Jodoh Yang Tak Terduga

Jodoh Yang Tak Terduga
Part 87


__ADS_3

Revan telah berhasil mengecoh beberapa orang yang ia curigai selama beberapa hari ini telah mengikuti dirinya semenjak ia memutuskan keluar dari rumah mewah itu untuk menenangkan pikirannya.


"Sepertinya aku harus lebih berhati-hati, tidak bisa sembunyi terlalu lama disini karena orang-orang om Gun selalu membuntutiku." Ucap Revan seraya merebahkan tubuhnya diatas ranjang.


Saat ini ia bersembunyi diapartemen milik Sigit yang sudah lama tidak ditempati, ia sengaja menyelinap disebuah hotel terdekat sebelum masuk apartemen Sigit, karena ketika pertama kalinya ia menginjakkan kaki diapartemen abangnya, ada dua orang yang memeriksa apartemen itu, beruntungnya ia masih diluar sehingga ia dapat menyelinap dengan cepat.


"Setidaknya malam ini aku masih bisa tidur disini, besok aku harus segera mengurus semuanya."


Revan memandang foto mereka bertiga bersama papi Winata dan mami Lia yang tergantung didinding didepan ranjang. Matanya tidak berkedip menatap foto itu. Lalu menghempaskan nafas panjangnya diudara.


"Mami, papi... cepatlah sembuh, Revan sangat merindukan mami dan papi..."


dengan suara parau menahan tangis yang sudah tidak terbendung lagi ia menumpahkan rasa rindunya.


Saat ini dipelupuk matanya hanya terdapat bayangan masa kecilnya yang penuh kebahagiaan bersama keluarganya, ia tidak merasakan perbedaan sikap kedua orangtuanya terhadap dirinya dengan kedua abangnya. Walaupun Sigit sedikit dingin terhadapnya namun sangat menyayanginya tidak beda jauh sayangnya seperti abangnya Bram. Apapun keinginannya selalu terpenuhi.


"Abang... hhh..."


❄️❄️❄️


Sore hari ini Sigit dan Winda baru saja memasuki rumah pulang dari kantornya setelah menyelesaikan rapat, keadaan rumah masih sepi seperti biasa setelah kepergian Revan.


"Bang, Winda mandi dulu sebentar setelah itu kita kerumah sakit ya, Winda kangen ingin melihat mami dan papi." ucap Winda seraya meletakkan tas silvernya diatas meja dan mulai membuka jilbabnya.


"Hm. Abang juga kangen mereka." jawab Sigit.


Winda melihat suaminya sekilas melipat kedua lengan bajunya sesiku dan berlalu meninggalkannya, lalu duduk disofa putih sendirian.


Sigit menyandarkan tubuhnya disandaran sofa dengan memejamkan matanya yang terasa berat.


Tubuh Winda terasa lebih segar setelah membersihkan tubuhnya beberapa saat didalam kamar mandi, ia berjalan menuju meja riasnya dengan tangan mengusapkan handuk di kepalanya mengeringkan rambutnya yang basah. Setelah itu ia mengganti jubah mandinya dengan gamis longgar, lalu berjalan menghampiri suaminya yang tertidur pulas di atas sofa, ada perasaan iba ingin membangunkannya namun karena sebentar lagi sudah maghrib Winda pun membangunkan Sigit dengan lembut.


"Abang... bangun."


"Hm?"


Sigit merasakan sentuhan diwajahnya saat ia tertidur, ia membuka matanya perlahan memandang wajah Winda yang sudah segar.


"Kamu sudah selesai mandi?" ucap Sigit seraya berdiri dari tempat duduknya. Winda tersenyum membiarkan Sigit berlalu menuju kamar mandi.


Winda meletakkan baju santai Sigit diatas ranjang lalu berjalan keluar kamarnya menuruni tangga menuju dapur. Begitu sampai diruang makan Ia menemukan Ningsih yang baru saja meletakkan androidnya diatas meja, terlihat Ningsih baru saja menyudahi percakapan dengan seseorang.


"Eh mbak Winda." Ningsih melihat Winda yang memperhatikan dirinya.


"Hm. Telpon dari siapa Sih?" tanya Winda seraya menuang air putih didalam gelasnya, lalu duduk diatas kursi bersiap menyantap hidangan diatas meja.


Ningsih terdiam menunggu Winda menghabiskan makanannya. Ia baru saja mendapatkan kabar dari mbok Lastri yang menunggu Winata dan istrinya dirumah sakit, dalam hatinya ia ingin sekali mengatakan pesan mbok Lastri, namun ia masih menahan keinginannya itu agar Winda menyelesaikan makannya terlebih dahulu baru ia akan menyampaikan pesan dari mbok Lastri. Karena jika ia menyampaikan sekarang sudah pasti Winda tidak akan makan lagi dan mereka pasti segera kerumah sakit, beberapa hari ini mereka tidak memperhatikan kondisi mereka. Setelah beberapa saat Winda meminum segelas air putih diakhir makannya Ningsih baru menjawab pertanyaan Winda.


"Mbok Lastri barusan memberi kabar mbak."


"Hm. Ada kabar apa Sih?"


"Ibu tadi siang sudah sadar mbak."

__ADS_1


Mata Winda berbinar mendengar jawaban Ningsih, benar-benar kabar yang ia inginkan selama ini.


"Benarkah Sih?"


Ningsih menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Iya mbak, dan... barusan bapak juga baru sadar." lanjut Ningsih.


"Alhamdulillah... aku harus segera memberi tahu Abang sekarang Sih."


"Mbak Winda." panggil Ningsih ketika Winda beranjak dari duduknya akan memberitahukan pada Sigit. Winda berhenti lalu memperhatikan Ningsih yang menatap dirinya.


"Mbak Winda jangan memberi tahu mas Sigit dulu, biar dia menyelesaikan makannya dulu baru mbak memberitahunya, karena kalau Ningsih lihat mbak Winda dan mas Sigit akhir-akhir ini tidak memperhatikan keadaan kalian sendiri setelah kepergian mas Revan. Padahal mbak Winda sekarang lagi hamil jadi kami takut jika terjadi sesuatu pada mbak Winda. Dan mas Sigit pasti sama akan melewatkan makannya lagi begitu mendengar kabar ini."


jelas Ningsih pada Winda tentang keresahan dirinya selama ini.


Winda terharu mendengar perkataan Ningsih yang begitu menghawatirkan dirinya dan suaminya. Ia sendiri tidak merasa seperti apa yang baru saja dikatakan Ningsih.


"Ningsih..." Winda mendekati Ningsih, menahan kedua matanya yang sudah mengembun. Lalu memeluk tubuh Ningsih didepannya.


"Mbak Winda..." Ningsih membalas pelukan Winda.


"Terimakasih sudah menghawatirkan kami."


❄️❄️❄️


Sigit sudah menyelesaikan makannya, ia berjalan mendekati Winda yang duduk diruang tamu bersama Ningsih, ia memperhatikan istrinya yang sudah cantik, siap menjenguk orang tuanya.


"Alhamdulillah, malam ini istri Abang cantik sekali Sih." celetuk Sigit tiba-tiba mengagetkan kedua wanita yang sedang asyik mengobrol. Sedangkan Ningsih tersenyum dan menjawab Sigit.


"Biasanya juga begitu Sih?"


jawab Sigit tidak mengerti maksud dari perkataan Ningsih.


"Ini beda mas."


"Beda? apanya yang beda?"


Sigit menatap mereka berdua yang saling melirik dan tersenyum ceria.


"Bang... papi dan mami sudah sadar." Winda memberitahukan keadaan kedua mertuanya pada Sigit.


"Apa? papi dan mami sudah sadar sayang?"


Sigit terkejut, kedua bola matanya menatap wajah istrinya dan Ningsih secara bergantian.


Winda tersenyum dan mengangguk pada Sigit.


"Hm, itu bener bang."


"Alhamdulillah, kalau begitu kita segera kerumah sakit sekarang."


❄️❄️❄️

__ADS_1


"Abang Igit... Winda sayang..." suara mami masih terdengar lemah diruangan rawat VIP begitu melihat Sigit dan Winda mendekati ranjang tempat mami terbujur lemah.


"Mami... papi..." suara Sigit dan Winda seraya mencium punggung tangan mami dan papinya bergantian.


Mami Lia menatap kedua wajah didepannya bergantian, ia tersenyum melihat Winda yang tubuhnya sudah mulai terlihat berisi. Sementara papi Winata masih memperhatikan


dari sisi samping istrinya setelah cukup lama mereka bercanda. Terasa bahagia keluarga Winata seperti sebelumnya.


Ningsih dan mbok Lastri melihat keceriaan diwajah keluarga Winata kembali lagi setelah peristiwa kecelakaan yang terjadi pada papi dan mami beberapa Minggu lalu.


"Winda ini sudah larut malam pulanglah kerumah nak... jaga baik-baik cucu mami dan papi." ucap mami Lia pada Winda dan Sigit.


"Tapi, Winda masih ingin menunggu mami dan papi disini."


"Pulanglah dulu kerumah besok kesini lagi, kamu lagi hamil Winda jadi harus menjaga kesehatanmu juga." titah papi pada Winda yang sudah pasti tidak bisa ditolak lagi olehnya.


Winda tidak ingin membuat kedua mertuanya mencemaskan dirinya, iapun akhirnya menuruti perintah papi dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Baiklah Pi, mi, Igit dan Winda pulang dulu, besok pagi-pagi sekali kami pasti sudah kesini lagi." suara Sigit terdengar lalu meraih tangan papi dan mami mencium punggung tangan mereka bergantian, Winda mengikuti suaminya dengan mencium punggung tangan mami dan papi.


❄️❄️❄️


Tiga hari sudah berlalu sehingga keadaan papi dan mami sudah semakin membaik. Namun yang masih membuat Sigit dan Winda bingung saat ini adalah ketika kedua orang tuanya menanyakan Revan yang tidak kunjung datang menjenguk mereka selama dirumah sakit, alasan demi alasan sudah Sigit dan Winda berikan untuk menutupi apa yang sudah terjadi agar mereka tidak mengetahui apa yang sudah terjadi pada Revan belakangan ini jika Revan pergi dari rumah sudah hampir dua Minggu.


Pagi ini Sigit dan Winda sudah berada diruang tunggu rumah sakit, namun tiba-tiba sesosok laki-laki yang sangat dikenalnya datang menghampiri mereka, tanpa diduga Sigit dan Winda sosok lelaki itu adalah Revan.


Mata Winda dan Sigit berbinar-binar melihat adiknya datang, ada senyum yang mengembang dipipi mereka. Berbeda dengan Revan, ia menatap dingin kedua sejoli suami istri itu didepannya.


Sigit mendekati Revan hendak memeluknya, namun Revan justru mengeluarkan sebuah amplop putih dari dalam slim bag nya. Sigit dan Winda terheran melihat amplop putih yang diulurkan Revan pada Sigit.


"Apa ini Van?" tanya Sigit penasaran tidak mengerti dengan apa yang dilakukan Revan.


"Bukalah pasti anda sudah mengetahuinya." jawab Revan.


Winda bertambah heran mendengar kalimat Revan yang tidak seperti biasanya. Gegas, Sigit membuka amplop itu dan membaca kertas putih itu.


Alangkah terkejutnya Sigit ketika mendapati tulisan hasil tes DNA yang telah dilakukan Revan. Ia seakan tidak percaya jika Revan sudah melakukan tes yang sudah terjamin akurat itu.


"Ternyata Revan adalah anak papi dengan wanita lain." ucap Revan begitu Sigit menatapnya terkejut.


.


.


.


.


.


Bersambung...🤗🤗


Kangen nih author sama akak2 yang keren.

__ADS_1


ayo dukung terus author setelah sakit beberapa Minggu kemarin, Alhamdulillah sekarang sudah bisa aktif lagi...


Saranghe 💞💞


__ADS_2