
"Cepat bawa kemari anak muda."
Renaldi tergopoh-gopoh membawa nampan berisi minuman hangat dan sepiring bubur yang sudah dibuat Bu Iroh pemilik rumah tadi setelah melihat keadaan Winda.
Bu Iroh terlihat panik setelah melihat keadaan Winda tergolek lemah diatas tempat tidur, terlebih setelah mengetahui Winda sedang hamil. Ia melakukan sesuatu dan merawat Winda dengan telaten penuh kesabaran, terlihat lihai seperti orang yang sudah berpengalaman.
"Sekarang kamu suapin dulu dia, saya mau cari sesuatu untuknya."
Bu Iroh beranjak dari duduknya meninggalkan mereka berdua.
"Baik Bu."
Renaldi menatap wajah wanita didepannya dengan tersenyum kecil, pikirannya agak tenang ketika melihat wajah wanita setengah baya itu setelah melihat keadaan Winda, ia memandangnya hingga keluar dari ruangan.
"Winda, ayo makan dulu atau minum air hangat, supaya tubuhmu lebih baikan lagi." Renaldi meletakkan nampan yang dibawanya diatas meja dan duduk disamping Winda.
Winda masih merasakan sekujur tubuhnya lemas, perlahan-lahan ia mengarahkan kepalanya pada sosok laki-laki didepannya. Pandangannya masih sedikit meremang, ia mencoba membuka matanya melihat wajah didepannya.
"Tubuhku masih sedikit lemas..." lirihnya.
"Maka dari itu kamu harus banyak makan dan istirahat."
Renaldi mendekatkan sendok yang berisi bubur ke mulut Winda, kemudian menyuapinya perlahan penuh hati-hati.
Setelah merasa cukup mengganjal perutnya, Winda kembali memejamkan matanya kembali.
"Sudah cukup."
Winda menolak suapan Renaldi, kemudian memejamkan matanya kembali. Ia tertidur merasakan berat mata dan tubuhnya, membiarkan Renaldi duduk dipinggir tempat tidur.
Renaldi sedikit lega setelah melihat cahaya diwajah Winda yang lebih segar daripada pertama kali ia menemukannya.
Bajunya kini sudah diganti Bu Iroh saat ia disuruh memetik sejanjang kelapa muda dibelakang rumahnya, yang menurut Bu Iroh air kelapa sangat bagus sebagai pengganti infuse untuk membantu memulihkan tenaganya.
Renaldi membetulkan letak selimut Winda kemudian keluar dari ruangan meninggalkannya sendirian. Diluar terlihat malam pekat hanya taburan bintang yang setia menemaninya. Suara jangkrik dengan merdu mengalun dalam keheningan.
Ia duduk di kursi teras menikmati keheningan malam daerah pedalaman. Pikirannya kacau memikirkan sesuatu yang harus segera ia lakukan untuk Winda.
"Aku sudah terjebak dalam kesulitan." gumamnya resah, tangan kanannya memijit keningnya.
"Anak muda."
Tiba-tiba suara Bu Iroh terdengar dari belakangnya dari arah pintu. Renaldi menolehkan kepalanya melihat pemilik suara itu.
__ADS_1
"Ibu cuma sekedar ingin tahu saja tentang hubungan kalian berdua." Bu Iroh menatap lembut wajah laki-laki didepannya penasaran. "Sebenarnya Winda itu istrimu kan nak Renaldi?" tanya Bu Iroh setelah Renaldi memperkenalkan nama mereka dan menceritakan sedikit tujuannya didaerah pelosok yang cukup jauh dari tempatnya sekarang.
Renaldi masih bingung menjawab pertanyaan itu, apa yang harus dijawabnya antara jujur atau berbohong. Jika ia jujur kemungkinan Bu Iroh tidak akan percaya dengan kenyataan yang ia ceritakan, sedangkan jika ia berbohong, maka itu akan lebih membahayakan dirinya nanti.
Renaldi masih diam membisu, membiarkan wanita didepannya terus menatapnya.
"Kalau ibu perhatikan kamu sangat takut kehilangan dirinya, apa kamu sangat menyayanginya?"
Renaldi memberanikan dirinya membalas tatapan wanita didepannya yang sudah salah faham tentang hubungannya dengan Winda.
"Sepertinya istrimu harus istirahat disini dulu untuk beberapa hari kedepan, dia sangat membutuhkan ketenangan."
"Jadi ibu sarankan kamu jangan jauh darinya saat ini."
"Usahakan kamu selalu berada didekatnya."
"Selalu ada setiap dia membutuhkanmu."
"Karena ibu pernah merasakan itu, dimana disaat wanita hamil ia ingin selalu bersama pasangannya untuk dimengerti, dimanja, dan diperhatikan."
"Itulah sebenarnya kekuatan seorang istri saat mengandung anaknya."
Renaldi semakin gelisah.
"Tapi..." Renaldi mulai menepis rasa ragu untuk berkata yang sebenarnya.
"Sebenarnya dia itu adalah istri dari saudara adik saya Bu."
"Dan... kemarin suaminya sudah datang kerumah saya mencarinya."
Bu Iroh mengerutkan keningnya terkejut.
"Maksud nak Renaldi, Winda pergi dari rumah suaminya dan kabur bersama nak Renaldi begitu?"
"Bukan begitu Bu." Renaldi segera menepis perkataan Bu Iroh yang dia rasa sudah salah paham. "Justru itu yang membuat saya bingung dan masih bertanya-tanya sampai sekarang dengan keadaan Winda tadi siang, kenapa dia sampai bisa ditempat ini, padahal jarak dari rumah sampai sini itu sangatlah jauh, tapi bagaimana Winda bisa berada disini? itu yang membuat saya bingung." jelas Renaldi.
"Atau... jangan-jangan Winda adalah korban penculikan? dan dia dibuang begitu saja ditempat seperti ini?" Bu Iroh seakan mendapatkan ide setelah mendengar penjelasan Renaldi. Sedangkan Renaldi terkejut membelalakkan matanya.
"Jika memang begitu dia adalah korban penculikan maka itu berarti dia dalam bahaya sekarang Bu." ucap Renaldi, Bu Iroh mengangguk menyetujui perkataan Renaldi.
"Iya nak Renaldi, bisa dikatakan begitu."
Renaldi terdiam memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Atau... apakah perusahaan si tua itu memiliki musuh? ataukah justru Sigit yang memiliki musuh pribadi?"
batin Renaldi menerka.
❄️❄️❄️
Sementara itu, papi Winata dan Gunawan segera kembali ke Indonesia setelah mendengar kabar hilangnya Winda dari rumah.
Pikirannya sama dengan Sigit dan mami tidak karuan, tidak tenang membayangkan terjadi sesuatu pada menantunya, dan terlebih lagi sedang mengandung cucu yang sangat ia harapkan dari Sigit.
Gunawan segera melakukan tindakan dengan menyebar anak buahnya untuk mencari keberadaan Winda. Namun saat ini mereka merasa kesulitan untuk melacak keberadaan Winda karena tidak ada sesuatu yang bisa mereka jadikan sumber yang akurat. Seperti hp yang sudah dipasang aplikasi pelacak keberadaan Winda pun ternyata percuma, karena benda pipih itu masih tergeletak di atas nakas kamar Sigit.
Papi melihat kegigihan putranya yang antusias mencari Winda siang malam selalu mencari informasi dari anak buahnya yang suda lebih dulu dikerahkan sebelum kedatangannya. Ia melihat wajah tirus Sigit dengan tubuh yang terlihat lebih kurusan tidak terawat sekarang.
"Kamu harus tenang Git, jangan putus asa." papi menenangkan Sigit, memukul kecil pundaknya.
"Apa yang dikatakan papi benar Git, kamu harus kuat. Jangan perlihatkan kelemahan mu seperti ini, itu bukanlah Sigit adik yang Abang kenal selama ini." Bram Abang Sigit menimpali perkataan papi memberikan semangat adiknya.
Bram merasa khawatir dengan keadaan Sigit setelah mendapatkan kabar dari Revan tentang Winda, ia langsung mengosongkan semua jadwalnya dan membawa Sofia serta kedua anaknya ke Jakarta.
"Sekarang istirahatlah dulu, malam sudah dini hari, tidak bagus untuk kesehatanmu jika terus-menerus begadang seperti ini." lanjut Bram mengingatkan.
❄️❄️❄️
Pagi hari cerah menggantikan malam pekat. Semburat jingga menyembul mengiringi sinar mentari pagi keluar dari peraduannya.
"Huuaaahh... uuuuuhhhhhh...." Winda menggerakkan tubuhnya menggeliat merasakan pegal pada sekujur tubuhnya. Ia baru terbangun lagi setelah tertidur tadi seusai melaksanakan shalat shubuh.
Semalam ia tertidur sangat pulas hingga terbangun ketika malam masih sangat dingin dan sunyi, ia merasakan badannya sudah lebih baik dari kemarin sehingga ia sudah bisa berjalan menuju kamar mandi sendiri walaupun masih diawasi Renaldi dari belakang.
"Sudah bangun rupanya kamu." suara Renaldi terdengar saat Winda beringsut duduk ke tepi tempat tidurnya.
.
.
.
. Bersambung 🤗🤗
Mohon maaf jika agak telat up-nya karena fokus mempersiapkan ujian semesteran...
Tetap semangat untuk dukung selalu cerita Abang ya akak2 semua...
__ADS_1
love you all dimanapun kalian berada 🤗💞💞