Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 130


__ADS_3

"Sigit! Winda takut."


Pelukan wanita itu semakin kencang ketika petir saling bersahutan berkali-kali dalam keadaan gelap tidak ada penerangan cahaya didalam rumah.


"Git. takut."


"Dingin, dingin sekali hmmmmm"


Sreeeett sreeeett sreeeett.....


Bayangan demi bayangan muncul bergantian dikepalanya, bagaikan pemutaran film yang sedang berlangsung. Semakin lama semakin berat ia menyangga tubuhnya, ia pun kembali menyandarkan tubuhnya pada batang pohon, nafasnya terasa sesak mencoba menahan rasa aneh dikepalanya.


"Ini adalah hadiah pernikahan dari abang, tetaplah disisi abang apapun yang terjadi kedepannya, jadilah mutiara yang setiap ditempa dia akan semakin kuat, semakin unik, semakin terlihat berkilauan." ucap si lelaki itu kepada si wanita, bola matanya tidak berkedip memandang paras cantik wanita itu, tangannya mengambil kalung dari kotak yang sama, lalu memakaikannya dileher jenjang wanita itu.


Wanita itu menatap netra laki-laki didepannya, tersungging senyum di kedua pipinya.


"Terimakasih bang, tetaplah ada untuk Winda." gadis itu memeluk tubuh hangat laki-laki itu, mereka masih duduk diatas ranjang saling berpelukan memberikan kehangatan satu sama lain.


 


"Sigit...." Winda meneteskan air matanya mengingat sebagian ingatannya saat bersama suaminya.


"Iya, dia adalah Sigit, temanku... oh..."


Winda memejamkan matanya, justru bayangan lain muncul lagi.


Tampak seorang wanita sedang berusaha menolong anak kecil di pantai, namun wanita itu justru tidak menyadari dirinya hingga terseret ombak ketengah lautan.


"Abaaaang...."


"Baaaaaang..."


"Sigiiiiiiiit."


"Giiiiiiiiiiiit."


"Tolooooong hap" "Tolooooooooong hap hap"


Teriakan wanita dalam bayangan itu terdengar jelas seakan ia merasakannya. Tangisnya semakin menjadi setelah merasakan memorinya sedikit demi sedikit mulai pulih.


"Sigit... aku disini Git." meronta sendirian dalam kesunyian.


"Cepat datanglah Git... aku menunggumu... hiks hiks hiks..."


"Aku takut sendirian Git..."


"Kamu pernah bilang padaku kan... kalau kamu akan selalu ada di dekatku hiks hiks hiks...."


"Sigit... aku takut gelap Git..."


"Hiks hiks hiks.... hiks hiks hiks hiks hiks."


"Saya terima nikah dan kawinnya Winda Zilvana Idris dengan mas kawin tersebut secara tunai."


"Jadilah seperti bintang yang bertaburan di langit, indah dipandang dan dapat menenangkan hati...."


"Hiks hiks hiks malam ini langit tidak mengizinkan bintang-bintang itu tuk dilihat dari bumi yang datar ini Git... hiks." Winda mendongakkan kepalanya, menatap langit pekat.


"Aku ingin satu bintang menerangi jalanku saat ini, aw..." Winda meringis memegangi perutnya yang baru terasa sakit lagi.


"Sigit.... aw... aku... disini Git... cepatlah datang Sigit... hiks hiks hiks"


❄️❄️❄️


Sementara ditempat yang berbeda.


"Tidak ada siapa-siapa disini bos, sepertinya mereka sudah pergi meninggalkan tempat ini dari tadi bos." kalimat seorang komplotan yang sudah menggeledah setiap ruangan rumah Bu Iroh, mereka tidak menemukan seorang pun disana.


"Sial!! Nelson bisa murka jika tidak segera ditemukan wanita itu." bentak Leo menahan amarah.


"Haaah!!!"


Prang.


Leo mengamuk menendang meja kaca yang berada diruang tamu. Matanya menyeringai melampiaskan rasa kesal.

__ADS_1


Semua anak buahnya terdiam ketakutan melihat bosnya mengamuk, mereka tau betul bagaimana seorang Leo jika sudah marah, mereka bukanlah tandingannya.


Bu Iroh yang berjalan menuju rumahnya mendengar suara ribut-ribut dari dalam rumah terkejut, ia berjalan mengendap-endap mengintai dari balik jendela dari luar mencari tau apa yang sedang terjadi didalam rumahnya, dalam hatinya cemas mengkhawatirkan Winda terjadi sesuatu.


"Winda?? ada apa dengan windanya?"


Alangkah terkejutnya ia begitu melihat sekelompok orang yang tidak ia kenal mengobrak-abrik isi rumahnya.


"Ha???? ya Tuhan apa yang sedang terjadi?"


"Siapa mereka?"


"Dimana Winda?"


"Benar-benar sial sial sial!" suara seorang laki-laki menggelegar sangat menakutkan dirinya, ia merunduk sambil menutup mulutnya ketakutan.


Tidak berselang lama para komplotan itupun pergi meninggalkan ruangan yang sudah tidak tertata lagi.


❄️❄️❄️


Pagi hari belum juga matahari menampakkan dirinya, Renaldi sudah memasuki halaman parkir kediaman Winata. Dengan mempersiapkan hati dan berhasil meredam rasa dalam hatinya, ia akhirnya mendatangi rumah dari seseorang yang sangat ia benci selama ini.


Namun entah kenapa semua itu pupus begitu saja setelah terbayang wajah Winda. Wajah yang mampu menaklukan hatinya menjadi teduh dengan kata-kata dan sikap yang begitu menyentuh hatinya.


Ia berdiri didalam ruang tamu yang terdapat Revan bersama Winata duduk sambil menikmati secangkir kopi hangat dari tangan mereka, wajah Revan terlihat sangat bahagia bercengkrama dengan laki-laki itu.


Renaldi terus melangkah mendekati mereka sambil memasukkan gantungan kunci bintang ditangan kanannya ke dalam saku celananya.


Menjelang subuh Renaldi baru sampai di apartemennya. Begitu sampai di apartemen, ia segera membersihkan badannya sambil menunggu pesanannya datang untuk mengganjal perutnya, baru setelah selesai semuanya ia berangkat menuju rumah Winata, namun entah mengapa tanpa ia sadari tangan kanannya menyambar gantungan kunci bintang yang tergeletak diatas meja ruang tamunya.


"Kak Renaldi?" Revan terkejut melihat sosok kakaknya berada didepannya. Winata menolehkan wajahnya melihat sosok yang disebut Revan.


"Sorry, saya masuk dengan tiba-tiba sepagi ini." ucap Renaldi datar memandang Revan sekilas lalu menatap wajah Winata.


"Ho ho ho ho ho rupanya kamu yang datang sepagi ini kerumah papi?" tiba-tiba suara Sigit terdengar baru keluar dari ruangan. "Kenapa? ada sesuatu yang kamu inginkan dari papi?" lanjutnya sedikit melirik mengangkat sebelah alisnya.


Terlihat diwajah Revan tidak begitu menyukai perkataan abangnya.


Renaldi mencoba menetralkan emosinya, ia sadar jika Sigit sudah meledek kedatangannya sepagi ini. Tangannya meremas gantungan kunci bintang yang berada didalam saku celananya. Kembali ia memejamkan matanya menahan gemuruh didadanya.


"Bantulah orang yang sedang kesulitan dan membutuhkan uluran tanganmu janganlah menindas orang yang lemah nak. Karena sejatinya mereka adalah bagian dari hidup kita."


"Jika tidak karena wajah ibuku dan wajah Winda yang terlihat jelas didalam retina mataku, maka aku tidak akan sudi menginjakkan kakiku dirumah ini bodoh." batin Renaldi.


"Git, tolong tenangkan dirimu." papi meredam Sigit. "Ayo nak Renaldi duduk dulu."


"Terimakasih, saya tidak akan lama-lama disini." Renaldi melirik Sigit lalu mengalihkan pandangannya pada Winata.


"Sebenarnya apa yang dikatakan putra anda memang benar, saya sangat menginginkan sesuatu yang sangat berharga dari anda."


Sigit terbelalak mendengar ucapan Renaldi, emosinya semakin meledak dan berjalan menghampiri Renaldi.


"Igit." suara papi menghentikan sikap Sigit yang hendak menarik kerah leher baju Renaldi.


"Kurang ajar! berani sekali kamu ya berkata begitu, masih kurang papi memperhatikan dirimu selama ini ha?!" suara Sigit pelan penuh penekanan.


Renaldi tersenyum kecut tidak menggubris perkataan Sigit.


"Tolong anda urus menantu anda... Winda yang sekarang sangat..." suara Renaldi terputus membuat Sigit semakin tersulut emosi, kecurigaannya terhadap Renaldi atas menghilangnya Winda semakin yakin jika ada campur tangan Renaldi.


"Kau apakan istriku Renaldi!"


Bug


"Berani-beraninya kamu menyentuh istriku Renaldi!"


Bug bug bug


Tanpa berpikir panjang Sigit mengarahkan kepalannya pada wajah Renaldi secara bertubi-tubi. Telinganya panas mendengar perkataan Renaldi yang menyebut nama Winda.


"Sialan!" bug bug bug "Keparat." Sigit menyerang membabi buta Renaldi.


"Hiya." bug bug bug, Renaldi membalas pukulan Sigit.


"Hup hiya..."

__ADS_1


Bug bug bug bug...


"Hentikan Git!"


"Hentikan bang."


Papi dan Revan tercengang melihat adu fisik kedua laki-laki didepannya itu, mereka saling menyerang terlihat sama-sama kuat, namun saat ini Renaldi terlihat kuwalahan melayani serangan Sigit.


Sigit terlihat seperti singa kelaparan siap mengoyak mangsanya. Sorot matanya tajam menyeramkan.


Suara ribut terdengar hingga Bram yang berada didalam kamarnya berlari melihat kegaduhan dari ruang tamu.


Prang prang....


Bug bug...


Piyar piyar bug bug...


Gubrak prang...


Bug.


"Sigit hentikan Git." Bram bingung melihat ulah Sigit seperti kesetanan menghajr Renaldi. Sekuat tenaga ia melerai, memegang tubuh Sigit, ia kuwalahan mencoba menenangkan sikap Sigit yang sudah menggila.


"Revan. Kamu pegang Renaldi." teriak Bram.


"Hentikan Git! perbuatanmu bisa membahayakan orang lain." ucap Bram masih berteriak.


"Abang!" mami melihat wajah Sigit dan Renaldi lebam penuh pukulan. " Hentikan bang! hentikan! tahan emosimu!"


"Sigit! jangan gila kamu!" suara papi akhirnya menghentikan gerakannya disertai tangan Bram mengunci pergerakannya didinding.


"Tatap mata Abang Git!" seru Bram menekan sorot mata Sigit didepannya.


"Kalau ada masalah dibicarakan baik-baik jangan main kekerasan." suara Bram lirih menyudutkan tatapan Sigit yang sudah terlihat tenang dengan nafas terperangah.


Mami menangis melihat wajah keduanya. Pecahan kaca berserakan kemana-mana. sedangkan papi, Sofia dan Selena terdiam menghela nafas gemetar.


Perlahan mami menggiring keduanya dan mendudukkan Renaldi dan Sigit di meja makan secara berjauhan, menenangkan keduanya dan mengajaknya berbicara dari mata ke mata. Bram yang sudah mengetahui sabab musababnya dari Revan akhirnya menyusul mami dan papinya duduk diantara mereka.


Renaldi dan Sigit terdiam tidak menggubris perkataan mami dan papi, sedangkan Renaldi mengurungkan niatnya untuk menjelaskan tentang Winda, ia beranjak dari duduknya berdiri tanpa memandang Sigit.


"Maaf saya harus pergi sekarang. Masih banyak yang harus saya kerjakan."


"Tapi nak, biar mami obati luka di wajah kalian dulu." cegah mami.


"Tidak perlu." jawaban Sigit dan Renaldi serempak, membuat semua orang disekitarnya terkejut.


Renaldi berdiri membalikkan tubuhnya menghadap Sigit.


"Lain kali aku tantang duet berdua diluar rumah." tantang Renaldi.


Panas.


Hati Sigit terbakar mendengar ucapan Renaldi.


"Bangsat!!"


Dengan sigap ia menarik lengan Renaldi, spontan tangan Renaldi yang menggenggam gantungan kunci bintang yang masih menyusup didalam saku celananya ikut tertarik keluar hingga gantungan kunci itu terlempar di dada Sigit dan terpental dilantai menggelinding.


Tringting Ting Ting Ting Ting Ting....


.


.


.


Bersambung 🤗🤗


Deg deg deg...


Kok hatiku deg-degan ya...


Hallo... apakah akak2 disana juga sama denganku?

__ADS_1


Ayo gasken dukungannya, jangan relakan vote, like dan ❤️nya tidak nambah ya kak...


Saranghe 💞💞💞


__ADS_2