
Hari ini jadwal kuliah Devina baru selesai pukul empat sore karena ada empat mata kuliah dan sekarang masih pukul dua belas siang dimana Devina bersama dengan kedua teman baiknya tengah menyantap makan siang di kantin. Cukup melelahkan karena ada banyak presentasi juga tugas yang beruntung di mata kuliah terakhir Devina sudah selesai presentasi dan hanya tinggal mengumpulkan tugasnya saja.
Sebelumnya dia sudah memberi tau Ziko bahwa dia akan pulang sedikit terlambat karena jadwal kuliahnya cukup padat dan kemungkinan akan pulang lebih terlambat. Suaminya itu sendiri sudah pulang sejak tadi karena hanya ada satu mata kuliah untuk hari ini dan sejak tadi juga pria itu terus mengirim pesan padanya, tapi hanya Devina balas seadanya.
Devina sangat lahap memakan makan siangnya karena dia sangat lapar.
"Capek banget hari ini ya? Mana dosennya keluar lewat jam terus gak tepat waktu." Keluh Intan
Menatap Intan dengan raut wajah cemberut Devina mengangguk setuju.
"Iya ish capek tau mana banyak tugas." Kata Devina
"Habis ini masih ada satu jam sebelum masuk kelas kan? Mau kemana?" Tanya Hanifa
"Gak tau." Kata Devina dan Intan bersamaan
Menghela nafasnya pelan Hanifa mengambil minuman yang ada meja dan menghabiskannya.
"Ke perpustakaan mau?" Tanya Hanifa
"Ah males perpustakaan bukan tempat gue." Kata Intan sewot
"Gak papa Intan kita disana gak usah baca buku duduk aja lumayan adem kan ada AC." Kata Devina
"Bener, makanya gue ajak ke perpustakaan." Kata Hanifa
"Hm yaudah kita ke perpustakaan habis ini." Kata Intan
Memasukkan suapan terakhir ke mulutnya Devina tersenyum senang karena dia sudah menghabiskan makan siangnya lalu meminum es teh yang tadi dia pesan.
"Sebentar lagi ya ke perpustakaan....."
"Devina"
Perkataan Devina terputus ketika seseorang memanggilnya dan begitu menoleh senyuman manisnya langsung pudar karena dia melihat Raga yang berdiri tak jauh darinya. Pria itu berjalan mendekat lalu duduk tepat disampingnya setelah ini memang mereka akan berada di kelas yang sama.
Mengalihkan pandangannya Devina menggeser sedikit tempat dia untuk duduk, sebenarnya Devina sudah tidak marah lagi, tapi dia tidak mau membuat suaminya marah kalau dekat dengan Raga.
"Ngapain Ga?" Tanya Intan yang menyadari bahwa Devina mulai risih
"Habis selesai makan terus pas mau balik gak sengaja lihat kalian." Kata Raga jujur
"Terus kenapa kesini?" Tanya Hanifa dengan raut wajah datarnya
"Setelah ini kita satu kelas kalau lo lupa." Kata Raga
"Dan kenapa kesini? Kenapa gak sama teman-teman lo?" Tanya Intan membuat pria itu tertawa
"Mereka lagi ada jam, memang kenapa?" Tanya Raga
"Gak lihat apa teman gue gak suka." Kata Intan sambil melirik ke arah Devina
Mengikuti arah pandangnya Raga dapat melihat Devina yang berusaha menghindari tatapan matanya.
"Oke sorry gue pergi kalau gitu, sampai ketemu nanti di kelas." Kata Raga sebelum akhirnya melangkahkan kakinya pergi menjauh
Menghela nafasnya lega Devina langsung mengajak yang lainnya untuk pergi ke perpustakaan karena dia sudah selesai menyantap makan siangnya. Semoga saja setelah ini dia tidak akan bertemu dengan Raga lagi karena Devina tidak mau kalau Ziko sampai melihat lalu marah padanya.
Sungguh Devina tidak mau bertengkar lagi dengan suaminya.
"Heran deh Raga gak ada kapoknya banget masih aja suka deketin lo." Kata Intan sebal
__ADS_1
"Masih di blok kan nomor dia?" Tanya Hanifa
"Masih, aku gak mau Ziko marah." Kata Devina dengan senyuman
"Yaudah tenang aja kita bakal jauhin itu cowok dari lo." Kata Intan sambil menepuk pelan pundak Devina
Devina tersenyum senang ketika mendengarnya Intan memang sama seperti Mona, dia selalu melindungi Devina. Sebenarnya Hanifa juga sama, tapi kalian tau sendiri gadis itu lebih banyak diam dan tidak terlalu mau berkomentar.
Setelah berjalan cukup jauh dari kantin akhirnya mereka bertiga sampai di perpustakaan dan senyuman Intan mengambang dengan sempurna kala mereka masuk ke dalam lalu merasakan hawa dingin yang menyegarkan. Mereka mengambil buku secara asal lalu memilih tempat di pojok yang jauh dari penjaga perpustakaan agar bisa sedikit mengobrol.
"Hah gila adem banget." Kata Intan senang
"Dasar tadi aja diajak kesini gak mau." Kata Devina
"Ya kan lo sama Hanifa biasanya kalau kesini baca buku." Kata Intan
"Kayaknya lo nyasar deh Tan gue sama Vina mah banyak kesamaan, tapi sama lo gak ada kayaknya." Kata Hanifa membuat wajah Intan berubah cemberut
Devina berusaha menahan tawanya, tapi memang benar Devina sering mengajak Hanifa ke perpustakaan hanya saja Intan sering protes karena tidak mau dan jadilah mereka berdua akan mengikuti Intan atau terkadang Intan yang dengan terpaksa ikut mereka.
"Jahat banget sih Fa." Kata Intan
"Intan sih gak suka baca buku." Kata Devina
"Enggak males ngantuk." Kata Intan
"Dia mah sukanya chatan sama pacar." Kata Hanifa asal
"Tuh kan Hanifa ada dendam pasti sama gue ya?" Tuding Intan kesal
"Sst Intan jangan keras-keras nanti kena marah." Kata Devina
Bukan menjawab Hanifa malah menoyor kepala Intan membuat gadis itu berdecak kesal dan Devina yang menggelengkan kepalanya pelan.
Kedua orang itu seperti Mona dan Cessa yang sering bertengkar ketika hanya berdua.
"Bentar ya? Aku mau cari buku lain deh." Kata Devina
Setelah melihat kedua temannya mengangguk Devina pergi mencari buku yang ingin dia baca dan meletakkan buku pertama di tempat semula. Sekarang Devina mencari buku tentang sastra dan dia pergi ke rak buku yang berada di ujung.
Tersenyum senang Devina mulai mencari bukunya dan ketika menemukan apa yang dia cari Devina langsung menjinjit untuk mengambilnya karena memang buku itu ada di rak teratas. Namun, tubuhnya yang memang cukup pendek membuat Devina sedikit kesulitan dan setelahnya dia dibuat tersentak ketika seseorang dengan jarak yang begitu dekat mengambilkan buku itu untuknya.
Begitu mendongak ternyata Raga.
Kenapa pria itu datang lagi?
"Makasih?"
"Makasih Raga." Kata Devina pelan
Berusaha untuk tidak menatap mata pria itu Devina ingin kembali ke tempatnya, tapi Raga menahan lagi tangannya dan membuat Devina langsung menariknya dengan kasar.
"Kenapa sih Vin? Aku kan udah minta maaf karena bohong sama kamu tentang aku dan Kania yang pacaran, kenapa masih marah?" Tanya Raga
Kali ini Devina mendongak dan menatap mata Raga dengan berani.
"Vina enggak marah, tapi aku memang mau jaga jarak sama kamu karena aku gak mau suami aku marah." Kata Devina
Setelah mengatakan hal itu Devina bergegas pergi meninggalkan Raga yang tersenyum dalam diam. Kembali lagi pada Devina yang langsung duduk di tempatnya dengan raut wajah kesal.
"Eh kenapa Vin?" Tanya Intan
__ADS_1
"Tadi ada Raga lagi." Kata Devina membuat kedua temannya itu menatapnya
"Wah udah gila itu cowok." Kata Intan kesal
"Yaudah lo sini aja kalau mau cari buku lain bilang biar gue atau Intan temenin, jangan sendirian." Kata Hanifa
"Makasih ya"
Keduanya hanya tersenyum dan Devina juga melakukan hal yang sama, dia senang sekali bisa bertemu dengan Hanifa dan Intan.
Semoga saja Raga tidak akan datang lagi Devina tidak mau Ziko melihat dan marah padanya seperti dulu.
°°°°
Tepat pukul empat mobil Ziko sudah terparkir manis di area kampus dia juga sudah mengatakan pada Devina bahwa dia telah sampai, tapi karena tak kunjung mendapat balasan akhirnya Ziko memilih untuk menyusul saja ke kelasnya. Seingat Ziko kelas istrinya hari ini ada di lantai dua kelas yang terletak dekat tangga karena sebelumnya Ziko juga pernah menyusul Devina di jam yang sama.
Saat menaiki tangga Ziko berpapasan dengan pria paruh baya yang dia yakini seorang dosen dan membuat Ziko refleks menunduk dengan sopan sebelum melanjutkan langkah kakinya. Sampai di atas Ziko melihat banyak mahasiswa yang keluar dari kelas dan berjalan menuju tangga, dia ingat mereka teman satu kelas Devina.
Baru ingin masuk ke dalam kelas yang cukup sepi Ziko malah melihat hal yang sangat membuatnya marah.
"Brengsek"
Ziko memaki cukup kuat dia langsung mendekat dan menarik kasar pria yang memeluk Devina lalu memukulnya hingga jatuh tersungkur membuat mereka yang masih ada di kelas memekik kaget.
Raga sialan!
Tak lagi mengatakan apapun Ziko langsung meraih tangan Devina dan mengajaknya untuk pergi.
"Pulang"
Di tempatnya Devina tidak memberikan perlawanan apapun dia hanya diam sambil menahan sakit karena Ziko menggenggam tangannya dengan sangat kuat. Sungguh semuanya sangat tiba-tiba Devina tidak tau kalau Raga akan melakukan hal itu padanya, dia juga tidak mau.
Sampai di parkiran Devina langsung masuk ke dalam setelah Ziko membuka pintu mobil dan sekali lagi dia diam dan menatap Ziko yang langsung mengendarai mobilnya dengan raut wajah marah.
Apa Devina salah?
Menggigit pelan bibir bawahnya Devina memainkan jari-jari tangannya sambil menunduk karena tidak lagi berani menatap wajah suaminya.
Dia tidak tau kalau Raga akan tiba-tiba memeluknya begitu tadi pria itu hanya memanggil namanya saja dan secara tiba-tiba mendekat lalu memeluknya.
Bukan salah Devina kan?
Selama perjalanan Devina benar-benar tidak mengatakan apapun dan ketika sampai dia juga hanya diam lalu turun begitu Ziko membuka pintu mobil. Mengikuti langkah kaki suaminya Devina langsung masuk ke dalam kamar dan menahan tangan Ziko sambil menatapnya dengan sedih.
"Ziko"
Belum sempat mengatakan apapun Ziko sudah lebih dulu bicara.
"Kamu mau balas dendam sama aku? Aku kan udah minta maaf masalah Alda sama kamu Vin." Kata Ziko pelan
"Enggak.... Vina gak tau kalau...."
Seakan tak mau mendengar Ziko melepaskan tangan Devina lalu melempar asal kunci mobilnya dan masuk ke kamar mandi bahkan Devina dapat mendengar suara pintu yang di tutup dengan kuat.
Menggigit pelan bibir bawahnya Devina duduk di tepian ranjang sambil menatap ke arah kamar mandi.
Dia takut Ziko marah sekali padanya.
°°°°
Masih ada lagi tenangg🤣
__ADS_1