Istri Manja Ziko

Istri Manja Ziko
Maafin Arthan


__ADS_3

"Makan apa ya?"


Devina bergumam pelan sambil memikirkan apa yang harus dia makan untuk camilan sekarang.


Seperti dulu ketika hamil Devina jadi sangat suka makan. Dia mau makan terus dan tidak kunjung merasa kenyang.


Sejak pagi tadi Devina sudah makan roti dua lalu susu khusus ibu hamil dan juga sepiring nasi goreng. Dan sekarang Devina tengah memikirkan camilan yang harus dia makan sebelum makan siang.


Kalau kedua anaknya sedang ikut mertuanya ke supermarket, jadi saat ini Devina masih sendirian saja di rumah.


"Vina makan apa ya?" Tanya Devina sambil memasang wajah cemberutnya.


Wanita hamil itu kini meraih ponselnya yang ada di atas meja dan membuka layanan delivery makanan.


Dia melihat-lihat berbagai menu yang ada di sana. Cukup lama hingga pilihannya berakhir pada kebab dan juga burger.


"Vina mau makan ini aja." Kata Devina.


Dengan senyuman lebar Devina langsung memesan apa yang dia inginkan.


Begitu selesai Devina tersenyum puas. Dia mengusap pelan perutnya dan berkata.


"Sabar ya anak Mami sayang kita lagi pesan makan." Kata Devina pelan.


Sedangkan itu di sisi lain ada Nazwa yang masih bersama kedua cucunya. Mereka berada di supermarket.


Kedua cucu laki-lakinya itu berjalan di sampingnya. Tenang dia tidak pergi sendirian saja, tapi dengan Bibi juga.


Bibi mendorong troli belanjaan lalu Nazwa dan kedua cucunya sibuk mencari apa-apa saja yang ingin dibeli.


"Altan Altannn ada capiii"


Ardhan menunjuk ke arah kaleng kornet yang ada di dekatnya.


"Mooooo"


Arthan langsung menirukan suara sapi lalu tertawa. Dan hal itu membuat Nazwa menggelengkan kepalanya pelan.


Kedua anak itu benar-benar sangat aktif.


Sambil terus memperhatikan kedua cucunya Nazwa mengambil barang belanjaan dan memasukkan ke dalam troli belanjaan.


Hingga ketika semuanya sudah Nazwa langsung mengajak kedua cucunya untuk membeli sesuatu.


"Arthan sama Ardhan mau beli apa sayang?" Tanya Nazwa.


"Mau beli banyakk." Kata mereka bersamaan.


"Ayo beli." Kata Nazwa sambil menggandeng tangan kedua cucunya itu.


Selagi berjalan kedua anak itu tak berhenti berceloteh. Mereka kegirangan ketika sampai di tempat makanan.


Bahkan tangan Nazwa langsung di lepas. Kedua anak itu berjalan kesana kemari dan mengambil berbagai macam camilan.


Memasukkannya ke dalam troli belanjaan dan Nazwa hanya membiarkan saja.


"Dahh"


Setelah membuat troli belanjaan penuh kedua anak itu baru berhenti dan menghampiri Nazwa sambil tersenyum lebar.


Nazwa ikut tersenyum melihatnya.


"Ayo kita bayar terus pulang." Kata Nazwa.


Kedua anak itu mengangguk lagi. Mereka mengikuti Nazwa dan Bibi pergi menuju kasir.


"Pelmenn aku mau pelmennn"


Arthan menunjuk sambil berjinjit ke arah permen yang ada di kasir. Hal itu membuat Nazwa tersenyum lalu mengambil beberapa permen.


Kedua anak itu berceloteh sendiri hingga membuat pegawai di kasir tersenyum geli melihatnya.

__ADS_1


Sampai akhirnya semua selesai dihitung dan Nazwa langsung membayar. Bersama dengan Bibi dia membawa barang belanjaan lalu keluar dari area supermarket.


Arthan dan Ardhan berjalan di kedua sisi Nazwa. Kali ini keduanya tak banyak tingkah dan berjalan dengan anteng hingga ke parkiran.


Terkadang memang sedikit menyulitkan membawa kedua anak itu turut serta ketika akan berbelanja, tapi tidak bohong Nazwa juga senang karena tingkah kedua anak itu.


Selain itu dia juga ingin membantu menantunya mengurus dua bocil yang tidak bisa diam ini.


Arthan dan Ardhan.


Ah tidak bisa dibayangkan akan sejahil apa mereka ketika sudah memiliki adik nantinya.


••••


"Arthan Ardhan jangan lari-lari nanti jatuh"


Devina memperingati kedua anaknya yang sejak tadi terus berlarian di dalam rumah. Hal itu membuat Devina takut sendiri kalau mereka terjatuh, tapi si kembar itu tidak mau mendengar dan terus saja berlarian.


Mereka mengelilingi rumah sambil berlari membawa sebuah mainan pesawat terbang. Sudah setengah jam lebih mungkin, tapi kedua anak itu belum mau berhenti juga.


Mereka berlari ke halaman belakang rumah lalu masuk lagi dan berlari ke halaman depan.


Begitu terus sampai Devina pusing sendiri melihatnya.


"Telbang telbanggg yang tinggi"


Arthan melompat-lompat sambil membawa pesawat mainannya. Anak itu tertawa senang memainkan mainan yang baru dibelikan Ziko kemarin.


Ardhan pun sama anak itu mengikuti kembarannya. Mereka bermain bersama dengan riang, tapi membuat Maminya pusing sendiri.


"Kita lompattt." Seru Ardhan.


Anak itu kini naik ke atas kursi dan melompat dari sana. Di susul dengan Arthan yang melakukan hal yang sama.


"Arthan Ardhan udah dong sayang jangan lari-lari terus." Kata Devina lagi.


"Laliii laliii kita kabul ada Amiii." Kata Arthan sambil berlari kencang bersama dengan kembarannya.


"Arthan Ardhan udah mainnya bentar lagi Papi pulang." Kata Devina dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya.


"Laliiiii"


Arthan dan Ardhan berlari semakin kencang membuat Devina jadi panik sendiri.


Dan Devina refleks berteriak ketika melihat Arthan terjatuh lalu menabrak tubuh Ardhan yang ada di depannya hingga jatuh.


Pranggg


Tubuh Ardhan menghantam guci yang ada di dekat tangga hingga hancur berkeping-keping.


Wajah Devina semakin panik ketika suara tangisan Ardhan terdengar. Matanya membulat dengan sempurna ketika melihat darah di lantai.


Devina langsung berteriak memanggil mertuanya.


"Mamaaaa"


"Ya ampun Ardhan!"


Devina berlari menghampiri anak laki-lakinya itu dan tubuh Ardhan yang terjatuh terkena pecahan guci yang berserakan di lantai.


Anak itu tak bicara apapun. Sama halnya dengan Arthan yang langsung menangis karena takut.


Tak lama Nazwa muncul dengan raut wajah yang tak kalah panik. Wanita itu berseru kuat dan langsung berlari menghampiri menantu juga cucunya.


"Devina ayo kita ke rumah sakit sekarang." Kata Nazwa tanpa banyak berpikir lagi.


"Ardhan.. Kita ke rumah sakit ya? Maafin Mami ya sayang." Kata Devina sambil menangis.


Dia langsung menggendong tubuh Ardhan lalu menatap Arthan yang juga ikut menangis.


Ketiak Nazwa datang dia langsung mengajak Arthan turut serta karena tidak mungkin meninggalkan anak itu sendirian.

__ADS_1


Dengan panik mereka pergi ke rumah sakit membawa Ardhan yang terluka.


Devina sangat ketakutan. Dia menangis sambil menatap salah satu anaknya yang terluka.


Belum lagi tangisan Arthan juga lutut dan pergelangan tangan anak itu yang sedikit terluka.


Ya ampun dia tidak bisa menjaga anaknya dengan baik.


••••


Jantung Ziko rasanya berhenti mendadak ketika mendapat kabar dari Devina. Dia langsung melesat pulang ke rumah setelah mendapat kabar itu.


Baru saja Devina memberikan kabar karena dia sama sekali tidak bisa memikirkan apapun ketika melihat keadaan anaknya tadi.


Dan sekarang Ziko yang baru saja sampai di rumah langsung berlari ke dalam.


Pria itu membuka pintu kamar anaknya cukup kuat dan melihat Ardhan yang berada dalam dekapan Devina.


Ada perban di tangan dan kakinya. Anak itu terlihat pucat dan sangat lemas.


Kemudian ada Arthan juga yang terlihat sangat ketakutan ketika Ziko pulang. Dia langsung mengeratkan pelukannya pada Nazwa dan menangis lagi.


"Kenapa bisa Vina?" Tanya Ziko.


"Mereka lari-lari terus jatuh dan nabrak guci Mama sampai akhirnya pecah." Kata Devina sambil menghela nafasnya pelan.


Ziko segera mendekat. Dia mengusap pelan pipi Ardhan yang membuat anak itu merengek.


"Lalu Arthan tidak papa?" Tanya Ziko lagi.


"Luka sedikit karena jatuh, dia jatuh terus nabrak Ardhan yang ada di depannya makanya gini." Kata Devina menjelaskan.


Ziko mengangguk singkat. Pria itu langsung menghampiri Arthan yang menangis lagi dengan wajah yang disembunyikan.


"Arthan"


Arthan melepaskan pelukannya pada Nazwa. Anak itu cemberut dengan pipi yang basah karena air mata.


Dia langsung memeluk Ziko dan meminta maaf.


"Papi Altan enggak cengaja jangan malahin Altan.... Altan minta maap." Kata Arthan sambil menangis.


"Papi bilang apa? Jangan lari-lari terus nanti jatuh, sekarang benar kan?" Kata Ziko masih dengan suara yang terdengar lembut.


"Altan minta maap.. Altan enggak cengajaa." Rengek Arthan lagi.


Ziko menghela nafasnya pelan. Dia kini memperhatikan tubuh Arthan dan melihat luka kecil di tangan juga lutut anak itu.


"Jangan malahin Altann"


Anak itu semakin menangis membuat Ziko langsung memeluknya dan mengusap-ngusap kepalanya.


"Enggak boleh lari-lari lagi ya? Untung Ardhan lukanya enggak besar, jadi boleh pulang kalau lukanya besar gimana? Nanti Ardhan harus di suntik terus nanti Mami marah dan gak sayang lagi sama Arthan." Kata Ziko yang membuat Arthan menangis lagi.


"Enggak.. Altan enggak lali lagii nanti Altan cama Aldan enggak nakal lagiii..."


Anak itu memeluk Ziko dengan sangat erat dan terus menangis karena takut orang tuanya marah.


Apalagi Mami nya yang sejak tadi belum bersuara membuat Arthan sangat takut.


Kini Arthan menatap kembarannya dengan wajah cemberut. Dia merasa bersalah karena sudah membuat kembarannya terluka.


Arthan terus menangis dalam pelukan Papinya dan Ardhan tidak mau lepas dari dekapan Maminya.


••••


Yeyeyeye aku updateee🤗


Besok aku update lagi yaaaaaaaa❣️


Cerita Vano Dara insya Allah kalau enggak ada halangan aku update besok jugaaaa🥰

__ADS_1


siapa yang sedih si kembar jatuh🥺


__ADS_2