
"Pi, sudah jam 11 malam, kenapa mereka belum pulang juga ya? "
Mami Lia mondar-mandir berjalan diruang keluarga hawatir dengan keadaan Sigit dan Winda, sampai malam selarut ini mereka belum juga sampai dikediaman Winata.
"Sudahlah mi, biarkan saja. Mereka itu sudah dewasa. lagian mami kayak tidak pernah muda aja, ini kan malam minggu mi."
Papi Winata berusaha menenangkan istrinya dengan kekehan kecil.
"Bukan begitu maksud mami pi, keadaan Winda kan masih butuh banyak istirahat pi! "
masih menampakkan wajah cemasnya, mami Lia beranjak mengambil secangkir teh hangatnya diatas meja.
"Pi, memang benar apa yang papi katakan tadi? kalau Winda belum mengetahui siapa pemilik pusat perusahaan WP? "
Mami Lia mendekati suaminya yang masih asik menyaksikan pertandingan bola, setelah meletakkan cangkirnya kembali.
Papi Winata membenarkan duduknya, lebih mendekat kearah istrinya, tangannya diangkat disenderan sofa yang diduduki istrinya.
"Kata Gunawan sih begitu, dia tidak tahu kalau papi adalah pemiliknya. Wina benar-benar gadis lugu mi, dia taunya cuma kerja, jika kerjaannya sudah dia selesaikan, langsung dia serahkan ke Firman, dia tidak seperti karyawan-karyawan yang lain, yang aneh-aneh di zaman seperti ini." ucap papi Winata sesekali melirik kearah istrinya dan kembali melihat acara kesayangannya.
"Masak sih pi? heran mami, kok masih ada ya gadis seperti istri abang? "
"Makanya mi, begitu papi mengetahui ceritanya dari Gunawan, papi langsung saja menyetujui pernikahan mereka, karena secara tidak langsung ada magnet yang akan menarik Sigit kembali ke perusahaan Wp."
"Tapi kita harus merahasiakan ini semua dari mereka berdua! papi ingin Sigit yang menggantikan perusahaan itu, bukannya dia menjadi pengacara! " lanjut papi
"Maksud papi merahasiakan dari mereka? "
"Sigit belum tau kalau Winda kerja di kantor cabang Wp mi."
mami Lia membulatkan kedua bola matanya, setelah mendengar ucapan suaminya, tidak percaya jika Sigit belum mengetahui semua tentang Winda, karena dalam pikirannya mereka sudah berteman selama hampir 4 tahun.
Masih dalam rasa terkejutnya, suara langkah kaki Revan terdengar dari tangga semakin mendekatinya dan papi Winata di ruang keluarga.
"Mi, pi kok belum tidur? bang Sigit belum pulang juga? "
suara Revan dari tangga lantai dua menghampiri kedua orang tuanya.
"Belum." jawab mami seraya menyelipkan anak rambut ditelinganya.
Revan ikut duduk disamping maminya, menyaksikan acara televisi.
❄❄❄
Tin tiiin
Pak Zain, satpam yang menunggu pos penjagaan dikeluarga Winata membukakan pintu pagar gerbang putih ketika mobil Sport milik Sigit sampai didepan pintu gerbang.
"Bang Sigit, baru pulang bang! "
sapa pak zain setelah Sigit melintas didepannya, yang dijawab dengan senyuman Sigit dari balik kaca mobilnya.
Mobilpun berhenti diparkiran halaman rumah, malam semakin dingin, sepi, hanya suara jangkrik yang terdengar.
"Win, Winda!" suara Sigit membangunkan Winda yamg masih terlelap dari tidurnya.
"Win! sudah sampai Win! " Sigit membangunkan Winda dengan jari tunjuknya di lengan bahu Winda.
Sigit masih bingung mencari cara untuk membangunkan Winda, sudah berkali-kali jari telunjuknya di arahkan di lengan bahu Winda, namun belum juga Winda terbangun.
Karena sudah merasa capek dan rasa kantuknya sudah tidak tertahankan lagi, Sigitpun segera menggendong tubuh Winda.
Sigit berjalan masuk rumah setelah mbok Lastri membukakan pintu.
__ADS_1
"Baru pulang bang." sapa mbok Lastri, lagi-lagi Sigit menjawabnya dengan senyuman dan berlalu masuk melewati ruang keluarga.
Mata Sigit mendapati papi, mami dan Revan masih menyaksikan acara televisi, mereka menoleh melihat Sigit yang baru datang dengan Winda dalam gendongannya.
"Baru pulang Git?! " tanya papi
"Iya pi."
"Abang dari mana aja jam segini baru pulang? trus Winda kenapa lagi bang? "
"Mi, pi nanti saja Sigit jawab pertanyaan mami sama papi ya. Sekarang Sigit masuk dulu. berat nih dari tadi gendong! "
Sigit berlalu menaiki anak tangga menuju kamarnya yang terletak dilantai dua setelah berhenti sejenak menjawab pertanyaan orang tuanya.
"Ye... kayak mandi aja! sehari dua kali gendong! "
Perkataan Revan membuat langkah Sigit melambat sebentar, matanya melirik tajam kearah Revan.
"Bukan dua kali bahkan tiga kali bocil! "
Rutuk sigit dalam hati, merasa kesal dengan celetukan adiknya, yang masih duduk di bangku SMA.
"Wooww..... lirikannya taakuut... "
Suara Revan menggoda Sigit.
Sigit melanjutkan langkahnya menaiki tangga, membiarkan adiknya menyembunyikan wajahnya dibalik jari tanganya.
❄❄❄
Di kamar Sigit
Sigit meletakkan tubuh Winda di ranjang king sizenya, lalu menutupi tubuh Winda dengan selimut hijau yang ada diatas ranjang.
Sigit memperhatikan ranjang dan sofa didepannya secara bergantian, dia menimang-nimang keraguan antara tidur disofa atau diranjang disamping Winda.
"Ah bodo amat, gue udah ngantuk. Capek! "
Dengan mata yang sudah berat Sigit naik diatas ranjang dan tidak lama terlelap disamping Winda.
Malam semakin larut, udara pun semakin dingin, ditambah suhu ruangan Sigit yang sangat dingin karena dia lupa mengatur suhu ruangan sebelum tidur, membuat tubuhnya semakin menggigil kedinginan.
Dibawah selimut yang tebal. dengan mata masih terpejam, tubuh Sigit semakin mendekat kearah guling didekatnya dengan tangan memeluknya semakin erat, melawan hawa dingin disekitarnya.
"Ibu... sudah lama Winda kangen pelukan seperti ini."
Gumaman lirih Winda masih dalam tidur pulasnya dibawah selimut.
Winda merasakan kehangatan ditubuhnya, diapun menyambut pelukan yang dirasakannya.
Namun semakin lama pelukan yang dirasa hangat ditubuhnya, semakin membuatnya kesulitan untuk bergerak, Windapun merasakan sesak untuk bernafas.
"Ibu... "
Suara lirih Winda berusaha mengangkat tangan diatas lengan bahunya.
"Tangan ibu kok tumben besar sekali... aduh! berat lagi... "
Masih dalam mata berat terbuka, Winda berhasil mengangkat tangan diatas lengannya.
Merasa tidak ada jawaban dan respon pergerakan dari ibunya, Winda membuka matanya melihat kearah tubuh ibunya.
Namun Winda tersentak kaget setelah menarik selimut dan melihat orang yang tidur disampingnya.
__ADS_1
"Hiyaaaaaaaaaa!!! Sigiiiiiiitt! apa yang kamu lakukan dikamarku! "
Mendengar suara jeritan melengking diatas telinganya, Sigitpun justru menarik guling disampingnya semakin kuat dipelukannya.
"Apaan sih mi narik-narik guling Igit! Sigit masih ngantuk!"
gumam Sigit masih belum menyadari tubuh Winda yang di sangka gulingnya.
Winda kembali dalam pelukan Sigit,
tangannya berontak memukul-mukul lengan kekar suaminya.
"Git! Sigit! lepas Git! "
"Dadaku sesak Git! "
"Astaghfirullah Git! "
"Jangan Bodoh kamu Git! "
Sigit masih mengira maminya yang ngomel-ngomel dipagi hari membangunkannya.
Uhuk uhuk uhuk uhuk
Winda terbatuk-batuk menahan tangan Sigit menindih lehernya
Dengan kedua tangannya, Winda masih memukul-mukul lengan Sigit.
Mendengar suara batuk yang seperti orang menahan rasa sakit, Sigit pun membuka matanya, dan melihat orang didepannya.
Alangkah terkejutnya dia, begitu dia tersadar bahwa orang yang didepannya adalah Winda bukan maminya.
"Winda??? " matanya membulat sempurna.
Uhuk uhuk uhuk uhuk
uhuk uhuk uhuk uhuk
Bingung. Sigit bingung dan cemas memperhatikan Winda yang masih terbatuk-batuk gara-gara ulahnya.
Sigit berlari menuruni tangga menuju dapur mengambil air putih.
"Ehemmm..... pengantin baru, sampai begitunya.... ckk ckkk ckkk ckk ckk."
Kepala Revan menggelen-geleng. Matanya melihat Sigit dengan rambut seperti habis diserang badai beliung, dan baju yang salah masuk kancingnya.
Masih dengan gugupnya menuang air putih didalam gelas, Sigit tidak menggubris ucapan adiknya.
ha ha ha ha ha ha ha
Sigit belum menyadari keadaannya yang mengundang tawa Revan, dia melewati adiknya, bergegas meninggalkan Revan tertawa lepas yang menurutnya tidak penting.
.
.
.
.
Bersambung...🤗
ayo dukung author supaya lebih semangat ya....
__ADS_1
dengan cara klik tanda ❤ vote, like dan komen. terimakasih....💞