Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 69


__ADS_3

"Sial! Kenapa jadinya seperti ini?! bukannya dia yang dapet surprise justru gue yang malu! bener-bener sial, sial, sial!" Anita kesal meluapkan emosinya dengan menggebrak meja saat ruangan mulai sepi karyawan. Dia mengeraskan rahang menahan amarahnya, lirikan matanya tajam bagaikan elang mengincar mangsa yang ada disekitarnya.


"Ini tidak bisa dibiarkan. Reputasi gue bisa hancur di perusahaan Duta, gue harus bicara sama Sigit sekarang."


Anita berjalan keluar dari ruangan yang hanya tinggal beberapa orang saja yang membersihkan sisa-sisa dari acara surprise party yang baru saja selesai.


❄️❄️❄️


Sigit melihat Winda tertidur diatas ranjangnya, terlihat disana wajah Winda yang kecapekan, terlalu lelap jika harus dibangunkan. Sigit melihat jam tangannya yang seharusnya mereka sudah berada dalam perjalanan menuju hotel, dia berjalan mendekati ranjang duduk disamping Winda.


Sigit meraih tangan Winda dan membelainya perlahan, mengamati cincin di jari tengah yang ia sematkan beberapa waktu lalu, ia mengangkat tangan Winda mendekati wajahnya seraya mengungkapkan perasaannya dengan lirih.


"Winda... bidadari Abang, tidak akan Abang biarkan orang lain menghinamu, siapapun itu, tidak terkecuali diri Abang sendiri."


"Cupp."


tersungging senyum tipis dipipi Sigit setelah melepaskan kecupan bibirnya di punggung tangan Winda.


Setelah puas memperhatikan wajah Winda yang begitu terlelap, Sigit membangunkannya dengan suara lirih, seraya mengalihkan tangannya memegang jilbab Winda setelah meletakkan tangan Winda diatas dadanya seperti semula, Sigit memiringkan wajahnya tepat diatas wajah Winda.


"Win... bangun."


Tidak lama setelah Sigit membangunkan Winda, terdengar suara Winda menyahutnya.


"Hm?"


"Bangun, sudah waktunya kita berangkat."


Winda membuka matanya perlahan, terlihat buram wajah Sigit didepannya. Dia mengusap matanya untuk memperjelas pandangannya.


"Capek ya?" tanya Sigit ketika Winda beringsut dari tidurnya masih terlihat belum sadar sepenuhnya.


"Winda ketiduran ya bang?"


Winda terlihat bingung memperhatikan keberadaannya ditempat yang belum pernah ia tempati.


"Ini dimana bang? kok bisa didalam kamar? bukannya Winda tadi selesai rapat langsung diruangan Abang?" lanjut pertanyaan Winda setelah mengingat kejadian sebelumnya.


Melihat kebingungan istrinya, Sigit menjelaskan jika Winda berada didalam kamar, tepatnya didalam kamar istirahat ketika ia melepaskan rasa lelah ditengah kesibukannya selama dikantor.


Sigit beranjak dari duduknya setelah Winda meminta izin kekamar mandi dan mempersilahkan Sigit menunggunya di ruang kerja.


Sigit membuka pintu keluar dari kamar pribadinya, betapa terkejutnya ia ketika mendapati Anita berada diruang kerjanya, ia merasa jika Anita baru saja masuk ruangannya kalau dilihat dari posisi Anita yang berada didepan Pintu masih memegang grandle pintu. Anita menatap Sigit yang baru keluar dari kamarnya tanpa Winda, ia memperhatikan Sigit yang terhenti langkahnya saat melihat keberadaannya.

__ADS_1


"Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dulu?"


"Gue tidak terima dengan keputusan lu!"


Mendengar jawaban Anita, Sigit terdiam sejenak seolah-olah memikirkan sesuatu seraya menganggukkan kepalanya, lalu tersenyum kecut melihat wajah Anita.


"Lalu? apa yang kamu inginkan setelah berbuat yang memalukan dengan jalan seperti itu?"


Anita tersenyum, sebelah bibirnya terangkat, kedua bola matanya menatap tajam Sigit yang mulai berjalan lagi dengan santai menuju sofa.


"Dimana akal sehatmu saat itu nona Anita yang terhormat? apa sudah terpikirkan apa akibat dari perbuatan itu?"


Sigit menatap Anita yang sudah tidak berjarak darinya dengan senyum mengejek, Anita meliriknya dengan kesal menahan amarah, sepintas ada rencana gemilang untuk menjawab pertanyaan Sigit saat mendengar suara pintu dibuka dari dalam, ia tahu bahwa itu adalah Winda.


Anita menarik tubuh Sigit tepat didepannya secara tiba-tiba sehingga membuat keseimbangan Sigit tidak terkendali lagi. Tubuh Sigit menindih tubuh Anita yang berada persis dibawanya, dengan mata saling menatap dan nyaris bertemu kedua bibir mereka, tanpa disadari Sigit, Winda yang baru saja keluar dari pintu kamar terkejut melihat pemandangan didepannya. Dua manusia yang berbeda jenis kelamin dan statusnya, terlihat dengan pose yang tidak pantas seolah sedang bermesraan diatas sofa, dengan posisi Sigit berada diatas tubuh Anita dan memeluk tubuh Anita.


"Apa yang mereka lakukan disini? benarkah... benarkah penglihatanku saat ini? abang? Anita?"


Winda terkejut melihat keromantisan suaminya bersama wanita yang pernah bersama dimasa lalu mereka.


"Tidak tidak, aku tidak boleh memperlihatkan rasa cemburuku didepan mereka, aku tidak boleh menangis, aku tidak boleh terlihat lemah dengan melihat pemandangan remahan seperti ini. Aku harus kuat!! aku tidak seperti istri-istri yang lain, aku adalah Winda, Winda Zilfana Idris."


Winda menutupi rasa terkejutnya dan rasa cemburunya yang membakar hatinya, ingin rasanya menangis dan memaki mereka seperti layaknya seorang istri yang memergoki suaminya dengan wanita lain. Namun dia mempunyai pikiran dan cara yang berbeda menghadapi ujian dalam biduk rumah tangganya.


"Gila lu ya! benar-benar gila!!"


"Hmm." sahut Anita seraya melirik Winda yang berjalan menuju nakas disamping sofa meraih gelas dan minuman.


Sigit menghempaskan kasar tubuh Anita dari pelukannya lalu berdiri meraupkan kedua tangan diwajahnya setelah mengetahui Winda dibelakangnya yang sudah membawa minuman ditangannya.


"Ya Tuhan.... apa lagi ini!"


Seloroh Sigit dengan wajah penuh kemarahan menyugar kasar rambutnya.


"Ada tamu rupanya, silahkan diminum mbak Anita." Winda tidak memperhatikan suaminya yang berlalu meninggalkan sofa dan duduk di kursi panasnya. Sementara Anita tersenyum licik kemenangan memperhatikan raut wajah Winda yang datar seolah tidak terjadi apa-apa.


"Terimakasih." jawab Anita masih dengan senyum kemenangan.


"Suruh wanita itu keluar dari ruangan ini sekarang!!" tiba-tiba suara Sigit bagaikan petir menyambar terdengar didalam ruangan dengan tangan terkepal menggebrak meja kerjanya, sontak pandangan Winda teralihkan pada pemilik suara itu.


❄️❄️❄️


Beberapa waktu sudah berlalu setelah perang argumen mereka, kini Winda dan Sigit sudah dalam perjalanan menuju hotel. Mereka menikmati perjalanan dengan suasana hati yang berlawanan dari rencana sebelumnya, yang rencana Sigit ingin menikmati perjalanan penuh keromantisan didalam mobil hanya berduaan bersama Winda, menggenggam tangan Winda sambil mengendalikan kemudi dan menggombal kata-kata romantisnya. Namun kenyataannya justru sebaliknya, mereka saling diam, suasana hening selama perjalanan dengan Sigit menahan amarahnya pada Winda yang telah memberikan kesempatan sekali lagi pada Anita.

__ADS_1


Flash back.


"Saya teringat kembali kisah nabi Yusuf, seorang pemuda yang sangat tampan, luhur budi pekertinya serta jujur. Hingga suatu hari karena ketampanannya seorang Zulaikha istri dari qithfiru Aziz seorang menteri keuangan Mesir waktu itu, tertarik padanya dan membuat tipu daya agar tercapai keinginannya setelah menggoda nabi Yusuf ketika sang suami tidak berada di rumah, dengan dalih nabi Yusuf telah berani menggodanya selama tidak ada suaminya dirumah ketika dirinya telah kepergok suaminya sedang menggoda nabi Yusuf, hingga akhirnya terbuktilah nabi Yusuf tidak bersalah karena ternyata baju nabi Yusuf terkoyak dibagian belakang."


Sigit dan Anita terdiam mendengarkan Winda, sama sekali tidak terpikir jika Winda bisa setenang itu setelah melihat adegan mereka didepannya.


"Dari kisah nabi Yusuf itulah saya berusaha belajar bagaimana pentingnya menjaga harga diri saya sebagai wanita. Pun dengan mbak, semoga bisa diambil hikmahnya cerita Zulaikha tersebut. Sesama wanita saya sekedar mengingatkan saja jika mbak lupa." ucap Winda.


"Saya tahu, jika suami saya tidak sengaja mbak Anita, ada niatan lain yang terselubung dari hati anda." masih dengan raut wajah yang tenang seraya menyeruput minuman dari gelas ditangannya, mengalihkan pandangan dari tatapannya pada Anita. Winda to the poin menanyakan keinginan Anita berada di ruangan Sigit saat ini.


"Katakanlah, akan saya bantu jika itu memang terbaik untuk saya, suami saya, dan... anda tentunya."


"Apa yang kamu katakan Win..."suara Sigit menyela pertanyaan Winda yang belum dijawab Anita.


Melihat Winda hanya memejamkan mata ketika menanggapi pertanyaan Sigit, membuat Anita terheran melihat sikap Winda.


"Bukankah seharusnya dia marah padaku? kenapa dia setenang ini? apakah sebaik ini hatimu, sehingga Sigit begitu cepat melupakan Camelia dan mencintaimu?" batin Anita terselip rasa terharu entah simpati pada wanita didepannya.


"Baiklah kalau begitu, tidak muluk-muluk keinginan saya."


"Hm katakan saja, apa itu." tegas Winda.


"Winda! sudah hentikan! kamu tidak akan bisa merubah keputusan itu." Sigit berjalan mendekati Winda tidak terima dengan perkataan yang baru didengarnya.


"Kenapa sorot mata itu tidak asing bagiku? mata yang sepertinya sudah ku kenal sebelumnya, padahal aku hanya bertemu dengannya baru beberapa kali ini, siapa sebenarnya wanita ini?" Anita menatap bola mata Winda yang tiba-tiba teduh setelah melihatnya tersenyum.


"Katakan mbak Anita, apa itu."


"Sederhana saja, aku hanya ingin Sigit mencabut pembatalan kerjasama yang sudah disepakati sebelumnya dengan perusahaan Duta Perkasa."


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


sabar dulu ya akak2ku sayang... masih diuji nih hati adek...


Saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2