Dokter Cantik

Dokter Cantik
BONUS 3


__ADS_3

Meeting Bulanan di Kantor pusat..


Bagaimana nasib ku bertemu bang Vano, dia pasti sangat marah atas kejadian semalam..


duh Khania, kamu benar-benar membuat aku mati kutu kali ini...


"Raf, udah lama?" tegur Sandi melihat Raffi berada di ruang Rapat tersebut


"eh, pak.. belum pak.. baru aja.." sahut Raffi sambil menodongkan tangannya untuk bersalaman..


"ohh.. Vano juga baru dateng kayaknya, jadi kita tunggu aja"kata Sandi sambil membuka beberapa File yang ia bawa


"oh, tumben siang Datengnya" kata Raffi


"yaa paling kecapean abis tempur" kata Sandi terkekeh kecil lalu di sambut anggukan mengerti oleh Raffi..


Selama Sepuluh menit mereka menunggu, tak lama CEO perusahaan besar itu memasuki ruangam dengan wajah yang sedikit tidak bershabat...


Mereka melakukan Meeting bulanan, seharusnya memang ada pihak dari Hotel juga Rumah Sakit selaku bagian dari Wijaya Grup namun kali Ini Khania memang tidak bisa hadir, sementara sekertarisnya tengah menemui klien penting pagi ini...


Bagimana dengan Thania? Thania sudah hampir 7 bulan tidak kembali ke Indonesia karena pekerjaan suaminya di negri sebrang sangat sibuk, Di tambah Puteri mereka sudsh bersekolah, jadilah Vano kembali menyibukan dirinya lagi di Rumah sakit di bantu oleh Isterinya...


Meeting berjalan lancar selama 2,5 jam lamanya..


Para perwakilan pun satu ersatu meninggalkan ruang rapat tersebut...


"Raff keruangan saya" kata Vano sambil berjalan mendahului Raffi


Raffi tidak menjawab hanya menganggukan kepala lalu mengikuti langka Vano....


"duduk" kata Vano yang baru menjatuhkan tubuhnya di atas sofa ruangannya


Raffi pun duduk di sisi kanan Vano namun berbeda sofa...


"apa benar semalam khania kontraksi?" tanya Vano dengan serius


"iya Pak, padahl masih 3 sampai 4 minggu lagi kalo menurur kaka ipar" kata Raffi


Kali ini Vano sebenarnya tak ingin marah, ia hanya memikirkan adiknya, Vano dua kali mendampingi Salsa melahirkan dan rasanya begitu menyakitkan melihat orang tersayang merasakan sakit...


"dia masih suka ke hotel?" tanya Vano


"engga bang ehh Pak,,,, sudah saya larang, paling kalo ada meeting clien di suruh kerumah atau ke cafe depan perumahan" kata Raffi jujur


Vano pun mengangguk..


"sudsh telfon mama? mama harus nemenin Khania takut tiba-tiba mules" kata Vano merasa khawatir


"sudah kak, mama bilang 2 minggu lagi datang,, mama mau panen tomat dulu katanya" kata Raffi sambil tersenyum kecil

__ADS_1


"ada-ada aja si mama..."kata Vano menggelengkam kepala..


"baik, kembalilah ke kantor mu.." kata Vano kepada Raffi


"baik bang, ehh pak maksudnya... saya permisi" kata Raffi kemudian pergi meninggalkan kantor utama...


*******


Tiga Minggu berlalu..


"Raff, nanti bang Vano mau kesini.. sebelum cuti aku harus memberi penjelasan beberapa pekerjaan yang kemungkinan akan aku alhihkan ke Bang Vano" kata Khania di meja makan kaca bundar mereka..


"iya sayang, mama udah ngabarin? ibu belum bisa kesini nemenin kamu, ibu juga lagi ga enak badan disana" kata Raffi merasa tak enak hati


"gapapa sayang, kasian ibu kalo harus maksain.. mama sore ini berangkat naik pesawat sore, makanya nanti bang Vano juga kesininya sore, kangen mama sama papa katanya" kata Khania menjelaskan


"yang jemput mama papa siapa? apa aku aja?" kata Raffi menawarkan diri


"boleh kalo kamu mau, mereka tiba jam 5 sore" kata Khania


"oke pas," kata Raffi yang sudah menerka-nerka jam kerjanya selesai...


Sore Hari..


Dikediaman Khania sudah ada Vano, Hafiz yang kini menjadi sekertaris Vano dan Sandi, Dewi juga hadir selaku sekertaris Khania..


"pembayarannya?" tanya Vano melihat rincian keuntungan biaya kerjasama itu sangat besar


"sudah 50 persen, sisanya mereka bayar satu minggu sebelum acara..." kata Khania menjelaskan dengan mengangkat file karena merasa engap mengingat perutnya sudah sangat besar


"nah yang ini ni bang, ini-------"


ucapan Khania terhenti, ia diam sejenak merasakan sesuatu yang aneh yang ia rasakan...


Vano awalnya fokus pada File melirik adiknya karena ucapannya terhenti


"kenapa?" kata Vano sedikit panic


"bang ka Salsa dimana?" tanya Khania setelah menarik Nafasnya


Vano melihat jam di tnagannya sudah pukul 3 sore, Salsa akan bersiap pulang jika memang sudah tak ada pasien


"mungkin masih di klinik, ada apa?" kata Vano , Dewi dan Hafiz pun menatap Khania yang sudah bercucuran keringat menjadi imut panic


"bang....Abang... hiks hiks hiksss" khania menyenderkan tubuhnya ke sofaa, ia mulai memegangi perutnya..


"dek jangan bercanda, abang gak suka ya!" kata Vano panik


"bu, ibu mau melahirkan?" celetuk dewi sambil mengusap keringat Khania dengan tisu

__ADS_1


Khania menangis lalu mengangguk


"bang mules"


ucap Khania lirih


"APAH???????" Vano terkejut, kebingungan melihat perempuan yang ia sayangi merasakan sakit


"ah gimana ini. kenapa harus pas sama abang! kenapa abang ngalami hal ini lagi" kata Vano frustasi


"Pak lebih baik ke Rumah sakit sekarang" kata Dewi


"Tungguuuu.." kata Khania berusaha duduk tegak


Semua menatap Khania penuh Arti. Jantung Vano sudah berdebar kencang sedari tadi..


"Mulesnya ilang" kata Khania polos, Vano, Dewi, dan Hafiz yang semula panik malah membuang nafas kasar,


"Khania tolong jangan main-main, ini ga lucu" kata Vano kesal


"bener bang ini ilang mules dan sakitnya, cuma agak kenceng aja perut nya" kata Khania sambil mengusap perutnya


"minum dulu bu" kAta Dewi sambil menyodorkan air putih di gelas


"makasih wi" ucap Khania


"yasudah lanjutkan dulu ini" kata Vano sambil mengambil kembali file di mejanya, Vano teringat akan kontrakso Palsu yang pernah di alami Khania jadi Vano memutuskan untuk kembali bekerja ketimbang membawanya ke Rumah Sakit


Duapuluh menit kemudian..


""ini beneran apa boongan si Khania" kata Vano yang sudah sangat panik melihat adiknya meringis kesakitan di hujani keringat di dahinya


"pak bawa ke Rs pak" kata Dewi yang juga tak kalah panik


"Yaa Allah tuan, nyonya Khania mau melahirkan itu" kata BI Sumi, ART rumah Khania


"bii tolong ambil tas besar di kamar yaa, sekalian tas saya di nakas" perintah khania sambil meringis kesakitan


"Ayo Kita Ke Rs, Abang juga hubungin kakak Kamu" kata Vano dengan tangan Kiri memapah Khania lalu tangan kanan memegang ponsel


Dewi berada di sisih lain khania membaantu Khania berjalan, sementara Hafiz sudah duluan keluar rumah itu menyiapkan memanggil supir Vano untuk menyiapkan Mobil segera...


kenapa zonk banget! hancur hati gue ngeliat Khania kesakitan gini... berasa djavu waktu zaman Keenan dan Kiinan lahir..


Batin Vano..


"Bang jangan lupain suami Khania, telfon dia bang" Kata Khania mengingat suaminya yang belum ia kabari..


Vano hanya diam seolah mengerti apa yang harus ia lakukan kala itu...

__ADS_1


__ADS_2