
Devina merasa cukup lega karena di kehamilannya yang kedua ini dia tidak terlalu sering mengalami morning sickness dan masih bisa beraktifitas seperti biasanya. Selain itu Devina juga tidak mudah lelah seperti dulu ketika hamil si kembar.
Sekarang Devina masih bisa membantu mertuanya memasak lalu menyirami tanaman di halaman belakang rumah juga.
Ya, dia masih bisa banyak beraktifitas.
Kalau dulu Devina lebih sering di kamar dan beristirahat karena sangat mudah lelah.
Tapi, kalau masalah makan jangan ditanya.
Tidak ada bedanya dulu dan sekarang. Ketika hamil begini nafsu makan Devina meningkat dua kali lipat.
Dia bisa makan dua porsi dari yang biasanya wanita itu makan.
Seperti sekarang contohnya.
Devina baru saja menghabiskan dua mangkuk bakso yang tadi Ziko belikan sepulang dari kantor. Kini wanita hamil itu mengusap perutnya dan tersenyum senang karena sudah merasa kenyang.
"Kenyang bumill sayang?" Tanya Ziko pada istri menggemaskannya itu.
Devina mengangguk dengan penuh semangat, "Kenyang bangettt, makasih Papi Zikoo."
Ziko tertawa pelan dan mengangguk. Dia memperhatikan istrinya yang sekarang tengah minum air putih cukup banyak.
"Si kembar tidur?" Tanya Ziko.
"Di kamar lagi mainan, tadi Vina ajakin mereka makan, tapi katanya masih kenyang." Kata Devina.
Ziko mengangguk singkat sebagai tanggapan.
Kemudian dia bangun dari tempatnya duduk ketika melihat istrinya itu bangun. Dengan segera Ziko menggenggam tangannya.
"Mau kemana sayang?" Tanya Ziko.
Devina menarik nafasnya sejenak karena merasa sedikit sesak. Makan cukup banyak membuat dia kekenyangan.
"Mau lihat Arthan sama Ardhan." Kata Devina.
"Ayo sama Ziko." Kata Ziko sambil merangkul pinggang istrinya itu dengan sayang.
Ziko membantu Devina yang sebenarnya tidak memerlukan itu. Dia mengantar kesayangannya itu ke kamar buah hati mereka.
Dan benar ternyata di dalam kamar Arthan dan Ardhan terlihat sibuk bermain. Mengingat Ardhan yang masih memakai perban, anak itu tak banyak bergerak.
Dia hanya memainkan mobilannya dengan satu tangannya yang sudah tak terbalut perban. Bersama dengan Arthan yang juga bermain mobilan.
Oh iya kemarin lucu sekali Arthan tiba-tiba datang dan memeluk kembarannya untuk meminta maaf.
Sangat menggemaskan hingga membuat Devina menggigit pipi kedua anak itu bergantian.
"Tablak tablak blakkk blakkk jatuhhh"
Arthan terlihat heboh menabrakkan dua mobil mainnya. Anak itu sampai berdiri lalu melempari mobil mainan berukuran sedang itu.
"Blakkk anculll"
"Ehh Amiii"
Arthan menyengir lebar dan langsung berlari menghampiri Devina yang membuat Maminya itu menunduk lalu memeluknya.
"Amii"
Ardhan pun tak kalah senang. Anak itu ikut mendekat dan bergabung memeluk Devina.
Melihat itu Ziko tersenyum. Dia mengusap kepala Devina dan kedua anaknya secara bergantian.
"Amii Amiii aku main mobil blummm blummm"
Begitu Arthan melepaskan pelukannya anak itu langsung berlari mengelilingi kamar sambil menirukan suara mobil.
"Blummm blummmmm"
Terlihat sangat bersemangat sekali membuat Devina dan Ziko tersenyum melihatnya.
"Nanti aku kalau cudah becalll mau jadi pembalap blummm blummm"
Anak itu berceloteh masih sambil berlari hingga ketika mendekati Papinya dia langsung berhenti karena Ziko menggendongnya.
"Sama Mami pasti enggak boleh kalau jadi pembalap." Kata Ziko.
__ADS_1
"Bolehh nanti aku cama Aldan balapan blumm blumm telussss nanti kita masuk tipiii pasti celuu." Kata Arthan.
"Iya iyaaa Aldan juga mauuu." Kata Ardhan yang ikutan bersemangat.
Devina hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah kedua anak itu.
Ada saja kelakuannya heran.
"Ayo bobok siang." Ajak Devina.
Perkataan itu membuat keduanya melotot dan langsung menolak.
"Gak mau gak mauuuu"
"Oh yaudah enggak jadi beli mainan..."
Belum selesai mengatakan itu si kembar sudah berlari dan naik ke atas ranjang membuat Devina dan Ziko tertawa pelan melihatnya.
Menggemaskan sekali.
••••
"Catu"
"Catu"
"Dua"
"Dua"
"Tiga"
"Tiga"
"Empat"
"Empat"
"Lima"
"Enam"
Sangat bersemangat sekali ketika bangun tidur langsung berlari dan merengek minta di bawa ke toko mainan.
Dan di perjalanan Devina meminta keduanya untuk belajar menghitung.
"Calahhh lima dulu balu enam." Kata Ardhan protes.
"Gakk! catu dua tiga empat enam"
"Calahh! Catu dua tiga empat lima enam"
"Enggak aku betul empang telus enam." Kata Arthan tidak mau disalahkan.
"Amii calah kan? Halusnya catu dua tiga empat lima enam." Kata Ardhan sambil menatap Devina.
Devina tersenyum penuh arti pada kedua anaknya.
"Iya, seharusnya lima dulu baru enam." Kata Devina.
"Calah Altannn"
"Enggak papa ya Arthan belajar nanti malam kita menghitung lagi ya?" Kata Devina.
Keduanya langsung mengangguk dengan penuh semangat.
"Amii Amiii"
"Iya sayang"
"Aku beli mainannya banyakk ya?" Kata Arthan.
"Tanya Papi dong sayang." Kata Devina sambil tersenyum.
"Papiii"
"Iya Arthan sama Ardhan boleh beli mainan yang kalian suka." Kata Ziko yang masih fokus menyetir.
Kedua anaknya itu bersorak senang. Dan setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua puluh lima menit akhirnya mereka berdua sampai juga.
__ADS_1
Mereka langsung turun dan si kembar yang sangat bersemangat itu sudah berlari duluan membuat Devina menghela nafasnya lalu bergegas menyusul.
Dia tidak bisa berlari, jadi hanya berjalan dengan cepat saja.
Dan ternyata kedua anak itu sudah berlarian di dalam.
"AMII AMIII AKU MAU ITUU"
Devina menepuk pelan dahinya ketika banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka karena si kembar yang melompat-lompat sambil menunjuk pesawat terbang mainan.
Ziko hanya tertawa saja dan langsung mendekati kedua anaknya.
"Iya sayang pelan aja yang ngomongnya kan Mami sama Papi deket disini." Kata Ziko dengan penuh kelembutan.
Keduanya mengangguk patuh dan kembali berjalan-jalan di dalam toko mainan setelah Ziko mengambilkan apa yang ingin mereka beli.
Tapi, baru beberapa menit Arthan sudah berteriak lagi.
"ADAAA MOBIL APIII APIII MAU BELII ITUUUU"
Arthan melompat-lompat sambil menunjuk ke arah mobil mainan yang besar yang bisa dia naiki.
"MAUU JUGA MAU JUGAAA"
Keduanya sudah berlari ke arah sana dan membuat Ziko menggelengkan kepalanya pelan sambil tertawa.
"Vina males nih kalau ajakin mereka ke toko mainan kayak gini." Kata Devina.
"Enggak papa sayang sesekali." Kekeh Ziko.
Mereka kembali menghampiri si kembar yang terlihat begitu antusias.
"Amii Amiii beli inii nanti aku cama Aldan bica balapan benelan blumm blumm telus tablakk." Kata Arthan dengan heboh.
Ziko tertawa lagi mendengarnya.
"Iya Papi belikan, tapi jangan teriak ya sayang nanti dimarahin." Kata Ziko lagi.
Keduanya mengangguk lagi dan kembali memperhatikan mobil mainan di hadapan mereka.
"Beli ya Apii? Nanti aku cama Altan enggak belantem lagi." Kata Ardhan dengan wajah lucunya.
Oh ya ampun menggemaskan sekali.
Bagaimana bisa menolak kalau begini???
"Apii beliii aku mau main tablakk tablakk nanti aku tablak bunga Oma wushhh loboh deh"
Arthan memang ada saja ide jahilnya Devina sampai pusing sendiri.
••••
Yeee aku updateeeee🤗
Btw btwwwwe aku udah siapinnnnn sesuatuuu
taraaa
Aku gabung sama cerita anak Devano dan Adara yaaa🤗
Jadi, gini nanti di cerita itu anaknya Vina sama Vano ada di satu sekolah yang sama makanya aku satuin di satu judul yang samaa😘
Karena judulnya Possessive Brothers nanti cerita ini lebih berfokus ke anak mereka yang perempuan yaaaa🤗
Siapa yang enggak sabar?
Aku publish 13 April 2022🤗
Bisa lebih cepat juga tergantung kesiapan aku publish ceritanya.
Tapi, kalian pada mau baca kannnn????
Janjiii harus baca kalo aku publish yaaaaaa😤
Updatenya kemungkinan seminggu tiga atau empat kalii, tapi bisa juga setia hariii🤗
Semoga kalian bakal sukaaa❣️
__ADS_1