Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 74


__ADS_3

Pagi tadi tepat pukul 10.00 WIB acara akad nikah Silvi dan Willy sudah digelar di sebuah gedung pernikahan, sedangkan malam harinya pelaksanaan resepsi pernikahan mereka, maka dari itu Sigit memilih hotel yang terdekat dengan gedung pernikahan mereka agar tidak terlalu capek bolak-balik.


Saat ini Sigit sudah menggunakan stelan jas dark grey dan sepatu oxford berwarna netral hitam sehingga menciptakan smart casual looks, Kesan dewasa dan penampilannya terlihat super stylish. Ia merapikan letak jas ditubuhnya didepan kaca seraya menunggu Winda yang masih diruang ganti.


Tidak menunggu lama ketika Sigit hendak menghampiri istrinya, keluarlah seorang wanita yang ditunggunya dengan anggun menggunakan dress payet kombinasi brokat dan satin berwarna keemasan dengan jilbab panjang terpasang rapi di kepalanya, ujung jilbab disematkan dibagian pundak kiri berhiaskan bros pemberiannya tadi malam. Bros bermotif bunga besar dan pernak-pernik yang menjuntai ngeblink, terlihat mewah. Benar-benar terlihat cocok dikenakan oleh wanita pujaannya saat ini.


Sigit terpaku melihat Winda yang sangat cantik malam ini, walaupun makeupnya sederhana, namun mampu membuatnya ingin menerkam istrinya saat itu juga.


"Masya Allah... luar biasa cantik sayang..."


Winda terdiam memperhatikan suaminya yang semakin mendekatinya tidak berkedip, ia bahkan takut jika Sigit akan kalap malam ini, kembali melahap dirinya seperti kemarin malam sepulang dari pantai.


"Sudah siap?" tanya Sigit lirih, kedua tangannya sudah membingkai wajah istrinya, bola matanya terpaku pada bibir ranum didepannya.


"Hm. Sudah." jawab Winda.


Sigit tidak menyadari jika mulutnya sudah berhasil mengikis jarak mereka, ia semakin tenggelam dengan istrinya yang semakin menggoda perhatiannya walaupun sudah tertutup rapat tubuhnya. Entah apa yang ada dalam benaknya malam itu.


"Bang... kita mau menghadiri pesta pernikahan sahabat kita, jangan merusak dandanan Winda bang..."


"Sebentar doang, Abang cuma ingin mencicipi bibir ranum ini sebentar."


tangan Winda berusaha menghalaunya namun Sigit semakin mengeratkan tangannya menggelayut dipinggang Winda, dengan bibir menyatu bersentuhan.


"Bang... Tania udah nanyain aku dari tadi." ucap Winda lirih sambil menatap bola mata Sigit, ketika Sigit sudah selesai menempel kan bibirnya beberapa saat dengan tangan masih memeluk pinggangnya.


"Muuuach." Sigit mengahiri kecupan panjangnya, lalu membersihkan bekas kecupannnya dibibir Winda dengan ibu jarinya.


"Ya sudah kita berangkat sekarang ya... Abang takut kalap lagi." kalimat Sigit seraya mengedipkan matanya.


"Sebentar bang, Winda mau..."


"Sudah tidak perlu, lipstiknya masih utuh tidak berkurang sedikitpun."


Sigit membalikkan tubuh Winda menghadap kaca didepannya, ia memperlihatkan makeup istrinya yang memang masih seperti semula.


Winda memperhatikan lipstik dibibirnya, benar apa yang dikatakan Sigit barusan, memang tidak luntur setelah dicium suaminya.


Selama ini ia memang memilih kosmetik yang baik dan secara teliti, ia lebih memilih kosmetik yang berbahan alami, mahal sedikit tetapi sehat. Masalah harga memang tidak menjamin segala kwalitasnya. Walaupun cepat kering namun tidak susah untuk dibersihkan dengan minyak andalannya, yaitu zaitun. Iapun selalu rutin meminum zaitun Extra-virgin olive oil untuk menjaga kesehatan tubuhnya, yaitu zaitun Extra-virgin olive oil yang memiliki kandungan bahan kimia dan radikal bebas yang lebih rendah daripada minyak zaitun biasa. Minyak ini juga mengandung antioksidan yang lebih tinggi dan masih memiliki vitamin K dan E komplit, yang biasanya akan terbuang pada proses pemanasan minyak zaitun murni. Selain itu, kandungan lemak baik yang sehat untuk tubuh lebih banyak ditemukan dalam extra virgin olive oil.


Winda melirik suaminya yang tersenyum dipundaknya ikut menatap wajahnya dari kaca.


"Bener kan kata Abang? itu karena Abang pandai mencari celah tadi, jadi... lipstiknya masih utuh."


"Enak aja, itu karena Winda memakai kosmetik yang baik bang... bukannya abang yang pintar nyari celah..."


Winda menyahut kalimat Sigit yang membanggakan diri atas ulahnya.


"Mau nih coba lagi?"


"Apaan sih..."


"Ya... buktilah..."


"Ishhhh."


Mereka sambil bergandengan berjalan menuju pintu keluar dari kamarnya dengan ledekan Sigit yang membuat Winda sedikit kesal.


Sigit masih saja menggoda Winda hingga menuruni lift menuju lantai dasar. Entah mengapa tiba-tiba ia sangat senang menggoda istrinya dengan sifat mesumnya, dengan begitu Winda akan mudah memarahinya dengan mendaratkan pukulan kecil di lengan dan dada suaminya, toh walaupun pada akhirnya mereka akan tersenyum terbahak-bahak.

__ADS_1


"Abang jangan gangguin Winda terus yak... nanti Winda jalan kaki loh..." Winda mendengus kesal dengan ulah suaminya hingga mereka berada didalam mobil.


"Beneran mau jalan kaki? jauh loh kalau jalan kaki."


Winda hanya melirik suaminya yang sudah melajukan mobilnya dijalan raya.


"Biyarin."


"Hahaha..."


Winda membiarkan Sigit yang terus saja menertawakannya, hingga suasana hening sejenak.


"Sayang."


"Hm?"


Winda menoleh sekilas suaminya yang mulai membuka keheningan, lalu kembali melihat lurus kedepan.


"Nanti, jika sudah sampai disana pasti teman-teman sekolah Abang dulu banyak yang datang." kalimat Sigit terdengar serius dari sebelumnya.


"Hm, terus kenapa?" tanya Winda penasaran.


"Ya... sebelumnya Abang kasih kode ni sama kamu, jika... dulu banyak cewek yang suka sama Abang."


"Terus? Abang takut kalau Winda cemburu?"


"Yah... paling tidak sih Abang cari aman dulu gitu..."


"Hahaha pintar ya... kalau laki-laki sudah diujung tanduk keselamatannya, dia cepat-cepat cari perlindungan dibalik kelembutan istrinya."


Sigit tersenyum meliriknya sekilas. Pikirannya melayang mengingat beberapa masa lalunya yang digandrungi kaum wanita sejak duduk di bangku sekolah hingga di kampus kuning. Ia hanya merasa hawatir dengan Winda yang termakan cemburu ketika melihat mantan-mantannya yang akan mendekatinya nanti.


Sigit menoleh melihat Winda yang tersenyum tanpa melihatnya, tangan kirinya meraih tangan Winda dan diangkat mendekati bibirnya. Ia mencium punggung tangan Winda lembut. Lalu menggenggamnya dengan membelai halus.


"Cup, terimakasih sayang sudah menjadi istriku, sudah mau menerima segala kekuranganku dan keegoisanku." ucap Sigit dengan menatap manik hitam Winda setelah mematikan mesin mobilnya diparkiran.


Winda membalas tatapan suaminya dengan senyuman tulus, dalam hatinya sebenarnya sudah mulai ketakutan akan kehilangan cinta suaminya setelah berpikir sejenak kata-kata dari suaminya. Tidak jauh kemungkinan nanti kalau masa lalu suaminya akan terjalin kembali dengan sang mantan jika ia tidak pandai meraih hati suaminya, apalagi jika masa lalunya indah dan terlalu sayang untuk dilewatkan. Hatinya gundah.


Sigit menggaet lengan Winda dengan lengan kirinya. Mereka berjalan beriringan memasuki gedung pernikahan Willy dan Silvi, suasana sangat ramai pengunjung sebagai tamu undangan.


Mereka memasuki gedung dan bertemu dengan teman-teman masa kuliahnya, banyak pula tamu undangan yang tidak Winda kenal. Winda melihat beberapa orang mendekati suami dan dirinya yang tidak lain adalah teman alumni Universitas Hukum.


"Kapan nikah nih, maen gandeng-gandeng cewek sekelas aja..." suara Gibran teman Sigit dari jurusan tehnik yang belum mengetahui hubungan mereka.


Sigit tersenyum mendengar pertanyaan temannya, matanya menatap wajah istrinya yang tersenyum pula menatapnya seraya mengangkat pundak dan kedua alisnya.


"Kami sudah menikah beberapa bulan lalu."


jawaban Sigit membuat Gibran terkejut.


"Yang bener bro."


"Hm." jawab Sigit seraya berjalan. "Duduk sana yuk."


"Sorry, gue kesana dulu ya...."


"Oh, oke silahkan."


Sigit melihat punggung Gibran yang meninggalkannya.

__ADS_1


"Bang."


"Hm. Iya?"


Sigit mendekatkan kepalanya diwajah Winda karena suara yang ramai pengunjung sehingga suara Winda terdengar lirih.


"Aku nyusul Tania dulu ya dikamar pengantin?"


Pok.


Belum sempat Sigit menjawabnya, terdengar suara tepukan dipundaknya dari belakang.


"Hai bro, duduk disini rupanya, ikut gue yuk sekarang!"


ternyata suara John dengan tiba-tiba menyembulkan kepalanya dari belakang.


"Kemana?"


"Penting."


"Iya penting kemana?"


"Udah, lu gak usah banyak tanya napa."


"Istri gue?"


"Abang... Winda kekamar pengantin saja gabung sama Tania." sahut Winda ketika melihat suaminya bingung.


"Ayo udah buruan, Winda biarin sama Tania." bujuk John memaksanya.


Sigit terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya menyetujui istrinya dan John.


"Baiklah." jawab Sigit, lalu memandang sahabatnya. " Ya sudah ayo John."


Mereka berjalan sesuai tujuannya dengan Sigit mengikuti John dari belakang menuju panggung. Winda berjalan memasuki ruang pengantin yang sudah terlihat kedua sahabatnya menunggu kedatangannya.


❄️❄️❄️


Dari pintu masuk gedung pernikahan, terlihat seorang wanita berambut pirang memasuki tempat pesta, ia berjalan dengan anggunnya menggunakan dress panjang berwarna silver gold dengan belahan sepanjang diatas lutut disebelah kanan, rambut pirang bergelombang diujung rambut tergerai begitu saja, kakinya putih jenjang degan sepatu heels senada dress-nya berjalan sangat anggun.


Wanita itu tersenyum melihat seseorang yang berada diatas panggung sedang berpuisi yang terdengar sangat romantis. Ia duduk di kursi disebuah meja yang tidak jauh dari panggung memperhatikan setiap gerakan laki-laki itu.


"I'm glad to see you again Sigit."


Wanita itu menatapnya tidak berkedip serasa menyangga dagunya dengan jari-jari tangannya bertautan.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Ayo akak2ku semua, ramaikan lagi like n komentnya dengan menebak siapakah wanita itu...


Saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2