Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 157. Hadiah istimewa


__ADS_3

"Diumurmu yang bertambah satu tahun ini, semoga berkah, bermanfaat bagi sesama makhluk didunia ini bidadariku." Sigit mengeluarkan sebuah kotak merah dan menyodorkannya pada Winda.


"Apa ini?"


"Bukalah."


Winda menerima kotak merah pemberian suaminya.


"Buka!"


"Buka buka buka buka!!"


Suara Revan dan keluarganya yang tentunya diikuti para tamu yang hadir terdengar berteriak memberikan semangat pada Winda.


Tidak hanya keluarga yang ingin mengetahui isinya, sahabat dan karyawan perusahaan WP juga penasaran dengan isi yang ada didalamnya.


Dengan perlahan jemari tangan Winda mulai membuka kotak yang berada ditangan kirinya. Kedua bola matanya berbinar memandang benda yang bertengger disana.


Terkejut.


Winda terkesiap melihat benda-benda cantik itu bersandingan. Seakan tidak percaya dengan penglihatannya.


"Abang, apa ini?" Lirih Winda.


Sigit tersenyum kecil.


" Ini hadiah yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan dirimu sayang."


Tania, Silvi dan beberapa wanita yang bekerja di kantor WP seketika melongo melihatnya. Bola mata mereka membulat sambil menutup mulut dengan tangannya.


"Wahhhh...."


"Woooowww...."


"Ya Tuhan...."


"Oh my God."


"Ya Allah so sweet sekaliii...."


"Waaahhhh mimpi apa gue semalam Sil... hingga gue yang melihatnya saja merasa jantung gue seakan loncat ke sungai saat ini Sil..." Gumam Tania pada Silvi, kagum dengan adegan romantis dua sahabatnya.


"Bener-bener Sigit namanya Tan, dari dulu dia yang paling sukses memberi kita kejutan." Silvi setuju dengan pendapat Tania. Gadis cantik lawan bicaranya pun mengangguk setuju.


"Biasa aja kali jangan lebay." Ketus Willy dan Topan berbarengan. Menganggap para wanita berlebihan melihat sikap Sigit.


Entahlah, apa yang ada dalam pikiran para lelaki saat melihat hadiah pemberian Sigit pada Winda, yang jelas Willy dan Topan melihat kaum hawa disekitarnya ikut serta kegirangan, ribut. Seakan mereka akan kecipratan hadiah itu.


Cuitan-cuitan para hadirin terdengar riuh didalam ruangan itu. Mereka sama terkejutnya dengan pemilik hadiah saat melihat satu set perhiasan elite bertengger mengelilingi sebuah kunci putih ditengahnya.


"Ini sangat berlebihan Bang..."


Nada bicara Winda lirih, ia merasa suaminya terlalu berlebihan memberinya hadiah.


"Sudah Abang bilang tadi, jika benda ini tidak ada seujung kuku dibandingkan dengan apa yang sudah kamu berikan untuk Abang selama ini." Sahut Sigit cepat. "Rumah ini akan menjadi tempat bernaung kita dan anak-anak kita nantinya."

__ADS_1


Winda terharu, ia tersenyum disertai dengan deraian air mata yang sudah jebol dari tanggulnya.


"Abang..." Suara Winda parau karena menahan sesak didadanya.


****


Suasana hening dihalaman rumah Sigit, malam semakin larut saat para tamu undangan sudah mulai undur setelah acara Sigit selesai, tinggal sahabat Sigit dan keluarga inti yang ada didalam.


Hembusan angin malam mendayu manja membelai lembut dedaunan nan rindang di sekitar kolam renang.


Seorang gadis memakai dress putih dengan rambut panjang terurai dipunggung nya tersapu angin malam sedang asik duduk membuang rasa kesal bersama seorang pemuda yang membawanya keluar, mereka cukup lama saling diam tanpa kata-kata duduk diatas kursi besi berwarna putih.


"Pakailah. Anginnya semakin dingin." kata si lelaki yang membawanya kabur seraya memasangkan jas hitamnya pada gadis disampingnya.


Ya, gadis itu adalah Tania yang keluar dari segerombolan gengnya ketika sebuah tangan kekar membawanya keluar dari ruangan itu.


Gara-gara hadiah yang diberikan Sigit pada Winda membuat kaum hawa merasa iri ingin mendapatkan hadiah yang sama dari pasangan nya, ya tidak harus sama persis, setidaknya sebuah perhiasan saja sudah cukup mewakili sebagai hadiah.


Tania menoleh pada pemilik jas yang sudah menutupi bajunya.


"Terimakasih pak Re."


"Hm."


Renaldi mengulurkan minuman kaleng pada Tania.


"Minumlah."


Tania masih diam belum bergerak untuk meraih kaleng ditangan Renaldi, ia menatap wajah Renaldi sekilas.


"Ambillah, tidak usah berpikiran aneh-aneh." ucap Renaldi menyadarkan pikiran Tania.


"Minumlah, setelah ini aku antar kamu pulang, ini sudah terlalu malam, tidak baik kalau kamu pulang sendiri." ucap Renaldi tanpa melihat wajah Tania, lalu menenggak minuman kaleng ditangannya.


Tania tidak mengerti dengan sikap rekan kerjanya itu, entah kenapa tiba-tiba Renaldi menggeret tangannya ketika dia sedang asik adu pendapat dengan Topan dan sahabatnya.


Tania merasa Renaldi sedang ada kelainan, yaitu suka membawa kabur seseorang secara dadakan. Bagaimana tidak, dua kali Tania dibawa kabur Renaldi. Yang pertama, saat dirumah papi Winata yang tiba-tiba saja mengajaknya pergi ketika baru masuk pintu dapur setelah menemui Sigit dengan wajah yang berbeda ketika mereka datang untuk menemui Winda. Yang kedua, saat ini yang barusan terjadi beberapa menit lalu.


Huh, entahlah kelainan apa yang sudah menghinggapi laki-laki disampingnya itu. Yang jelas Tania tidak mau pusing.


❄️❄️❄️


Pagi hari nan indah disebuah kamar yang penuh keceriaan, seolah-olah bunga cinta memonopoli kamar itu. Tampaklah seorang istri sedang membantu memasangkan dasi sang suami, kedua tangannya begitu sibuk dengan wajah sedikit serius memperhatikan alur pemasangan tali panjang dikerah leher sang suami.


Sebenarnya sangat mudah bagi si istri memasang seikat dasi dileher suaminya, tetapi, karena tingkah suaminya yang selalu menggodanya dengan mencuri ciuman dari bibirnya, pipinya, bahkan lehernya pun menjadi sasaran jail suaminya, sehingga membuatnya kesulitan untuk memasang dasi itu. Pekerjaan yang biasanya dikerjakan tidak sampai lima menit, saat ini hingga berlipat-lipat menit lamanya belum juga selesai.


Pasangan itu sangat romantis bahkan sangat harmonis sekali, walaupun hati si istri sedikit terusik dengan tingkah si suami yang lebih suka mengumbar kemesraan saat hanya ada mereka berdua didalam kamarnya. Mereka tidak lain adalah Sigit dan Winda.


Sigit terdiam menyembunyikan senyumannya ketika melihat tingkah istrinya yang terburu-buru membetulkan ikatan dasinya, kedua bola matanya menatap wajah ayu dihadapannya, wajah istrinya begitu lucu dimatanya ketika sedang terburu-buru melakukan aktivitas itu.


"Serius amat? pelan-pelan dong masang dasinya sayang... Kalau sampai ketarik gimana? tercekik leher Abang, terus tidak bisa bernafas..." kedua tangan Sigit memeluk pinggul istrinya dan menariknya hingga tubuh Winda merapat sempurna dalam pelukannya.


Sigit senang sekali menggoda istrinya yang hampir selesai merapikan dasinya. Ada perasaan tersendiri didalam hatinya jika menggoda makhluk didepannya itu, yaitu perasaan puas karena telah berhasil membuat Winda kesal dengan wajah cemberut lucu.


"Hm! jangan nakal!" Winda memperingatkan suaminya agar tidak memperpanjang urusannya hingga diatas ranjang lagi.

__ADS_1


"Ini sudah siang, lagian seorang atasan harus memberikan contoh yang baik pada karyawannya, paham?!" Winda melebarkan bola matanya, tangan kanannya menepuk keras lengan suaminya agar tidak mengganggunya.


Melihat tingkah istrinya justru membuat Sigit terkekeh, sama sekali tidak ada wajah seram wanita yang tingginya hanya dibawah dagunya itu. Winda mendongak menatap intens wajah Sigit.


Tanpa bicara, secepat kilat Sigit mendekap istrinya. Gemas.


Winda bertambah kesal dengan tingkah suaminya. Winda mencubit pinggang Sigit.


"Aw aw awwww... sakit sayang."


Dengan tersenyum bangga Sigit melepaskan pelukannya.


"Yup, jangan lupa siap-siap nanti malam. " Telunjuk tangan Sigit menoel ujung hidung istrinya.


Cup.


"I love you honey."


Sigit mengakhiri godaannya dengan sebuah kecupan di kening istrinya membuat hati Winda semakin terbang mengangkasa. Wajahnya berbinar.


"Abang berangkat kerja dulu, assalamu'alaikum." Sigit melepaskan pelukannya. Walaupun sebenarnya tidak rela dalam hati Sigit melepaskan pelukan hangat istrinya yang selalu dan selalu membuatnya terbuai setiap saat jika bersamanya.


Dengan terpaksa Sigit beranjak meninggalkan kamar yang penuh godaan itu.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Winda.


Seperti biasa, Winda mengekor dibelakang Sigit mengantar suaminya menuruni tangga hingga kedepan rumah, namun dengan cepat Sigit menghentikan langkahnya membalikkan tubuhnya.


"Cukup disitu saja, jangan anter Abang kedepan bisa-bisa Abang tidak jadi berangkat kerja nanti karena dirimu." telunjuk jari tangan kiri Sigit diacungkan didepan Winda sebagai tanda larangan mengantar nya seperti biasa. "Apalagi bibir tipis ini yang membuat candu bagiku setiap aku melihatnya."


Bukannya menurut dengan peringatan suaminya, justru membuat Winda terkekeh dan meledeknya dengan menggerak-gerakkan bibirnya dengan sengaja.


Melihat tingkah Winda yang sengaja meledek, membuat Sigit menghentikan gerakannya hendak memutar gagang pintu.


"Hentikan Winda..." cegah Sigit dengan lirikan mata mengancam. Winda mematung seketika merasa dirinya dalam bahaya.


"Hm, baiklah Winda diam." Jawab Winda tersenyum cengengesan yang tidak lepas dari tatapan Sigit.


Setelah berhasil mengatur perasaannya yang sedikit luruh melihat senyuman manis istrinya, Sigit mulai memutar gagang pintu kamarnya dan membuka pintu itu.


"Abang..."


Sigit menghentikan langkahnya, menolehkan kepalanya pada istrinya.


"Cup, i love you too my love."


Nyeeeeessssssssss.....


Hati Sigit bagaikan gunung es yang meleleh saat mendapat kecupan Winda yang diikuti bisikan lembut ditelinganya.


Sigit kembali menutup pintunya dan melemparkan tas kerjanya asal.


Ahhhh... Sudahlah apa yang terjadi didalam kamar mereka yang penting kita tersenyum saja. Hufffft semoga emak-emak readers tidak ada yang iri dengan tingkah mereka saat ini.


Hhhhhhh.....

__ADS_1


Bersambung, jangan lupa dukungannya ya... 🤗 🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞💞


__ADS_2