
"Sudah? selesai? "
Winda memperhatikan tangan suaminya yang sudah penuh paperbag belanjaan.
Sigit masih diam mengacuhkan pertanyaan istrinya, seolah-olah mengingat sesuatu yang masih dibutuhkan Winda.
Setelah Sigit menerima kartu kreditnya kembali dari kasir, dia berjalan menuju mobilnya, memasukkan belanjaan didalam bagasi mobil.
"Abis ini mau kemana lagi? " Winda masih mengekor dibelakang suaminya, seperti anak kecil yang membuntuti ibunya.
"Makan dulu! sekalian menunggu maghrib."
Mereka masuk didalam mobil, Sigit melirik Winda yang kesulitan memasang seatbeltnya, tangan Sigit menarik seatbelt dan memasangkannya.
Mata Winda menatap suaminya,
entah mengapa secara tiba-tiba hatinya merasa berdebar-debar ketika mata mereka bertemu.
Klik.
"Sudah."
Suasana terasa kaku ketika Sigit beradu pandang dengan istrinya, dia segera mengalihkan pandangan, dan mulai mengemudikan mobilnya.
Ada perasaan gugup dihati Winda, dia segera mengalihkan pandangannya ke kiri jalan.
"Haduh Win... jangan ngarep kamu Win, ingat dia itu yang selalu mengejekmu, tidak mungkin dia ada perasaan sama kamu, memang sih dia suamimu tapi itu karena kesalah fahaman, bukan karena rasa cinta. sadar Win sadar! "
Celetukan Winda dalam hati kecilnya, mengumpat dirinya sendiri, tanpa dia sadari tangannya memukul kepalanya sendiri.
Sigit memperhatikan tangan istrinya yang memukul-mukul kepalanya sendiri dengan melamun.
"Kenapa kepala lu Win? Lu pusing? "
"Hm? " Winda menoleh kearah Sigit.
"Lu pusing? "
Sigit mengulang pertanyaannya lagi.
"Iya sedikit! " jawab Winda dengan mengatupkan jari telunjuk dan ibu jarinya.
Sigit menambah kecepatan mobilnya.
"Sebentar lagi sudah sampai di balada cafe ."
"Hm."
Sigit hanya melirik istrinya yang masih terdiam memperhatikan jalanan semakin ramai disertai rintik-rintik hujan, dia merasa heran dengan kelakuan Winda.
tangannya memutar tombol radio untuk mengalihkan suasana yang hening.
"Selamat sore genks, minggu sore yang syahdu ini disertai gerimis seksi menambah keromantisan sore ini..."
Belum selesai penyiar radio menggombal, jari-jari sigit memindah chanel diradionya.
"Rahasia mendapatkan istri shalihah...Istri shalihah itu tidak datang dengan usahamu, namun ia merupakan rezeki yang didatangkan kepada orang yang bertakwa kepada Tuhannya. seperti...."
Sigit melirik istrinya yang masih melamun memandang rintik-rintik hujan, jari-jarinya kembali memindah chanel radionya.
"Perhatikan kata bijak ini ya pendengar setia, Suami adalah tempat terbaik untuk bercerita apa saja, bahkan rahasia kita..."
Mata Winda melirik jari Sigit memencet tombol radio lagi
"Berbagi nasihat. keutamaan menikah. seorang pria tidak akan sempurna keadaannya
dan tidak akan tentram kehidupannya kecuali dengan istri yang shalihah, dan seorang wanita tidak akan sempurna keadaannya dan tidak akan tentram kehidupannya kecuali dengan suami yang shalih"
"Ya tuhan.... kenapa siarannya bisa sama semua...! "
lirih Sigit sambil jarinya memencet tombol radionya lagi, berharap ada siaran yang lebih menarik.
Winda masih memperhatihan jalanan sesekali melirik suaminya yang sudah kesal dengan siaran radio yg diputarnya sendiri.
__ADS_1
"Coba sekali lagi chanel yang lain."
ucap Sigit, masih dengan jari memencet tombol.
"Para pendengar setia, bagi anda pasangan baru, silahkan berdoa seperti doanya Nabi ibrahim as, Ya Allah karuniakanlah kami seorang anak."
Sigit terkejut, mukanya seketika menoleh kearah Winda, Windapun tersentak mendengarnya, mereka saling beradu pandang dan bengong.
"Apa-apaan sih! " Sigit merasa jengkel dengan siaran radio sore ini, tangannya beralih ke tipe recorder.
Klik
Cinta... apakah itu cinta...
bertanya... tanpa sengaja...
cinta berkorban jiwa...
indah... harum bermakna
he... ha...
hmm... ho... itukah cinta
Klik
hhhhhh
Sigit memencet tombol off pada tipenya, dia merasa anah hari ini.
Suasana kembali hening hingga Mobil mereka sudah sampai diparkiran cafe, Sigit segera keluar dari mobilnya dan diikuti Winda dibelakangnya.
"Ayo buruan Win! gerimisnya semakin deras."
"Iya."
Mereka memasuki kafe yang sudah padat pengunjung. Sigit memilih kursi yang berada dipinggir jendela sambil menikmati tetesan hujan gerimis semakin deras.
Tidak memerlukan waktu yang lama pesanan mereka sudah tersaji diatas mejanya.
Winda tidak menyia-nyiakan waktunya, dia langsung menyantap pesanan suaminya. melihat cara Winda menikmati pesanannya, Sigit tersenyum merasa telah memberikan kebahagian untuk istrinya.
Sigit pun menikmati hidangan didepannya.
Samar-samar terdengar suara gitar dan piano dari arah panggung cafe, ada dua orang yang berdiri diatas panggung dan seorang penyanyi kafe.
"Baiklah selamat sore untuk pengunjung yang baru datang, minggu sore yang penuh romantis ini disertai gerimis-gerimis manja. akan kami persembahkan lagu kedua yang syahdu untuk sepasang kekasih, semoga hubungan yang sudah terjalin tetap romantis langgeng hingga ahir hayat. Aamiin.
baiklah langsung saja kami persembahkan dan selamat menikmati."
Cinta... apakah itu cinta...
bertanya... tanpa sengaja...
cinta berkorban jiwa...
indah... harum bermakna
he... ha...
hmm... ho... itukah cinta
cinta... oh cinta suci
janganlah kau nodai
merintah diri sendiri
menangis diruang sunyi
perasaan yang tanpa kabar
tak kan tau kapan dia datang
__ADS_1
mulianya hati jernihkan pikiran siapkan iman kepada tuhan
bila kau rindu
pikiranmu terganggu
bilau kau datang
siapkan tuk berkorban
cinta yang suci dunia kan abadi
bila berhianat ingatlah diri
Suara penyanyi kafe benar-benar menyihir para pengunjung, dia menghayati lirik lagunya. diiringi alunan musik membuat penonton terbawa suasana.
Sigit mulai menyesap segelas coffelate didepannya. matanya memperhatikan Winda yang menikmati lagu yang dibawakan penyanyi kafe, jari tangan Winda mengaduk-ngaduk isi gelas pesananya.
Hhhhhhhhhhh
Sigit menghela nafas panjang.
"kenapa dengan hari ini? gak dimobil gak dicafe semuanya tentang romantis! romantis! apa mereka lagi menyindir keadaan gue? menertawakan gue kalau gue tidak romantis? "
Sigit menggerutu didalam hatinya, wajahnya sedikit ditekuk. terheran-heran merasakan hari ini benar-benar aneh baginya.
"Git! " suara Winda menyadarkan lamunannya kembali, matanya tertuju kebibir istrinya.
"Hm."
ucap Sigit masih memperhatikan bibir istrinya yang belepotan mozzarela.
"Melanjutkan pembicaraan tadi didalam mobil, mengenai..."
belum selesai Winda bicara, tangan Sigit sudah membersihkan sisa mozzarela dibibir Winda dengan tissue ditangannya.
Winda tidak berkedip menatap netra Sigit yang tidak seperti biasanya.
Mereka saling pandang beberapa saat, hati Winda berdetak semakin kencang.
"Git! maaf."
Begitu tersadar, Winda segera mengalihkan wajahnya kepanggung kafe. Sigit gelagapan ketika ia tersadar dari apa yang telah dia lakukan terhadap Winda.
"Itu tadi ada yang tersisa. makan saja masih kayak anak kecil! "
sergah Sigit menghilangkan rasa kikuknya. Winda membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan Sigit barusan.
"Apa! masih pusing? " ucap Sigit mengalihkan suasana.
Winda hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya sudah. ayo kita cabut sekarang! "
Sigit sudah berdiri beranjak dari kursinya. Winda hanya membuntutinya menuju kasir.
Setelah membayar nota bon dikasir, mereka berjalan dibawah gerimis menuju mobil.
"Mau kemana lagi sekarang? " tanya Winda setelah masuk didalam mobil
"Seatbeltnya dipasang dulu! " ucap Sigit mengingatkan Winda. tangannya sudah siap memutar kemudi mobil.
"Iya! " jawab Winda
Sigit memperhatikan tangan Winda yang sudah bisa memasang seatbelt dari spion diatasnya.
"Sudah! " kata Winda dengan tersenyum menoleh kearah Sigit, telah berhasil memasang sendiri seatbeltnya tanpa bantuan suaminya.
"Waktunya masih cukup untuk sampai ditujuan sebelum maghrib." Sigit melihat jam dipergelangan tangannya. Winda terdiam malas bertanya, kalaupun bertanya ujungnya pasti tidak akan dijawab oleh Sigit.
Mobil Sigit meluncur kejalan raya.
jangan lupa dukung author deng vote like nya ya...
__ADS_1