
Selama di kelas Devina terus memikirkan tentang Devano dia masih merasa kesal dan ingin berbuat sesuatu pada Julian, tapi ada rasa takut selain itu Devina juga tidak tau harus berbuat apa karena Julian tidak kuliah di kampus yang sama dengannya. Setiap kali ingat wajah penuh luka kembarannya Devina jadi sangat kesal pada pria bernama Julian yang sudah berani melukai kembarannya.
Meskipun Devina tau bahwa kemungkinan keadaan Julian juga tak jauh beda dengan kembarannya, tapi dia tetap kesal dan benar-benar ingin memukul Julian. Menghela nafasnya pelan Devina mengalihkan pandangannya ke depan dan menatap Intan bersama dengan Niko yang sedang presentasi, berusaha mengenyahkan semua pikiran buruknya.
'Udah Vina gak usah dipikirin nanti kamu gak fokus dan malah kena tegur karena melamun di kelas'
Devina menekankan kata itu pada dirinya sendiri dan berusaha untuk fokus pada mata kuliah yang sedang berjalan.
"Vin"
Devina menoleh dan menatap Hanifa dengan alis bertaut.
"Mau nanya gak?" Tanya Hanifa
"Enggak ah kamu aja." Kata Devina pelan
Hanifa mengangguk singkat dan kembali menatap ke depan untuk memperhatikan temannya yang sedang menjelaskan di depan. Begitu masuk sesi tanya jawab Devina malah kembali melamun, dia sangat ingin melakukan sesuatu pada Julian sungguh.
Terlalu sibuk dengan pikirannya Devina benar-benar tidak sadar jika mata kuliah ternyata sudah berakhir bahkan Intan sudah kembali duduk di sampingnya. Menggelengkan kepalanya pelan Devina langsung merapihkan buku miliknya dan memasukkan semuanya ke dalam tas.
"Kenapa Vin?" Tanya Intan
"Ada masalah ya?" Tanya Hanifa
"Enggak kok." Kata Devina sambil tersenyum
"Cerita aja gak papa." Kata Intan
"Nanti aja deh keluar kelas dulu nanti keburu ada dosen lain masuk." Kata Devina
Keduanya mengangguk lalu bersama-sama keluar dari kelas, mata kuliah mereka selanjutnya masih dua jam dari sekarang cukup lama memang.
"Eh mau kemana nih?" Tanya Intan
"Mau ke cafe dekat kampus gak? Mumpung gue sama Intan bawa motor nih." Kata Hanifa
"Iya, mau gak Vin? Masih lama banget nih jam selanjutnya." Kata Intan
Devina hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.
"Aku sama Intan ya?" Kata Devina
"Gak sama gue?" Tanya Hanifa yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Devina
"Kamu bawa motor kebut banget aku takut." Kata Devina membuat Intan tertawa mendengarnya
"Memang suka cari mati dia mah." Kata Intan
"Enggak kebut ah biasa aja." Kata Hanifa
"Bagi kamu biasa aja, tapi bagi aku kebut banget tau." Kata Devina
"Yaudah iya lo sama Intan." Kata Hanifa
Tersenyum manis ketiganya berjalan menuju parkiran lalu ketika sampai Devina langsung menaiki motor milik Intan. Letak cafe tidak terlalu jauh dari area kampus dan Devina akan mengabari Ziko setelah sampai di sana.
Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk sampai karena jaraknya yang memang cukup dekat. Saat turun mata Devina melihat sosok yang dia kenal juga baru turun dari motor bersama beberapa temannya, Julian.
__ADS_1
Memang Devina tau wajah Julian karena dia pernah tanpa sengaja bertemu dengan pria itu ketika di sekolah dulu dan sekarang senyumnya mengembang dengan sempurna dia turun dari motor Intan sambil menatap Julian yang sudah masuk ke dalam bersama dengan teman-temannya.
"Intan Intan nantii duluu"
Intan menatap Devina dengan alis bertaut dia melihat Devina yang menatap ke sekeliling lalu tersenyum.
"Intan sama Hanifa jagain ya?" Kata Devina membuat keduanya bingung
Berjalan ke arah motor yang tadi Julian gunakan Devina berjongkok membuat kedua temannya langsung melotot.
"Vin lo mau ngapain?" Tanya Intan panik
Devina menoleh lalu meminta Intan untuk diam.
"Sst Intan diem jagain aja kasih tau kalau ada orang." Kata Devina
Hanifa dan Intan hanya menatap Devina yang berusaha membuat ban motor seseorang kempes.
"Vina sumpah lo bikin takut nanti ada yang lihat gimana? Untung gak ada tukang parkir." Kata Intan begitu Devina selesai dan bangun dengan senyuman puas di wajahnya
"Yuk masuk"
"Vin lo ngapain tadi? Kalau ketauan gimana?" Tanya Intan
"Ihh kan gak ada yang lihat Intan udah jagain tadi sama Hanifa." Kata Devina
"Memang kenapa sih?" Tanya Hanifa
"Nanti aja aku cerita di dalam, mau cuci tangan dulu." Kata Devina
"Yaudah gue pesenin yang kayak biasa kan?" Kata Intan
"Nah kasih tau kenapa? Vin sumpah gue takut dia nanti tau gimana?" Kata Intan
"Kemarin dia habis berantem sama Devano." Kata Devina
"Devano?"
"Iya dia itu saudara tirinya Adara pacarnya Vano terus ya gitu deh mereka ribut dia mukul Vano sampai banyak luka di wajahnya, aku kesel lah." Kata Devina
"Untung gak ada yang lihat, tapi dia kenal lo enggak?" Tanya Hanifa
"Kayaknya enggak, tapi gak tau ish mungkin dia tau wajah aku." Kata Devina
"Wah Vin jangan aneh-aneh gue takut dia sadar nanti." Kata Intan
"Enggakk"
Keduanya hanya mengangguk singkat saja, ternyata Devina bisa berbuat nekat juga, tapi bagus sih karena Devina lebih berani.
Semoga saja pria itu tidak sadar.
°°°°
Ziko menatap istrinya dengan alis bertaut ketika Devina masuk ke dalam mobil dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya, seolah baru saja mendapatkan hadiah. Saat ditanya Devina hanya menggelengkan kepalanya pelan, tapi senyumannya semakin lebar membuat Ziko jadi penasaran.
Memilih untuk bertanya nanti saja ketika sampai rumah Ziko melajukan mobilnya meninggalkan area kampus. Selama perjalanan dia sesekali melirik Devina yang tidak bisa menahan senyumnya, dia seolah baru saja selesai melakukan sesuatu yang membuatnya sangat senang.
__ADS_1
Begitu sampai di rumah Devina memeluk lengan Ziko ketika mereka berjalan menuju kamar.
"Ada apa sih seneng banget?" Kata Ziko
Devina menatapnya dengan senyuman manis lalu dia memeluk Ziko dengan erat dan mencium pipinya berkali-kali membuat Ziko terkekeh pelan.
"Kamu kenapa Vina?" Kata Ziko
"Em Vina lagi senang." Kata Devina
"Iya kenapa?" Tanya Ziko
Melepaskan pelukannya Devina berbisik pelan di telinga Ziko dan menceritakan apa yang tadi dia lakukan ketika sedang di cafe bersama kedua temannya. Perkataan itu membuat mata Ziko membulat karena terkejut dengan apa yang Devina lakukan.
"Hey sayang"
"Habisnya Vina kesal terus waktu turun dari motor ternyata ada dia juga sama teman-temannya yaudah Vina kerjain." Kata Devina
"Terus dia tau enggak?" Tanya Ziko
"Enggak Vina pulang duluan sebelum dia sama teman-temannya pulang ternyata wajah dia juga banyak lukanya sama seperti Vano." Kata Devina
"Udah puas?" Tanya Ziko
"Udahh hehe biarin salah siapa dia mukul-mukul kembaran Vina." Kata Devina membuat Ziko tersenyum mendengarnya
"Kalau dia tau gimana? Vina gak takut?" Tanya Ziko
Devina terdiam sejenak lalu menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dan memberikan jawaban yang membuat Ziko tertawa.
"Enggak kan Vina punya Ziko terus Vano sama Daddy juga." Kata Devina
"Kamu kenapa gemesin sih sayang?" Kata Ziko sambil mencubit pelan pipinya
Devina hanya tersenyum sebagai tanggapan lalu kembali memeluk Ziko dengan sayang.
"Ziko"
"Hm"
Devina mendongak dan menatap mata Ziko sambil tersenyum.
"Kalau ada yang jahat sama Ziko juga Vina bakal marah sama dia"
"Enggak ada yang bakal jahat sama aku karena mereka takut sama kamu." Kata Ziko
"Ziko ngeledek mana ada yang takut sama Vina." Kata Devina dengan bibir mengerucut
"Ada"
"Siapaaa?"
Ziko tersenyum dia mencubit pelan pipi Devina dan menjawab pertanyaan yang Devina ajukan untuknya.
"Ziko yang takut sama Vina"
°°°°
__ADS_1
Pokoknya Vina lagi keselll nih liat bete banget Vinanya😑