
"Besok papi berangkat ke Singapura sama mami." kata papi setelah meminum air putih dari gelas didepannya setelah menyelesaikan sarapannya, ia membuka pembicaraan yang serius mengenai perusahaannya.
Sigit menggeser piring didepannya dan mengangkat kedua tangannya saling bertautan diatas meja.
"Apa papi lama disananya? mengingat padatnya rincian jadwal yang diberikan Gunawan pada papi kemarin." tanya Sigit memastikan papinya.
Laki-laki didepannya melihatnya dengan menghembuskan nafasnya perlahan.
"Yah... paling tidak sebulan dua bulan kalau lancar Git. Makanya mami harus nemenin papi disana." jawab papi tersenyum seraya menoleh pada wanita disampingnya mengangguki perkataannya.
"Kalau begitu ngapain Igit honeymoon segala Pi, kalau papi sama mami pergi?"
"Perusahaan cabang biar dihandle Firman dulu." jawab papi.
"Bukan itu maksud Igit Pi."
"Terus?" papi penasaran mendengar jawaban putranya.
"Ya... kalau papi mami pergi, Igit sama Winda juga pergi, siapa yang ngontrol Revan kalau dia sendirian dirumah? apa papi tidak hawatir jika terjadi sesuatu selama tidak ada pengawasan dari orang yang lebih tua darinya? bagaimanapun Revan tidak boleh sendirian Pi." jelas Sigit mengungkapkan alasannya menolak rencana papinya, lalu melanjutkan kalimatnya. "Biar kami dirumah saja, urusan honeymoon kami gampang, kami bisa menggantinya nanti lain waktu."
Papi terdiam sejenak seolah sedang memikirkan perkataan Sigit memang ada benarnya, ia menganggukkan kepalanya. Sementara mami dan Winda hanya menjadi pendengar yang sesekali menjawab pertanyaan dari suaminya dengan anggukan dan cukup kata "Ya" saja.
"Baiklah kalau begitu terserah kalian saja, atur bagaimana baiknya, papi tinggal ikut kalau itu yang terbaik untuk kalian."
Sigit menganggukkan kepalanya, ia sudah menyelesaikan sarapannya bersama Winda, lalu mereka berpamitan berangkat kekantor lebih dulu dan segera berlalu dari pandangan kedua orangtuanya memasuki pintu samping. Sigit berjalan duluan menuju mobilnya yang sudah disiapkan Riyan di parkiran mobil.
Winda berjalan menuju kamarnya menaiki tangga mengambil tas kerjanya. Lalu berjalan menuju suaminya yang sudah menunggunya didalam mobil.
Sigit memperhatikan Winda memakai seatbeltnya, matanya tidak berhenti menatap istrinya yang terlihat makin hari makin cantik dan mempesona. Memang benar apa yang pernah ia dengar saat menyimak Khutbah Jum'ah beberapa waktu lalu, diantara isi khutbah nya yaitu, Seorang suami bertanggung jawab mutlak pada istrinya sejak kalimat qobul terucap dari mulut sisuami setelah si wali pengantin perempuan mengikrarkan ijab pada sisuami. Saat itulah semua beban istri berada dipundaknya, dan sebaik-baik nya wanita adalah istri yang shalihah. Yaitu, sebaik-baiknya perhiasan dunia. Bilamana hati suami sedang kalut sepulang kerja, sang istri menyambut nya dengan senyuman dan perhatiannya maka seketika hati si suami akan tenang. Bila dipandang wajah istrinya selalu teduh penuh senyum dibibirnya menenteramkan, maka bisa membuat suaminya senang. Itulah istri yang shalihah. Dan semua itu tidak lepas dari bagaimana cara si suami memberikan pendidikan agama pada istrinya.
Sekarang Sigit menyadari tindakan Winda dari hal sepele menyediakan secangkir kopi setiap pagi, baju kerjanya, melayaninya dimeja makan dan semua keperluannya disiapkan sepenuh hati, belum pernah ia mendengar kalimat Winda mengeluh melayani dirinya selama ini. Bahkan ia sangat mensyukurinya karena Winda selalu bersamanya, menjalankan tugasnya sebagai istri yang baik, walaupun diawal pernikahan mereka sikapnya dingin terhadap Winda.
Winda terheran melihat suaminya yang masih memperhatikan dirinya hingga selesai memasang seatbeltnya, keningnya bertautan kemudian memeriksa penampilannya di spion yang berada didepannya.
"Bang? hey? ada yang salah dengan penampilan Winda?" tanya Winda seraya mengayunkan tangan kanannya didepan wajah Sigit.
Sigit tersadar mendapati tangan Winda didepan mata, ia tersenyum menatap wajah istrinya, tangan kirinya meraih tangan Winda dan mencium punggung tangannya. Winda terkejut melihat sikap suaminya yang tiba-tiba romantis.
"Terimakasih sayang..."
Winda makin terkejut mendengar ucapan suaminya, ia benar-benar heran dibuatnya. Heran dengan sikap Sigit yang serba tiba-tiba terhadapnya, tiba-tiba jadi romantis, tiba-tiba pendiam, tiba-tiba perhatian, tiba-tiba cuek, tiba-tiba marah, tiba-tiba serius dan sikap tiba-tiba lainnya.
"Terimakasih?"
"Hm."
"Buat apa?"
Winda menatap kedua bola mata Sigit yang terdiam dengan senyum simetri dibibirnya.
"Jadi tulang rusuk Abang." jawab Sigit lirih.
Winda menghela nafas, tangannya masih dalam genggaman Sigit.
"Kirain..."
"Apa?"
"kirain... Abang tadi mau bilang... Winda jadi tulang punggung." jawab Winda menggoda seraya mengalihkan wajahnya dan melirik lelaki disampingnya.
"Dasar ya..." Sahut Sigit sambil mencubit kecil pucuk hidung Winda.
Mereka tertawa bersama dengan tangan Sigit sesekali mencolek pipi Winda, setelah puas bercanda beberapa saat didalam mobil Sigit mulai mengendarai mobilnya keluar dari halaman luas rumah papi Winata dan merayap dijalan raya yang sudah padat dengan beraneka ragam kendaraan.
❄️❄️❄️
Sesampai dikantor cabang WP.
__ADS_1
Winda berjalan jauh dibelakang Sigit memasuki gedung karena menerima panggilan dari seseorang di androidnya, sehingga mempersilahkan Sigit berjalan lebih dulu darinya memasuki gedung cabang. Beberapa karyawan menyambutnya dengan ramah. Winda bersikap seperti hari-hari biasanya walaupun para karyawan masih ada rasa canggung menyambutnya sebagai istri atasannya.
"Selamat pagi mbak..." sapa Winda pada mereka yang ada rasa takut menyapanya terlebih dulu.
"Selamat pagi Bu..."
"Selamat pagi Bu..."
"Selamat pagi Bu..." suara mereka bergantian menjawab sapaannya dengan menundukkan kepala mereka.
"Kenapa mereka jadi aneh begini? ini pasti karena ulah Abang kemarin. Hhhh... jadi beda kan sikap mereka pada Winda... jadi seperti ada penyekat deh kalau begini... Aku harus mengembalikan suasana keakraban dengan mereka seperti dulu lagi. Mereka tetap menghormatiku sebagai teman bukan istri atasannya yang terkesan horor bila berdekatan denganku. hiiiii...." Winda bergidik ngeri membayangkan dirinya yang tiba-tiba berubah ngeri ketika hatinya berkata horor.
Menurut Winda, kata horor dalam kasusnya mencakup seseorang yang awalnya orang biasa mendadak jadi istri bos, sehingga posisinya sebagai istri atasan akan merubah karakternya pula yang menjadi galak, sensitif dan lebih mementingkan status seseorang sebagai teman.
"Hei... sejak kapan aku jadi ibu kalian? panggil saja aku mbak seperti biasanya." suara Winda seperti biasanya yang tak lepas dari kata sopan dan lembut tutur katanya.
Beberapa karyawan yang berada disana tertegun mendengarnya, salah satu dari mereka memberanikan diri menjawab pertanyaan Winda.
"Ma-maaf Bu Winda, anda adalah istri dari atasan kami, jadi sudah seharusnya kami memberikan rasa hormat kami kepada anda." jawab salah seorang resepsionis yang pernah ia temui didalam ruangan suaminya saat itu.
"I-iya benar apa yang dikatakan Erna Bu." suara wanita yang bertuliskan huruf Siska dari name tag didadanya menguatkan perkataan temannya yang diikuti anggukan kepala karyawan yang lain, sebagai tanda mengiyakan perkataan wanita didepannya.
"Hm... begitu ya?"
jawab Winda ahirnya, ia memiliki ide cemerlang ingin mengerjai mereka. Ia meliat suaminya tersenyum masih menunggunya didepan lift ikut mendengarkan percakapannya dengan teman-temannya.
"Baiklah kalau begitu, biar kalian dipanggil suami saya nanti ya."
Winda mengedipkan matanya kepada Sigit sebagai tanda meminta bantuannya, Sigit mengetahui kode yang diberikan istrinya padanya, ia berjalan kearah Winda dan karyawannya.
"Jangan Bu. Kami hanya..."
"Ehm... ada apa ini?" kata Sigit seakan tidak mengerti apa yang terjadi.
Sementara para karyawan terkejut melihat atasannya sudah berada didepannya, mereka tidak mengira jika Sigit masih berada dilantai dasar, karena setahu mereka Sigit sudah berjalan duluan sedari tadi.
"Ma-maaf pak, kami tidak bermaksud memban..."
Winda tersenyum pada teman-temannya, ia melakukan hal itu hanya ingin keakraban diantara mereka dengannya tidak pupus begitu saja hanya karena statusnya sekarang sudah berbeda dari sebelumnya. Sementara teman-temannya hanya mengangguk dan mengiyakannya.
"Ba-baik pak, mbak Winda." jawab Erna dan Siska serempak mewakili karyawan yang lain.
Winda tersenyum pada mereka.
"Baiklah kalau begitu silahkan lanjutkan kerjaan kalian dengan baik." titah Sigit pada karyawan nya dengan nada tegas sebagai atasannya.
Sigit berlalu menuju lift kembali dengan tangan menggandeng tangan Winda.
Sigit tersenyum sedikit mengejek Winda begitu mereka berada didalam lift hanya berdua.
"Nanti kerjanya diruangan Abang saja."
Winda menoleh melihat wajah datar suaminya yang menyuruhnya seenak keinginannya.
"Apa? diruangan abang?"
"Hm."
"Ya tidak bisa dong bang... Winda disini kerja, bukan mau pindah pacaran Abang... helloooo."
Winda menolak keinginan suaminya, ia hanya ingin bersikap sportif sesuai kaedahnya sebagai karyawan di perusahaan cabang WP seperti hari-hari biasanya.
"Kata siapa?"
"Kataku lah, Winda disini punya atasan tersendiri. Jadi, Winda juga harus mematuhinya, dan itupun sudah ada kode etiknya Abang... jadi... Winda tidak bisa menolak tugas dari pak Firman dan mbak Dian." jawab Winda panjang lebar.
Sigit terdiam sejenak, wajahnya terlihat tenang seakan menyembunyikan sesuatu, lalu tersenyum seraya melirik istrinya yang merasa kesal. Perlahan ia mendekati wajah yang sekarang terlihat sedikit cabi pipinya dibandingkan dulu.
__ADS_1
Cup.
Secepat kilat bibir Sigit mengecup pipi Winda yang spontan terkejut merasakan kecupan datang begitu saja.
"Abang.... ini dikantor ya. Bukan dirumah, jadi jangan macem-macem."
Winda mengusap pipinya bekas kecupan suaminya, sedangkan Sigit tersenyum membiarkan istrinya mengomeli perbuatannya.
Winda terdiam ketika pintu lift terbuka, ia keluar bersama suaminya dan berjalan menuju ruangan kerja mereka. Seperti dilantai dasar semua karyawan menyapa mereka dengan sapaan yang sama. Ia berjalan menuju meja kerjanya disamping Dian. Sementara Sigit langsung memasuki ruangan husus kerjanya yang berdinding kaca.
"Selamat pagi Win? ups." sapa Dian ketika berhadapan dengan Winda, ia lupa siapa Winda sekarang. Dian belum terbiasa menyebut panggilan terbaru untuk Winda. Ia menutup mulutnya ketika baru menyadarinya.
Winda hanya tersenyum melihat tingkah wanita didepannya.
"Sudah, tidak usah sungkan lagi panggil saja seperti biasanya mbak."
"Ya sudah baiklah kalau begitu, em... tolong sekarang kamu print out berkas yang barusan saya kirim ya." kata Dian padanya, yang diangguki Winda.
"Baik mbak siap laksanakan tugas." jawab Winda.
Tuut.... tuuuut....
Belum sempat Winda duduk di kursinya terdengar suara telepon interaktif dimeja Dian.
Dian segera mengangkat gagang telepon didepannya dan meninggalkan Winda.
"Iya pak hallo..."
jawab Dian pada lawan bicaranya didalam telepon, tidak lama setelah terdiam mendengarkan suara dari lawan bicaranya kemudian ia melihat kearah Firman dan Winda.
"Baik pak akan saya sampaikan." jawab Dian kembali dan menutup gagang teleponnya.
"Win..."
panggil Dian dari balik meja kerjanya.
Winda mengalihkan pandangannya dari laptopnya diatas meja kerjanya pada Dian disampingnya.
"Iya mbak."
"Kamu kerjakan tugasnya diruangan pak bos saja sekarang, sudah ditunggu disana."
"Tapi mbak..." Winda berusaha menyanggah perintah Dian, ia berdiri dari duduknya.
"Ya... apa boleh buat, aku cuma ikutin instruksi dari atasan saja. Iya kan pak Firman?"
sahut Dian mencari dukungan atasannya sambil mengedikkan pundaknya.
"Hm." jawab Firman dari balik sekat meja kerjanya didepan Winda dan Dian.
"Udah kerjakan saja." lanjutnya Firman lagi.
Winda membereskan lagi tasnya dan berjalan diruangan berdinding kaca didepannya.
"Bisa-bisanya Abang seperti ini... mencari kesempatan teruuuuus...."
Winda menggerutu.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
__ADS_1
ayo kak hadiah dan votenya untuk Abang Igit dan Winda masih ditunggu ya biar semangat lagi up-nya.
Saranghe...💞💞