
Huffff... akhir nya bisa bernafas lega hari ini, setelah sekian lama off. Rasa rindu bertubi-tubi mendayu didalam kalbu. Sehingga dengan senang hati sekarang dapat menyapa kakak-kakak hebat lagi disini, haloo semua ... 🤗💞💞
Semoga part kali ini dapat mengobati rasa rindu.
Happy reading....
#####
Kediaman keluarga Winata terlihat sangat ramai semenjak hadirnya si buah hati dari Sigit dan Winda. Ditambah lagi semua anggota keluarga dapat berkumpul. Pak Idris dan istrinya masih menginap dirumah besannya, mereka bergantian menjaga cucunya. Bram dan Sofia juga masih di jakarta menikmati masa cuti kerja mereka.
Semua anggota keluarga baru saja mengakhiri makan malam bersama. Renaldi sengaja mengajak Sigit ke taman bunga di samping rumah, mereka duduk berdua di atas kursi panjang dekat dengan kolam renang.
Dibawah sinar lampu dan terangnya bulan purnama membuat malam terasa semakin indah, kerlipan bintang seakan tersenyum dari langit yang terang melihat mereka berdua akur.
Hidup terasa indah, tentram dan damai tanpa Renaldi dan Sigit saling berselisih, baku hantam satu sama lain seperti hari-hari biasanya jika ada momen saling bertemu.
Sigit masih saja diam, dia memandang gelombang air kolam yang bergerak tersapu angin seakan membuat riak ombak dilautan.
Renaldi membuka percakapan, dia merasa aneh saja, kikuk. Tiba-tiba hubungannya dengan keluarga adiknya membaik tanpa ia sangka sama sekali. Apalagi jika ia bersama Sigit ada saja pasal yang mengundang gejolak amarah dan rasa jengkelnya secara tiba-tiba terhadap Sigit.
"Maafkan aku. Malam itu aku sama sekali tidak bermaksud untuk mencelakaimu." Renaldi membuka percakapan tentang kejadian yang hampir mencelakai Sigit.
"Jalanan sepi di tikungan waktu itu sehingga membuatku terkejut melihat ada mobil melintas dari depan mobilku."
"Jadi ya mobilku menghabiskan jalanmu dan... membuat mobilmu menabrak pohon besar itu."
Sigit mengangkat kaki kanannya lalu meletakkan di atas paha kirinya. Ia menarik jaket dan merapikannya.
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin mengingat kejadian itu." Sigit acuh mendengar penjelasan lawan bicaranya, mengerti perasaan Renaldi yang merasa bersalah, ia segera mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya kamu belum memberitahu Winda jika kamu adalah Aldi sahabat mas Azam."
"Hm, belum." Renaldi menolehkan kepalanya sekilas pada laki-laki yang duduk disampingnya.
"Aku harus menunggu waktu yang tepat untuk memberitahunya. Sepertinya dia sangat sibuk sekali."
Renaldi memaklumi keadaan Winda saat ini, karena setiap kali ada kesempatan untuk mengobrol dengan Winda, selalu saja gagal, ada saja hal yang membuat Winda segera mohon izin padanya. Hingga sampai saat ini pun ia belum sempat memberitahukan kebenaran tentang dirinya.
Sigit mengangguk-angguk, ia mengalihkan pandangannya dari minuman kaleng ditangannya yang ia bawa dari dalam rumah.
"Aku senang sekali pada akhirnya aku bisa bertemu lagi dengan bidadari ku."
Sigit terhenyak, mengerutkan keningnya mendengar perkataan Renaldi, hatinya tidak nyaman saat laki-laki itu mengatakan senang bertemu dengan istrinya lagi.
"Yahhhh... aku akui dia sekarang sangat cantik dan lebih hebat dari bidadari kecil ku dulu, sampai-sampai aku tidak mengenalinya." lanjut Renaldi tidak mengetahui perubahan wajah Sigit.
"Aku sangat senang bisa bertemu dengannya lagi dan aku sangat merindukannya, ingin selalu ada didekatnya, melindunginya, mengerti perasaannya dan mendengar semua ceritanya."
"Sudahlah, jangan khawatirkan dia lagi." ucap Sigit memotong perkataan Renaldi dengan cepat.
"Dia sekarang sudah menjadi istriku." kedua ekor matanya melirik ke arah Renaldi.
"Tidak perlu lagi kamu repot-repot melindunginya lagi. Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Ingat, dia itu istri ku Re."
lanjutnya lirih namun sangat tegas.
Renaldi tertegun, kedua matanya menangkap raut wajah Sigit yang tidak menyenangkan.
Ia terdiam sejenak, kemudian tersenyum kecil pada Sigit, ia baru sadar jika Sigit tidak nyaman dengan kalimatnya tadi.
"Hm baiklah, sepertinya aku salah bicara." ucap Renaldi lalu menenggak minuman kaleng ditangannya. "Sorry." kedua tangannya memegang kaleng minuman seraya memutarnya.
Hening.
Tidak ada suara diantara mereka. Sigit tidak banyak bicara malam itu, ia lebih suka melihat kilatan air kolam didepannya.
__ADS_1
"Kamu sudah mencari orang yang menyekap Winda?" tanya Renaldi mengalihkan pembicaraan.
Sigit meletakkan kaleng minuman bagiannya di atas meja.
"Om Gun sudah melacaknya, sebentar lagi juga dia akan menemukan siapa pelakunya."
"Hampir saja nyawa Winda dan anakku terancam." lanjutnya mengalihkan pandangannya pada Renaldi. "Terimakasih bantuannya."
Renaldi tersenyum kecil, ia mengangguk.
"Sudah seharusnya aku menolongnya, jika tidak... penyesalan pasti akan membuat ku tersiksa selamanya."
Cukup lama mereka berdua duduk di taman, masih ada kekakuan sikap mereka berdua. Renaldi melihat jam tangannya yang menandakan malam sudah semakin larut, ia pun segera pamit pulang ke apartemennya.
"Baiklah ini sudah malam, sepertinya aku harus cabut dulu. Akhir-akhir ini aku terlalu sering begadang sampai malam karena kerjaan, so, badanku terasa capek." ucap Renaldi seraya beranjak dari duduknya.
"Jagalah Winda baik-baik, jangan sampai kejadian kemarin terulang lagi, masa kecilnya sudah cukup menderita karena kehilangan orang yang dia sayangi." Renaldi menepuk kecil pundak Sigit, menatap lekat sosok disampingnya.
Sigit melihat tangan Renaldi dipundaknya lalu beralih menatap wajah lawan bicaranya.
"Jangan khawatir, aku pasti akan menjaganya dengan sangat baik."
Tidak tergambarkan bagaimana perasaan Renaldi saat ini melihat bidadari kecilnya berada dalam keluarga yang sangat menyayanginya.
Beruntung.
Itulah kata yang tepat untuk adik sahabatnya itu.
"Masuklah, kasihan Winda jika terlalu lama menunggumu didalam. Aku pulang dulu."
Sigit mengangguk.
"Hm."
Renaldi melangkahkan kakinya meninggalkan Sigit sendirian, lalu menuju parkiran dan memasuki mobilnya segera meninggalkan kediaman Winata.
"Git." remang-remang ia mendengar suara Winda dari dalam rumah sedang berjalan tergesa-gesa kearahnya, membuat Sigit terheran.
"Git, kamu sendirian?" lanjut Winda ketika jarak mereka sudah dekat. "Dimana pak Renaldi? dia tadi bersamamu kan?" Winda melongokkan kepala mencari sosok yang dicarinya. "Iya kan?"
Sigit terheran, pertanyaan Winda membuat ia tidak mengerti dengan sikap Winda setelah kejadian penyekapan itu. Tiba-tiba saja panggilan Abang untuknya hilang, hanya nama panggilannya yang disebut langsung oleh istrinya.
"Ada apa mencarinya?"
"Aku baru tahu jika dia adalah mas Aldi, apa itu benar?"
Mereka saling memandang, Winda menatap suaminya, gusar. Sigit mengangkat kedua alisnya tertegun.
"Iya kan Git? itu benar??"
Sigit meneliti sorot mata Winda dengan dahi sedikit dikerutkan.
"Kamu sudah mendengar kabar ini dari ibu?" tanya Sigit menebak.
"Hm, ibu baru saja memberitahu ku." Winda terlihat bingung.
Sigit masih diam memperhatikan wanita didepannya.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu ku dari kemarin-kemarin Git, jika Renaldi adalah mas Aldi? kamu sudah tahu dari kemarin kan?"
Sigit beranjak dari duduknya berjalan mendekati istrinya. Khawatir jika Winda salah paham dengannya.
"Aku... aku..." Sigit gugup.
"Kenapa?" Winda penasaran. "Kamu takut jika aku dekat dengannya?"
__ADS_1
"Apa kamu tidak menginginkan aku bisa bertemu lagi dengan mas Aldi?" lanjut Winda.
"Bu-bukan begitu sayang, aku..."
Sigit terdiam. Winda menatap wajah suaminya tidak berkedip.
"Kamu kenapa? kamu ingin merahasiakan hal ini dariku iya?"
Sigit masih terdiam.
"Atau... kamu masih benci dengan Renaldi dan tidak mau menerima kenyataan bahwa Aldi adalah kakak dari Revan?" nada suara Winda meninggi menerka sikap Sigit menyembunyikan kebenaran mengenai identitas Renaldi.
"Atau jangan-jangan kamu..."
"Sudah cukup Win!"
Winda tercekat, ia kaget mendengar perkataan suaminya yang lebih keras darinya. Sigit tidak ingin istrinya menuduhnya yang bukan-bukan.
"Cukup." ucap Sigit sangat lirih.
"Kamu kenapa sih tiba-tiba datang marah-marah? tidak bisa apa duduk dulu, tanya dengan baik-baik? jangan asal bicara?"
Sigit sedikit kesal merasakan sikap Winda tidak seperti biasanya. Winda yang sekarang terlihat lebih cuek dengannya, kalaupun berbicara hanya sekedarnya saja setelah itu kembali sibuk dengan dunia barunya.
Awalnya Sigit memaklumi, ia merasa Winda kerepotan mengurus baby jadi wajar saja kalau sikapnya sedikit berubah kepadanya.
"Aku ingin menemui mas Aldi, Git. Aku bahkan seakan tidak percaya kalau Renaldi adalah mas Aldi, orang yang selama ini aku cari."
Sigit terdiam memperhatikan istrinya yang mulai terlihat gurat kesedihan diwajahnya.
"Apa aku salah jika aku ingin menemuinya?" lirih Winda lemah. Tetesan bening samar-samar terlihat di pipinya.
Sigit mendekap tubuh Winda.
"Hhhh...." menghela nafas. "Bukankah ini sudah larut malam?" Suara Sigit lembut mencoba menenangkan wanita disampingnya.
"Sebaiknya kita istirahat dulu, besok Renaldi akan datang kesini lagi, dia juga perlu istirahat karena kecapekan seharian bekerja di kantor kan?" bujuk Sigit menatap wajah istrinya seraya mengusap air mata yang menetes itu.
"Sekarang kita masuk kedalam dulu, kita lanjutkan pembicaraan ini didalam, ya?"
Winda menatap wajah laki-laki didepannya cukup lama.
"Kita masuk dulu ya? tidak baik untuk kesehatan mu." bujuk Sigit lagi meyakinkan. Winda pun akhirnya menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan suaminya.
Sigit melangkahkan kakinya dengan mendekap tubuh Winda disampingnya, mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk.
Namun, baru saja mereka berdua memasuki rumah, Sigit dibuat terkejut dengan wajah-wajah semua anggota keluarga yang terlihat panik.
"Kebetulan kalian sudah masuk." suara Bram sedikit gugup, wajahnya penuh keringat. "Sebaiknya kita segera ke rumah sakit sekarang."
"Rumah sakit?" sahut Sigit heran.
"Hm."
"Memangnya kenapa bang?"
"Sudahlah ayo cepat berangkat. Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskannya sekarang."
Sigit mengalihkan pandangannya pada Winda, mereka saling pandang, terheran, tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung 🤗🤗
Saranghe....💞💞💞