Istri Manja Ziko

Istri Manja Ziko
Wake up


__ADS_3

Ziko merasa lemas sekali dia terduduk di Koridor rumah sakit dengan perasaan cemas menanti kabar dari Dokter yang menangani Devina tadi Devina sempat sadar, dia menangis karena rasa sakitnya semakin terasa. Rasa sesal menghantui Ziko karena sudah meninggalkan Devina sendirian padahal dia meminta pada Devina agar memanggilnya kalau mau ke kamar mandi, tapi mungkin Devina tidak mau mengganggunya yang sedang di ruang kerja Zidan tadi.


Sudah setengah jam mungkin Devina ada di dalam sana mereka memutuskan untuk melakukan operasi cesar pada kandungan Devina, tapi Ziko tetap merasa cemas. Jelas sekali dia melihat wajah kesakitan Devina dan rasanya Ziko benar-benar lemas kakinya bahkan sulit untuk berdiri.


Seharusnya Ziko tidak meninggalkan Devina sendirian.


Seharusnya Ziko menyelesaikan pekerjaannya di dalam kamar saja sambil menemani Devina.


"Ziko"


Ziko mendongak matanya berkaca-kaca raut wajah penuh ketakutan tergambar jelas di sana membuat Nazwa tidak tega melihatnya.


"Tenang ya? Vina pasti baik-baik aja tadi Mama udah hubungi orang tua Devina." Kata Nazwa


Ziko mengangguk singkat saja dia memejamkan matanya ketika Nazwa memeluknya dan tanpa Ziko minta air matanya jatuh sendiri.


"Takut Ma... Devina akan baik-baik aja kan? Ma takut." Kata Ziko penuh ketakutan


Nazwa jadi ingin menangis juga.


"Ziko tenang Vina akan baik-baik aja dia kuat." Kata Nazwa yang malah membuat Ziko tidak tenang


"Mama... Harusnya Ziko jagain Vina tadi." Kata Ziko pelan


"Sst udah sayang Vina akan baik-baik aja kamu jangan kayak gini." Kata Nazwa


"Devina... Devina gak akan pergi kan Ma? Devina akan baik-baik aja kan?" Kata Ziko dengan penuh harap


"Iya, makanya kamu tenang." Kata Nazwa


"Ziko enggak bisa jagain Vina dengan baik Ma." Kata Ziko pelan


Air matanya jatuh lagi membuat Nazwa dan Zidan yang melihatnya benar-benar merasa tidak tega.


Ziko bukan anak yang mudah menangis dia bahkan selalu menahan tangisnya agar tidak jatuh di hadapan banyak orang, tapi sekarang Ziko seolah tidak peduli.


Entah ada berapa banyak orang yang berlalu lalang Ziko menangis dengan penuh rasa takut di dalam dirinya.


Ziko takut, sangat takut karena baginya Devina adalah separuh dari dirinya.


"Mama... Ziko enggak bisa kalau harus tanpa Devina." Isak Ziko


"Sayang udah ya? Jangan mikir yang aneh-aneh Mama yakin Vina akan baik-baik aja kamu tenang." Kata Nazwa


Tak lama suara langkah kaki semakin dekat dan Daffa muncul bersama dengan Fahisa dengan raut wajah cemas yang begitu terlihat. Ziko tak berani melihat dia menunduk sambil mengusap kasar air matanya.


"Ziko gimana? Devina gimana keadaannya?" Tanya Daffa


"Devina baik-baik aja kan?" Tanya Fahisa pelan


Ziko tak menjawab dan Nazwa langsung menjelaskan keadaannya mulai dari Devina yang jatuh hingga tindakan yang sedang dilakukan sekarang.


Sama seperti Ziko kini Daffa juga Fahisa merasa kehilangan tenaga mereka bahkan Daffa langsung dengan sigap merangkul Fahisa agar tidak jatuh. Keduanya menatap Ziko yang terlihat begitu ketakutan membuat mereka jadi tidak tega melihatnya.

__ADS_1


Devano belum tau karena dia sedang check up ke dokter bersama dengan Adara, tapi ketika mereka di mobil pria itu sudah sibuk menelpon.


"Ziko"


Ziko mendongak dia terlihat kacau sekali matanya memerah karena menangis.


"Devina akan baik-baik saja saya yakin." Kata Daffa


Ziko mengangguk singkat masih dengan rasa takut yang menghantuinya.


Satu hal yang Ziko tau kalau sesuatu terjadi pada Devina atau kedua anak mereka dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.


Ziko mungkin akan selalu menyalahkan diri sendiri sepanjang hidupnya.


°°°°


"Kita akan lihat perkembangannya selama dua puluh empat jam"


Kalimat itu dikatakan oleh Dokter yang menjelaskan keadaan Devina dan hal itu semakin membuat Ziko kalut, tapi ada sedikit lega ketika Dokter mengatakan bahwa anak mereka baik-baik saja. Sejak tadi Ziko melihat anaknya dia masih duduk di Koridor rumah sakit bahkan untuk melihat Devina ke dalam saja Ziko belum melakukannya karena dia takut.


Ziko mengusap kasar wajahnya dia terus menyalahkan dirinya sendiri karena hal seperti ini sampai harus terjadi. Sampai sekarang Ziko juga belum makan bahkan dia sama sekali tidak ***** untuk makan.


"Ziko"


Lagi, panggilan itu membuatnya mendongak dia melihat ada mertuanya di sana dan langsung duduk di sampingnya.


"Makan dulu." Kata Fahisa


Ziko menggelengkan kepalanya pelan.


"Iya Ziko kamu makan ya? Kalau nanti Vina bangun terus lihat kamu kayak gini dia bisa sedih." Kata Nazwa menambahkan


"Makan sedikit aja Ziko." Kata Fahisa lagi


Ziko menatap satu bungkus roti di sana lalu mengambilnya dari tangan Fahisa dan dengan paksaan memakannya.


Tak Ziko habiskan hanya dia makan setengah karena sungguh Ziko benar-benar tidak ingin makan, dia hanya ingin Devina.


"Ziko lihat anak kamu dulu nanti kamu akan merasa sedikit tenang." Kata Fahisa


"Iya, kamu sama Devina udah menunggu kelahiran mereka kan? Sekarang Ziko lihat lebih dulu nanti baru Devina kalau dia sudah sadar." Kata Nazwa


Ziko diam lagi dia benar-benar merasa sangat cemas.


"Tuh Vano baru aja keluar sekarang kamu yang lihat." Kata Fahisa ketika melihat Devano baru saja keluar untuk melihat anak Devina


Ziko akhirnya bangun dia mengusap wajahnya dan melangkahkan kakinya ke ruangan. Di depan pintu dia berpapasan dengan Devano dan sama sepertinya pria itu juga terlihat cemas bukan main bahkan mata Devano pun memerah.


Jelas saja Devina demam saja dia sudah paling heboh apalagi begini.


"Maaf Van salah gue gak bisa jagain Vina." Kata Ziko pelan


Devano tersenyum tipis lalu menepuk pundak Ziko.

__ADS_1


"Ini kecelakaan jangan salahin diri sendiri Ko gue yakin Devina baik-baik aja." Kata Devano yang berusaha menguatkan dirinya sendiri juga Ziko


Ziko mengangguk singkat lalu masuk ke dalam ruangan dan dia dapat melihat dua bayi mungil tampan tengah tertidur dengan nyaman di sana.


Ya, anak mereka keduanya laki-laki.


Ziko mendekat dia sedikit berjongkok agar bisa melihat dengan jelas.


Ada sedikit lega di hatinya dia tersenyum melihat kedua anaknya yang terlihat tenang kalau Devina lihat dia pasti senang.


"Anak Papi... Kenapa gak suruh Mami bangun hm?" Kata Ziko pelan


Ziko terus memperhatikan mereka dalam diam dan tanpa sadar air matanya jatuh lagi.


"Lucu sekali anak Papi kalau Mami lihat dia pasti senang, sabar ya sayang sebentar lagi Mami pasti bangun"


Ziko tersenyum masih sambil menatap wajah kedua anaknya.


Semoga...


Semoga saja Devina akan baik-baik saja karena Ziko tidak akan sanggup kalau sampai terjadi sesuatu pada istri tercintanya.


°°°°


Devina membuka matanya!


Ziko benar-benar merasa lega ketika Devina membuka matanya saat siang hari dan Dokter bilang keadaan istrinya membaik, tapi dia butuh istirahat total. Sekarang Ziko berada di dalam ruang rawat Devina dia memainkan jari tangan Devina yang bebas sambil terus menatap wajahnya.


Devina masih belum bersuara, tapi dia sudah bangun dan berusaha untuk tersenyum ketika pandangan mereka bertemu. Mencium punggung tangan Devina dengan sayang Ziko memejamkan matanya sebentar, merasa lega karena Devina sudah bangun.


"Maafin Ziko ya?"


Ziko menatap wajah Devina dengan raut wajah penuh penyesalan.


"Ziko minta maaf karena gak bisa jagain Vina dengan baik." Kata Ziko


Devina ingin bicara, tapi dia tidak sanggup tubuhnya masih sangat lemas.


"Harusnya Ziko temenin Vina terus, maaf ya? Ziko minta maaf karena udah buat Vina kesakitan." Kata Ziko


Mata Ziko berkaca-kaca lagi dan Ziko melepaskan tangan Devina lalu menutup matanya karena ingin menangis lagi, cengeng sekali dia. Devina tersentak melihatnya apalagi ketika Ziko benar-benar terisak.


"Maaf Vin"


Tangan Devina bergerak perlahan dan mengusap pipi Ziko yang basah.


"Aku takut.... Kamu jangan kayak gitu lagi..."


Ziko menghapus air matanya dan menatap Devina dengan mata memerah lalu mendekatkan wajahnya dan mencium kening Devina lama.


Ziko tidak mau kehilangan Devina.


°°°°

__ADS_1


Hehe gak jadi malem updatenya pagi aja yaa🤣


__ADS_2