Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 154 Halusinasi


__ADS_3

Tidak terasa, hari yang ditunggu akhirnya datang juga setelah seharian berkutat dengan kerjaan yang menumpuk didalam ruangannya. Satu persatu ia menandatangani berkas itu dengan telaten, walaupun sesekali kedua ekor matanya melirik pada angka yang menempel pada jam tangan. Entah kenapa hari ini Sigit merasa pak Firman memberikan tumpukan berkas padanya seakan tidak berkurang sedikitpun hingga menjelang petang baru selesai.


Sigit melangkahkan kakinya memasuki parkiran dimana mobilnya berada. Rasa tidak sabar memenuhi ruang dadanya, perasaan gugup dan senang berbaur dalam hati Sigit. Gugup jika istrinya menolak atau tidak suka dengan kejutan yang sudah disiapkan, dan sebaliknya rasa senang jika melihat bidadarinya bahagia menerima hadiah darinya.


Tujuan utama Sigit saat ini adalah rumah yang siap ia huni bersama pujaan hatinya malam ini juga. Ya, semua anggota keluarga sudah berada dirumahnya sesuai rencana Sigit. Termasuk Renaldi.


Sigit mengendarai mobilnya berbaur dengan kendaraan yang berlalu lalang di ibukota, kedua bola matanya fokus pada jalanan yang padat. Sesekali pandangannya beralih pada jam analog didasbor mobilnya. Mobilnya berjalan sangat lambat seolah menjelma menjadi siput saja.


"Bagaimana Yan, kamu sudah siap mengantar Winda ke lokasi?"


Sigit menghubungi Riyan yang ditugaskan mengantar Winda dari rumah papi Winata ke rumah barunya.


"Iya bang, ini masih menunggu mbak Winda selesai shalat Maghrib." Suara Riyan dari sebrang.


"Hm, hati-hati bawa mobilnya, setidaknya nanti jam delapan kamu sudah sampai dirumahku."


Sigit mengakhiri panggilannya pada supir pribadi maminya itu. Ia menambah laju mobilnya setelah jalanan senggang tidak seperti tadi.


Sesuai rencana yang sudah disepakati, Riyan mengantar Winda tanpa sepengetahuan Winda dimana tujuan mereka pergi. Sigit hanya memberitahu Winda bahwa malam ini ia tidak bisa pulang cepat seperti biasanya karena akan menghadiri undangan spesial dirumah temannya.


Sementara di tempat yang berbeda, Winda merasa kesal seharian sendiri dirumah besar mertuanya itu. Hanya ada Ningsih dan Revan yang terlihat sibuk setelah seharian pergi entah kemana, sore hari mereka baru pulang.


Yang lebih membuat Winda heran lagi, rumah sangat sepi seakan tidak ada penghuni. Semuanya pergi, dari mami yang katanya sibuk harus membawa mbok Lastri, Revan yang sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke negeri orang untuk melanjutkan pendidikannya sesuai harapan papi, meminta Ningsih membantunya mengurus keperluannya, sedangkan papi dan suaminya seperti biasa mereka bekerja di kantor. Hanya pak Zain satu-satunya orang yang tersisa menunggu pos keamanan didepan pintu gerbang kokoh itu.


Winda benar-benar lupa dengan momen penting dalam sejarah kehidupannya, yaitu hari dan tanggal kelahirannya. Notifikasi media sosial yang selalu mengingatkan momen penting penggunanya tidak tidak ada guna untuk wanita kesepian didalam rumah mewah itu, hpnya ia silent dan diletakkan begitu saja diatas nakas. Seharian ia hanya menyibukkan diri membuat camilan didapur dan bersantai ditaman belakang.


Winda memperhatikan kotak yang diberikan Sigit padanya tadi pagi saat laki-laki itu akan pergi ke kantor. Ia terdiam sejenak mengamati isi kotak ditangannya, terdapat setelan baju beserta hijabnya tertata rapi disana. Pandangannya terpaku pada gamis maroon beserta slayer coklat susu yang dipadukan dengan hijab glitter senada dengan slayer. Setelan yang benar-benar indah bila melekat pada kulitnya yang kuning Langsat itu. Winda baru teringat jika gamis itu adalah gamis yang ingin sekali ia beli ketika akan menghadiri acara pernikahan sahabatnya, yaitu Silvi dengan Willy. Namun apa boleh kata, saat itu dia mengalami koma karena musibah dipantai waktu itu.


Dalam benaknya bertanya-tanya, seperti apa spesialnya rekan kerja suaminya, hingga penampilannya juga harus spesial untuk menghadiri acara itu.


"Ah sudahlah, anggap saja dandananku malam ini hanya untuk Sigit, suamiku semata, tidak untuk mencari simpati para tamu undangan yang lainnya." Winda mengganti pakaiannya setelah menempelkan makeup tipis diwajahnya. Winda tidak mau pusing dengan perintah suaminya.


Setelah merasa rapi dengan penampilannya, Winda segera beranjak menuruni tangga berjalan menuju parkiran, sesuai permintaan suaminya yang memintanya menemani menghadiri undangan spesial temannya. Sepengetahuan Winda, ia akan diantar Riyan dan bertemu Sigit disana. Entahlah acara apa yang akan ia hadiri.

__ADS_1


"Kemana kita akan pergi Yan? Terus kenapa Abang nyuruh kamu yang anter aku kesana bukan Abang sendiri?" tanya Winda seraya menutup pintu mobil.


"Maaf mbak, Nanti mbak Winda tahu sendiri jawabannya." Jawab Riyan singkat. Melihat Winda sekilas dari kaca spion didalam mobil lalu kembali fokus dengan kemudi.


Winda mengerucutkan bibirnya lalu menggerakkan ke kanan dan ke kiri kerena merasa kesal dengan suaminya.


Selama perjalanan, Winda memilih diam setelah menanyakan tujuan kemana Riyan akan membawanya, namun laki-laki itu hanya menjawab singkat, seperlunya saja. Winda memperhatikan jalan yang mereka lalui sama sekali belum pernah ia melintasi jalanan itu.


🎵🎵🎵


Drttt drrrtttt


Pandangan Winda beralih pada laki-laki didepannya yang mengurangi kecepatan laju mobilnya karena suara panggilan di hpnya. Winda sedikit menguping jawaban Riyan dengan lawan bicaranya.


"....."


"Tidak tahu bang."


"......"


"......"


"Baik bang. Wa'alaikumsalam."


Riyan memasukkan hpnya kembali disaku bajunya setelah panggilan berakhir.


"Mbak Winda hpnya kenapa? dari tadi Abang nelpon tidak diangkat-angkat?" Tanya Riyan saat mobil mereka memasuki parkiran.


"Hm?" Winda terkejut dengan pertanyaan Riyan, segera tangannya merogoh ruangan dalam tasnya, berkali-kali tangannya mengosek setiap sisi didalamnya, namun tetap saja tidak menemukan benda pipih yang dimaksud laki-laki itu. "Abang nelpon aku dari tadi?" Lanjut Winda setelah menyadari yang menelpon adalah suaminya.


"Iya mbak. Makanya Abang nelpon Riyan." Riyan memarkirkan mobil mami , mensejajarkan dengan mobil lain yang sudah terparkir.


"Hpku ketinggalan Yan." Jawab Winda merapikan tasnya kembali, ia tersenyum kecil pada laki-laki yang mengantarnya, lalu membuka pintu mobil beranjak dari kursinya.

__ADS_1


Riyan membalas senyuman winda.


"Mbak Winda sudah ditunggu Abang di depan rumah sekarang." Riyan berjalan mendekati Winda memberitahukan posisi Sigit saat ini. "Silahkan mbak."


Winda mengangguk kecil, merespon ucapan Riyan yang merentangkan tangan kanannya mempersilahkan dirinya seperti putri dongeng saja. Ah berlebihan sekali tingkah Riyan ditempat umum seperti ini, pikir Winda.


Ia segera melangkahkan kakinya menuju halaman rumah yang sangat luas tidak kalah luasnya dengan milik mertuanya.


Sejenak Winda terkesiap, matanya merasa takjub dengan rumah elit di hadapannya saat ini. Sebuah perumahan dengan ornamen gaya Eropa dengan cat tembok warna gading dan warna lain sebagai pelengkap. Lampu berbagai warna pelangi saling berkedipan tertata rapi di papan karangan bunga yang terletak dihalaman, dekat dengan pintu masuk.


Winda terpaku sesaat menikmati keindahan suasana di sekitar rumah yang mampu mengusik pikirannya seketika, andaikan ia yang menjadi penghuni rumah itu alangkah nyaman, damai hatinya berada ditempat yang indah itu. Tanaman hias berjajar bagaikan taman, dibawah pohon terdapat bangku besi bercat putih.


"Indah sekali taman ini.... hhhhhh."


Angin malam terasa segar menyapu wajahnya, membelai manja gamis dan kerudungnya berkelebat seperti dipinggir pantai saja.


Perlahan Winda mengedarkan pandangan di sekelilingnya sambil berkhayal dirinya bermanjaan bersama suaminya, menghabiskan waktu santai dengan duduk berdua dibawah payung pantai yang berada di dekat kolam renang. Airnya terlihat sangat bening dan jernih, sebening bola matanya dan sejernih pikiran halunya saat ini.


"Ahhhh.... Segar sekali udara malam ini... ingin sekali aku menikmati keindahan disini saja...." Winda merentangkan kedua tangannya sambil menghirup udara malam yang segar. Enggan rasanya melanjutkan langkah kakinya memasuki pintu masuk, tidak rela rasanya melewatkan keindahan itu.


Saat Winda kembali mengedarkan pandangannya, bola matanya berhenti tepat pada papan karangan bunga yang berjejer dengan tulisan happy universeri Sigit dan Winda, perlahan Winda mengucek matanya.


"Ada yang salah sepertinya...." Gumam Winda, kemudian menggeser pandangannya pada papan karangan bunga disebelahnya lagi.


"Hap-py birth-day Win-da Zil-va-na Id-ris." Winda terbata saat membaca setiap tulisan dari karangan bunga itu, tersenyum kecut menertawakan halunya yang semakin meningkat.


"Tidak mungkin, kenapa aku bisa eror begini membayangkan tempat ini bersama abang. Sampai-sampai papan karangan bunga itu terlihat namaku dan suamiku." Winda memukul-mukul kecil kepalanya kemudian diikuti mengedip-ngedipkan matanya siapa tau dia kelilipan hingga tulisannya pun terukir indah namanya dan Sigit. "Ada-ada saja kamu Winda, Winda." Lirih Winda hendak meninggalkan tempat itu.


.


. Bersambung 🤗🤗🤗


Sarangheo 💞💞💞💞

__ADS_1


__ADS_2