Istri Manja Ziko

Istri Manja Ziko
Devina


__ADS_3

Berhadapan dengan mertuanya membuat Ziko mendadak cemas dan gelisah di waktu yang bersamaan apalagi mendapat tatapan penuh selidik yang Daffa berikan untuknya. Sudah sekitar lima menit keduanya duduk berhadapan, tapi Daffa masih belum mengeluarkan suaranya dan hanya diam sambil menatap menantunya.


Sebenarnya Ziko sudah tau apa yang akan ditanyakan, tapi dia akan menunggu sampai mertuanya itu bertanya dengan sendirinya dan sekarang Ziko hanya diam di tempatnya. Cukup lama dalam keadaan hening Ziko merasa suasana semakin mencekam ketika Daffa berdeham pelan dan mengeluarkan suaranya.


Baiklah Ziko ini sudah saatnya.


"Tadi pagi ketika saya menjemput Devina saya lihat matanya sembab dan ketika saya tanya dia bilang habis dimarahi dosen dan menangis karena takut mendapat nilai yang tidak memuaskan, apa itu benar?" Tanya Daffa


Ziko terdiam dengan jantung yang berdetak sangat cepat, dia kira Devina sudah mengatakan semuanya ternyata salah Devina justru berbohong.


Tapi, Ziko tidak bisa berbohong dia harus jujur karena ini memang salahnya.


"Enggak Pa Devina bohong." Kata Ziko sambil mendongak dan menatap mata mertuanya


Menghela nafasnya pelan Daffa sudah menduga kalau anaknya itu berbohong karena meskipun sedih atau menangis karena Dosen tidak akan sampai sembab begitu.


"Lalu ada apa? Katakan pada saya." Kata Daffa


Ziko terdiam sejenak dia mengalihkan pandangannya dan menghela nafasnya pelan sebelum kembali menatap mertuanya.


"Ada sedikit salah paham antara Ziko dengan Devina kemarin Pa." Kata Ziko pelan


"Jadi, dia menangis karena kalian berdua ada masalah?" Kata Daffa memastikan


"Iya, tapi kami sudah berbaikan dan masalah itu sudah selesai." Kata Ziko


"Saya tau ini mungkin terlalu privasi, tapi ada masalah apa?" Tanya Daffa


"Teman Devina di kampus ada yang coba dekati dia sudah cukup lama bahkan orang itu sempat berbohong agar bisa dekat dengan Devina...."


"Baiklah saya mengerti Ziko, kamu cemburu benar kan?" Kata Daffa


Ziko mengangguk singkat sebagai jawaban lalu mengatakan kejadian terakhir dimana Raga memeluk Devina dan membuat Ziko sangat marah hingga pergi bersama Gio ketika malam. Mendengar hal itu Daffa terdiam dan Ziko juga melakukan hal yang sama, dia tak lagi bersuara sampai ketika mertuanya tak kunjung bicara Ziko mulai mengatakan sesuatu dan meminta maaf.


"Aku minta maaf Pa karena udah buat Devina menangis begitu." Kata Ziko tulus


"Kamu tau saya tidak suka melihat Devina menangis kan?" Kata Daffa


Ziko hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa kamu tidak percaya pada Devina? Kenapa harus sampai melakukan hal itu? Kamu sendiri tau gimana Devina sangat mencintai kamu Ziko." Kata Daffa


"Bukan gitu Pa aku percaya sama Devina, tapi kemarin aku hanya butuh waktu." Kata Ziko pelan


"Sekarang kalian sudah benar-benar tidak ada masalah?" Kata Daffa


Ziko mengangguk pasti sebagai jawaban.


"Malamnya setelah pulang aku minta maaf sama Devina dan kita sudah benar-benar baikan Pa." Kata Ziko


"Baiklah nanti berikan nomor ponsel pria itu pada saya." Kata Daffa yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Ziko


Setelahnya mereka berdua terdiam dan sejak tadi Ziko benar-benar berdebar, dia takut sekali lebih dari itu Ziko takut kalau Daffa tidak mengizinkan Devina pulang bersamanya.


"Saya harap hal seperti ini tidak akan terulang lagi Devina tidak akan pernah berpaling dari kamu, dia mencintai kamu." Kata Daffa

__ADS_1


"Iya Pa"


"Jangan sampai hal seperti ini terulang lagi Ziko karena saya paling tidak bisa melihat Devina menangis begitu." Kata Daffa


Sekali lagi Ziko menganggukkan kepalanya mengerti.


"Sekali lagi hal seperti ini terulang saya akan membawa Devina pulang." Kata Daffa


"Ziko janji hal seperti ini gak akan terulang lagi." Kata Ziko


"Baiklah hanya itu yang ingin saya katakan." Kata Daffa


Ziko mengangguk singkat dan bersama dengan mertuanya mereka beranjak dari tempat duduk. Baru saja membuka pintu dan ingin keluar dari ruang keluarga keduanya dikejutkan dengan Devina yang berdiri di depan pintu.


Mata Devina menatap keduanya bergantian lalu berhenti lama di Ziko dia menatap suaminya itu dengan raut wajah yang sulit diartikan.


"Kenapa Vina kesini?" Tanya Daffa membuat Devina kini menatap Daddy nya


Devina menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Daddy hanya ajak Ziko bicara bukannya berkelahi jangan takut dan Devina jangan pernah bohong lagi sama Daddy." Kata Daffa


"Vina enggak bohong." Kata Devina


"Ziko kamu turun duluan saya mau bicara sebentar dengan Devina." Kata Daffa


Ziko hanya mengangguk patuh lalu melangkahkan kakinya ke bawah dan meninggalkan Devina disana bersama dengan Daddy nya.


"Sini masuk Daddy mau bicara." Kata Daffa


"Kenapa bohong sama Daddy?" Tanya Daffa


"Enggak bohong." Kata Devina pelan


"Devina, kenapa bohong sama Daddy? Tadi Ziko udah bilang semuanya." Kata Daffa


"Takut"


"Kenapa takut?" Tanya Daffa dengan penuh kelembutan


"Nanti Daddy marah sama Ziko." Kata Devina


"Kenapa Daddy gak boleh marah?" Tanya Daffa


"Ziko enggak salah." Kata Devina


Daffa menghela nafasnya pelan lalu mengusap kepala Devina dengan sayang.


"Daddy hanya bicara sama Ziko dan bertanya kenapa kamu menangis." Kata Daffa


"Ziko enggak salah Daddy." Kata Devina lagi


"Jangan pernah bohong sama Daddy lagi." Kata Daffa


"Iya enggak"

__ADS_1


"Udah jangan sedih Daddy tidak bentak atau memukul Ziko tadi kami hanya bicara saja." Kata Daffa


Devina mengangguk singkat lalu memeluk Daddy nya dari samping membuat Daffa tersenyum dan mengusap sayang kepalanya.


Astaga anak perempuannya ini sangat mencintai Ziko.


°°°


Berada di dalam kamar Devina sendirian Ziko menatap lurus ke depan sambil sesekali menghela nafasnya pelan, dia beruntung karena Daffa tidak marah padanya dan mengizinkan Devina untuk tetap pulang bersamanya. Sungguh setelah ini Ziko tidak akan pernah membuat Devina menangis lagi apalagi tadi dia tau kalau Devina berbohong pada Daddy nya.


Entah apa yang sudah membuat Ziko mendadak tidak percaya dan membuat Devina menangis begitu, dia memang sangat keterlaluan.


Saat suara pintu kamar dibuka terdengar Ziko mendongak dan dia dapat melihat Devina yang tersenyum padanya lalu berlari kecil menghampirinya. Istrinya itu naik ke atas ranjang lalu memeluk Ziko dengan erat membuat Ziko memejamkan matanya.


"Daddy enggak marahin Ziko kan?" Kata Devina sambil melepaskan pelukannya dan menatap Ziko


Ziko tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban.


"Ziko enggak marah lagi sama Vina kan?" Kata Devina lagi


Ziko kembali menggelengkan kepalanya pelan lalu memeluk Devina dan bersandar di bahunya.


"Kenapa bohong sama Daddy? Kenapa gak bilang kalau kamu nangis karena aku?" Tanya Ziko


"Enggak, nanti Daddy marah sama Ziko." Kata Devina


"Enggak papa aku kan salah." Kata Ziko


"Ziko enggak salah." Kata Devina


"Maaf ya? Maaf udah buat kamu nangis kemarin." Kata Ziko pelan


"Enggak papa Vina enggak marah." Kata Devina


"Daddy bilang kalau hal kayak gini terulang lagi dia bakal bawa kamu pulang." Kata Ziko


"Enggak, Ziko enggak bakal biarin hal kayak gini terulang lagi kan? Ziko enggak bakal buat Vina nangis lagi kan?" Kata Devina


Ziko melepaskan pelukannya lalu menatap Devina dengan senyuman dan menganggukkan kepalanya.


"Enggak akan pernah"


Devina tersenyum senang dia mencium pipi Ziko dan kembali memeluknya.


"Vina tau Ziko enggak bakal buat Vina sedih lagi"


Dalam diam Ziko hanya tersenyum dan semakin mempererat pelukannya, dia tidak akan pernah membuat Devina menangis lagi.


Dia tidak mau kalau Devina di bawa pergi dari sisinya.


°°°°


Updateeee🥰 Satu part lagi nanti yaaaa😘


__ADS_1


__ADS_2