
Satu Minggu sudah Silvi dan Willy berada di ibukota, itu berarti besok malam Silvi dan Willy harus segera kembali ketempat tinggalnya karena menyurvei proyek kerjasama dengan perusahan mereka. Saat ini Silvi ingin menghabiskan sisa masa senggangnya bersama sahabatnya, Tania dan Winda.
Mereka hari ini sudah berjanji akan bertemu di kafe langganan mereka dulu, setelah itu lanjut ke mall membantu Silvi membeli oleh-oleh untuk saudara dan rekan kerjanya di kantor.
"Beneran lu pulang besok malam Sil?"
"Hm, bahkan gue udah menyiapkan bawaan gue dan suami gue dari semalam." Silvi menjawab pertanyaan Tania.
Tania melanjutkan menyesap coffeelate bagiannya.
"A' Willy harus segera mengurus perusahaan ayah mertua di Amerika esok lusa Tan, jadi kita juga harus segera menyudahi peninjauan proyek di Jakarta." lanjut Silvi menjelaskan pada sahabatnya.
Winda mengangguk sebagai tanda mengerti apa yang sedang dirasakan Silvi, karena ia dulu juga pernah merasakan seperti itu saat hamil tua harus ditinggal Sigit ke Singapura untuk menghandle pekerjaan papi yang saat itu masih sakit karena kecelakaan.
"Aku ngerti perasaan mu Sil, kamu yang sabar ya, dan ingat, jika kalian sedang berjauhan kalau bisa usahakan komunikasi harus tetap lancar jangan lupa selalu tanyakan kabar pasangan." kalimat Winda mengingatkan sahabatnya.
Silvi mengangguk dan tersenyum.
"Hm, terimakasih nyonya Sigit atas nasehatnya, akan selalu gue inget kata-kata lu ini."
"Ehem, ehem." Tania berdehem mendengar jawaban Silvi pada Winda sudah tentu membuatnya sedikit salah tingkah.
Silvi dan Winda mengalihkan pandangannya pada Tania, mereka tersenyum melihat wajah Tania yang terlihat lucu.
"Yang udah pada punya laki sampe lupa acara selanjutnya." celetuk Tania seraya melirik bergantian pada Winda dan Silvi yang betah mengobrol sedari tadi.
__ADS_1
"Hahaha... iya deh iya, gue doain semoga Alex segera menyadari kesalahannya telah membiarkan lu menunggunya lama." jawab Silvi merasa tidak enak pada Tania.
Winda menghela nafas panjang membiarkan perkataan Tania.
"Thanks for your prayer girl." ucap Tania dengan wajah sudah berubah dari sebelumnya membuat Silvi penasaran.
"Mengenai hubungan gue dengan Alex sepertinya lu kudu berdoa lebih extra lagi deh Sil."
"Kenapa? bukankah kalian sudah tunangan tahun lalu?" Silvi justru terheran.
Silvi sangat faham hubungan Tania dengan Alex saat itu, mereka sudah sangat dekat. Bahkan Tania pernah cerita kepada Silvi tentang pertunangan mereka yang akan digelar hanya selisih beberapa bulan setelah pernikahan Silvi dengan Willy tahun lalu.
Tania tersenyum getir, pandangannya tidak berkedip menatap gelas miliknya.
"Dia tipe cowok yang hanya pandai berkata manis dengan menyembunyikan kebusukan hatinya dibelakang gue." pandangan Tania kini beralih pada kedua sahabatnya. Matanya berkaca-kaca.
"Dia telah berhasil menabur benihnya pada wanita simpanannya dibalik kebaikanku yang sudah memberinya kebebasan untuk bergaul dengan siapapun saat itu, dan tepat satu Minggu sebelum gue tunangan dengan laki-laki keparat itu gue mengetahui hubungan mereka dari flashdisk yang tergeletak di mobilnya. Rupanya Tuhan tidak membiarkan gue berjalan ditempat yang salah. Gue sangat bersyukur karena masih ada waktu untuk membatalkan pertunangan itu tanpa ada sedikitpun rasa penyesalan yang akan selalu membuat gue terluka, walaupun ada rasa kecewa atas kelakuannya. Yang membuat gue bisa tetap tegar menjadi seorang Tania Amelia Putri hingga detik ini karena kebusukan kelakuannya terkuak sebelum kami resmi menjadi pasangan hidup. Jadi, gue sangat beruntung, karena selama gue menjalin hubungan dengannya gue tidak pernah menjadi seorang wanita yang tergantung dengan laki-laki sejenis Alex. Walaupun nasib gue tidak semujur nasib kalian berdua Sil, Win." jelas Tania mengenai alur kisah cintanya yang kandas dengan penghianatan kekasihnya.
Tania memang tidak banyak menceritakan hubungan nya bersama Alex dengan kedua sahabatnya, karena Tania tidak ingin memamerkan kisah cintanya diumbar pada orang lain walaupun itu sahabatnya sendiri.
"Tania..." Silvi menggabungkan dirinya memeluk Tania dalam pelukan Winda.
"Maafin gue karena kebodohan gue yang tidak mengetahui cerita yang sebenarnya." sesal Silvi.
"Hm, tidak apa, gue tidak tersinggung kok Sil, gue juga fine-fine aja. Semua itu gue anggap sebagai pelajaran yang berharga dan akan selalu gue ingat sepanjang hidup gue. Kesetiaan itu adalah dasar utama untuk menjaga keutuhan sebuah hubungan, agar tercipta kedamaian, ketenangan dan ketentraman. Entah itu dalam hubungan suami istri, sahabat atau saudara. Kita tidak boleh ingkar dan munafik dengan siapapun sehingga kita tidak akan ada pikiran untuk selingkuh." Tania tersenyum dengan tangan kanan menepuk kecil lengan Silvi yang merangkul tubuhnya. Silvi mengangguk setuju pada pendapat Tania.
__ADS_1
Winda masih setia mendekap tubuh gadis disampingnya itu, sedikitpun ia tidak ingin melepaskan dekapan tangannya. Ia terharu dengan kisah sahabatnya.
Sejenak ketiga wanita itu menikmati kebersamaan mereka di kafe bersejarah dalam kamus perkuliahan mereka. Kepala Silvi dan Winda bersandar di pundak kanan kiri Tania, tangan mereka saling mendekap erat tubuh Tania yang berada ditengah antara Silvi dan Winda.
"Akan selalu aku ingat nasehatmu Tania sahabatku, akan aku jadikan pelajaran yang paling berharga kedepannya." batin Winda disela-sela dekapannya. Mami Lia, oh mami Lia... kenapa tiba-tiba aku teringat mami Lia setelah mendengar ketulusan hatimu menerima kenyataan pahit ini Tania, sahabatku... mami aku sangat merindukanmu, ingin sekali aku memeluk mami... entah kenapa Winda justru merindukan sang ibu mertua yang sudah satu Minggu tidak bertemu setelah ia pindah dari rumah papi Winata.
"Sudah-sudah mau sampai kapan kalian akan memelukku seperti ini Sil? Win? bisa-bisa gagal nanti cari oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman Silvi kalau begini terus kalian." suara Tania menyadarkan tingkah Silvi dan Winda yang masih hanyut dalam suasana.
"Biarkan sebentar lagi seperti ini Tan, pasti gue akan merindukan kalian berdua disana." Silvi menahan gerakan tangan Tania yang mengurai pelukan tangannya.
"Haishhh, apa-apaan lu Sil, gue gak mau disangka wanita kelainan yang suka sesama." Sulut Tania tidak setuju dengan Silvi.
"Lihat! semua orang melihat aneh kearah kita bertiga." lanjut Tania mengingatkan Silvi dan Winda.
Winda perlahan mengurai pelukannya dan duduk tegak seperti semula.
"Ya sudah, ayo kita cabut aja ke mall." ucap Silvi akhirnya menyudahi tingkah konyolnya.
Mereka bertiga segera beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menuju parkiran setelah membayar semua pesanan mereka yang sudah ludes dari tadi.
Tania melajukan mobilnya bergabung merayap dijalanan ibukota yang sudah mengular berjajar. Mereka menikmati jalanan yang terkadang macet saat berada di jalan sempit penuh pengendara motor yang dengan lihai meluncur disela-sela gang sempit antara mobil satu dengan mobil yang lainnya.
Hal itu merupakan pemandangan umum yang biasa terlihat pada jalanan ibu kota.
Bersambung 🤗🤗🤗
__ADS_1
jangan lupa dukungannya ya...😊🤗
Sarangheo 💞💞💞💞