
"Amii Amiiii"
Ardhan berlari dengan sangat cepat menghampiri Devina. Anak itu naik ke atas ranjang dan langsung memeluk Mami nya.
Sontak saja Devina terkejut, tapi dia langsung tersenyum ketika sosok Arthan muncul. Dengan topeng menyeramkan yang dia gunakan Arthan menggeram dan menghampiri Ardhan.
"Amiii Amiiii"
"Rawrrrrr aku makan Aldann"
Devina malah tertawa. Dia memeluk Ardhan yang terlihat takut.
"Amiii Altan selemm dia sepelti monstel."
"Rawrrrr Aldannn"
"AAAA AMIII AMIIIII"
Ardhan berteriak kuat ketika Arthan ikut naik. Kemudian anak itu menyentuh kaki kembarannya dan membuat Ardhan ketakutan.
"AMIIII"
"Arthan udah udah jangan ditakutin Ardhan nya sayang." Kata Devina dengan penuh kelembutan.
Anaknya yang jahil itu kini menyengir lucu. Dia langsung patuh dan duduk diam.
"Nah gitu, pinter anak Mami." Kata Devina sambil mengusap kepala Arthan.
"Aldan Aldannn ayo main"
Ardhan menoleh sejenak. Melihat Arthan yang sudah kembali seperti biasa dan membuatnya merasa lebih aman. Memang Ardhan itu cukup penakut.
Kini anak itu melepaskan pelukannya. Dia menghampiri kembarannya dan duduk berhadapan bersama dengan Arthan.
"Altan jangan nakal." Kata Ardhan.
"Gakk! Ayo kita main cepeda." Ajak Arthan dengan penuh semangat.
Anak itu langsung turun dari atas kasur. Diikuti dengan Ardhan. Hal itu membuat Devina langsung mengikuti keduanya.
Kalau bermain sepeda Devina harus mengawasi. Karena Arthan juga jahil sekali. Terkadang suka menabrak-nabrakkan sepedanya ke dinding atau tanaman.
Ah sudahlah pusing kalau sudah mengingat kelakuan Arthan.
Kedua anaknya itu menuruni tangga dengan hati-hati. Pergi ke halaman belakang rumah dan mengambil sepeda masing-masing.
"Mainnya pelan-pelan aja ya??" Kata Devina.
"Iya Amiii"
Devina duduk di gazebo. Dia memperhatikan Arthan dan Ardhan yang mulai membawa sepeda mereka dengan hati-hati.
Melihat itu Devina langsung mengeluarkan ponselnya. Mencari nomor Ziko dan melakukan panggilan vidio.
Tak butuh waktu lama suaminya itu mengangkat telpon.
'Halo Mami'
"Zikoo, lagi dimana?" Tanya Devina ketika melihat itu bukan ruang kerja suaminya.
'Di lantai dasar, aku baru aja pulang dari kantor teman Papa'
Devina mengangguk faham. Dengan senyuman Devina membalik kameranya. Menunjukkan kedua anaknya yang sedang bermain sepeda.
"Lihat tuh anak Ziko." Kata Devina.
'Ya ampun padahal ini udah siang, kenapa enggak tidur?'
"Enggak mau tidur, jadi Vina biarin aja mereka main." Kata Devina.
'Kalau Vina capek minta Bibi aja yang jagain'
"Enggak Vina enggak capek." Kata Devina sambil mengarahkan lagi kameranya ke depan.
'Mami Vina mau dibawain apa nanti?'
__ADS_1
Tawaran itu membuat senyum manis Devina mengembang dengan sempurna. Dia terlihat seperti sedang berpikir untuk beberapa saat.
Hingga....
"VINA MAU COKLAT"
Di sebrang sana Ziko tertawa mendengar seruan istrinya.
'Nanti Ziko beliin banyak, tapi waktu pulang kasih cium ya?'
"Emmm iyaa nanti cium yang lamaaa." Kata Devina yang membuat Ziko kembali tertawa.
Gemas sekali. Rasanya Ziko ingin cepat-cepat pulang.
"Kalau Ziko mau matikan telponnya enggak papa." Kata Devina.
'iya, nanti aku telpon lagi ya sayang?'
"Okeee, dadah Zikooo." Kata Devina sambil melambaikan tangannya di kamera.
Tak lama Ziko mematikan sambungan telponnya. Dan bersamaan dengan itu pula suara seruan Arthan terdengar.
"Tablakk tablakkk"
Anak itu mengendarai sepedanya cukup kencang. Kemudian menabrak tembok dan malah tertawa.
Sedangkan Devina sudah berlarian menghampirinya.
"Tablak agiii tablak agiii"
Arthan turun dari sepedanya. Dia membawa sepedanya mundur dan kembali naik.
Tapi, belum sempat mengayuh Devina sudah menahannya.
"Noo! Enggak boleh tabrak tabrak nanti jatuh beneran." Kata Devina sambil menggerakkan jari telunjuknya.
"Aaaa lepasss Amii lepasss aku mau tablakk"
Belum selesai dengan Arthan kini suara Ardhan yang terdengar.
"Tablakkk altann"
Devina langsung menghindar dan ban sepeda Ardhan langsung menabrak ban belakang sepeda Arthan.
"Arthan Ardhan! Kalo mainnya kayak gini Mami gembok nanti sepedanya ya?! Main sepedanya yang bener nanti jatuh." Kata Devina.
Kedua anak itu cemberut. Mereka turun dari sepeda lalu bersama-sama lari.
"Laliii laliii"
Devina menghela nafasnya pelan.
"Arthan Ardhan jangan lari-lari"
Itu suara mertuanya. Devina langsung bergegas ke dalam dan mencari kedua anaknya yang sudah lari masuk.
"Udah Vina biarin aja, sini kamu duduk nanti capek." Kata Nazwa ketika melihat menantunya ingin mencari si kembar.
Devina tersenyum tipis, "Enggak bisa diem banget."
"Memang itu si kembar." Kekeh Nazwa.
Nazwa mengajak Devina untuk duduk. Dan beberapa saat setelahnya suara langkah kaki terdengar.
Siapa lagi kalau bukan si kembar.
Kedua anak itu sudah muncul lagi. Mereka tersenyum lebar dan menghampiri Devina.
"Amii Amii mau esklim"
"Enggak ada"
"Adaa di kulkas." Kata Arthan yang membuat Devina menggelengkan kepalanya pelan.
"Minta ambilin Bibi ya? Makannya disini sambil duduk." Kata Devina.
__ADS_1
"Iya Ami ayo Aldann"
Kedua anak itu kembali pergi ke dapur. Devina hanya bisa tersenyum saja melihatnya. Lucu sekali melihat keduanya berjalan beriringan begitu.
Benar-benar menggemaskan, meskipun terkadang menyebalkan.
••••
"Apiiii"
Arthan dan Ardhan kegirangan ketika Papinya pulang. Kedua anak itu melompat-lompat membuat Ziko tertawa melihatnya.
Dia menunduk. Kemudian memeluk kedua anaknya juga mencium kepalanya dengan sayang.
"Mami mana sayang??" Tanya Ziko.
"Ami makan"
"Ami makan telus"
Ziko kembali tertawa. Dia menggandeng tangan kedua anaknya dan pergi ke ruang tengah.
Di sana ada Devina yang tengah memakan brownies dengan lahapnya sambil menonton acara gosip.
"Vina"
Suara itu membuat Devina langsung berhenti. Dan menoleh. Senyumnya mengembang dengan sempurna.
"Zikoo"
Devina bangun dan menghampiri suaminya. Dia mencium pipi Ziko sebentar.
"Sini duduk"
Mereka kembali duduk. Arthan dan Ardhan juga. Kedua anak itu sangat penasaran dengan apa yang Ziko bawa.
"Api belikan apa?" Tanya Arthan dan Ardhan.
Kedua anak itu mengintip ke dalam plastik belanjaan.
Ziko langsung tertawa. Dia membuka plastik belanjaan itu. Mengeluarkan cukup banyak makanan dari dalam sana.
"ADA PELMENN PUNYA AKUU"
Ardhan berseru senang anak itu langsung mengambil permen yupi kesukaannya. Melihat itu Arthan langsung celingukan mencari permen yang sama.
"AKU?"
"Bareng-bareng sayang itu banyak permennya, Ardhan sini Papi bukain." Kata Ziko.
Ardhan yang memang pada dasarnya penurut langsung mematuhi apa yang Ziko katakan. Anak itu duduk manis dan menunggu hingga permennya di buka.
Ziko langsung memberikan masing-masing tiga buah.
"Ini Papi simpan untuk nanti." Kata Ziko.
Kalau tidak disimpan bisa langsung dihabiskan.
Berbeda lagi dengan Devina yang sudah anteng memakan coklat miliknya.
Ziko memperhatikan ketiganya secara bergantian. Senyumnya tanpa sadar mengembang.
Lihat betapa menggemaskannya ketiga orang ini?
Devina dan si kembar yang sama-sama makan makanan kesukaan mereka.
Bayangkan jika baby yang Devina kandung nanti lahir, akan seperti apa jadinya?
Ziko jadi semakin tidak sabar saja.
Semoga dia mendapat baby girl kali ini. Baby perempuan yang sangat menggemaskan seperti istrinya.
••••
**Updateeee😍
__ADS_1
Siapa yang senang author update???
Baby perempuan yes or noooo**????