
Sejak kemarin Arthan terlihat begitu ketakutan. Anak itu tidak mau berada di dekat Devina karena takut dimarah.
Dia menempel terus pada Nazwa dan Zidan. Tidak mau menghampiri Devina ataupun Ziko padahal kedua orang tuanya itu sama sekali tidak marah.
Seperti sekarang misalnya.
Kedatangan Daffa dan juga Fahisa untuk melihat keadaan cucunya malah membuat Arthan menjauh. Dia menempel pada Nazwa dan enggak masuk ke dalam kamar kembarannya.
Arthan sangat takut dimarahi.
"Arthan kenapa? itu ada Oma sama Opa loh." Kata Nazwa dengan penuh kelembutan.
Arthan menggelengkan kepalanya pelan.
"Enggak."
"Kenapa? Mami sama Papi enggak marah sama Arthan." Kata Nazwa.
Arthan tak mau menjawab dan malah memeluk Nazwa dengan sangat erat. Anak itu cemberut dan berdiam dalam pelukan Neneknya itu.
"Ayo ke kamar ya? Sama Oma." Kata Nazwa berusaha membujuk.
Awalnya Arthan menolak, tapi Nazwa terus membujuknya hingga akhirnya anak itu mengangguk singkat.
Dia bersandar manja pada bahu Nazwa ketika digendong.
Begitu masuk ke dalam kamar pelukan Arthan semakin erat. Dia tidak mau menatap ke depan.
"Arthan sini sayang." Kata Fahisa.
Arthan mendongak, tapi dia langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan kembali memeluk Nazwa dengan erat.
"Arthan kenapa gitu? Ini ada Oma sama Opa ayo salam dulu." Kata Devina dengan penuh kelembutan.
Anak itu masih enggan turun dari gendongan Nazwa. Hal itu membuat Fahisa langsung berjalan mendekat.
"Kenapa sayang?" Tanya Fahisa sambil mengusap pipi Arthan dengan sayang.
Awalnya Arthan tidak ingin mendekat, tapi lama kelamaan anak itu luluh juga dan mau berpindah ke dekapan Fahisa.
"Arthan kayaknya takut.. dia takut aku marahin padahal aku enggak marah." Kata Devina menjelaskan.
Daffa tersenyum tipis lalu mengusap kepala Devina dengan sayang.
"Mungkin Arthan meras bersalah." Kata Daffa.
Devina mengangguk singkat. Dia menatap Arthan sebentar lalu beralih menatap Arthan yang sedang digendong Fahisa.
"Ardhan sebentar ya? Sama Opa ya? Mami mau ke Arthan dulu." Kata Devina dengan penuh kelembutan.
Seperti biasa Ardhan mengangguk patuh. Kemudian Devina langsung beranjak dan menghampiri Arthan.
Dan dia dapat melihat anak itu malah semakin mengeratkan pelukannya pada Fahisa.
"Enggak... enggak mauu cama Amii." Rengek Arthan sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung Fahisa.
Devina tersenyum tipis melihatnya.
"Arthan, kenapa sayang? Sini sama Mami." Kata Devina.
"Enggak mau.. Ami malah aku enggak mau cama Ami." Kata Arthan.
Baik Fahisa ataupun Nazwa tersenyum melihatnya. Dan Fahisa berusaha meminta Arthan untuk tidak seperti itu pada Maminya.
"Arthan"
__ADS_1
Sekarang Arthan mendongak. Anak itu menatap Devina dengan wajah cemberut dan juga takut.
Tapi, ketika Devina merentangkan kedua tangannya Arthan langsung mau berpindah ke dalam dekapan Maminya.
"Siapa yang marah? Mami enggak marah sama Arthan." Kata Devina dengan penuh kelembutan.
Arthan tak menanggapi dan malah bersandar dengan manja di bahu Maminya.
Anak itu takut Devina dan Ziko marah, jadi dia terus saja menghindar hingga ketika ingin mandi saja tidak mau dengan Devina dan malaj merengek pada Nazwa.
Dia sangat takut.
Padahal Devina dan Ziko saka sekali tidak marah. Mereka hanya cemas saja karena kedua anaknya terjatuh.
"Sini sama Ardhan." Kata Devina.
"Enggak mauu Aldan juga malah cama akuu kalna aku buat Aldan jatuh." Kata Arthan dengan raut wajah sedih.
Devina tersenyum lagi ketika mendengarnya.
"Ardhan enggak marah, coba kita tanya ya?" Kata Devina.
Arthan tetap tidak berani menatap ke depan. Anak itu memeluk Devina dengan sangat erat.
"Ardhan, memangnya Ardhan marah sama Arthan?" Tanya Devina sambil duduk di tepian ranjang.
Ardhan dengan senyuman menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku enggak malah." Kata Ardhan.
"Tuh enggak marah kan? Sini sama Ardhan." Kata Devina.
Arthan dengan ragu melepaskan pelukannya dan menatap kembarannya. Dia mendekat lalu duduk di samping Ardhan kemudian memeluknya dengan sayang.
Coba lihat berapa menggemaskannya dua anak ini?
••••
"Siapa yang takut Mami sama Papinya marah hm?"
Ziko yang baru saja mendengar cerita dari istrinya langsung menggendong Arthan dan menciumi pipinya. Anak laki-lakinya itu terdiam saja sambil memeluk Ziko dengan manja.
Memang Arthan ini paling takut kalau kedua orang tuanya marah.
"Altan nakal jadi Altan takut dimalah." Kata Arthan dengan wajah cemberut.
Mendengar itu Ziko tersenyum dan mengusap pipi anak itu dengan sayang.
"Papi marahnya sedikit aja, tapi karena Arthan udah minta maaf, jadi marahnya udah hilang." Kata Ziko.
Arthan tersenyum mendengarnya. Dia menjauhkan wajahnya dan menatap Ziko dengan mata membulat.
"Tapi, kalau Arthan nakal lagi Papi sama Mami bakal marah banget." Kata Ziko.
Arthan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Altan gak nakal lagi.. kacian Aldan cakit kalna Altan." Kata Arthan dengan raut wajah sedih.
"Iya dong enggak boleh nakal, sekarang kalau main enggak boleh lari-lari ya?" Kata Ziko memperingati.
Arthan mengangguk patuh. Anak itu tidak akan nakal lagi sekarang.
Dia akan menurut.
"Tablak boleh?" Tanya Arthan.
__ADS_1
Pertanyaan itu membuat Ziko langsung tertawa. Diciumnya pipi anak itu dengan gemas.
"Tabraknya kalau main mobilan ya? Jangan orang-orang yang ditabrak, oke?" Kata Ziko.
Arthan tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
"Aldan cembuhnya macih lama enggak?" Tanya Arthan pada Papinya.
"Em nanti sembuhnya kalau di tangan Ardhan udah enggak ada perbannya." Kata Ziko.
"Aldan cepelti mumi banyak pelbannya." Kata Arthan sambil tertawa senang.
Ziko ikut tertawa mendengarnya.
"Memang Arthan tau mumi?" Tanya Ziko.
Arthan mengangguk dengan penuh semangat.
"Mumi itu yang banyak pelbannya telus jalannya cepelti ini." Kata Arthan sambil turun dari pangkuan Ziko.
Anak itu berdiri dan mengangkat tangannya lurus ke depan lalu berjalan dengan mata terpejam.
"Memang itu mumi?" Tanya Ziko sambil tertawa.
Arthan membuka matanya lalu berbalik dan kembali menghampiri Ziko.
"Iyaa"
"Takut dong kalau Ardhan seperti mumi." Kata Ziko.
"Gakkk kalau Aldan enggak celem." Kata Arthan sambil tersenyum lebar.
"Kalau Mami?" Canda Ziko.
Mata anak itu membulat. Dia langsung naik ke atas sofa dan mendekat pada Ziko. Kemudian berbisik pelan.
"Mami celem cepelti penyihil." Kata Arthan.
Perkataan itu membuat Ziko tertawa dengan lepas. Tidak habis pikir dengan apa yang anaknya itu katakan.
"Tapi, Papi jangan bilang Mami nanti Altan dimalah telus dikutuk jadi batu." Kata Arthan lagi.
Tawa Ziko semakin terdengar. Pria itu tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar perkataan anak laki-lakinya itu.
Apalagi ketika dia melihat pintu terbuka lalu ada Devina yang masuk ke dalam hingga membuat Arthan langsung memeluk Ziko lagi dengan erat.
"Mamii masa kata Arthan...."
"Aaaaa gak bolehhh"
Arthan langsung merengek dan menutup mulut Ziko dengan tangan kecilnya. Sedangkan itu Devina hanya memandang bingung kedua pria itu.
Tidak mengerti apa yang terjadi.
•••••
Hehehe maaf gak update kemarin.
Oh yaa kalau enggak ada halangan aku bakal buat cerita anak-anak Devina sama Ziko.
Judulnya Possessive Brother dan bakal aku publish di bulan puasa nanti.
Kira-kira ada yang mau bacaa???
Cerita Devano dan Adara aku update nanti malem soalnya belum selesai nulisnya😚
__ADS_1