Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 45


__ADS_3

Tepat pukul setengah lima Winda terbangun ketika merasakan tetesan air diwajahnya, dia mengerjapkan matanya kemudian duduk diatas ranjang.


Alangkah terkejutnya dia saat melihat postur tubuh seseorang didepannya sedang membelakanginya menghadap kaca rias dengan mengenakan kaos abu bercelana hitam panjang sedang menyisir rambutnya.


"Kenapa aku selalu melihat pemuda ini? siapa dia sebenarnya? dia selalu ada dimataku, apa aku sedang mimpi? bukankah aku tadi sudah bangun? tapi kenapa ini begitu jelas seakan nyata."


plak plak plak.


Winda bergumam sendiri sambil mengucek matanya dan memukul kecil pipinya, hingga dia merasa kesakitan.


Sigit yang baru saja menyisir rambutnya begitu dia selesai mandi dan mengenakan kaos abu-abu terkejut melihat tingkah Winda dari kaca didepannya sedang memukuli pipinya, dia membalikkan tubuhnya menghadap Winda lalu berjalan mendekati ranjang dimana Winda terbelalak menatapnya.


"Apa yang kamu lakukan Win? kenapa kamu memukul pipimu sendiri? ada apa?" tanya Sigit pada Winda yang terlihat bingung.


"Sigit... aku... "


"Iya kenapa Win?"


"Apa aku masih bermimpi?"


"Tidak, kamu sudah terbangun sekarang, sudah sana cepat ambil air wudhu, ayo kita shalat subuh."


"Tapi... kenapa kamu ada disini? apa kamu semalaman tidur disini juga?"


"Ya iyalah Win inikan kamarku..."


"Hah? beneran tidur disini? kamu gak macem-macem kan?"


"Aku cuma satu macem Win. Gak ada Sigit lain disini..." jawab Sigit sambil tersenyum.


"He he he kan cuma cium doang Win, tidak dengan yang lainnya he he he aku masih sabar kok nungguin kamu." batin Sigit dalam hatinya.


Winda melirikkan matanya kewajah Sigit yang terlihat senyum penuh menyimpan makna. Winda memperhatikan dirinya, meraba bajunya dan jilbab masih tertutup seperti saat dirinya akan tidur semalam, Winda tau jika Sigit cuma ingin menggodanya.


"Awas saja kamu kalau sampai berani macem-macem saat aku tertidur."


"Ha ha ha ini aja aku sudah mandi basah Win. Ha ha ha..." jawab Sigit sambil menyugar rambutnya, menertawakan sikap Winda yang terlihat sebal dengan gurauannya.


"Sigiiiiiittt! gak lucu!"


Winda gemas, dia segera berdiri dari ranjang dan berlalu menuju kamar mandi.


Sigit duduk diatas hamparan sajadahnya setelah melaksanakan shalat dua rakaat sebelum subuh sambil menunggu Winda, tidak berapa lama Winda pun keluar dari kamar mandi dan mengenakan mukena yang berada diatas sajadahnya.


"Allahu Akbar." Sigit berdiri didepan Winda mengawali shalat dengan takbiratul ihram yang diikuti oleh Winda dibelakangnya.


Gerakan demi gerakan shalat subuh mereka lakukan secara tumakninah hingga selesai.

__ADS_1


"Assalamualaikum warahmatullah... assalamualaikum warahmatullah..."


Winda mengikuti ucapan dan gerakan salam Sigit, lalu menatap wajah Sigit yang memutar badan menghadapnya dengan mengulurkan tangan kanan kepadanya, lama Winda memandang uluran tangan Sigit.


"Win..."


"Hm?"


"Biasakan salaman sesudah shalat."


"Kenapa harus begitu? kita kan bukan saudaraan Git? apalagi suami istri."


Sungut Winda dengan tiba-tiba terdiam mengingat mimpinya semalam. Ya, dia semalam bermimpi, dalam mimpinya dia melihat keadaan remang-remang tidak jelas karena kurangnya cahaya, terdengar suara seorang laki-lak mengucapkan kalimat ijab qobul dengan menyebut namanya secara jelas, kemudian ada seorang gadis yang tergeletak tak berdaya diatas ranjang dengan beberapa orang yang menunggu disekitar nya, tidak lama gadis itupun terbangun dari tidurnya setelah suara ijab qobul terdengar ditelinga nya, dan dilihatnya wajah seorang laki-laki yang tidak jelas berpakaian stelan jas putih mendekatinya lalu mengulurkan tangan padanya dan mencium keningnya, seperti pengantin baru.


"Saya terima nikah dan kawinnya Winda Zilvana Idris dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang lima puluh juta rupiah dibayar secara tuunai."


Winda mengingat kalimat didalam mimpinya, memandang Wajah dan uluran tangan Sigit bergantian, keningnya mulai berkerut dengan alis bertautan.


"Kenapa uluran tangan ini sama dengan uluran tangan laki-laki dalam mimpiku tadi malam? dan... apakah aku sudah menikah dengan seseorang? tapi... kapan? dengan siapa? ah... mungkin hanya bunga mimpi."


"Win... "


Sigit terheran dengan tatapan Winda yang masih duduk membisu.


"Hm?" Winda terkejut mendengar panggilan namanya.


"Papi kamu mau kemana memangnya?"


"Singapura."


Winda memperhatikan Sigit yang sudah berdiri dengan melipat sajadah ditangannya.


"Hari ini jika kamu mau berangkat kerja biar dianter sama Riyan, supirnya mami, dan ingat! temenin mami sampai aku pulang, jangan pulang ke perumahan sebelum aku pulang dari Bandung." titah Sigit pada Winda.


Winda hanya diam lalu melipat mukenanya.


"Untuk pakaian ganti, kamu tinggal ambil didalam lemari sebelah kanan itu." lanjut Sigit sambil membuka lemarinya mengambil baju gantinya.


Winda melirik lemari yang dibuka Sigit, sekilas dia melihat isi didalamnya, ada baju perempuan yang tertata rapi disana, Winda mengerutkan keningnya terdiam tidak berani bertanya.


"Baju perempuan? sepertinya aku pernah liat baju itu... tapi dimana?"


"Jangan suka bengong jika sendirian, ati-ati kesambet." ucap Sigit ketika melewati Winda menuju ruang gantinya.


Winda terkejut mendapati Sigit sudah didepannya dengan membawa stelan jas ditangannya menuju ruang ganti.


Sepeninggal Sigit didalam ruang gantinya Winda segera masuk dikamar mandi setelah memilih baju untuknya. Walaupun sempet terheran dengan isi lemari yang diberitahukan Sigit padanya yang isinya baju muslimah besarta jilbabnya.

__ADS_1


Winda sama sekali tidak mengingat baju-baju yang pernah dibelikan Sigit ketika pertama kalinya Winda memakai kemeja Sigit saat mbok Lastri menawarkan baju Shofia kakak ipar Sigit untuk dipakai Winda sebagai gantinya sementara ketika mereka baru menikah.


Sigit sudah siap dengan beberapa baju yang akan dirapikan didalam koper, tangannya terhenti, matanya terkesiap tidak berkedip saat melihat Winda keluar dari kamar mandi sudah memakai baju ganti yang pernah dia belikan dengan hijabnya.


Winda berjalan mendekati Sigit yang berada disamping ranjang sedang menatapnya tidak berkedip.


"Berkedip Git, kasian tuh matanya udah mau keluar, biasa aja kali liat Winda, kayak baru liat bidadari aja." ledek Winda begitu sudah disamping Sigit.


Sigit terkejut mendapati Winda sudah disampingnya, lalu tersenyum menjawab ledekan Winda.


"Iya bener, aku memang baru melihat bidadari. Tapi bidadari yang turun dari kamar mandi... hehehe" jawab Sigit menutupi rasa malunya karena ketahuan memandang Winda secara berlebihan.


Tangan Sigit menutup koper dan mengangkatnya kesamping ranjang.


"Sudah gak usah GR, cepetan benerin jilbab kamu, terus turun kebawah, aku tunggu." kata Sigit pada Winda yang mencebikkan bibirnya mendongakkan wajahnya menatap Sigit didepanya.


"Cupppp. aku pasti akan merindukanmu selama di Bandung... tunggu aku disini sampai aku pulang..."


Tanpa Winda duga, justru reaksinya membuat Sigit merespon dengan cepat. Mata mereka saling beradu, bagaikan di kutub, tiba-tiba tubuh Winda membeku tidak bergerak melihat tatapan Sigit yang begitu dalam menatapnya.


Sigit berlalu meninggalkan Winda sendirian terpaku dengan ulahnya didalam kamarnya, dia berjalan keluar kamar tidurnya dengan tersenyum membayangkan wajah lucu Winda yang terkejut.


"Dasar lugu, benar-benar gemesin, rasanya tidak ingin lama-lana jauh dari mu Win... tapi mau bagaimana lagi, sudah tuntutan kerjaan, hhhh" Sigit senyuman-senyum sendiri ketika menuruni tangga dengan menyeret kopernya.


"Mana Winda bang?" tanya mami.


"Masih diatas mi. Bentar lagi juga turun kok" jawab Sigit sambil duduk di kursi.


Tidak lama setelah Sigit duduk di kursi makan, Winda pun duduk disampingnya, seperti biasa melayani makan Sigit dengan mengambilkan menu diatas piringnya.


Mami tersenyum melihat mereka berdua yang seperti tidak terjadi masalah apapun, menurut mami, pagi ini sangatlah tenang dipandang mata setelah lama tidak melihatnya.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Siap-siap untuk part selanjutnya jangan lupa pandai-pandai mengatur napas, biar tidak nyesek... 😀😀


Ayo dukungannya ditambah lagi biar tambah semangat up nya...


saranghe...💞💞

__ADS_1


__ADS_2