
Setelah shalat subuh Sigit segera mengirim file kepada Firman, ia menyerahkan urusan kerjaan kantor beberapa hari ini padanya karena ia ingin fokus menemani orang tuanya dirumah sakit. Selama tiga hari ini ia tidak ingin melewatkan perkembangan kesehatan mereka begitu saja, karena hanya dirinya saat ini yang harus menjaganya. Selain Revan yang sering menghindari kontak dengannya beberapa hari ini, Abangnya, Bram juga tidak bisa pulang ke Jakarta, karena masih dalam pengerjaan proyek.
Pagi ini ia segera turun dan menunggu sarapan bersama dengan Revan dimeja makan, Namun baru saja ia turun dari tangga, Revan sudah menyelesaikan sarapannya dan hendak pergi. Sigit segera mempercepat langkahnya dan memanggil namanya.
"Revan."
Suara Sigit menghentikan langkah Revan yang baru beberapa langkah berada diruang tamu.
Revan membalikkan badannya yang sudah berseragam hendak berangkat ke sekolah menunggu langkah kaki abangnya yang semakin mendekatinya.
"Iya bang?" Revan melihat Sigit sudah didekatnya. "Ada apa?" tanya Revan.
"Tidak, cuma... Abang kangen aja sekedar ingin ngobrol berdua sama adik Abang satu ini." jawab Sigit seraya tersenyum, tangannya memukul kecil pundak Revan.
"Yee... emang kemana aja Abang selama ini? sampai kangen segala sama Revan." sela Revan seraya mencebikkan bibirnya. Sementara Sigit hanya tersenyum melihat wajah adiknya.
"Biasanya gak pernah kangen juga sama Revan, tumben aja. Padahal kemarin juga ketemu dirumah sakit kan?"
"Iya sih, tapi cuma sebentar doang."
"Terus?"
"Abang mau bicara sama kamu Van."
"Lah ini sudah bicara bang."
"Maksud Abang... ada hal penting yang ingin Abang tanyakan sama kamu Van."
"Wah... kalau sudah begini, pasti lama nih, nanti aja bang, Revan buru-buru berangkatnya, keburu telat nanti."
Sigit melihat jam yang bertengger ditangannya mendengar jawaban Revan.
"Ini masih pagi loh."
"Iya, hari ini ada beberapa latihan untuk persiapan ujian nanti." jawab Revan.
"Benarkah?"
Revan menganggukkan kepalanya, ia terdiam sejenak tidak tega menatap wajah Sigit yang terlihat kecewa.
"Baiklah, Revan kasih waktu lima menit."
suara Revan akhirnya memberikan kesempatan kepada laki-laki didepannya dengan membuka kelima jarinya.
"Hm. Udah seperti bos besar saja kamu Van."
__ADS_1
sahut Sigit pada Revan seraya tersenyum.
"Ya harus dong bang. Penerus papi Winata."
jawab Revan sambil tersenyum.
Sigit hanya terdiam dan tersenyum simetri mendengar kalimat gurauan Revan.
"Sudah empat menit, tinggal satu menit lagi..." suara Revan membuyarkan lamunan Sigit.
"Hm, alesan aja." bantah Sigit.
Sigit berjalan beriringan dengan Revan sambil meletakkan tangan kirinya dipundak kiri Revan, ia merangkulnya menuju mobil Revan yang sudah terparkir di halaman.
"Tiga hari ini kamu terlihat sibuk sekali Van, hingga bertemu Abang saja seperti harus ada janji dulu." kalimat Sigit menghentikan langkah Revan seketika. Revan menoleh dan melihat wajah sang Abang yang memperhatikan dirinya dengan tatapan ingin mencari jawaban darinya.
"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?" Lanjut Sigit menyelidik.
Revan menatap dalam wajah Sigit, keningnya berkerut dan membisu dalam diam.
"Nanti siang bang, aku akan mengetahui jawaban atas rasa penasaranku yang tidak pernah aku ketahui selama ini, aku harap, aku memang adikmu bukan orang lain." Revan berkata dalam hatinya.
"Biasa aja bang. Perasaan Abang sendiri kali." sanggah Revan untuk menutupi kegusarannya. Ia segera mengakhiri pembicaraan dengan abangnya yang tiba-tiba ia merasa ragu untuk memanggilnya Abang atau tidak.
"Hm, baiklah kalau begitu belajarlah dengan tekun, supaya mami dan papi bangga padamu." Sigit menutup pintu mobil Revan diiringi dengan senyuman kecilnya, sementara Revan hanya memandang abangnya dan berlalu meninggalkan Sigit sendirian.
❄️❄️❄️
Winda membantu membenarkan dasi dileher Sigit sambil menatap wajah suaminya.
"Sudah saya selidiki kemarin sampai kerumah alm. supir taxi itu."
"Bagaimana hasilnya? ada unsur lain atau memang murni kecelakaan?" pertanyaan Sigit membuat Winda terkejut
"Ini semua memang murni kecelakaan bang, sama seperti penyelidikan dari polisi."
"Baiklah kalau begitu om, terimakasih atas penyelidikannya selama tiga hari ini."
"Iya bang."
Klik
Sigit menutup panggilan dari Gunawan yang merupakan tangan kanan dari papinya.
Gunawan menyelidiki kasus yang terjadi atas kecelakaan yang menimpa atasannya, dan memastikan tidak ada unsur perencanaan yang dilakukan oleh seseorang yang akhir-akhir ini selalu mengirim surat, mencoba membongkar status putra bungsu atasannya, yang tidak lain adalah Revan.
__ADS_1
Tepat dua minggu ini Gunawan mengambil secara diam-diam dan mengawasi surat-surat kaleng yang masuk kedalam rumah Winata. Pagi hari tanpa ia sengaja ketika dirinya akan memasuki rumah Winata, lagi-lagi ia melihat seseorang memasukkan amplop coklat muda kedalam kotak surat dengan nama tujuan Revan, itulah yang menjadi kekhawatiran Gunawan, kenapa ia selalu mengambilnya dan menyimpan surat-surat itu didalam laci nakas yang berada didalam kamar Winata dan atas persetujuan dari atasannya tentunya. Gunawan merahasiakan surat itu dari Sigit dan Revan, ia menyimpan surat itu ketika mereka sudah meninggalkan rumah sesuai perintah Winata, karena Winata ingin memberitahukan kepada Revan sebentar lagi ketika Revan sudah lulus sekolahnya.
❄️❄️❄️
Hampir seharian Revan berada dibawah pohon yang berada ditaman kota setelah pulang dari sekolahnya, ia duduk sendirian sambil membaca hasil tes DNA untuk kedua kalinya yang sempat ia sodorkan beberapa hari yang lalu pada pihak rumah sakit untuk memastikan kebenaran surat kaleng itu. Ia kembali membaca secarik kertas yang ia bawa selama tiga hari ini. Hancur dan kecewa hatinya mengetahui dua kertas ditangannya. Bagai kapal berlayar ditengah lautan yang diterjang badai dan ombak dirinya saat itu, terombang ambing angin laut lepas.
"Berarti benar apa yang sudah tertulis didalam surat itu, aku adalah anak dari wanita lain papi, dan keluarga papi Winata telah merahasiakan ini semua dariku. Tapi siapa gerangan orang yang sudah berani membuka rahasia keluarga papi kalau bukan dari rival bisnis, atau... wanita lain itu sendiri?" Revan menebak-nebak sendiri sesuai dengan pemikirannya.
"Benarkah ini semua? siapa wanita itu? lalu dimana dia sekarang? apa yang sudah terjadi selama ini? mengapa aku tidak mengerti sama sekali. Aku harus mencari tahu sekarang." kedua bola mata Revan berkaca-kaca tidak tahan menahan kepedihan didalam hatinya.
Pada awalnya ia tidak percaya dengan surat tanpa identitas itu yang mengatakan bahwa dirinya bukanlah putra dari mami Lia, melainkan putra dari wanita lain papi Winata. Namun setelah ia mencari bukti sendiri yang sangat akurat hasilnya ia menjadi ragu menerima kenyataan bahwa dirinya adalah anak dari seorang simpanan papinya.
Revan kembali melipat kertas itu dan memasukkan kedalam amplop putih, lalu menyimpannya di dalam tasnya seperti semula. Ia membersihkan sisa-sisa air yang merembes dari kedua matanya, kemudian mencoba bersikap tegar dan beranjak dari kursinya berjalan mendekati mobilnya ingin mendatangi kesebuah tempat.
❄️❄️❄️
Empat hari sudah mami dan papi dipindahkan dari ruang ICU, mereka kini sudah dirawat diruang rawat inap, sedikit demi sedikit perkembangan kesehatan mereka semakin membaik walaupun belum sadar. Sore ini setelah pulang kantor, Sigit seperti biasa selalu menjenguk dan menemani mereka.
Sigit menggenggam tangan mami sebagai pelepas rasa rindunya pada wanita yang tidak berdaya diatas ranjang rumah sakit.
"Mi, cepat bangun mi..." Sigit memandang wajah maminya yang terlihat seperti sedang tidur sangat lelap.
"Apa mami tidak ingin melihat anak Igit yang sangat mami tunggu-tunggu selama ini hm?"
ucap Sigit seraya membelai lembut wajah yang masih terlelap dalam mimpinya.
"Ayo lah mi semangat. Semangat untuk segera sembuh dan kembali bersama-sama lagi dengan papi dan kita semua. Kami sangat rindu dengan mami dan papi yang selalu meledek Igit dan Winda, apalagi kalau mami melihat Winda yang sudah tidak seperti dulu. Dia yang sekarang suka minta sesuatu yang aneh-aneh dan... harus segera dituruti." tidak terasa air matanya meleleh di kedua pipinya saat itu."Pasti mami tidak henti-hentinya meledek kami." lanjut Sigit seraya mengusap air matanya dengan senyum terpaksa dibibirnya.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Maafkan author akak-akakku semua, beberapa hari kemarin belum bisa up next chapter ya, karena menunggu ayah author yang sudah beberapa hari ini sakit. Mohon doanya agar segera sembuh.
Terimakasih🤗🤗
Jangan lupa dukung kisah babang terus ya..
padahal lagi seru-serunya ini, tapi apalah daya.
__ADS_1
Saranghe...💞💞