
Memandangi Devina yang sedang tertidur lelap adalah kebiasaan baru yang paling Ziko suka bahkan dia rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menatap wajah Devina yang terlihat tenang ketika sedang tidur. Pipinya yang chubby itu menempel pada bantal karena Devina memang berbaring dengan posisi miring lalu beberapa helai rambut yang menutupi sedikit wajahnya.
Sulit untuk mendefinisikan arti Devina dalam hidupnya karena bagi Ziko istrinya itu adalah segalanya, dia sangat mencintai Devina dengan sepenuh hatinya. Selama ini Ziko tidak pernah begitu mencintai seorang wanita seperti dia mencintai Devina bahkan persahabatan dengan Adyra atau Alda tidak pernah sekali pun melibatkan perasaan kedua wanita itu yang memang pernah menaruh hati padanya.
Namun, bersama dengan Devina dia tidak bisa jika tidak melibatkan perasaan karena hal sekecil Devina memasang wajah cemberut atau kesal saja sudah membuat dia ingin memarahi orang yang membuat mood gadisnya jelek.
'Ihhh nyebelin! Aku kan bilang gak mau'
Ziko masih sangat ingat ketika di kelas Devina terlihat kesal dan marah pada Faisal yang mengganggu Devina dengan meminta contekan. Saat itu Ziko ikut kesal dan marah hingga dia menarik kasar buku Devina agar pria itu berhenti mengganggu gadisnya.
'Jeniii aku kan udah kerjaiin tugas kelompoknya kemarin pas aku kerjaiin kamu belum datang'
Tak hanya itu Ziko juga pernah ikut kesal ketika Jeni mengatakan bahwa Devina tidak ikut mengerjakan tugas kelompok.
Bagi teman sekelas mereka Ziko itu pelindung Devina karena dia selalu ada dan membela Devina dari setiap situasi bahkan dalam keadaan tak terduga.
Mengingat semua itu Ziko tersenyum dia mengusap pipi Devina dengan sayang ah rasanya Ziko ingin menghabiskan waktu hanya dengan Devina saja.
'Zikooo nitip susu sama rotiiii'
'Ziko buku Vina ketinggalan di rumah, gimana?'
'Ziko besok kita nonton film yuk'
'Zikoo katanya mau ajak Vina ke pasar malam'
Asataga Ziko tidak bisa menahan senyumnya setiap kali mengingat semua kenangannya bersama dengan Devina.
Masih asik memandangi wajah Devina tiba-tiba saja pintu kamar di ketuk membuat Ziko bergegas turun dari ranjang agar tidak mengganggu Devina. Begitu dia membuka pintu ternyata ada Mama nya yang sedang menatapnya dengan raut wajah cemas.
Ziko menutup pintu lalu bertanya pada Mama nya.
"Mama kenapa?" Tanya Ziko
"Ziko anterin Mama ke rumah sakit." Kata Nazwa
"Rumah sakit? Siapa yang sakit Ma?" Tanya Ziko
"Ini Mama nya Alda dia masuk rumah sakit." Kata Nazwa
"Tante Aini? Yaudah kita kesana." Kata Ziko
"Yaudah cepat ya? Mama tunggu di bawah." Kata Nazwa
Ziko mengangguk singkat lalu masuk ke dalam kamar dan mengambil jaket serta kunci mobil. Sebelum pergi dia menatap Devina lagi dan memberikan ciuman singkat di keningnya nanti dia akan mengirim pesan agar Devina tidak bingung mencarinya.
Setelah itu Ziko keluar kamar dan menuruni tangga menghampiri Nazwa yang sudah menunggu di depan pintu. Orang tua Ziko dan Alda memang sangat dekat mereka teman ketika sekolah dulu makanya cukup dekat satu sama lain.
Di dalam mobil Nazwa terlihat cemas sekali dan terus begitu sampai mereka benar-benar telah sampai di rumah sakit. Tanpa menunggu lagi Nazwa langsung turun dari mobil dan bergegas pergi ke ruang rawat yang tadi di kirimkan Alda padanya.
Dari belakang Ziko mengikuti hingga keduanya sampai dan masuk ke dalam ruangan. Disana sudah ada Alda yang menggenggam tangan Mama nya dan ketika mendengar suara pintu terbuka dia mendongak.
"Alda kenapa ini? Mama kamu sakit apa?" Tanya Nazwa cemas
"Gak papa kok Tante cuman tifus aja." Kata Alda dengan senyuman
"Ya ampun Tante cemas sekali." Kata Nazwa
"Tante cuman kesini sama Ziko?" Tanya Alda
"Iya Devina ada di rumah." Kata Nazwa
Alda mengangguk singkat lalu dia berdiri dan mempersilahkan Nazwa untuk duduk melihat keadaan Mama nya.
__ADS_1
Berdiri tepat di samping Ziko senyuman manis Alda mengembang dengan sempurna dan Ziko juga sama.
"Semoga Tante Aini bisa cepat pulang dan sembuh." Kata Ziko
"Thanks Ko"
"Anytime Al kalau ada apa-apa bilang aja." Kata Ziko
Mengangguk singkat Alda sesekali melirik ke arah Ziko dan tersenyum tipis, dia jadi merindukan sahabat masa kecilnya itu. Dulu mereka dekat sekali, tapi sekarang tidak apalagi Ziko sendiri yang mengatakan.
'Gue udah nikah Al lain kali kalau kita ketemu gak perlu pelukan ya? Nanti Devina bisa marah dan gue gak mau istri gue marah'
Beruntung sekali Devina bisa memiliki pria seperti Ziko mungkin kalau dulu dia tidak pergi Ziko akan menjadi miliknya.
Iya kan?
°°°
Devina mengetuk-ngetuk pena yang ada di genggamannya ke meja karena merasa bosan berada di rumah sendirian dan Ziko tak juga pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, tapi pria itu masih belum kembali. Tentu Devina tau kalau suaminya itu pergi ke rumah sakit bersama mertuanya karena Ziko tadi sempat mengirim pesan dan mengatakan bahwa dia pergi ke rumah sakit.
Sekitar satu jam yang lalu Ziko juga menelpon dan mengatakan pada Devina kalau dia akan pulang sedikit terlambat karena harus menunggu Mama nya dulu. Sekarang Devina sangat bosan dia berusaha mencari kegiatan dan mengerjakan tugas, tapi fikirannya malah asik tertuju ke Ziko.
Pria itu sedang apa?
Devina ingin menelpon, tapi dia takut mengganggu dan malah dianggap sebagai istri yang sangat posesif, jadi Devina memilih untuk diam saja.
Mungkin sekitar setengah jam sampai suara pintu kamar terbuka dan Ziko masuk ke dalam kamar membuat Devina langsung berlari kecil menghampirinya. Tanpa menunggu Devina memeluk nya membuat Ziko terkekeh pelan dan membalas pelukannya.
"Udah bangun dari tadi?" Tanya Ziko
"Udahhh"
"Yaudah bentar Vin aku mau mandi dulu ya? Udah jam setengah tujuh nanti kalau semakin malam dingin." Kata Ziko
"Pakai air hangat mau Vina siapin air hangat?" Tanya Devina
Devina menganggukkan kepalanya lalu mencium sekilas bibir Ziko sebelum pergi untuk mengambil baju di lemari. Di tempatnya Ziko hanya bisa tersenyum istrinya itu sangat menggemaskan apalagi ketika sudah berlari dan membuat rambutnya bergerak kesana kemari.
Selesai mengambil kaos berwarna putih juga celana pendek selutut Devina kembali duduk di atas ranjang dan menunggu Ziko hingga kembali. Namun, sesaat setelahnya ponsel Ziko ada yang di ranjang bergetar membuat Devina langsung melihatnya.
Ada pesan dari Alda.
Makasih Ko udah nemenin gue di rumah sakit sama Mama
Sampaikan juga salam ke Tante Nazwa ya?
Iya Alda sama-sama ini Devina
Ziko lagi mandi, semoga Mama kamu cepat sembuh
Setelah membalas pesan itu Devina meletakkan lagi ponsel Ziko di ranjang dan beberapa saat kemudian Ziko keluar dari dalam kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Ziko"
Ziko bergumam pelan sambil mengambil pakaian miliknya yang sudah Devina siapkan.
"Mama nya Alda sakit apa?" Tanya Devina
"Tifus"
Devina mengangguk faham lalu dia membaringkan tubuhnya di ranjang dan mengambil lagi ponsel milik suaminya.
"Vina dari tadi kesepian gak ada Ziko." Kata Devina
__ADS_1
Ziko tertawa kecil mendengarnya lalu dia menyampirkan handuk yang tadi dia gunakan setelah selesai mengganti pakaiannya dan menatap Devina yang sedang memainkan ponselnya.
"Tadi Alda chat terus udah Vina balas dia bilang makasih." Kata Devina
Ziko mengangguk singkat lalu duduk di tepian ranjang dan mengusap kepala Devina dengan sayang.
"Vina enggak suka kalau enggak ada Ziko." Kata Devina sambil menatap mata suaminya
"Ziko juga sama." Kata Ziko
"Ziko kenapa masih manggil Vina? Emm kenapa enggak pakai panggilan lain?" Tanya Devina penasaran
"Memang Vina mau dipanggil apa hmm?" Tanya Ziko
"Pakai panggilan sayang kayak orang-orang kalau udah menikah." Kata Devina membuat Ziko tertawa mendengarnya
"Kalau gitu Vina juga harus ubah panggilan sayang ke aku." Kata Ziko
"Em Ziko duluuu." Kata Devina
"Apa ya? Aku panggil acil aja ya? Acil, anak kecil." Canda Ziko
"Ishh Ziko mah yang bener." Keluh Devina
Ziko tertawa lalu menggenggam kedua tangan Devina ketika istrinya itu bangun dan duduk.
"Sayang?"
"Vina sayang." Kata Devina dengan senyuman manisnya
"Sekarang untuk aku." Kata Ziko
"Emm gak ada Vina sukanya manggil Ziko aja." Kata Devina
"Harus ada panggilan sayang juga untuk aku." Kata Ziko
"Apaa?"
"Kamu maunya apa?" Tanya Ziko
"Em maunya panggil Ziko aja." Kata Devina sambil menunjukkan cengirannya
Ya ampun Ziko ingin mengarungkan Devina saja rasanya.
"Vina panggil Papi Ziko." Kekeh Devina
Ziko membuatkan matanya mendengar kalimat itu apalagi sekarang Devina tertawa karena melihat wajah terkejutnya.
"Papi Ziko"
Astaga Ziko ingin sekali mengurung Devina hanya untuknya.
"Kalau mau manggil Papi harus ada baby nya dulu sayang"
Kali ini Devina diam dan menatapnya dengan pipi memerah, tapi sesaat setelahnya Devina tersenyum lalu membisikkan sesuatu.
"Emm baby nya buat duluu"
Ziko langsung tersenyum miring dan menahan Devina yang ingin menjauhkan tubuhnya lalu mendorong pelan tubuh istrinya itu agar berbaring di ranjang.
"Buat sekarang ya?"
Habis lah Devinaaa!
__ADS_1
°°°°
Harusnya tadi up malam, tapi enggak jadi maaf tiba-tiba ada acara keluarga hehe😘