
Di mata kuliah terakhir entah kenapa Devina mendadak tidak tenang jantungnya berdetak dengan begitu cepat dan tiba-tiba dia teringat Devano yang membuatnya ingin menangis. Sudah satu jam sejak Devina masuk ke kelas terakhir dan baru beberapa saat perasaan cemas meliputinya di tambah dengan dadanya yang mendadak sesak.
Melirik jam yang tergantung Devina mengetuk pelan pena yang ada genggamannya ke meja, dia berharap kelas segera selesai agar Devina bisa menghubungi kembarannya. Entah kenapa Devina sangat tidak tenang dan biasanya kalau sudah begini apa lagi Devano melintas di pikirannya pasti sesuatu akan terjadi.
Devina pernah merasakan hal yang sama dan ternyata Devano berkelahi, dia mendadak takut.
Waktu berjalan dengan sangat lama untuk Devina yang ingin segera pulang satu jam benar-benar lama. Sampai akhirnya ketika kelas benar-benar selesai tanpa mengatakan sesuatu pada kedua temannya Devina bergegas keluar kelas dan mengabaikan panggilan kedua temannya.
Sampai di luar kelas Devina mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi Devano, tapi sama sekali tidak ada jawaban membuat dia semakin merasa cemas. Tak kunjung mendapat balasan Devina bergegas menghubungi Ziko dan ternyata suaminya itu sudah sampai di parkiran.
Bergegas pergi ke parkiran Devina masuk ke dalam mobil dan menatap Ziko dengan raut wajah cemas.
"Vina? Kamu kenapa?" Tanya Ziko cemas
"Ziko takut Vina takut." Kata Devina
"Takut kenapa sayang?" Tanya Ziko
"Ziko antar Vina ke rumah Mommy sama Daddy." Kata Devina dengan raut wajah seperti ingin menangis
"Iya kita ke sana." Kata Ziko
Tanpa banyak bertanya Ziko langsung melajukan mobilnya menuju rumah mertuanya yang beruntung tidak terlalu jauh dari area kampus.
"Ada apa Vin?" Tanya Ziko pelan
"Enggak tau Vina takut tiba-tiba kepikiran Vano." Kata Devina
"Udah coba di telpon?" Tanya Ziko
"Enggak di angkat." Kata Devina
"Kamu tenang ya? Kita ke rumah sekarang." Kata Ziko berusaha memberikan ketenangan
Devina hanya mengangguk singkat dan berusaha mengenyahkan segala pikiran buruk serta ketakutannya.
Mungkin kurang lebih tiga puluh menit keduanya sampai dan Devina langsung turun dari mobil lalu berlari memasuki rumah tanpa menunggu Ziko. Masuk ke dalam Devina langsung memanggil Devano dan tak lama Daffa bersama Fahisa turun di susul dengan Ziko yang masuk ke dalam rumah.
"Ada apa Vina?" Tanya Fahisa
"Mommy mana Vano? Dia dimana?" Tanya Devina
"Vano? Vano belum pulang ada apa?" Tanya Fahisa
"Vina kepikiran Vano takut dia kenapa-kenapa." Kata Devina pelan
__ADS_1
Fahisa dan Daffa langsung menatap satu sama lain, mereka tau perkelahian antara Devano juga Julian karena baru saja Juan menelpon.
"Sini duduk dulu." Kata Daffa sambil merangkul anaknya dengan sayang
"Vano enggak angkat telpon kalau dia beneran kenapa-kenapa gimana?" Kata Devina takut
"Hey tenang sayang." Kata Daffa
"Enggak bisa Vina takut." Kata Devina sambil menatap wajah Daddy nya
Daffa dapat melihat jelas ketakutan di wajah Devina yang membuat pria paruh baya itu terdiam.
Devina dengan Devano terlalu terikat bahkan meskipun Devina sudah menikah dan tinggal jauh dari mereka dia tetap dapat merasakan apa yang kembarannya tengah rasakan.
Dari tempatnya Ziko juga diam sambil menatap Devina yang terlihat sangat ketakutan meskipun itu hanya sekedar perasaan cemas, tapi Devina seolah nyata merasakannya.
"Ziko kamu mau minum?" Tanya Fahisa
"Enggak papa Ma nanti Ziko bisa ambil sendiri." Kata Ziko sambil tersenyum
"Vina kayak gini dari di jalan ya?" Kata Fahisa
"Tadi waktu masuk mobil udah cemas banget dan langsung minta di antar ke rumah." Kata Ziko
Cukup lama Devina melepaskan pelukannya lalu mendongak dan menatap wajah Devano yang membuat dia terdiam, benar kan?
"Tuh kan Mommyy Vano lukaaa"
Melihat Devina yang ingin menangis Devano langsung memeluknya sambil menatap ke depan dimana ada orang tua serta Ziko yang juga menatapnya.
"Vin masuk dulu aku mau duduk." Kata Devano beralasan agar Devina melepaskan pelukannya
Devina melepaskan pelukannya dan mengikuti Devano hingga duduk di ruang tamu.
"Kenapa bisa luka? Mommy benar kan? Vano luka lihat mukanya." Kata Devina
"Gak papa udah diobatin tadi sama Adara." Kata Devano sambil tersenyum
"Tapi, kenapa bisa luka?!" Kata Devina kesal
"Hm berantem tadi." Kata Devano
"Kenapa berantem? Sama siapa?" Kata Devina
"Vin aku beneran udah gak papa." Kata Devano sambil tersenyum
__ADS_1
"Om Juan yaa? Dia mau celakain Vano lagii?" Tebak Devina
"Bukan"
"Devina udah sayang." Kata Fahisa ketika anaknya kembali ingin bicara
"Vano lukaa dari tadi di kampus Vina enggak tenang." Kata Devina
"Luka kecil aja nanti sembuh." Kata Devano
"Vin udah gak papa kan udah di obati lukanya." Kata Ziko
Devina diam lalu mengangguk singkat sebagai jawaban dan memeluk Devano dari samping.
"Tapi, jawab berantemnya sama siapa?" Kata Devina sambil menatap Devano dengan penuh permohonan
"Sama Julian." Kata Devano
Mengerucutkan bibirnya sebal Devina memeluk kembarannya lagi membuat Devano tersenyum dan mengusap kepalanya.
"Hey udah malu tuh di liat sama suaminya." Kata Devano
"Makanya Vano jangan berantem." Kata Devina
"Iya"
Melepaskan pelukannya Devina menatap kembarannya lalu mengangkat jari kelingkingnya.
"Janjinya mana?" Kata Devina
Tersenyum singkat Devano menautkan jari kelingkingnya di sana membuat Devina tersenyum senang.
"Enggak boleh berantem lagi ya?"
Devano hanya mengangguk singkat sebagai jawaban, tapi tidak dia akan tetap melakukannya jika memang di perlukan.
Karena Devano tidak pernah bisa diam jika ada orang yang menyakiti keluarga atau orang yang dia sayang.
Tapi, untuk sekarang dia akan janji hanya untuk membuat Devina merasa lebih baik.
°°°°
Aku updateee🥰
Edisi spesial Vina-Vano nih😍
__ADS_1