Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 17


__ADS_3

Winda baru saja selesai merapikan ruang rapat. dan kembali keruangannya.


Winda memperhatikan ada kerumunan kecil di ruang tunggu, ada beberapa orang yang sedang berbincang-bincang, matanya tertuju pada sesosok tubuh yang ia kenal tadi pagi.


Winda berjalan mendekati kerumunan kecil tersebut. dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah dilihatnya.


"Sigit? ada apa ini pak? " Winda memandang suaminya kemudian beralih kearah petugas keamanan, dan menanyakan perihal tentang suaminya.


Alangkah terkejutnya Sigit melihat Winda ada dikantor cabang WP. matanya tidak berkedip memandang istrinya.


"Oh.. mbak Winda, ini mbak, orang ini mau masuk kantor, tapi dia tidak bisa menunjukkan identitasnya dan belum mengadakan janji terlebih dahulu." kata petugas disamping Sigit memberi penjelasan.


Setelah mendengar penjelasan dari petugas keamanan Winda melirik suaminya. dia mengira suaminya menjemputnya.


"Oh... biarkan dia masuk pak! saya mengenalnya."


Winda tersenyum dan menarik tangan Sigit berlalu dari kerumunan.


"Mereka petugas baru disini, jadi mereka belum mengenalmu. Ya harap maklum saja."


Sigit hanya terdiam dan mengikuti langkah istrinya.


Winda melihat jam tangannya, masih ada waktu 20 menit lagi untuk rapat. dia menarik tangan suaminya sampai kantin kantor, mengajak Sigit ngobrol sebentar.


Winda memesan makanan ringan dan dua gelas juz.


"Kamu ngapain kesini? terus kamu tau dari mana aku ada disini? " tanya Winda.


"Ada hal penting yang harus aku urus." kata Sigit sudah mereda kemarahannya ketika melihat istrinya.


Sigit meminum juz yang dipesan istrinya dan memakan makanan ringan yang baru datang. Winda memperhatikan suaminya yang melahap makanan didepannya.


Hening beberapa saat, hingga Winda merasakan getaran disaku gamisnya, dia segera mengangkat panggilan dan berbicara sebentar.


Selesai menerima panggilan, Winda meminta izin kepada Sigit untuk menunggunya. Sigitpun mengiyakan perkataan istrinya.


Winda berlalu dari pandangan Sigit.


Tidak lama setelah kepergian Winda, Firman datang menghampiri Sigit.


"Mohon maaf bang, tadi petugas baru, jadi jangan diambil hati."


Sigit hanya diam dan segera beranjak dari duduknya dan berjalan menuju ruangan rapat.


❄❄❄


Didalam ruang rapat.


Winda terkejut mendapati Sigit duduk dikursi dirut, matanya menatap suaminya tidak berkedip.


Winda tidak fokus dengan keterangan Firman dan Dian, yang menjelaskan secara bergantian.


"Kenapa dia bisa duduk disitu? apa yang dia lakukan disini? bukannya tadi dia ada urusan? atau... apa ini urusannya yang dimaksud tadi? dan.... papi Winata adalah.... Astaghfirullah..."


Winda masih melamun dengan keadaan Sigit yang menjadi bigbossnya secara mendadak, hingga dia tidak mendengar namanya dipanggil Dian berulang-ulang.


"Winda! Win! "


Dian kembali memanggil Winda, dia baru tersadar mendapti semua mata sudah mengarah kepadanya.


Winda mulai memberikan penjelasan mengenai laporan keuangan dan kontrak kerja perusahaana Utama, mengingat Winda yang selama ini membuat laporan tersebut.


Sigit memperhatikan Winda yang mempresentasikan laporan didepannya hingga selesai. matanya sesekali melihat lembaran-lembaran.


Sigit mendapatkan ada beberapa poin yang tidak sesuai dengan berkasnya dikantor pusat, namun dia mendapatkan keterangan dari istrinya yang lebih masuk akal dan sesuai dengan pemikirannya.


"Baik! "


Kata Sigit berhenti sejenak matanya memperhatikan anggota rapat


"Sudah jam 5 sore, Rapat selesai! " sambungnya lagi mengahiri rapat, dan berlalu keluar ruangan.

__ADS_1


Winda merapikan berkas-berkasnya, dan segera keluar dari ruangan rapat bersama Dian.


Baru saja keluar dari lift dia bertemu suaminya sudah menunggu di depan lift.


"Gue tunggu dimobil! " kata Sigit berlalu meninggalkannya.


Suasana dikantor sudah sepi, tinggalah satpam yang masih menunggu pos penjagaan.


Sigit sudah menunggu Winda didalam mobil, dia melihat crv hitam masuk keparkiran dekat pintu masuk kantor.


Dari kaca spion mobilnya, Sigit melihat Winda sudah keluar dari pintu masuk kantor, dia melihat seorang laki-laki turun dari crv hitam yang barusan dilihatnya menghampiri Winda dan berbincang-bincang.


Sigit mengingat-ingat laki-laki yang menghampiri istrinya.


"Faisal. iya dia Faisal. mau ngapain dia disini? "


Sigit memicingkan matanya setelah mengingat Faisal yang menghampiri istrinya.


Sigit segera memutar kemudi dan mendekati mereka.


Tin tiin


"Cepet masuk! sebentar lagi gelap! "


kata Sigit dengan kepala keluar dari jendela mobil.


Faisal dan Winda menoleh kearah Sigit.


"Kamu pulang bersama dia? "


ada rasa heran Faisal dengan Winda yang tidak biasanya dijemput seseorang.


Winda hanya menjawab dengan manganggukkan kepalanya, dengan menggigit kecil bibir bawahnya yang tipis.


"Kapan-kapan saya cerita ke mas Faisal, saya pulang duluan mas. Assalamualaikum."


Winda berlalu meninggalkan Faisal dan masuk mobil.


Faisal hanya melihat mobil mereka yang semakin menjauh dari penglihatannya.


❄❄❄


Didalam mobil.


Masih dalam diam tanpa suara setelah mereka selesai makan malam direstaurant cantika, Winda merasakan suaminya sedang dalam kekalutan, wajahnya terlihat sangat dingin.


Sigit melajukan mobilnya semakin kencang, dia hanya sesekali melirik istrinya yang hanya terdiam.


Mobil Sigit sudah sampai area Teratai Indah, itu berarti mereka kembali ke rumah kontrakan Winda,


Mobil berhenti begitu sampai didepan gerbang kontrakan Winda.


Winda menoleh kearah suaminya, wajahnya masih seperti orang yang menahan marah.


Winda segera membuka pintu. baru saja berjalan didepan mobil, suara Sigit sudah terdengar ditelinganya.


"Gue kesini, cuma mau anterin lu ambil barang-barang yang lu butuhin saja, setelah itu ikut gue! " kata Sigit kepada istrinya, setelah keluar dari mobil.


Winda kembali terhenti langkahnya dan melihat wajah suaminya yang sudah didepannya.


"Maksudnya? "


"Mulai malam ini lu harus tinggal dirumah gue! "


Mendengar perkataan suaminya, Winda mengernyitkan dahinya.


"Kenapa Git? "


"Ingat! bagaimanapun dan apapun itu alasannya, lu adalah istri gue, dan sebagai seorang istri, lu harus mendengarkan perkataan suami! "


Winda membelalakkan matanya mendengar kalimat suaminya.

__ADS_1


"Fahamkan? " lanjut Sigit ditengah keterkejutan istrinya. Winda masih terdiam.


"Sudah! cepetan masuk! kemalaman nanti pulangnya! "


Tangan Sigit menarik lengan Winda mendekat kearah pintu gerbang.


Winda segera membuka kunci gerbang, mereka berjalan menuju pintu dan membukanya.


Winda berkemas membawa barang-barang yang dibutuhkan saja, lalu memasukkannya didalam koper.


Sigit menunggunya diruang tamu dan memperhatikan istrinya berjalan mendekatinya dengan sebuah koper di seretnya.


Winda memandangi ruangan rumah kontrakkannya, seolah-olah enggan meninggalkannya. Sigit melihatnya dan mengambil alih koper istrinya.


"Sudah! kapan-kapan kita bisa kesini lagi, ayo kemalaman nanti! "


Sigit keluar dengan menarik koper istrinya.


❄❄❄


Tin tiiin


Mobil sport hitam sudah berada di depan gerbang rumah Winata.


Pak Zain langsung membuka gerbang mengetahui Sigit sudah datang.


Sigit memarkirkan mobilnya ditempat biasanya.


"Pak Zain, tolong bawakan koper Winda kedalam ya! " kata Sigit kepada pak Zain.


Sigit masuk kedalam rumah dengan Winda dibelakangnya.


Mbok Lastri yang baru keluar dari dapur belakang langsung menemui mereka.


"Sudah pulang bang? "


"Sudah mbok."


Pak Zain yang disuruh membawakan koper Winda sudah berada diantara mereka.


"Mbok lastri, tolong bilang sama ningsih! suruh dia beresin bawaan Winda dan rapikan baju-baju Winda didalam lemari! sekarang ya! "


Kata Sigit kepada mbok Lastri. Winda merasa tidak enak


Ketika mendengar perintah suaminya kepada mbok Lastri untuk merapikan barang-barangnya dan itu dilakukan oleh orang lain.


"Tidak usah mbok! biar Winda saja yang beresin. Winda bisa sendiri kok."


Kata Winda dengan lembut. Namun perkataan Winda langsung disahut oleh Sigit.


"Siapa yang nyuruh lu! cepet bersihkan badan lu dan istirahat! "


Walaupun suara Sigit pelan, namun


sorot mata yang tajam kearah Winda, mampu membuat Winda tercekat.


"Tapi Git! "


Belum mendapat jawaban dari suaminya. Sigit sudah berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Sudah mbak, mbak Winda segera keatas saja! biar ningsih nanti yang merapikannya."


Mbok lastri mendorong kecil tubuh Winda untuk segera menaiki tangga. Karena memang sudah mengerti karakter Sigit yang sangat berbeda dari kedua saudaranya.


jangan lupa dukungan untuk author like, komen dan vote.


supaya author tetap semangat nulisnya ya....


terimakasih atas dukungannya ...


love you all💞

__ADS_1


__ADS_2