
Pagi ini Sigit dan Winda sudah berada didepan parkiran kantor cabang, seperti biasa Winda turun terlebih dulu agar tidak ada yang mengetahui statusnya, dia sebenarnya ingin memberitahukan kepada teman-temannya namun menurutnya saat ini adalah waktu yang belum tepat, apalagi jika mereka mengetahui suaminya adalah pak bos mereka, apa yang akan terjadi selanjutnya, dia belum siap dengan sikap teman terdekatnya tiba-tiba berubah begitu saja setelah mengetahui statusnya.
"Winda turun dulu bang."
pamit Winda pada Sigit dengan membenarkan tali tas dipundaknya.
"Hm, jangan lupa nanti selesai meeting dengan pusat langsung masuk mobil, tunggu Abang disini, biar tidak kesorean sampai disana."
"Siap suamiku sayang..."
"Semuanya sudah beres kan?"
"Sudah, tenang aja, beres pokoknya."
"Baiklah kalau begitu. Sudah sana masuk duluan."
"Hm, assalamualaikum..."
Winda menyambut uluran tangan Sigit, lalu menciumnya.
"Waalaikumsalam."
Sigit menjawab salam Winda, memperhatikan Winda keluar dari mobil hingga memasuki pintu masuk kantor cabang. Mata Sigit beralih ke jok dibelakangnya yang terlihat paper bag disana, sengaja dia siapkan sebagai hadiah buat Winda nanti ketika sampai di hotel. Mereka akan bersiap menghadiri acara pernikahan Willy dan Silvi esok lusa, namun sebelum menghadiri acara itu mereka ingin menghabiskan waktu bersama dengan jalan-jalan sambil belanja-belanja, nonton bioskop dan aktivitas lainnya.
❄️❄️❄️
Winda menghentikan langkahnya didepan ruang resepsionis, mengedarkan pandangan di sekitarnya, semua mata karyawan perusahaan cabang melihatnya dari dia memasuki pintu sampai diruang resepsionis, seperti ada yang aneh dengan dirinya disertai dengan suara bisik-bisik yang sempat tertangkap secara samar-samar ditelinganya.
"Bener-bener tidak menyangka ya jika selama ini mbak Winda seperti itu."
"Ya siapa tahu hati orang, jika tubuh saja dia tutup rapat, siapa juga yang tahu jika akhlak nya akan menjamin seperti jilbab dan bajunya."
"Siapa juga yang tidak tergiur dengan anak pimpinan yang topcer."
"Tampan, kaya, kharismatik, semua wanita pasti mendambakannya."
"Mending tidak usah pakai jilbab jika kelakuannya aja kayak wanita malam."
Suara cuitan karyawan terdengar berani menghina Winda terang-terangan karena merasa geram terhadapnya. Dian memasuki ruangan dengan tergesa-gesa karena sudah membuka berita hari ini dimana video Winda bersama pak bosnya mendadak viral, begitu memasuki ruangan dia mendengar ocehan para karyawan dan melihat Winda sendirian menghadapi situasi seperti itu, tidak tega melihat Winda yang begitu direndahkan teman-teman kantornya dengan adanya Anita diruang tunggu sedang duduk bersedekap dada, kaki kanan bertumpu diatas kaki kiri dengan sedikit senyum tersungging di bibirnya membuat Dian semakin teriris hatinya.
__ADS_1
"Sudah, hentikan omong kosong kalian jika kalian tidak ingin mendapat masalah." ucap Dian geram. Dia yakin jika Winda belum mengetahui kabar tentang dirinya sedang viral di internet disebuah kafe.
"Sudahlah Di, untuk apa kamu membelanya jika akhlaknya saja tidak sama seperti jilbabnya, tidak beda seperti wanita malam." sahut Anita sambil berdiri berjalan mendekati Diana dan Winda.
"Dasar nenek sihir, pagi-pagi sudah membuat ulah." suara Nagita dan Riri lirih disamping Winda.
"Ada apa ini?!" suara bariton Sigit tiba-tiba terdengar didalam ruangan memecah keributan dipagi hari, seketika suasana menjadi hening, semua kepala yang ada didalam ruangan menolehnya, Sigit memperhatikan karyawannya sedang berdiri bergerombol-gerombol dengan Winda tertunduk menahan rasa kesal yang dikelilingi teman dekatnya, tidak jauh darinya terdapat Anita yang terkejut melihat kedatangannya.
Firman yang baru turun dari lift dan sudah mengetahui sumber keributan langsung mendekati Sigit dengan memberikan androidnya pada Sigit.
"Lihat ini bang." ucap Firman seraya mengulurkan androidnya pada Sigit.
Sigit melihat sekilas video dari android Firman lalu tersenyum lebar. Para karyawan dan orang yang melihat Sigit yang baru saja melihat videonya bukanya marah malah justru tersenyum mengundang rasa penasaran mereka.
Sigit memperhatikan semua orang dan berakhir pada Anita, dia yakin ini semua adalah ulah dari Anita. Sigit memandang Anita yang mengedikkan pundaknya dengan mengangkat sebelah bibirnya dan kedua alisnya.
"*Ini pasti ulah Anita, aku harus memberinya pelajaran. Dan siapapun orang yang sudah berani menghina istriku, maka dia juga harus berurusan dengan Sigit*."
Sigit berkata dalam hatinya merasa geram istrinya telah dilecehkan didepan umum walaupun bibirnya terlihat tersenyum.
"Pak Firman. Saya tahu apa yang harus saya lakukan sekarang." ucap Sigit mengalihkan pandangannya pada Winda. sedangkan Firman menundukkan kepalanya lalu melihatnya.
"Siapkan gedung lantai tiga, atur ruangannya untuk pertemuan semua karyawan disini dan pesan catering dari kantin dan kafe didepan, suruh menyiapkan semuanya disana. Saya kasih waktu tiga puluh menit dari sekarang harus sudah beres."
"Tapi bang... tiga puluh menit lagi kita ada meeting dengan pak Winata diruang rapat, dan..."
"Cancel semua skedul hari ini, dan meeting tetap berjalan dilantai tiga. libatkan semua karyawan disini untuk menyiapkan semuanya."
"Tapi bang..."
"Pak Firman, lakukan sesuai perintah saya."
"Baik bang, segera dilaksanakan." jawab Firman.
Semua karyawan terheran dengan sikap bosnya tiba-tiba serius, penasaran dengan apa yang telah direncanakannya.
Sigit melihat Dian dan dua temannya mengajak Winda bergabung dengan karyawan lainnya melaksanakan perintahnya. Begitu mereka membalikkan badan hendak pergi, Sigit memanggil mereka.
"Riri."
__ADS_1
Riri membalikkan badannya mendengar namanya dipanggil yang diikuti ketiga temannya.
"Iya pak."
"Tolong kamu temani bu Anita didalam ruanganmu."
Riri memandang ketiga temannya dan beralih pada Anita.
"Iya pak. Mari bu, saya antar."
Anita menatap Riri kesal, namun diapun tidak bisa mengelak mengikuti Riri dari belakang.
"Dian, tolong antar Winda diruangan saya."
"Baik pak."
"Dan pak Firman, tolong ambilkan paper bag didalam mobil saya dijok belakang, ini kuncinya."
Firman menerima kunci dari Sigit dan berlalu menuju parkiran setelah memberikan mandat kepada bawahannya agar segera melaksanakan tugasnya masing-masing.
Hiruk pikuk suasana di gedung cabang tiba-tiba terjadi begitu saja, semua orang sibuk melaksanakan tugas dari pak bosnya yang terkesan mendadak.
Winda merasakan ada rencana Sigit yang akan menghebohkan setelah mengetahui berita dari Dian, tentang dirinya dan Sigit yang berada di kafe balada kemarin. Winda berjalan mondar-mandir sambil menggigit kukunya menunggu suaminya yang tidak kunjung memasuki ruang kebesarannya.
❄️❄️❄️
Tiga puluh menit sudah berlalu, didalam gedung lantai tiga. Gedung lantai tiga merupakan gedung yang hanya ada beberapa ruangan saja, namun setiap ruangan di desain sangat luas agar setiap kali ada pertemuan besar atau acara-acara yang melibatkan banyak tamu undangan bisa tertampung disitu tanpa susah-susah mencari tempat lain, seperti saat ini, tiba-tiba mood seorang Sigit berubah, yang seharusnya menghadiri rapat dengan pihak perusahaan pusat dan perusahaan Duta Perkasa justru melibatkan semua karyawannya.
Sesuai dengan perintah Sigit, semua karyawan sudah kumpul didalam gedung, Anita duduk bersanding dengan dua orang laki-laki sebagai asistennya, sedangkan Winda duduk bersama sahabatnya disamping Firman, papi Winata selaku pemilik perusahaan WP juga sudah berada didalam ruangan menduduki kursi panasnya. Awalnya papi Winata tidak mengetahui rencana Sigit, namun begitu berada diparkiran kantor cabang Firman memberitahukan tentang perubahan lokasi meeting, membuat papi Winata menebak jika putranya sudah mempunyai rencana lain.
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
__ADS_1
Saranghe...💞💞