
Setelah Malam Minggu pertama bagi Khania dan Raffi selayaknya sepasang kekasih hubungan mereka semakin membaik.. Khania semakin dewasa dalam bersikap...
Sering Kali Raffi harus sibuk bekerja namun Khania tetap bersabar memberi semangat untuk kekasih nya...
Kesibukan Raffi tak hanya di Kantor saja, tapi mengurus WO juga menjadi prioritasnya...
Kini Raffi telah bekerjasama dengan beberapa Gedung, Masjid juga Hotel....
Atas kesiubukannya tentu ada Rupiah yang Ia hasilkan....
Enam Bulan Berlalu...
Raffi kini membeli sebuah Rumah yang memang tak terlalu besar, namun cukup untuk keluarga kecilnya kelak... Rumah dua lantai minimalis itu di pilih Raffi karena tawaran Sandi yang tak lain sebagai pemilik perumahan tersebut...
Vano pun mengetahui langkah yang Di Ambil Raffi, Vano cukup bangga pada Raffi, tandanya ia benar-benar memikirkan kehidupan adiknya yang layak...
Kehebatan keluarga Wijaya adalah sikap kesederhanaannya.. Khania memang terbiasa hidup mewah bergelimbang harta, namun semenjak ia mengenal Salsa sang kakak ipar ia lebih menikmati hidup apa adanya...
Saat Khania tau Raffi akan membeli rumah namun tak sebesar Rumah orang Tuanya, Khania maah justru senang dengan Alih alih akan mudah membersihkan rumah yang tak terlalu besar, tak perlu banyak memakai ART pula...
Malam ini Pak Meminta seluruh anak menantunya untuk kumpul dirumahnya..
Di kediaman Bapak Banu Wijaya..
"papa ada apa kumpulin kita semua?" kata Thania
"mama sehat kan mah?" kata Khania
"mama sehat sayang, tunggulah papa bicara maksud dan tujuannya" kata Ibu Widya
"ada apa pah?" tanya Vano
"begini... kalian tau kan papa ini udah gak muda lagi secara usia, meskipun papa secara wajah dan stamina masih sebelas dua belas sama Vano" kata Pak Banu membuka dengan candaaan
"ga sekalian kaya Keenan pap" ledek Khania
"jadi papa mau bicaraain apa si?" kata Thania
"yaa itu, papa udah ga muda lagi, jadi papa mau menikmati masa Tua papa... papa mau ke Kampung halaman papa, disana papa sedang bangun rumah peninggalan orang tua papa jadi sangat sangat layak... papa dan mama akan tinggal disana"
"haaahh??? Khania ga setuju!!"
"khaniaaa dengerin penjelasn papa dulu" kata Ibu Widya
"Khania kamu kelak akan menjadi seorang istri seperti Thania dan Salsa yang dibawa seorang suami, kamu ga bisa sayang sama kita terus" kata Pak Banu
"hiks hiks Khania bisa bicara sama calon Khania kelak pap buat tinggal bareng kalian" kata Khania
"gabisa begitu sayang, itu namanya memaksakan" kata Pak Banu
__ADS_1
Khania terisak dalam pelukan Ibu Widya
"papa, maksud papa dumah eyang papa rubah ajdi lebih layak tuh apa apah? Bukanya rumah eyang cukup baik...
"iya tapi papa buat sedikit kolam kecil yaa kali aja papa bebakat ternak ikan, ada sedikit lahan buat mama papa bercocok tanam, pokonya papa sudah matang memikirkan ini" kata Pak Banu
"Pah.. Vano masih butuh bimbingan papa" kata Vano tertunduk
"kamu bahkan lebih jago dari papa, dalam empat Tahun belakangan usahamu naik 2 kali lipat, saham meroket tinggi, bahkan papa butuh berthun-tahun untuk itu" kata Pak Banu
"tapi ga akan secepat itu kan Papa dan mama pindah?" celetuk Salsa
"mama dan papa nunggu khania menikah sa" kata Ibu Widya
"apa Raffi serius sama kamu Khania?"
tanya pak Banu
"serius pah, mah, tapi Kani yang minta ga menikah dulu, kani mau masih banyak belajar mengurus Hotel, Raffi juga masih sibuk di kantor dan di WO......"
"Khaniaa.. hidup kan setiap hari belajar, kalo kamu menikah mungkin kamu bisa sambil belajar sama Raffi..." kata Pak Banu
"pahh ayolah, aku masih mau belajar pah, paling enggak aku harus berunding sama Raffi dulu pah" kata Khania masih dalam rasa haru nya...
"baiklah khania, papa gak akan memaksakan itu... tapi papa dan mama akan sering bolak balik kampung halaman buat berlibur.. disaana sangat Asri, sejuk, papa tenang disana" kata Pak Banu..
"kejutaann" kat pak Banu
"ini bukn kejutan pap, tapi pukulan" kata Khania
"Khania percayalah kalo kamu udah punya suami, kamu akan disibukan dan sedikit melupakan kita" kAta pak banu
"Neverr pahhhhhh!!" kata Khania memeluk Pak Banu
"Manja!!" kata Vano
"lah manja ama papa gapapa kak, yang gak boleh manja sama pacar! dosa! kata Khania
"uh anak mama udah dewasa ya!!" akta Ibu Widya mencubit pipi Khania...
*********
Tiga hari berlalu..
Khania sengaja membuat janji dengan Raffi selepas jam kantor...
Mereka telah tiba di sebuah restoran..
sambil menunggu pesanan datang, Khania membuka obrolan seriusnya..
__ADS_1
"Raff boleh aku tanya sesuatu?" kata Khania
"tanya apa sayang?"
"apa orang tua kamu tau soal hubungan kita??"
"tau kok, kenapa emang nya?"
"gapapa.... hemm kapan rencana kamu kenalin aku ke mereka?"
"yaa terserah kamu kapan siapnya, aku akan luangkn waktu ku.." kata Raffi
"setelah aku bertemu keluargamu, apa kamu akan melamar ku?" kata Khania serius
"sekalipun kamu belum ketemu keluargaku karena kesibukan kita, tapi kalo kamu siap besok aku lamar, aku akan melamar kamu" kata Raffi mengenggam tangan Khania
"makasih Raff... hemm apa kamu punya bayangan kapan waktu yang tepat buat kita menikah?" tanya Khania
"sayang... kalo kamu menerima aku apa adanya aku siap lahir batin menikahimu besok, lusa, minggu depan, kapanpun itu,, asal kamu bisa terima aku apa adanya saat ini" kata Raffi
"raaff kenapa kamu bisa bicara begitu?" tanya Khania
"sayang, aku sadar siapa kamu.. tapi lihat aku, aku hanyalah bawahan abangmu... kamu tau kan berapa gaji aku? dan berapa keuntungan aku di WO... kamu juga tau aku baru punya rumah yang tak sebanding dengan rumah orang tuamu, kendaraan aku juga jauh di bawah kendaraan kamu...tapi aku selalu berusaha membuatnya lebih baik agar kamu ga kecewa setelah menikah dengan aku nantinya... aku harus bisa menyamaratakan dengan keadaan kamu saat bersama orang tua kamu, aku ga mau saat kita dalam status pernikahan, kamu merasa kekurangan,, yaa Aku sadarr kamu juga punya penghasilan yang lebih, tapi itu adalah milikmu, bukan Nafkah dari aku..." kata Raffi
*(pengalaman author nii, dulu author minta di majuin pernikahannya tapi suami author ngomogng kaya gitu... hehe... bedanya posisi author ga kaya Khania anak konglongmerat yak hehee)*
"aku terima kamu Raff, banyak orang membina rumah tangga sambil membangun semua nya bersama, bahkan banyak yang memulainya dari Nol" kata Khania
(Dulu thor bgini ni jawabnya hahaha)
"apa kamu yakin? kita bicara soal pernikahan khania.. aku gamau kita gagal, aku mau satu selamanya sampai ajal memisahkan kita" kata Raffi..
"aku yakin, bahkan sangat Yakin..." kata Khania
"jadi kapan kamu mau aku melamarmu?" kata Raffi
"dua atau tiga bulan lagi, lalu tiga bulan kemudian kita menikah....Bagaimana?"
"dengans senang hati, semoga Allah melimpahkan Rezeki untuk aku, agar aku bisa menjadi yang Terbaik utuk kamu sayang, aku gamau mengecewakan kamu, apaagi buat kamu merasa kekurangan Hidup denganku..."
Kata Raffi
"aku menerima kamu apa adanya Raff" kata Khania tersenyum....
Raffi memanglah bukan anak dari kalangan konglomerat seperti Khania..
Namun di daerahnya Keluarga Raffi termaksud keluarga yang di segani, selain usaha kuliner yang memiliki 10 cabang di kota Cirebon, orang tua Raffi memiliki sebuah peternakan Sapi...Namun Raffi sama sekali tidak membanggakan orang tuanya ke pada orang lain , cukup di hatinya ia mengagumi, membanggakan kedua orang tuanya...
Semenjak merantau, Raffi hampir tidak pernah menerima uang dari orng tua nya, termaksud uanh bayaran kuliah ahanya dia semester di awal sjaa... Banyak hal yang Raffi lalui dalam urusan mencari selembar rupiah...
__ADS_1