Istri Manja Ziko

Istri Manja Ziko
Bunga


__ADS_3

Devina menghela nafasnya pelan sambil memasang wajah cemberutnya ketika melihat Ziko tengah bersiap untuk pergi ke kantor bersama dengan mertuanya dan meninggalkan Devina di rumah. Tidak bisa melarang Devina berusaha tersenyum lalu bangun dan mendekati suaminya dia membantu Ziko memakai dasi hingga rapih membuat pria itu tersenyum.


Setelah merasa cukup rapih Devina meminta Ziko untuk duduk lalu menyisir rambut pria itu dengan hati-hati membuat Ziko terus menatapnya. Rambut Ziko sudah cukup panjang dan Devina sudah meminta pria itu untuk memotongnya, tapi Ziko terus saja mengatakan nanti.


Beruntung Ziko masih tetap ganteng.


"Udah hm?"


Devina tersenyum dan mengangguk singkat lalu duduk dipangkuan suaminya. Tangannya melingkar manis di leher suaminya dan Devina memeluknya dengan sayang sambil bersandar mandi di bahunya.


"Ziko jangan ganjen ya? Jangan dekat-dekat sama cewek lain." Kata Devina


Ziko tertawa pelan mendengarnya.


"Enggak akan Devina." Kata Ziko


Menjauhkan wajahnya Devina mencium seluruh wajah Ziko dan berhenti lama di bibirnya.


"Udah ya? Aku mau berangkat sama Papa." Kata Ziko


Devina mengangguk lalu turun dari pangkuan suaminya.


"Vina jangan nakal ya? Jangan lari-lari terus nanti jatuh makannya jangan lupa." Kata Ziko


"Iyaaa"


Ziko mengusap pelan pipinya lalu membiarkan Devina mencium punggung tangannya dengan sayang dan mengantarkan dia hingga ke bawah.


"Suaminya Papa pinjam bentar ya Vina?" Canda Zidan ketika melihat Devina yang asik memeluk lengan Ziko


Ziko tertawa pelan dan Devina hanya bisa diam dengan pipi memerah karena malu lalu dia mencium juga punggung tangan mertuanya dengan sopan.


"Sini Vina." Kata Nazwa


Devina berjalan mendekat lalu melambaikan tangan pada Ziko yang sekarang pergi bersama dengan Zidan ke kantor. Baru beberapa menit saja Devina langsung murung, tapi tidak mungkin juga Devina mengurung Ziko dan meminta dia untuk terus bersamanya sepanjang waktu.


Dia tidak seegois itu tau.


"Mau ikut Mama gak sayang?" Tanya Nazwa


"Mama mau kemana?" Tanya Devina


"Mau ke toko bunga terus ke rumah Tante Nadya." Kata Nazwa


"Em Vina boleh ikut?" Tanya Devina


"Mama gak akan ajakin kamu kalau kamu gak boleh ikut sayang." Kata Nazwa sambil tertawa


Devina menunjukkan cengirannya.


"Mau ikut." Kata Devina


"Yaudah Vina ambil jaket gih sebentar lagi kita berangkat ya?" Kata Nazwa


Devina mengangguk singkat sebagai jawaban.


"Nanti naik apa?" Tanya Devina


"Nanti bawa mobilnya Ziko." Kata Nazwa


Mengangguk faham Devina berlari kecil menuju kamarnya membuat Nazwa tertawa pelan melihatnya.


Astaga menantunya itu lucu sekali tingkahnya.


Pergi ke kamarnya Devina langsung mengambil jaket milik suaminya yang ada di lemari lalu memakainya dan kembali ke bawah. Devina suka memakai jaket milik Ziko meskipun ukurannya sangat besar dan membuat dia seperti terlelap ketika memakainya, tapi Devina suka.


"Mamaa ayoo"


Nazwa tersenyum geli melihat menantunya lalu mengangguk singkat dan bersama dengan Devina keluar rumah.


Masuk ke dalam mobil Nazwa akan membawa mobil sendiri dan Devina duduk di sampingnya sambil tersenyum manis, Devina memang tidak bisa membawa mobil berbeda dengan Sahara yang sudah lihai.


"Kita ke toko bunga dulu ya?" Kata Nazwa

__ADS_1


"Mama mau beli bunga?" Tanya Devina


"Iya sayang Bianca katanya lagi sakit, jadi Mama mau beli bunga dan buah, tapi kalau buah udah beli tadi sama Bibi di supermarket." Kata Nazwa


Devina mengangguk singkat sebagai tanggapan lalu menatap lurus ke depan.


"Vina gimana selama hamil?" Tanya Nazwa


"Em baik hehe baby nya Vina juga enggak nakal cuman sesekali aja Vina mual atau sakit perut, tapi sekarang Ziko jadi galak sering marah." Kata Devina


"Kenapa marah?" Tanya Nazwa sambil tersenyum


"Karena Vina nakal hehe." Kata Devina


Nazwa menggelengkan kepalanya pelan, dia tau Ziko memang selalu bercerita padanya termasuk tentang kejadian Devina yang hampir tertabrak mobil.


"Sekarang Vina enggak mau nakal lagi, takut di marah Ziko." Kata Devina


Nazwa tertawa pelan dan kembali fokus pada jalanan dihadapannya.


Kurang lebih lima belas menit perjalanan Nazwa menghentikan mobilnya di area toko bunga lalu turun dan mengajak menantunya untuk ikut. Tersenyum senang Devina melihat berbagai macam bunga yang indah di matanya.


Selagi Nazwa berbicara pada pegawai toko Devina asik melihat berbagai macam bunga yang ada dan tersenyum senang.


"Bunganya bagus"


Devina tersenyum nanti dia akan mengajak Ziko ke sini dan minta dibelikan bunga oleh suaminya.


"Vina ayo sayang"


Devina menoleh dan melihat Nazwa yang datang sambil membawa sebuket bunga di tangannya.


"Vina mau beli bunga?" Tanya Nazwa


Devina menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban, dia mau Ziko yang beli untuknya.


Kembali masuk ke dalam mobil Devina meletakkan buket bunga itu di pangkuannya dan menatap lurus ke depan.


°°°°


Devina tersenyum manis pada Bianca yang berbaring di ranjang dengan wajah sedikit pucat, dia masuk ke dalam bersama dengan mertuanya. Duduk di tepian ranjang Devina mendoakan Bianca agar lekas sembuh lalu dengan canggung menatap Alda yang juga ada di sana.


Sebenarnya Bianca hanya demam biasa saja dan Nazwa datang sekalian dia ingin bertemu dengan Nadya. Tidak banyak bicara Devina hanya diam dan mendengarkan percakapan singkat Nazwa dengan Bianca.


Sampai akhirnya.


"Mama ke Tante Nadya dulu ya?" Kata Nazwa


Devina hanya bisa mengangguk singkat dan diam di tempatnya sambil menunduk karena merasa canggung dengan kehadiran Alda di dekatnya.


"Gimana kandungan kamu Vin?" Tanya Bianca pelan


Pertanyaan itu membuat Devina mendongak lalu tersenyum.


"Em baik"


Keadaan benar-benar canggung baik Devina atau Alda tidak ada yang mau berbicara karena jujur sampai sekarang Devina masih tidak suka dengan gadis itu, dia masih kesal kalau ingat.


"Ziko mana?" Tanya Alda


Pertanyaan itu membuat Devina mendongak dan menatap Alda tidak suka membuat gadis itu meringis pelan karena sadar telah salah memulai pembicaraan.


"Ehh enggak itu maksudnya kan biasanya kalau ada kamu pasti dia juga ada." Kata Alda lagi


"Ziko sama Papa ke kantor." Kata Devina ketus


Bianca tersenyum tipis ketika mendengarnya, lucu sekali Devina itu ternyata.


"Ohh gitu jadi kamu cuman berdua sama Tante Nazwa?" Tanya Alda


"Heem cuman berdua aja." Kata Devina sambil berusaha tersenyum


"Aku beneran udah gak suka Ziko kok Vin." Kata Alda

__ADS_1


"Memang kamu pernah suka sama dia?!" Seru Devina kesal


Sesaat setelah itu Devina sadar kalau Bianca sedang sakit.


"Ehh maafin Vina suaranya keras-keras." Kata Devina


"Gak papa." Kata Bianca sambil tersenyum


Devina menunduk dan memilih untuk diam tidak mau bicara lagi karena takut kelepasan, dia masih kesal pada Alda meskipun sudah lama berlalu.


Ah tapi lupakan saja kata Ziko dia tidak boleh banyak berpikir.


°°°°


Devina berlari kecil menghampiri suaminya yang muncul dari balik pintu kamar membuat pria itu tertawa pelan dan membawanya ke dalam pelukan. Mata Devina terpejam dia tersenyum dan mengeratkan pelukannya, tangan Ziko terulur mengusap sayang rambutnya.


Di ciumnya puncak kepala Devina lalu Ziko mengajaknya untuk masuk ke dalam kamar dengan menggendong tubuh Devina. Tangan Devina melingkar manis di leher suaminya dia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ziko.


"Sini duduk"


Ziko mendudukkan dirinya ditepian ranjang dan membiarkan Devina duduk di pangkuannya.


"Dari tempat Tante Nadya ya? Gimana keadaan Bianca?" Tanya Ziko


"Heem tadi ke sana sama Mama dan Bianca udah mendingan, tapi badannya masih panas terus tadi ada Alda." Kata Devina


"Alda?"


Ziko menatap Devina dengan alis bertaut.


"Iyaa"


"Vina gimana?" Tanya Ziko


Devina hanya bergumam pelan dan malah asik menatap jakun Ziko yang naik turun membuat dia menyentuhnya.


"Vina ngapain?" Tanya Ziko


"Ziko kepalanya angkat." Kata Devina


Devina mengangkat dagu Ziko agar dia mendongak lalu mengusap jakunnya sambil tersenyum.


"Vina"


Tertawa pelan Devina menjauhkan tangannya dan menatap Ziko yang langsung mencapit gemas hidungnya.


"Ziko"


"Hm"


"Vina mau bunga." Kata Devina tiba-tiba


"Bunga?"


Devina mengangguk dengan semangat.


"Tadi waktu mau ke rumah Tante Nadya aku sama Mama ke toko bunga di sana bunganya bagus-bagus warnanya banyak." Kata Devina


Ziko tersenyum mendengarnya dia mengusap pipi istrinya itu dengan sayang.


"Vina mau?"


Devina mengangguk dengan semangat.


"Ziko beliin ya?"


Oh jangankan bunga bahkan Ziko rela memberikan hidupnya untuk Devina.


Kalau perlu dia beli dengan tokonya sekalian.


°°°°


Aku updateeee🥰 Cerita Vano mungkin nanti siang ya updatenya❤

__ADS_1


__ADS_2