah itu, "mas... mas Ibra... "


"Cantik... "


"Hah.... "


"Cantik, aku tidak ingin melihat rambut ini di lihat oleh orang lain, kecantikan ini hanya boleh di lihat olehku," ucapnya kemudian dengan mimik wajah serius.


"Yakin?" tanyanya.


"Kenapa tubuh ini selalu membuatku candu, aku seperti tidak bisa jauh dari aroma wangi ini,'' batin Ibra seorang diri.


Ibra semakin mendekatkan bibirnya pada telinga Nadia, yang tentu saja itu membuat Nadia merinding di buatnya, "sangat yakin," ucapnya kemudian.


"Bagaimana caranya melepaskan diri dari wangi milik Nadia, aku benar-benar tidak bisa berhenti," batinnya lagi.

__ADS_1


"Mas.... " ucap Nadia ketika bibir Ibra sudah aktif bergerak di seluruh lehernya.


"Mas Ibra... kita... baru saja mandi," ucapnya terbata namun tidak mendapat respon dari laki-laki itu.


Bukannya menjawab Ibra malah menggendong tubuh Nadia dan menurunkan di atas ranjang, "mas... ini sudah malam," ucapnya lagi.


Namun laki-laki ini tetap diam saja dan tetap melanjutkan aktifitas nya tanpa menjawab ucapan Nadia.


Mengetahui sifat suaminya jika sudah seperti ini, akhirnya membuat Nadia memilih untuk diam saja hingga Ibra merasa puas.


Pyarrrrrr


Baru saja hendak menarik tali handuk milik Nadia, namun sebuah suara aneh menghentikan gerakan tangan Ibra.


Kedua manusia yang sedang bahagia-bahagianya itu, kini sedang saling pandang seolah bertanya, "apa yang terjadi di luar sana,"


Namun bukan Ibra namanya jika bisa di provokasi oleh pihak luar sebelum keinginannya tercapai, yang saat ini ia inginkan hanya Nadia, ia tidak akan beralih pada hal lain.


Tak selang beberapa lama, sebuah rintihan Luna berhasil membuyarkan fokus Ibra, "Cih... siapa yang mengganggu di saat saat menegangkan seperti ini," ucapnya kesal.


Ia baru saja hendak kembali mencumbu Nadia, namun terhenti karena suara teriakan Rafael.


"Aish.... mereka mengganggu saja," kesalnya semakin menjadi-jadi namun Nadia malah tersenyum gemas dengan laki-laki tercintanya ini.


"Maling mana yang bisa masuk ke dalam rumah ini, itu sama saja bunuh diri," ucap Ibra lagi yang segera bangkit menuju keluar kamar dengan membenarkan tali kimononya.


***


Beberapa menit yang lalu


Di Ruangan Lain


Seorang wanita dengan pakaian kotor seperti habis terjatuh kini berada di sebuah ruangan besar menghadap tangga utama rumah Nadia dan Rafael.


Entah bagaimana dia bisa masuk ke dalam rumah dengan sistem keamanan yang ketat di rumah ini, dan yang lebih anehnya, ini sudah pukul dua belas lewat, bagaimana bisa seorang wanita bisa berkeliaran dengan baju kotor sepertinya di jam segini.


Melihat tidak ada satu orang pun yang terlihat di rumah ini, akhirnya wanita itu berkeliling mencari cara untuk membangunkan semua orang.


Pyarrrrrr

__ADS_1


Sebuah vas bunga besar yang berada di sudut ruangan menjadi target pilihannya, vas yang sudah pasti berharga ratusan juta itu sudah bercerai berai di lantai marmer rumah ini.


"Siapa di sana?" tanya Aga di ujung tangga paling tinggi.


Sakti yang juga mendengar kejadian yang baru saja terjadi itu segera bergegas mengambil senjata apapun yang berada di kamarnya.


"Ada apa Sakti? ini sudah tengah malam," ucap Luna yang langsung berlari ke kamar Sakti yang berada tepat di sebelah kamarnya..


"Panggil Rafael di ruang rahasianya, pasti karena ada pergantian shift penjaga sehingga ada orang asing bisa masuk," perintahnya siaga.


"Laksanakan," ucapnya yang juga ikut siaga.


"Dimana Rafael?" tanyanya tanpa kenal takut kepada Aga.


Sakti yang masih memantau begitu mengambil sebuah pistol segera mendekat ke sumber suara, "bagaimana bisa masuk ? kau punya orang dalam untuk bisa bertemu dengan nya ?" tanyanya lagi.


"Aku ingin Rafael, panggil dia sekarang!!!! " teriaknya semakin keras.


"Kau kira aku tuli.... ? kau kira aku tuli sampai kau harus teriak seperti itu di tengah malam seperti ini hah ?????" bentak Rafael tidak kalah emosi.


"Dimana gadis itu? dimana gadis yang tinggal di rumahmu itu?" racau wanita itu semakin tidak karuan.


"Aku tinggal di rumahnya, dan aku juga masih gadis, kenapa? tidak hanya kau yang ingin Rafael, semua wanita di dunia ini menginginkan dia, tapi kenapa kau meracau seperi orang gila di sini sekarang." ucap Luna yang baru saja turun dari tangga dan saat ini berdiri tepat di belakang Rafael.


"Ah... dia juga simpanan mu, beraninya p*la*ur sepertimu berbicara padaku," ucapnya pada Luna dan langsung menarik rambut panjang Luna.


"Aww.... lepaskan aku, Rafael..... " teriak Luna menggapai tangan Rafael agar tidak terjatuh dari tangga. .


Sakti dan Aga dengan cepat menarik perempuan aneh itu menjauh dari Luna, "Jangan mengacau di sini sebelum tuan kami datang dan tidak segan-segan menembakkan peluru tepat di kepalamu," ucap Aga.


Sakti menatap Rafael meminta jawaban, "dia pemuas nafsumu?"


Rafael berusaha mengingat siapa wanita yang berada di depannya ini, karena banyak sekali wanita di sekelilingnya, ia memang beberapa kali lupa.


"Ah, wanita itu rupanya, aku bahkan tidak mengeluarkan di dalam, tidak seharusnya dia meminta pertanggungjawaban dan mengacau di sini, seharusnya tidak ada masalah," ucapnya.


"Astaga El, matilah kau sekarang, tuan muda akan menggoreng mu di atas tungku raksasa," ucapnya.


"Bawa dia keluar," ucap Rafael memberi perintah.

__ADS_1


"Ada apa ini? menggangguku saja?" teriak Ibra menggema di seluruh rumah, suara tegas dan berat itu memiliki kharisma tersendiri.


"Siapa yang membuat ulah????" ucapnya dengan suara menggelegar membuat merinding semua orang yang ada di sana.


__ADS_2