Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 18


__ADS_3

Winda masih belum bisa memejamkan matanya.


Dia duduk diatas ranjang, dan mengedarkan pandangannya disofa, dia tidak menemukan suaminya didalam kamar setelah membersihkan badannya sejak pulang dari kontrakannya tadi.


Winda menuruni tangga, lalu berjalan menuju dapur, dia melihat ada taman disamping dapur, dia membuka pintu samping dan berjalan menuju taman.Hening, sepi, dan dingin.


Kolam renang berada disamping taman bunga, dan beraneka macam pohon buah-buahan.


Winda duduk dikursi tepi kolam, kakinya memainkan permukaan air sehingga membuat gelombang-gelombang kecil didalam kolam.


Sambil menikmati terang bulan purnama setelah tertutup awan mendung.


Winda benar-benar terlarut dalam suasana hening. pikirannya terasa tenang memandang kilauan air diterpa cahaya lampu dan purnama.


"Mbak Winda sedang apa malam-malam disini? "


Suara mbok Lastri mengagetkan lamunan Winda, dia menoleh kearah sesosok wanita yang seumuran dengan ibunya.


"Eh ada mbok Lastri disini..."


Jawab Winda dengan tersenyum ringan.


"Mbok Lastri belum tidur juga? "


Tanya Winda setelah mbok Lastri duduk disamping Winda.


"Mbok sudah biasa mbk." kata mbok Lastri.


"Mbak Winda tidak bisa tidur ya? " tanya mbok Lastri lagi. Winda hanya tersenyum memandangnya.


Setelah beberapa saat memperhatikan wajah gadis didepannya, mbok Lastri membuka percakapan mereka.


"Mbak Winda cantik! "


Kata mbok Lastri menjeda kalimatnya sambil melihat wajah ayu yang tertutup hijab di kepalanya, kaki Winda masih bermain didalam air.


"Kalau mbok boleh bicara, Mbok akan bicara sedikit dengan mbak."


Mbok Lasri kembali melihat manik gadis didepannya yang sedang memperhatikan dirinya dengan senyum tulusnya.


"Boleh mbok. Winda dengan senang hati mendengarkan cerita mbok Lastri." kata Winda merasa senang mendapatkan teman baru.


"Mbak Winda merasakan malam yang diterangi bulan purnama seperti ini apakah tenang...? " tanya mbok Lastri. Winda menatap mbok Lastri dengan tersenyum.


"Tentunya sangat tenang dan nyaman mbok."


Jawab Winda, wajahnya berseri menandakan dirinya saat ini benar-benar seperti cahaya bulan purnama yang ceria.


Mbok Lastri memulai perkataannya.


"Entah kenapa... hati mbok mengatakan kalau mbak Winda adalah jodoh terbaik yang diberikan Allah untuk abang."


"Hmm? "


Winda mengangkat alis sebelah kirinya dengan menggigit kecil bibir bawahnya.


"Kenapa sebegitu yakinnya mbok? mbok kan belum mengenal siapa Winda sebenarnya? "

__ADS_1


Perkataan lembut Winda berhasil membuat senyum dibibir mbok Lastri, dan mata yang terlihat kilatan dari air kolam yang terkena cahaya lampu dan bulan pun berbinar-binar.


Mbok Lastri pun menjawab perkataan Winda.


"Walaupun baru beberapa hari kalian baru menikah, mbok melihat abang yang terkesan dingin, keras kepala, kini dia sudah benar-benar kembali seperti abang yang dulu, ketika abang semangat ingin menjadi jaksa, dia benar-benar menjadi orang yang bertanggung jawab, penyayang, dan sangat peduli."


Mbok Lastri berhenti sejenak dari ceritanya, dia memperhatikan Winda yang mulai tertarik ceritanya tentang suaminya. lalu mbok Lastri mulai melanjutkan ceritanya.


"Namun, keinginan itu sirna ketika bapak Winata tidak menyetujuinya, bapak menginginkan abang melanjutkan bisnisnya." mbok Lastri mengalihkan pandanganya kedalam air kolam.


"Lalu bapak mengirimnya kuliah di London, karena tidak sesuai dengan jurusan keinginan abang, ahirnya diapun kuliah hanya atas nama saja, tidak pernah mengikuti perkuliahan sampai dua tahun." mbok Lastri kembali memperhatikan Winda.


"Abang kembali lagi ke Indonesia sudah hampir satu tahun, dan itu tanpa sepengetahuan bapak dan ibu."


"Mengetahui hal itu, bapak langsung membekukan semua kartu abang, hawatir kalau digunakan abang yang macam-macam."


"Ibu menjadi cemas merasa ketakutan kehilangan abang. Ibu mendesak bapak untuk mencari abang sampai ujung manapun, ibu menangis setiap malam sampai dia jatuh sakit."


"Setelah pencarian sekitar 2 bulan, abang baru ditemukan, ternyata dia sudah mendaftar di Universitas Negeri Hukum."


"Singkat cerita, abang bersedia pulang kerumah ini lagi dengan syarat mengizinkannya kuliah di Universitas itu, baru abang bersedia membantu perusahaan bapak."


"Begitulah abang dulu. Sampai sekarang jika sama bapak abanglah yang paling tegas dibanding kedua saudaranya."


Mbok lastri memandang wajah Winda, tangannya memegang kedua tangan Winda dan membelainya dengan lembut.


"Harapan mbok, bersabarlah menghadapi sikap abang, jika dia bersikap seperti tadi, itu berarti dia sudah sayang sama mbak, tinggal menunggu waktu untuk mengungkapkannya, dia tidak menginginkan orang-orang yang disayanginya tersakiti. Percayalah sama mbok karena mbok yang merawat abang dari kecil. hanya ibulah yang ditakuti abang."


Winda mencerna setiap kata yang diucapkan wanita yang berada didepannya.


"Kok bisa mbok? kalau Winda lihat mami orangnya lembut? tidak ada yang menakutkan dari mami? "


"Maka dari itulah abang sangat sayang sama ibu, bisa dikatakan dia tidak pernah menentang ibu, jikalau ada keputusan yang bertentangan dengan ibu, abang pasti akan memilih diam."


Mereka saling pandang dan tersenyum.


"Mudah-mudahan harapan mbok bisa Winda lakukan, walaupun sepertinya itu sangat sulit untuk Winda lakukan."


Winda mengalihkan pandangannya kearah gelombang kecil yang bersumber dari gerakan kakinya, dia tersenyum getir mengingat tingkah suaminya selama ini, mulai selama berteman dikampus hingga tadi sore yang banyak aturan untuk dirinya.


Mbok Lastri hanya tersenyum pasrah ketika menangkap senyum getir gadis disampingnya, lalu memegang pundaknya.


"Sudah larut malam, sepertinya abang sudah selesai dari ruang kerjanya kalau sudah lebih dari jam 11."


Winda menengadahkan wajahnya kelangit, hawa dingin semakin terasa dikakinya.


Winda menganggukan kepala dan mengangkat kakinya dari kolam, mereka beranjak masuk kedalam rumah.


❄❄❄


"Git. bangun. sudah jam 5. kamu belum shalat shubuh."


Winda membangunkan suaminya yang masih tertidur belum juga bangun, padahal suara adzan sudah terdengar dari jam setengah lima.


Winda sudah bangun dari jam 4. dia sudah membersihkan badannya setelah shalat malam.


"Git, bangun shalat dulu! "

__ADS_1


Masih juga belum merespon panggilannya, Winda tidak mau pusing membangunkan suaminya.


Winda segera keluar dari kamar dan menuruni tangga menuju dapur, sesampai didapur dia melihat mbok Lastri sudah sibuk membuat sarapan dan pekerjaan dapur dengan seorang gadis muda dibawah umurnya, dalam pikiran Winda dialah Ningsih yang membereskan barang-barangnya semalam.


"Masak apa mbok? " tanya Winda mendekati orang yang disapanya dan tersenyum kepada Ningsih.


"Wah... ini tho mbok yang namanya mbak Winda? cantik ya mbok? udah tinggi, langsing, cantik, berhijab lagi. beruntung ya mbok mas Sigit."


Ningsih membulatkan matanya ketika melihat Winda baru pertama kalinya, sudah hal biasa untuk Ningsih sifat cerewetnya akan keluar ketika melihat sesuatu yang menakjubkan. dia memperhatikan Winda dari ujung kepala hingga ujung kaki dan mengelilingi tubuh Winda. mbok Lastri hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ningsih yang terbengong mengagumi istri Sigit.


"Sudah bangun mbak Winda? ini, mbok mau masak buat sarapan. Oh iya ini Ningsih yang semalam membereskan bawaan mbak Winda, dia sebenarnya sudah lama kerja disini, cuma kemarin cuti 2 minggu pulang kampung. ibunya sedang sakit."


Mbok Lastri mengenalkan Ningsih kepada Winda, Ningsih menjabat tangan Winda.


"Ningsih al jawi." kata ningsih sambil tersenyum kearah Winda yang disambut uluran tangannya oleh Winda.


"Winda."


"Iya saya tau mbak Winda." ucap Ningsih cengengesan.


"Mbak Winda mau ngapain pagi-pagi sudah cantik, rapi, harum, hmmm kedapur? " cerocos Ningsih dengan memperagakan mencium bau harum dari Winda.


"Eh iya jadi lupa. mau buatin kopi buat Sigit." ucap Winda setelah mendengar ocehan Ningsih.


"Wah... so sweet banget mbak! pagi-pagi sudah buatin kopi mas Sigit..."


sahut Ningsih tersenyum dengan lirikan mata genitnya.


"Udah biar Ningsih yang buatin mbak, mbak Winda duduk aja." sahut Ningsih lagi, tangannya sudah membawa cangkir.


"Biar saya sendiri yang membuatnya Ningsih." suara khas Winda yang lembut membuat gerakan tangan Ningsih terhenti, Ningsih terkesima melihat cara Winda yang begitu sopan, dan halus.


"Iya mbak silahkan." ucap Ningsih mengikuti bahasa Winda yang sopan dan halus, seraya menyerahkan cangkir dan bahan yang diperlukan Winda.


"Wah... pantes aja mas Sigit langsung klepek-klepek sama mbak Winda... adududuh... lha wong istrinya cantik, sopan, lembut, pengertian... pagi-pagi melek mata udah disuguhi segere kopi pagi hmmmmm" cerocos Ningsih masih dalam ketakjubannya terhadap Winda.


Mbok Lastri dan Winda hanya tersenyum dan melirik tingkah Ningsih


Setelah selesai membuat kopi, Winda kembali kekamarnya dengan secangkir kopi panas ditanganya.


Winda masuk kedalam kamar, dia melihat suaminya yang masih tertidur.


Dia mendekatkan kopi disamping kepala Sigit, berharap suaminya mencium aromanya, setelah melihat ada pergerakan dari kepala suaminya, Winda segera meletakkan kopinya diatas nakas.


Uuaaaahhhhh...


Winda melihat suaminya yang sudah mulai membuka matanya dan berangsur duduk diatas ranjang.


Hidungnya mencium aroma kopi sambil matanya mencari dimana asal aromanya.


Winda hanya tersenyum kecil memperhatikan ulah suaminya dari sofa dengan tangan bersedekap didada.


"Hmmm begitu ya... kalau dibangunin dengan kopi bisa langsung bangun.... besok lagi kalau susah dibangunin cukup dengan secangkir kopi aja biar tidak capek banguninnya." Winda bergumam dalam hati kecilnya dengan tersenyum.


Ayo mana semangatnya untuk author ya...


jangan lupa like, komen dan vote nya...

__ADS_1


Terimakasih yang udah kasih semangat untuk author, love you all 💖💐


__ADS_2