
"Aaa Vinaa mau jugaaa"
Devina menghela nafasnya pelan ketika Ziko kembali merengek setelah mereka pulang dari rumah orang tuanya untuk mengucapkan selamat atas kehamilan Adara juga mengunjungi kedua orang tuanya. Sebenarnya Devina juga sudah cukup siap, tapi tidak papa dia suka mengerjai Ziko suaminya itu lucu sekali.
Setelah masuk kamar Ziko juga langsung memeluk Devina dan tidak mau melepaskannya sambil terus merengek seperti anak kecil. Jelas saja Devina merasa lucu dan kesal juga melihatnya, jadi ketika Devina mengajak suaminya untuk duduk dia mencubit pipi Ziko dengan gemas.
"Vinaaa sayanggg"
Kali ini Devina tidak bisa menahan tawanya, dia benar-benar tertawa karena melihat wajah Ziko yang lucu.
"Mau baby jugaa sayang." Kata Ziko.
"Yaudah iya nanti buat dulu." Kata Devina.
"Ayo sekarang buatnya biar cepet jadi." Kata Ziko.
Devina langsung melotot dan memukul pelan lengan suaminya.
"Ish jangan aneh-aneh Ziko inii masih sore nanti diganggu anak-anak memangnya mau?" Kata Devina.
"Tapi, janji dulu ya? Pokoknya nanti malam buat baby." Kata Ziko.
Devina merasa gemas dia mencubit lagi pipi Ziko dengan kuat.
"Enggak mau janji." Kata Devina sambil melepaskan tasnya dan berniat mengganti baju.
"Aaa Vina sayang harus janji duluuu." Kata Ziko yang langsung memeluk tubuhnya agar tidak pergi.
"Ish Ziko"
"Janji dulu, mau baby jugaaa." Kata Ziko.
Devina menghela nafasnya pelan lalu meraih tangan Ziko dan menautkan jari kelingkingnya di sana.
"Udah sayang." Kata Devina.
Ziko tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya membuat Devina tertawa lalu mengusap rambut suaminya itu dengan penuh kelembutan.
"Maaf yaa Vina bilang enggak siap terus." Kata Devina.
Perkataan itu membuat Ziko diam dan langsung melepaskan pelukannya.
"Aku maksa ya? Kalau kamu belum siap enggak papa." Kata Ziko yang sadar bahwa dia sedikit berlebihan.
Devina tersenyum lalu menggelengkan kepalanya pelan, tapi Ziko malah semakin merasa bersalah.
"Maaf, enggak papa kalau Vina memang belum siap, aku yang maksa padahal Vina capek ngurusin Arthan sama Ardhan kalau aku kerja." Kata Ziko.
"Enggak gitu Ziko." Kata Devina dengan penuh kelembutan.
"Enggak papa nanti aja kita tunda dulu aja punya baby nya." Kata Ziko.
"Jangan, sekarang Vina juga udah mau punya baby." Kata Devina.
"Kamu bilang gitu cuman mau buat aku seneng aja ya?" Tebak Ziko.
Devina tertawa lalu menggelengkan kepalanya pelan.
"Vina beneran, lihat Adara jadi mau juga lagi pula Arthan sama Ardhan udah besar mereka enggak terlalu rewel sekarang." Kata Devina.
Senyum manis Ziko langsung terbentuk dengan sempurna dia kembali memeluk Devina dan kali ini lebih erat dari sebelumnya.
"Ih Ziko gemes banget mau Vina gigit." Kata Devina.
Di luar dugaan Ziko langsung mendongak dan tersenyum.
"Sini gigit." Kata Ziko.
__ADS_1
"Ishh"
Tertawa pelan Ziko mengeratkan lagi pelukannya.
"Ziko mau punya baby cewek atau cowok?" Tanya Devina sambil mengusap rambut suaminya.
"Mau cewek yang lucu kayak Vinaa aku liat Nadhin aja gemes apalagi kalau anak kita sendiri." Kata Ziko.
Ziko mendongak untuk menatap wajah Devina dan Devina hanya bisa tersenyum mendengarnya.
"Memang mau nanti anak kita manjaa bangett lebih manja kayak Vina." Kata Devina.
"Mauu! Malah suka jadi gemesin kayak Vina." Kata Ziko dengan penuh antusias.
"Nanti lucu ya kalau punya anak cewek dia pasti digangguin terus sama Arthan saka Ardhan." Kata Devina.
"Iya, tapi pasti bakal dijagain juga aaa tuh kan mau punya babyyy." Rengek Ziko.
Devina kembali tertawa, dia menangkup wajah Ziko dengan kedua tangannya lalu mencium bibir pria itu cukup lama.
"Iya nanti kita buat dulu baby nya"
Ya ampun Ziko gemas sekali, tapi memang sudah sejak lama sekali Ziko mengatakan hal itu apalagi kalau habis melihat Nadhin atau Alana dan Aluna.
'Mau punya baby cewek juga yang gemesin kayak Vinaa'
Sudah sering sekali dan mungkin memang sudah waktunya juga Devina menuruti keinginan suaminya.
Ehh tidak ini bukan hanya keinginan Ziko saja, tapi Devina juga.
Sebenarnya bukan tidak mau, tapi Devina sendiri mudah lelah dan menjaga Arthan dan Ardhan terkadang sudah cukup lelah, dia takut malah tidak bisa menjaga kandungannya nanti.
Tapi, tidak kali ini dia tidak akan menolak lagi.
Devina juga mau memiliki anak perempuan yang lucu.
°°°°
Ardhan berseru kesal ketika kembarannya terus saja menyenggol tubuhnya dengan sengaja padahal Ardhan lagi mewarnai, jadi sekarang terlihat tidak bagus warnanya karena tidak rapih. Sayangnya Arthan malah tertawa senang, dia yang duduk di samping kembarannya itu terus bergerak dan menyenggol Ardhan hingga berkali-kali.
Merasa kesal Ardhan merengek kuat lalu melempar buku gambarnya begitu juga dengan crayon yang ada di dekatnya karena kesal. Bukan Arthan namanya kalau merasa bersalah, anak itu malah ikut melempari buku juga barang lainnya yang ada di dekatnya.
"Kenapa sayang?" Tanya Devina yang langsung menghampiri keduanya.
Dengan wajah cemberut Ardhan berlari menghampiri Devina dan memeluknya.
"Altan nakall." Kata Ardhan.
Devina menatap Arthan, tapi anak itu malah menyengir lebar dengan matanya yang membulat membuat Devina ingin tertawa melihatnya.
"Arthan jangan gangguin terus kembarannya." Kata Devina.
Anak itu mengangguk saja dan Devina langsung melepaskan pelukan Ardhan lalu mengambil buku juga beberapa crayon yang berserakan di lantai.
"Enggak boleh semua di lempar gini ya? Nanti kalau ada yang jalan terus enggak liat dan keinjak bisa jatuh." Kata Devina.
Devina juga mengambil beberapa barang yang Arthan lemparkan.
"Aldan duluan lempal lempal." Kata Arthan.
"Iya, tapi enggak boleh gitu lagi ya?" Kata Devina.
Kedua anak itu mengangguk dan Devina meminta keduanya duduk berhadapan agar tidak ribut lagi.
"Mami mau masak mie katanya Arthan sama Ardhan mau makan mie, jangan nakal ya ganteng? Mami masakin mie dulu." Kata Devina.
Sekali lagi kedua anak itu mengangguk patuh dan membiarkan Devina kembali pergi ke dapur. Kini mereka duduk berhadapan dan Ardhan kembali mewarnai gambar mobil yang ada dalam buku mewarnai.
__ADS_1
"Walnanya jelek bagusnya walna ijoo." Kata Arthan.
"Ini punya aku Altan punya cendili." Kata Ardhan sambil menatap kembarannya dengan tidak suka.
"Aku mau tukelan." Kata Arthan.
"Gakk Altan punya cendili enggak boleh tukel tukel." Kata Ardhan.
"Pelit Aldan pelit." Kata Arthan.
"Bialin." Kata Ardhan sambil memeletkan lidahnya.
Keduanya diam sekarang dan sama-sama fokus dengan buku mewarnai mereka, tidak ribut lagi.
Kadang memang ada saja yang mereka berdua ributkan padahal Devina dan Ziko kalau beli sesuatu selalu dua agar mereka tidak bertengkar, tapi setiap hari ada saja yang diributkan.
Ah tidak papa, tapi rumah semakin ramai karena mereka berdua, ya meskipun kadang Devina pusing sendiri.
°°°°
"Sekarang waktunya Vina untuk aku"
Devina hanya bisa tersenyum ketika Ziko masuk ke dalam kamar dan langsung mengunci pintu begitu memastikan kedua anak mereka sudah tidur dengan lelap. Berjalan mendekat Ziko langsung memeluk Devina dengan erat lalu mengangkat tubuhnya membuat Devina melilitkan kedua kakinya di pinggang Ziko karena takut jatuh.
Balas memeluk suaminya Devina bersandar dengan manja di bahu Ziko dan hanya pasrah saja ketika Ziko membawanya ke ranjang. Tubuhnya di baringkan di sana dan Ziko tak ikut berbaring, dia hanya duduk sambil menatap Devina dengan intens.
Tangan kekar pria itu mengusap bibir Devina perlahan.
"Vina cantik banget." Kata Ziko.
Devina kembali tersenyum lalu memejamkan matanya ketika wajah Ziko mulai mendekat dan tak lama Devina dapat merasakan bibir pria itu mendarat di atas bibirnya. Merasa tidak nyaman dengan posisinya Ziko melepaskan sebentar ciumannya dan meminta Devina untuk duduk di pangkuannya saja.
Begitu berpindah Ziko kembali menciumnya satu tangan pria itu mengusap tengkuknya dan satu tangan lainnya membuka satu per satu kancing piyama yang Devina kenakan. Satu pakaian itu dengan mudahnya lolos dari tubuh Devina karena ulah suaminya.
Menghentikan lagi ciumannya Ziko menyatukan dahi mereka lalu tangannya mengusap sayang perut Devina membuat Devina tertawa pelan karena merasa geli.
"Disini akan ada baby lagi." Kata Ziko.
Ziko benar-benar terlihat sangat antusias membuat Devina sedikit merasa bersalah karena terus menolak keinginan suaminya.
"Aku enggak sabar nunggu baby kita tumbuh lagi disini." Kata Ziko.
Mencium lama kening istrinya Ziko memejamkan matanya.
"Ziko mau mulai ya?"
Devina mengangguk malu bahkan wajah hingga telinganya memerah karena menahan malu, dia memeluk Ziko ketika pria itu melepaskan kaitan bra yang dia kenakan.
Devina masih tetap malu meskipun mereka sering kali melakukannya.
"Ziko"
Suara Devina tertahan di tenggorokan ketika Ziko mulai menyentuhnya, dia bersandar di bahu Ziko dan membiarkan suaminya itu menyentuh tubuhnya.
Berhenti sejenak Ziko melepaskan baju yang dia kenakan lalu melemparnya ke sembarang arah dan mendorong pelan tubuh Devina ke ranjang dengan dia yang ada di atas tubuhnya.
"Ayo buat babyy"
Dan suara mereka bersatu di keheningan malam, beruntung kamar ini kedap suara Devina tidak perlu takut.
Adik untuk si kembar sedang dalam proses pembuatan.
°°°°
**Masih ada enggak ya pembacanya☹️
After Vina hamil and baby nya lahir kita buat judul baru untuk anak-anak Vina dan Ziko yaaa💃
__ADS_1
Eits tenang tetep di Noveltoon😍**