
Hari ini Devina sangat senang karena bisa menghabiskan banyak waktu dengan suaminya bahkan sepanjang perjalanan pulang senyuman manisnya tidak pernah luntur membuat Ziko ikut senang melihatnya. Padahal tidak banyak yang mereka lakukan hanya menonton film lalu bermain Timezone mengunjungi beberapa toko dan makan sebelum pulang ke rumah.
Ternyata semua kegiatan itu sangat membuat Devina bahagia bahkan sudah berkali-kali Devina mengucapkan Terima kasih pada suaminya karena sudah di ajak jalan-jalan. Saat di mall tadi Devina juga membelikan jam tangan untuknya dengan uangnya sendiri yang Devina bilang hasil tabungannya dulu.
Terlihat sekali Devina sangat bahagia dengan semua yang Ziko lakukan untuknya.
"Emm Ziko"
Ziko juga selalu suka kalau Devina memanggilnya dengan nada begitu.
"Iya sayang"
"Besok pulang kuliah Vina mau ke kantor Daddy ya? Mau main ke sana." Kata Devina meminta izin
"Boleh, mau naik apa kesana? Kamu selesai kelas jam berapa? Nanti kalau memang bisa biar aku yang anterin." Kata Ziko
"Ihh enggak usah Vina nanti minta antar Vano kalau enggak minta jemput Daddy atau Pak Hadi nanti Ziko jemput aja." Kata Devina
"Yaudah"
"Boleh kan? Ziko memang baik." Kata Devina senang
Hanya senyuman yang bisa Ziko berikan karena dia harus fokus pada jalanan yang cukup padat hingga akhirnya mereka berdua sampai juga di rumah. Sebelum membiarkan Devina turun Ziko lebih dulu mencium singkat bibirnya lalu melepaskan sabuk pengamannya dan barulah membiarkan Devina untuk turun.
Keduanya berjalan beriringan dengan tangan Ziko yang melingkar manis di pinggang sang istri dan Devina yang sudah terbiasa mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa tersenyum saja. Begitu masuk ternyata Bibi bilang orang tua Ziko sedang tidak ada di rumah dan senyuman Ziko langsung terbentuk.
Mengajak Devina masuk ke dalam kamar Ziko mendudukkan istrinya di tepian ranjang lalu duduk di sampingnya dan meletakkan kedua tangannya di bahu Devina.
"Kenapa Ziko?" Tanya Devina sambil menatap suaminya dengan lugu
Ziko hanya tersenyum lalu tangannya kini beralih memberikan usapan penuh kelembutan di pipinya.
"Vin"
"Emm"
"Aku mau bicara sesuatu." Kata Ziko
"Bicara apa?" Tanya Devina dengan mata yang masih terus menatapnya
"Aku...."
Devina masih diam dan menunggu Ziko melanjutkan perkataannya, tapi dia masih diam untuk waktu yang cukup lama.
Merasa bingung Devina ingin bertanya, tapi Ziko sudah lebih dulu menciumnya membuat mata Devina membulat dan dia memundurkan sedikit tubuhnya, tapi Ziko malah menahan pinggangnya.
Setelah merasa puas Ziko menjauhkan wajahnya lalu mengusap bibir bawah Devina dan tersenyum.
"Ziko ish bikin kaget aja katanya mau bilang sesuatu." Kata Devina sebal
Tertawa kecil Ziko membawa Devina ke dalam pelukannya lalu menyandarkan dagunya di bahu Devina dan menggerakkannya pelan membuat Devina terus bergerak karena merasa geli.
"Ish jangan Ziko geli tauuu"
__ADS_1
Bukan berhenti Ziko malah terus melakukannya bahkan tangannya ikut menggelitik perut Devina membuat Devina tertawa dan berusaha mendorongnya menjauh.
"Ziko udah geliiii"
Menghentikan kegiatannya Ziko kembali memeluk Devina dan kali ini dengan sangat erat membuat Devina merasa sesak.
"Zikoooo"
"Aku gemes banget sama kamu Vin." Kata Ziko disertai tawa kecilnya
"Gak bisa nafas susah." Keluh Devina
Melepaskan pelukannya Ziko menatap Devina dengan senyuman lalu mencium seluruh wajahnya dan berhenti lama di bibirnya.
"Ziko kenapa sih?" Tanya Devina bingung
"Enggak papa Vin hari ini aku lagi gemes banget sama kamu." Kata Ziko
"Ish aneh banget." Kata Devina dengan raut wajah sebal
Ziko hanya bisa tertawa lalu dia merapihkan rambut Devina dan melepaskan jepitan yang ada menghiasi rambut hitam istrinya. Tak banyak yang Devina lakukan dia hanya diam dan membiarkan Ziko melakukan apa yang pria itu inginkan.
Kali ini Ziko melepaskan kalung yang ada di leher Devina juga jam tangan yang dia kenakan lalu menaruh semuanya di meja. Di tempatnya Devina hanya bisa tersenyum dengan apa yang Ziko lakukan.
"Vin"
"Emm"
Devina hanya bisa tersenyum mendengarnya.
"Aku gak bisa bayangi kalau kita punya anak kembar apalagi dua-duanya cewek pasti lucu." Kata Ziko
"Seperti Vina ya?" Kata Devina
"Enggak nanti Vina kalah lucu." Kata Ziko membuat Devina mengerucutkan bibirnya sebal
"Jahatt"
Tertawa kecil Ziko kembali memeluk Devina dengan sayang dan kali ini Devina juga melakukan hal yang sama.
Pernikahan mereka harus selalu bahagia seperti ini jangan sampai ada seorangpun yang merusaknya.
Tidak boleh!
°°°°
Kedatangan Devina ke kantor membuat Daffa terkejut bukan main apalagi ketika dia baru kembali dari rapat tiba-tiba anak perempuannya itu sudah duduk manis di ruang kerjanya. Tentu saja Daffa merasa sangat senang belum lagi Devina yang langsung memeluknya begitu dia masuk ke dalam ruangan.
Ternyata bukan hanya kedatangan Devina saja yang mengejutkan, tapi Daffa cukup terkejut melihat ruang kerjanya sekarang penuh dengan makanan juga camilan milik anaknya. Sekarang Daffa sudah duduk di sofa bersama dengan Devina yang terlihat begitu senang.
"Daddy pasti kaget kan? Hehe Vina sengaja datang enggak bilang." Kata Devina dengan antusias
Tersenyum senang Daffa mengusap kepala Devina dengan sayang.
__ADS_1
"Jadi, ada apa ini cantiknya Daddy sampai datang ke kantor?" Tanya Daffa
"Em enggak ada apa-apa." Kata Devina
Daffa mengangkat sebelah alisnya untuk sesaat, tapi setelahnya dia tertawa dan mencubit pelan pipi anaknya.
"Nanti habis kuliah Ziko jemput." Kata Devina
"Iya, sekarang Vina mau apa?" Tanya Daffa
Bukan menjawab Devina malah memeluk Daffa dari samping membuat pria paruh baya itu tersenyum dan membalas pelukannya.
"Daddyyy"
"Iya ada apa sayang?" Tanya Daffa
Melepaskan pelukannya Devina menatap Daffa dengan senyuman manis yang menghiasi wajahnya.
"Daddy mau cucu lagi enggak?" Tanya Devina
Pertanyaan itu sontak saja membuat Daffa terkejut, tapi setelahnya di tertawa.
"Mau, kenapa Vina mau kasih Daddy cucu seperti Kak Ara?" Tanya Daffa
Awalnya Daffa hanya bercanda, tapi jawaban Devina malah membuat dia terdiam.
"Memang bolehh?" Tanya Devina
"Eh Vina serius?" Tanya Daffa
Devina mengangguk dengan wajah polosnya.
"Enggak boleh ya?" Tanya Devina pelan
Daffa tersenyum lalu menangkup wajah anaknya dan memberikan ciuman singkat di keningnya.
"Devina udah menikah semuanya ada di tangan kamu, tapi Daddy cuman mau bilang kalau semuanya butuh kesiapan Devina sayang"
Mengangguk faham Devina masih terus menatap Daffa dan menunggu Daddy nya menyelesaikan semua perkataannya.
"Daddy tidak akan melarang semuanya terserah pada Devina"
Tersenyum senang Devina memeluk lagi Daffa dengan sangat erat dan memejamkan matanya.
Daffa memang benar, semuanya butuh kesiapan.
°°°°
Updateee dulu yaaaa🥰
Ziko ganteng banget dehhh😝
__ADS_1