Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 119


__ADS_3

"Tetap duduk disini jangan kemana-mana!" suara Sigit terdengar ketika Winda beranjak hendak berdiri.


Winda melihat suaminya, kemudian mendudukkan dirinya kembali diatas kursinya, ia menghentikan gerakannya memunguti piring kotor selesai makan malam mereka.


Sigit menatap piringnya yang sudah kosong.


"Biar Ningsih yang beresin semuanya!" ucapan Sigit sebagai perintah ditelinga Winda. Wajahnya tampak serius tanpa ekspresi sama sekali.


Mami terheran melihat perubahan wajah Sigit, wajah yang dingin dengan tatapan mata yang tajam tanpa ekspresi sejak pulang dari kantor tadi.


"Ada apa bang? ada masalah?"


Sigit diam tidak menjawab pertanyaan mami. Sedangkan Revan tidak kalah heran dengan maminya yang menatapnya penuh tanda tanya dikepalanya.


Sigit tidak melihat mami dan juga Revan, ia masih fokus dengan piring didepannya.


"Mami dan Revan silahkan istirahat dulu, kami masih ada yang ingin dibicarakan disini." jawab Sigit mengalihkan pandangannya menatap mami dan Revan secara bergantian.


Mami menoleh pada Winda lalu kembali memandang Sigit, ada perasaan penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Sigit pada menantunya malam-malam begini.


"Sudah mami istirahat saja, ini cuma urusan kecil saja kok." kata Sigit meyakinkan maminya dengan mengalihkan pandangannya.


Mami berdiri setelah melihat sorot mata Sigit yang seakan mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin diganggu siapapun saat ini.


"Baiklah mami istirahat ke kamar dulu kalau begitu." mami menolehkan kepalanya pada Revan. "Ayo Van kita ke kamar, kamu kerjakan tugasmu dulu sebelum istirahat."


"Iya mi."


Revan berdiri menyambut tangan mami mengajaknya segera beranjak dari meja makan.


"Malem bang, malem mbak." pamit Revan sebelum berlalu meninggalkan mereka berdua.


"Hm."


"Malem juga Van."


Jawab Sigit dan Winda berbarengan.


Setelah kepergian mami dan Revan, suasana di meja makan berubah hening, hanya mereka berdua yang duduk bersebelahan. Winda menatap wajah suaminya, penasaran dengan apa yang akan dibicarakan laki-laki disampingnya itu. Ia memainkan jari-jari tangannya menunggu suaminya.


Sigit menatap tajam wajah Winda, wajahnya sinis menyimpan amarah.


"Katakan sejujurnya." pandangan Sigit menyorot kedua bola mata Winda. "Sudah berapa kali kamu bertemu dengan Renaldi?"


Deg


Detak jantung Winda berdetak lebih cepat membentuk alunan musik dalam debaran didadanya.


Ia membalas tatapan mata Sigit yang menyudutkannya.


"Em..."


"Em..."


"Em..."


Melihat sorot mata suaminya yang semakin tajam seakan mengoyak pupil penglihatannya membuatnya gugup untuk menjawab sebuah pertanyaan yang mengagetkan dirinya.


"Apalagi Igit pernah punya pengalaman pahit dari kehidupan papi dulu jadi dia sangat membenci dengan yang namanya penghianatan." perkataan papi saat itu terngiang kembali di telinganya. Degupan jantungnya semakin tidak beraturan.


"Bagaimana Abang bisa tau kalau aku pernah bertemu dengan Renaldi? dan kalau sampai Abang tau kalau aku berbohong padanya sudah pasti dia akan bertambah semakin marah, dia tidak akan percaya dengan ku lagi Bagaimana ini?"


"Katakan!!" suara Sigit lirih penuh penekanan.

__ADS_1


"Aku paling tidak suka ada kebohongan." lanjutnya lagi.


Winda memejamkan matanya. Mendengarkan suaminya yang benar-benar marah padanya saat ini.


"Ti-tiga kali." jawab Winda gugup.


"O." Sigit menatap tajam padanya, terkejut mendengar jawabannya.


"Ternyata kamu bersama laki-laki lain dibelakang ku, disaat aku tidak dirumah begitu? iya?"


"Bu-bukan begitu bang, aku bertemu dengannya secara tidak sengaja. Sama sekali Winda tidak menyangkanya."


"Oh, kebetulan?! seperti kemarin, ada orang-orang yang berdatangan ke rumah yang mengaku sebagai Aldi? iya?!"


"Apa yang sebenarnya terjadi sih?" Ningsih yang berada di dapur hendak berjalan ke meja makan, bertanya-tanya dengan percakapan sepasang suami istri yang samar-samar ia dengar dengan menyebut nama Aldi.


Ia mengingat-ingat nama yang tidak asing ditelinga nya.


"Oh iya, Ningsih ingat." setelah beberapa saat memikirkan nama Aldi, Ningsih teringat sosok laki-laki yang bersama Revan, nama yang sempat ia dengar ketika Revan menyebut nama laki-laki itu di kafe saat itu.


"Aldi? bukannya itu nama temennya mas Revan ya?" Ningsih bergumam didalam dapur. Ia berjalan menuju meja makan melakukan tugasnya membereskan sisa makan malam yang masih tergeletak diatasnya.


"Oalah... mas Sigit marah sama mbak Winda gara-gara itu tho? itu berarti dia sedang cemburu. hihihi." Ningsih cekikikan sendiri sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, ia berjalan mendekati meja makan.


Begitu sampai di meja makan Ningsih menyembunyikan raut wajahnya yang sempat menertawakan anak majikannya.


"Maaf mas, mbak, Ningsih beresin dulu mejanya." ucap Ningsih sambil menatap Sigit dan Winda bergantian.


Sigit meliriknya dengan wajah masam membiarkan tangan Ningsih memunguti piring kotor didepannya.


Winda diam tidak menjawab.


"Bukan begitu bang."


"Asal kamu tahu ya, nama Aldi itu banyak sekali, relasi papi juga ada yang namanya Aldi, tetangga sebelah anaknya juga namanya Aldi, tukang ojek, driver, penjual diluaran sana juga banyak yang namanya Aldi!"


"Temannya mas Revan di kafe waktu itu juga namanya Aldi lho mas." celetuk Ningsih tanpa rasa bersalah menyela kalimat Sigit.


Winda dan Sigit spontan mengalihkan pandangannya pada Ningsih yang menatapnya.


"Apa kamu bilang Sih?" tanya Sigit.


"Iya mas, temennya mas Revan di kafe juga namanya Aldi, wajahnya handsome. Kalau diperhatikan sih ada mirip-miripnya sama mas Revan mas." jelas Ningsih dengan santainya diiringi senyuman kecil.


"Tuh, kamu dengar kan?" Sigit menatap Winda dengan jari telunjuknya menunjuk Ningsih.


"Bahkan, temannya Revan saja juga Aldi namanya."


"Seorang artis pun juga Aldi namanya."


"Apa mereka semua orang yang kamu cari selama ini?"


"Dan sekarang kamu justru sudah berani melangkah jauh dengan menemui Renaldi, laki-laki keparat itu!" kalimat Sigit bertubi-tubi membara melampiaskan amarahnya pada Winda.


Winda semakin putus asa mendengarkan perkataan suaminya, sedangkan Ningsih semakin bingung merasa bersalah sudah memperkeruh suasana anak majikannya.


"Maaf mas, mbak Winda jika Ningsih salah bicaranya."


Winda melihat Ningsih yang merasa bersalah.


"Sudahlah, sekarang cepat ke dapur kamu Sih, dan jangan bilang masalah ini pada siapapun." ucap Winda.


"Iya mbak, permisi." Ningsih segera membawa piring kotor itu ke dapur, berlalu meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Setelah Ningsih pergi, tinggallah mereka berdua. Suasana hening, dua insan saling diam tidak ada suara hanya mata mereka yang masih memandang sekitar tanpa melihat pasangannya.


Sigit beranjak dari duduknya berjalan meninggalkan meja makan.


"Bang." Winda berdiri dan mengejar Sigit.


tangannya meraih tangan suaminya. Ia menatap wajah yang terlihat sedang berusaha meredam amarah.


Sigit menghentikan langkahnya dan melirik tangan Winda yang memang tangannya.


Ada perasaan tidak tega sebenarnya memperlakukan istrinya seperti itu, namun rasa kesal campur cemburu menguasai nafsu amarahnya.


"Biar Winda jelaskan semuanya." Winda berjalan hingga tepat berhadapan dengan Sigit, menatap bola mata yang berusaha menghindari tatapannya.


"Ketika bapak mendapat kabar mas Ibrahim dirumah sakit, kami langsung menuju Jakarta malam itu."


"Winda tidak ada persiapan makanan apapun didalam mobil, Winda meminta bapak untuk berhenti disebuah minimarket."


"Disana, ketika Winda masuk minimarket itu ada dua orang yang sedang berselisih didepan kasir, sehingga Winda mengira mereka adalah pasangan pengantin baru yang menjalani pernikahan mereka dengan keterpaksaan."


"Ternyata Winda salah, mereka bukan suami istri, wanita itu mengolok sikap lelaki itu hingga waktu giliran pembayaran mereka masih rebutan dan akhirnya wanita itu yang didulukan, dan tidak tau kenapa laki-laki itu juga menyuruh petugas kasir menghitung belanjaan Winda kemudian. Setelah itu Winda langsung pergi menuju mobil bapak."


Sigit terdiam mendengar cerita istrinya, sesekali pandangannya dibuang disekelilingnya dengan menghempaskan udara di sembarangan arah.


"Tanpa Winda sadari ternyata tas kecil Winda tertinggal diatas meja kasir dan dibawa laki-laki itu."


"Suatu hari ketika Winda merindukan Abang, Winda ingin sekali menikmati minuman di kafe teratai, dan disitulah awal pertemuan Winda dengannya. Dan dia bilang jika dia telah membawa barang bawaan Winda yang ketinggalan di Minimarket malam itu."


"Dia meminta Winda untuk menemuinya lagi di kafe teratai keesokan harinya. Dan diapun datang memberikan tas Winda yang tertinggal di minimarket."


"Dan yang ke empat kalinya dia memintaku untuk mentraktirnya karena sudah mengembalikan tas itu pada Winda lagi."


"Winda sungguh tidak mengenalnya sebelumnya."


"Itu berarti kamu sudah lebih dari tiga kali menemuinya." mata Sigit menatap manik hitam didepannya.


"Percayalah pada Winda bang, demi Tuhan Winda tidak tau kalau dia adalah Renaldi."


"Winda baru tau kalau dia itu adalah Renaldi ketika dia mengatakan jika dia pernah bekerja di perusahaan pusat WP."


"Saat itulah aku baru tau kalau dia adalah Renaldi kakaknya Revan, seseorang yang pernah Abang ceritakan pada Winda dulu" jelas Winda meyakinkan.


"Setelah di kafe teratai itu Winda tidak bertemu lagi dengannya."


"Percayalah, Winda tidak akan bisa berbohong sama Abang, Winda tidak akan berbuat sesuatu dengan laki-laki lain dibelakang Abang." Winda menyandarkan kepalanya di dada bidang Sigit, memeluk tubuh kekar suaminya dengan erat.


"Hanya Abang satu-satunya laki-laki yang Winda sayang, dan Winda cintai."


"Sigit Andra Winata."


"Satu-satunya nama yang sudah berhasil hinggap dan bersemayam dalam palung hati Winda."


"Maafkan Winda jika sudah membuat Abang marah." ucapan Winda lirih semakin mengeratkan pelukannya.


.


.


.


.


Bersambung 🤗🤗

__ADS_1


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2