
Penat dan lelah terasa dalam diri Sigit, seharian berkutat dengan benda pipih kotak tipis dihadapannya ditambah lagi agenda meeting dengan tiga perusahaan sekaligus sampai video call dengan istrinya saja tidak sempat. Ia kembali dihotel segera menuju kamarnya.
Ranjang tujuan utamanya untuk melampiaskan rasa lelahnya saat ini. Namun keinginannya untuk segera tidur nihil, setelah membersihkan dirinya lagi-lagi dia berkutat dengan benda pipih kotak tipis di meja kerjanya.
Banyak hal yang harus segera ia selesaikan agar pekerjaannya segera tuntas dan perusahaan mendapatkan solusinya.
Setiap malam sepulang dari kantor ia selalu berkutat dimeja kerjanya seperti malam ini, tidak terasa satu minggu ia melakukan aktivitas selama di negeri orang seperti itu, dan selama itu pula ia tidak berhubungan sekedar saling menanyakan kabar pada Winda.
Sigit menutup laptopnya berniat melanjutkan pekerjaannya besok pagi lagi, dia mulai rindu dengan suara istrinya, wajah Winda yang tersenyum dan selalu berkata padanya "selamat tidur sayang." setiap menjelang tidur.
Ia mengedipkan mata dan meraih hpnya setelah membereskan beberapa dokumennya, lalu berjalan menuju tempat tidur.
"Hhhhh... sedang apa Winda sekarang ya... aku benar-benar sangat merindukannya." ucapnya lirih dengan mata yang sudah terasa berat menahan kantuk.
Tangannya mulai memencet layar hp mencari nama yang akan dia hubungi.
"Pantes aja papi kalau ada urusan di Singapura selalu lama dan mendadak, ternyata seperti ini rasanya pekerjaan disini ckk, hhhh..." Sigit teringat papinya setelah merasakan apa yang dilakukan papinya selama ini.
Tangan Sigit berhenti mengurungkan niatnya menghubungi Winda begitu ia melihat angka yang sudah menunjukkan waktu dini hari, dia membayangkan wajah istrinya yang sudah tertidur nyenyak, ada rasa kasihan jika istrinya harus terbangun menerima panggilannya.
"Ckk kasihan Winda jika harus terbangun karena keegoisanku saat ini, dia juga sedang mengandung anakku, ya sudahlah biarkan saja dia istirahat besok juga kan masih bisa." pikir Sigit sambil menimang hpnya lalu meletakkannya di atas nakas.
"Ini semua demi kita semuanya sayang maafkan Abang ya kita jadi berjauhan seperti ini, abang ngerti perasaanmu jika kamu juga sama seperti Abang sekarang." gumamnya seraya merebahkan tubuhnya.
"Papi, mami maafkan Igit yang pernah mengecewakan kalian. Waktu itu Igit benar-benar tidak tahu tentang perusahaan papi, Igit hanya ingin mewujudkan impian Igit menjadi seorang jaksa. Tapi, dengan kesabaran kalian terhadap Igit selama ini, Igit baru menyadari sekarang ternyata kalian sangat peduli dengan masa depan Igit. Terimakasih pi, terimakasih mi... Igit berjanji insyaallah akan meneruskan perusahaan bisnis papi dengan baik."
kedua kelopak matanya terasa nanar, ia merasakan jerih payah kedua orang tuanya memperjuangkan perusahaan WP sepenuhnya.
Masa lalu ketika ia berada di Belanda muncul dalam ingatannya kembali, masa yang penuh keegoisannya dengan melawan keputusan papinya untuk melanjutkan kuliahnya di jurusan bisnis agar ia semakin memahami dunia perusahaan, dengan terang-terangan ia melawannya.
"Tapi... ini semua bisa berubah karena sosok Winda, orang yang awalnya tidak aku anggap sebagai wanita yang tidak sesuai kriteriaku, namun ternyata dia adalah istri yang mampu membuatku seperti ini." kalimat Sigit sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Terimakasih sayang... Winda Zilfana Idris." ucap Sigit tersenyum dengan mata terpejam.
"Selamat malam sayang Abang sangat merindukanmu." gumaman Sigit dalam alam bawah sadarnya antara tidur dan masih terjaga membayangkan wajah Winda seakan tersenyum kepadanya.
❄️❄️❄️
Sementara di rumah Winata.
"Pi, ada yang mau Revan bicarakan sama papi dan mami."
Mereka bertiga berada diruang tengah menikmati kebersamaan saat ini.
Mami menunggu kalimat selanjutnya yang akan dikatakan Revan sambil meletakkan cangkir dari tangannya di atas meja.
"Bicara saja Van, apa itu?" jawab papi melihat Revan yang terlihat seperti akan mengatakan hal yang serius.
__ADS_1
"Tapi, sebelumnya Revan minta maaf jika Revan berani mengatakan ini pada papi dan mami." ucap Revan penuh kehati-hatian menatap kedua orang yang berada didepannya.
Papi dan mami mengerutkan keningnya, tidak lama mereka tersenyum bersedia mendengarkan apa yang akan Revan katakan.
"Katakan saja." jawab mami dengan nada lembut dan tatapan mata yang teduh seperti biasanya pada Revan.
Hening.
Revan terdiam sejenak, jari tangan kanannya refleks memainkan jari-jari tangan kirinya, matanya beralih menatap meja didepannya.
"Revan... Revan sudah tahu siapa Revan sebenarnya."
Deg.
Papi membulatkan matanya, hatinya berdebar seakan sudah tahu arah tujuan pembicaraan putranya. Dengan cepat ia kembali menenangkan pikirannya agar tidak terlihat oleh Revan. Begitu juga dengan mami kaget mendengar perkataan Revan. Mereka sama-sama tidak mengira jika Revan akan mengetahuinya bukan dari mereka sendiri.
"Revan juga sudah bertemu dengan kak Renaldi."
Mami mendekatkan duduknya pada papi, ia meraih tangan suaminya dan memegangnya, saling memandang satu sama lain.
Kedua orang tua itu tetap diam setelah menenangkan pikirannya, mereka menunggu kalimat Revan selanjutnya.
Papi dan mami ingin mengetahui sejauh mana Revan mengetahui fakta tentang dirinya selama ini.
Revan memberanikan dirinya melihat kedua orang tua yang sudah membesarkannya.
"Revan mengetahuinya saat papi dan mami di rumah sakit kemarin." terhenti sejenak.
"Entah suatu kebetulan atau bagaimana Revan tidak tahu, setelah itu... Revan bertekad melakukan..." Revan tidak melanjutkan kalimatnya, ia meletakkan amplop putih yang dia ambil dari saku bajunya ke atas meja, lalu menggesernya kehadapan papi Winata.
"Revan hanya ingin penjelasan dari papi dan mami saat ini." lanjut Revan.
Papi penasaran dengan isi didalam amplop putih itu, ia melihat Revan sambil meraih amplop itu dari atas meja dan segera membukanya.
Perlahan papi membaca tulisan demi tulisan didalam kertas itu hingga selesai, lalu menatap Revan yang diam dengan kepala tertunduk.
Mami terbingung melihat papi dan Revan terdiam dengan Revan tertunduk dan papi menatapnya.
"Mi, Revan sudah membuktikan semuanya dengan hasil tes DNA ini." ucap papi lirih memberikan kertas yang berada ditangannya.
Duaarrrr...
Bagaikan petir menggelegar terdengar seakan menyambar hatinya, mami terkejut dengan kalimat suaminya. Seperti dugaannya jika suatu saat Revan pasti akan mengetahui identitasnya yang sebenarnya.
Menyakitkan pastinya.
mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
__ADS_1
Mami menerima kertas itu lalu membacanya.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau Renaldi itu kakakmu?" tanya papi penasaran ingin mengetahuinya.
"Abang yang memberi tahu Revan ketika Revan menyodorkan hasil tes DNA itu padanya. Dan tidak sengaja Revan kemarin ketika dikafe setelah dari toko buku bertemu dengan kak Renaldi disana."
Papi diam.
Mami meletakkan kertas itu di atas meja dan ikut menyimak penjelasan Revan.
"Semua itu memang benar Van, dan kemungkinan Sigit sudah menceritakan semuanya padamu." jawab papi dengan menebak apa yang sudah dilakukan Sigit ketika melihat Revan mengetahui kebenaran tentang dirinya.
"Revan juga sudah di makam ibu Pi."
Bu Lia terpaku mendengar kalimat Revan. Ia terdiam tidak tega melihat Revan yang merasa sedih, terlihat dari bola mata Revan jika ia sedang sendiri.
Bu Lia beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Revan. Ia duduk di kursi disisi Revan.
Teriris rasa hatinya melihat putra yang sudah dia rawat dan dia anggap sebagai putra bungsunya.
"Revan..." lirih mami sambil membelai rambutnya.
Revan menitikkan air mata yang sudah tidak terbendung lagi. Ia memandang wajah mami yang tidak pernah ada cela dimatanya.
"Kenapa mami sangat baik dengan Revan mi? kenapa mami tidak membuang Revan saja waktu itu kenapa mi?" Revan makin histeris ketika mami memeluknya.
"Kamu jangan berkata seperti itu Van." mami ikut menitikkan air matanya.
"Mami... maafkan ibu Revan yang sudah membuat hati mami hancur pastinya. Yang sudah merebut kebahagiaan mami, merebut papi dari mami..."
"Ssttt apa yang barusan kamu katakan Revan... tidak baik kamu berkata seperti itu. Bagaimanapun juga kamu adalah putra mami." mami meletakkan ibu jarinya di mulut Revan, ia berusaha menenangkan pikiran Revan.
Papi Winata menyaksikan adegan kedua orang didepannya yang sangat menyayat hatinya, apalagi saat istrinya mengatakan Revan adalah putranya juga, semakin bersalah dirinya mengingat apa yang sudah diperbuat pada istrinya dulu.
"Mami... kenapa mami sebaik ini pada Revan mi? hiks hiks terbuat dari apa sebenarnya hati mami? hiks hiks." lanjut Revan dengan tangis yang sudah pecah, tidak tahan melihat kebaikan wanita didepannya.
.
.
.
.
. Bersambung...🤗🤗
Siapa yang ikutan terharu hayo...
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya ya...
Saranghe.💞💞