Dokter Cantik

Dokter Cantik
BONUS 1


__ADS_3

Satu Pekan Berlalu...


Hari ini pertama kali Salsa akan memulai Prakteknya dengan segala persiapan selama satu minggu ini...


Salsa akan memulai Prakteknya pukul 10 pagi hingga pukul 3 sore.. cukup lama memang karena setelahnya klinik itu akan di ramaikan dengan Jadwal dokter Gigi, juga dokter mata..


"apa kamu siap memulai hari barumu sayang?" kata Vano yang telah duduk manis di meja makan


"Tentu, berkat suamiku" kata Salsa sambil mengambilkan satu centong nasi goreng ke atas piring suaminya


"aku bahagia jika kamu bahagia sayang" kata Vano dengan sedikit bisikan ketika Salsa duduk di kursinya lalu Vano mendekat ke arah Wajah isterinya itu...


Salsa hanya tersenyum, tersipu malu.. Salsa bagaikan wanita paling bahagia di dunia ini, wajahnya semakin hari semakin terlihat cantik karena aura kebahagiaanya terpancar jelas...


Pukul 9.30 pagi di Klinik Barunya...


"pagi dokter" sapa Yenny kepala bidan yang akan setia mendampingi Salsa, yenny sengaja di pindah tugaskan karena Vano tau kecocokan Salsa dengan Yenny... Tidak hanya Yenny, ada 6 perawat juga yang bekerja di klinik tersebut guna menjadikannya asisten dokter kala praktek... mereka tinggal di lantai 3 ruko yang telah Vano sulap menjadi Klinik kesehatan wanita hamil, Wanita yang ingin ke dokter mata, juga Wanita yang hendak memeriksakan kesehatan gigi...


"pagi Yen... sudah ada pasien kah?" kata Salsa bertanya


"hemm untuk saat ini baru 9 yang booking lewat Telfon dok" kata Yenny membuat salsa terbelatak kaget, Sembilan? apa itu tidak terlalu banyak, mengingat ia baru akan memulai prakteknya...


"oh..." kata Salsa karena bingung harus berkata apa


"hemm kalo ada pasien bisa surug masuk ya, aku sudah tak sabar" kata Salsa sambil beranjak masuk kedalam ruangannya yang terlihat sangat nyaman, sesuai denga karakteristik salsa


10 menit menunggu, ketukan pintu Yenny lontarkan guna memberi tanda jika ia akan menyampaikan sesuatu...


Salsa mengizinkan Yenny masuk, lalu Yenny juga mengatakan sudah ada pasien pertama...


Salsa pun mempersilakan ia masuk, tentu dengan yenny di dalam ruangan guna membantunya..


"pagi dokter cantik..." sapa seorang Pasien yang Salsa sangat hapal suaranya


"Khaniaaaaaaa" sapa Salsa pada adik iparnya itu..

__ADS_1


"Kakak kenapa melihatku seperti hantu" kata Khania yang masuk kedalam ruangan bersama dengan Raffi


"maaf kakak kaget aja kalo kamu pasien pertama disini" kata Salsa


"kalo begitu aku dapat pemeriksaan gratis dong" ledek Khania yang mengundang gelak tawa manusia yang ada di ruangan itu...


"baiklah, duduk dulu" kata Salsa memersilakan Khania dan Raffi


Khania pun duduk begitu juga Raffi...


"ada keluhan?" tanya Salsa


"kalo pagi selalu pusing kaa, kapan pusing ini berlalu, aku bosan bagai burung dalam sangkar" kata Khania dengan nada lirih


"ya kan demi kebaikan dia ya kaka ipar" celetuk Raffi


"kamu itu darah rendah, sudah minum vitamin penambah darah? makannya sudah benar?" tanya Salsa seolah mengintimidasi


"Vitamin minum kak, tapi kalo makan hehee" khania cengengesan


"wah enak ya Raff, menunya murah meriah" ledek Salsa sambil berdiri, Raffi hanya tersenyum kecil mendengar ucapan Salsa


"yuk rebahan kita liat dia yang ada di dalam" kata Salsa sambil memegang perut adik iparnya


Khania pun berbaring, Yenny membantunya memakaikan gel sebelum alat usg menari di atas perut Khania yang masih nampak Rata


Salsa mulai mengerakkan Tongkat USG itu..


"udah 5 minggu yaa, dia sanggat sehat meskipun makan telor terus" kata Salsa terkekeh meledek Khania dan Raffi


"kenapa hanya begitu kak bentuk nya, apa kaka ipar ga salah?" celetuk Raffi lalu mendapatkan reaksi mematikan dari Salsa


"kamu pikir isterimu hamil anak ajaib yang langsung berbentuk sempurna?! ukurannya saja masih sebesad biji kedelai" kata Salsa dengan sedikit kesal


"oh.. maaf kaka ipar, aku tidak faham" kata Raffi dengan sedikit takut

__ADS_1


"jangan hanya faham cara membuatnya, pelajari cara memperlakukannya saat di dalam sana, saat dia lahir nanti, perbanyak baca buku lahh" kata Salsa mengintimidasi


Raffi hanya menggaruk kepalanya dan merasa malu, begitu juga Khania yang sedikit kesal karena pertanyaan Raffi semula yang di anggapnya konyol itu


"cukup, dia sangat sehat, tumbuh sesuai dengan usianya." kata salsa yang kemudian berdiri, Bidan yenny dengan perlahan membersihkan perut mulus Khania


"ini kaka resepkan obat penambah darah lagi, dan Vitamin kehamilan..." kata Salsa sambil mencatat sebuah resep


"Raffi kamu harus puasa dulu yaa sampai usia kehamilan tiga bulan" kata Salsa dengan sedikit senyum tersunging


"Puasa apaan ka Tiga bulan?"


anak ini polos apa bodoh yaa


Dalam hati salsa


"puasa hubungan suami isteri di ranjang, kamu harus tahan dulu selama 3 bulan, sampai janin benar-benar kuat" kata Salsa menjelaskan


"Apa kaka ipar??? yang benar saja kaka ipar, masa tiga bulan?? mana tahan" kata Raffi Frustasi, sementara Khania merasa sangat malu dengan sikap suaminya itu


"aku serius, kamu boleh tanya beberapa dokter kok kalo kamu meragukan kaka ipar mu ini... apalagi aku sudah pengalaman hamil" kata Salsa sambil memutar pulpen di atas meja dengan jarinya


"baiklah kaka ipar, sungguh ini puasa terberatku" kata Raffi dengan lesuh


Salsa hanya menggelengkan kepalanya ia kembali teringat dengan suaminya yang juga sangat Frustasi kala harus berpuasa di awal kehamilan dan setelah melahirkan..


Usai memeriksa kehamilan, Raffi dan Khania kembali kerumah Utama Wijaya.. Raffi hari ini izin tidak ke kantor karena akan menemani Khania periksa juga akan mengurus kepindahannya ke kantor cabang sebagai wakil Vano, terlebih malam hari ia harus ujian semester di kampusnya..


Dengan alasan yang masuk akal tentu Vano memberikan ia izin untuk tidak datang ke kantor terlebih dahulu..


Dalam perjalanan pulang yang tak memakan waktu lama Raffi dan Khania hanya diam membisu.. Khania sibuk dengan ponselnya karena sibuk berkomunikasi dengan Dewi sekertarisnya...Semenyara Raffi juga sibuk dengan ponselnya membalas beberapa email yang masih berhubungan dengan pekerjaanya...


Tiba dirumah, setelah mengantrkan Isterinya di kamar mereka, Raffi meminta izin untuk segera pergi ke kantor cabang, beberapa hal harus ia pelajari sebelum besok ia akan pindah bekerja...


Khania pun memahami kelak kesibukan baru yang akan di jalani Raffi dikemudian...

__ADS_1


*********


__ADS_2