
Dengan penuh semangat Devina melangkahkan kakinya menuruni tangga untuk pergi ke dapur karena merasa lapar padahal masih pukul lima pagi, jadi Devina memutuskan untuk pergi ke dapur dan memakan roti sambil menunggu sarapan juga membantu mertuanya memasak nanti. Di dapur masih tidak ada siapapun, tapi ada Bibi yang sepertinya baru ingin memasak dan Devina tersenyum ketika melihatnya.
Tanpa merasa terganggu Devina mengambil roti tawar yang ada di lemari juga selai coklat lalu duduk dan membuat roti tawar untuk dia makan. Entahlah Devina terus merasa lapar sejak kemarin bahkan porsi makanan yang biasanya tidak dia habiskan sekarang terasa kurang untuknya.
"Bibi mau masak apa?" Tanya Devina dengan ramah
Wanita paruh baya itu menoleh dan menatap Devina dengan senyuman.
"Belum tau Non ini nunggu Ibu dulu mau tanya masak apa." Kata Bibi
Devina mengangguk dan kembali memakan rotinya.
"Bibi mau ngapain sekarang?" Tanya Devina lagi
"Mau beberes dulu nanti kalau Ibu udah bangun baru langsung buat sarapan biasanya sebentar lagi Ibu udah turun." Kata Bibi
"Em gitu"
Devina memakan lagi rotinya hingga habis lalu karena merasa kurang dia membuat lagi satu.
Saat tengah asik makan Devina mendengar suara Ziko dan hal itu membuat dia mendongak lalu menatap sang suami yang baru saja muncul di hadapannya.
"Aku cariin." Kata Ziko
Devina tersenyum seraya menunjukkan cengirannya.
"Hehe Vina lapar Ziko." Kata Devina
"Makan apa?" Tanya Ziko sambil menarik kursi dan duduk di dekat istrinya
"Makan roti pakai selai, Ziko mau?" Tanya Devina
Ziko menggelengkan kepalanya pelan lalu mengusap sayang kepala Devina sambil tersenyum.
"Mama belum turun ya Bi?" Tanya Ziko
"Belum mungkin sebentar lagi." Kata Bibi yang di tanggapi dengan anggukan singkat
Tidak mau mengganggu majikannya Bibi memilih untuk pergi dan melakukan pekerjaan yang lainnya meninggalkan Devina bersama dengan Ziko.
"Vina lapar banget?" Tanya Ziko
Devina mengangguk sebagai jawaban dan Ziko hanya bisa tersenyum dia mengusap pipi Devina yang semakin tembam.
"Hari ini kita kerjain skripsi kamu ya? Kita perbaiki beberapa bagian yang salah." Kata Ziko
Devina langsung menghentikan kegiatannya lalu menatap Ziko dengan wajah murung.
"Enggak"
"Eh kemarin bilang apa sama aku hm? Kata Vina besok aja karena besok libur." Kata Ziko
__ADS_1
"Malas Ziko." Kata Devina pelan
"Enggak boleh malas sayang nanti malah enggak selesai." Kata Ziko dengan penuh kelembutan
"Vina capek habisnya salah terus sama Pak Mario di coret terus." Keluh Devina
"Makanya kita lihat lagi coba di cari mana yang salah ya? Kalau enggak Vina kerjain nanti enggak selesai kan Ziko bantuin." Kata Ziko
"Tapi....."
"Devina, mau ya? Nanti kalau udah berhasil Ziko kasih hadiah." Kata Ziko
"Hadiahnya apa?" Tanya Devina
"Apa aja yang Vina minta." Kata Ziko membuat senyuman perlahan terbentuk
"Apa aja?" Tanya Devina
"Hm"
Devina tersenyum senang.
"Em yaudah nanti kita lihat skripsi Vina lagi." Kata Devina
Ziko tersenyum dia merasa gemas sekali lalu dengan gemas Ziko mencubit pelan pipi istrinya.
"Ziko"
"Hm"
"Boleh, habis sarapan kita lihat skripsi kamu lalu habis makan siang kita pergi ke rumah Mommy." Kata Ziko
Devina tersenyum senang dan setuju dengan ide yang di berikan oleh sang suami.
Setelahnya Devina kembali makan dan lagi Ziko terus menatapnya hingga tak lama suara Nazwa terdengar membuat keduanya mendongak.
"Selamat pagi Maa." Sapa Devina dengan senyuman manis di wajahnya
Nazwa ikut tersenyum lalu menatap menantunya yang sedang makan.
"Vina udah sarapan duluan?" Tanya Nazwa
"Em sarapan sedikit, tapi nanti sarapan lagi sama-sama Vina cuman makan roti karena lapar sekali." Kata Devina membuat Nazwa tertawa kecil mendengarnya
Memiliki menantu seperti Devina merupakan kebahagiaan yang besar untuk Nazwa karena dia merasa seperti memiliki seorang anak perempuan.
"Yaudah habiskan dulu rotinya." Kata Nazwa
"Mama mau masak apa?" Tanya Devina
"Mau masak sup ayam." Kata Nazwa
__ADS_1
"Vina mau bantuin." Kata Devina
Nazwa hanya mengangguk pertanda bahwa dia setuju dan Devina langsung senang dia berniat memakan lagi rotinya, tapi mendadak perutnya bergejolak dia seperti ingin muntah.
Hal itu membuat Devina meringis pelan lalu memegang perutnya dan hal itu membuat Ziko cemas sendiri.
"Eh Vina kenapa sayang?" Tanya Ziko
"Aduh Ziko sakit perutnya Vina kayak mau muntah." Kata Devina pelan
"Ini Vina minum dulu coba ya?" Kata Nazwa
Devina mengangguk dia mengambil minum lalu meminumnya hingga tersisa setengah.
"Kenapa hm?" Tanya Ziko cemas
"Udah kok enggak sakit lagi." Kata Devina yang merasa sedikit lebih enak
"Udah Vina istirahat aja ya?" Kata Nazwa
"Tapi... Mau bantuin Mama." Kata Devina pelan
"Enggak papa Vina ke kamar aja." Kata Nazwa
Perkataan itu malah membuat mata Devina berkaca-kaca dia terlihat seperti ingin menangis.
"Kenapa enggak boleh bantuin?" Tanya Devina pelan
"Bukan enggak boleh, tapi kayaknya kamu lagi sakit." Kata Ziko
"Udah enggak lagi." Kata Devina pelan
"Enggak papa ya? Vina istirahat aja." Kata Nazwa
Devina menggelengkan kepalanya pelan dan kali ini dengan air mata yang jatuh membuat Ziko panik sendiri.
"Ehh"
Devina menangis dan hal itu membuat Nazwa berjalan mendekat lalu memeluknya sambil mengusap kepalanya dengan sayang.
"Vina kenapa nangis? Belakangan ini Vina sangat sensitif ya?" Kata Nazwa
Devina tak menjawab dia memeluk mertuanya itu dengan erat masih dengan air mata.
Devina juga tidak tau, tapi dia memang sangat sensitif sekali.
°°°°
Aku updatee dan aku tau ini udah malam banget haha gak papa baca besok aja ya kalau udah tidur yang penting di baca🤣
Awas kalau enggak di baca dan enggak di like aku ngambek😠
__ADS_1