
Tengah malam yang sunyi, hanya detik jarum jam yang terdengar.
Seluruh anggota keluarga Winata sudah terlelap dalam mimpi mereka.
Berbeda dengan Winda yang baru saja terbangun dari tidurnya, lambat laun ia mendengar suara tangisan bayi, yang tidak lain dari suara tangisan Feyza, putra Bram yang berada di ujung lantai dua, yang terletak tidak jauh dari kamar Sigit, hanya berjarak dua ruangan saja dari kamar Sigit.
Tangisan itu terdengar semakin melengking seakan menahan rasa haus atau kesakitan, membuat Winda segera beranjak dari ranjangnya dan meraih hijabnya.
Dengan mengendap-endap Winda melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya khawatir suaminya terbangun karena gerakannya, ia berjalan menuju pintu kamarnya dan melangkahkan kakinya keasal suara tangis bayi itu. Hatinya berdebar kencang ingin segera menggendong bayi itu. Rasa kasihan menyelimuti hatinya.
"Brian..." tubuh Winda bergetar.
"Kamu kah itu nak..."
Suara tangisan itu masih terdengar namun tidak sekeras ketika ia berada didalam kamarnya.
Tangan Winda hendak meraih gagang pintu yang sudah ada didepannya dan hendak memutarnya.
"Sayang nak... sayang... Cup cup jangan nangis ya sayangnya mama, papa." Terdengar suara Sofia dari balik pintu itu.
"Coba kamu gendong dulu sofia, siapa tau dia merasa tidak nyaman sayang." Suara Bram terdengar memberikan solusi pada istrinya.
"Iya bang." Suara Sofia terdengar lagi.
Winda terdiam menatap daun pintu didepannya, ia baru menyadari dimana dia saat ini. Winda menggerak-gerakkan jari-jari tangannya lalu menggenggam kembali jari-jari tangan itu.
Winda baru menyadari dia berada didepan kamar Bram dan Sofia. Sedangkan suara tangisan yang baru dia dengar tadi itu adalah suara tangis Feyza keponakannya.
Kembali air matanya menetes membasahi pipinya, pikirannya melayang pada sosok Brian, putranya.
"Brian..."
"Hiks hiks hiks..." tangisnya pecah dengan volume yang sangat irih.
Dengan pandangan kosong, perlahan ia memundurkan langkahnya berjalan gontai menuruni tangga menuju taman belakang.
Udara malam yang sangat dingin tidak ia rasakan, ia duduk diatas bangku didekat kolam renang. Matanya menatap kilatan cahaya dari lampu penerangan di dekat kolam renang.
"Maafkan mama nak... hiks hiks maafkan mama sayang." suara Winda terisak sangat lirih. Kedua tangannya semakin mengeratkan kedua lututnya yang sedang ia peluk.
"Mama sangat merindukan mu Brian...." Menyandarkan dagunya diatas lututnya.
__ADS_1
Cukup lama Winda terdiam ditaman belakang, mengumpulkan kekuatannya untuk menahan rasa rindu terhadap bayi malang yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
***
Sigit menggeser tubuhnya mendekati tempat Winda, tangannya memeluk guling yang berada disisi tidurnya.
Perlahan ia meraba benda empuk itu, lalu menggesernya. Ia meraba tempat tidur istrinya yang tidak ada sosoknya disana, perlahan ia membuka matanya.
"Winda..." Panggil Sigit seraya mengusap matanya.
"Sayang..." Sigit mencari sosok istrinya yang benar tidak ada disampingnya, ia beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju kamar mandi yang tidak juga ia temukan sosok Winda.
Sigit menyalakan lampu kamarnya, mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan.
"Win kamu dimana sayang..." Hatinya gusar tidak menemukan Winda.
"Win... Sayang...."
Sigit berjalan menuruni tangga, mencoba mencari didalam kamarnya yang berada dibawah, pikir Sigit siapa tahu Winda berada didalam karena masih ada perlengkapan Brian termasuk keranjang tidur, baju, lemari, mainan semua perlengkapan bayinya ada didalam kamar itu.
Sigit membuka pintu sambil menyebut nama Winda, namun ruangannya gelap tidak ada tanda-tanda ada orang didalamnya, tangannya menyalakan lampu, menyebarkan pandangannya disetiap sudut kamar itu.
"Winda... Jangan membuat Abang khawatir sayang..." Hati Sigit semakin gelisah tidak juga menemukan Winda.
Dipinggir kolam sendirian.
Sigit melajukan langkahnya mendekati istrinya berada, ia meraih pundak wanita itu dan duduk tepat dihadapannya, hati Sigit seakan teriris saat melihat isakan tangis yang membuat kedua kelopak mata itu sembab.
"Winda... Kamu disini sejak kapan? hm?" Tidak ada jawaban dari Winda, hanya isakan yang terdengar. Kedua tangan Winda terasa dingin.
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Sigit lagi.
Tangan Sigit meraih dagu istrinya dan mengangkatnya tepat berhadapan dengan wajahnya.
"Kamu kenapa? Mau cerita sama Abang, ada apa? hm?" Kembali pertanyaan Sigit dengan nada sangat lembut membujuk Winda. Tangan kanannya membelai sayang kepala yang tertutup hijab itu.
Lama Winda mentap wajah suaminya yang sangat perhatian padanya, lalu mulai membuka suara.
"Aku tadi tertidur lelap Git hiks..."
"Terus..." Sahut Sigit saat Winda terjeda karena isakan.
__ADS_1
"Aku terbangun dan aku mendengar suara tangisan bayi hiks hiks.."
"Hm, terus...." Sigit mulai mengerti apa yang menyebabkan istrinya menangis hingga seperti ini.
"Aku berjalan mencari suara itu sampai aku menemukannya hiks dan... aku berhenti saat aku... saat aku berada di ujung kamar dan... Hiks hiks... ternyata Mbak Sofia dan bang Bram sedang menenangkan Feyza hiks.... Aku rindu Brian Git... Aku sangat merindukannya sekarang hiks hiks hiks." Sigit meraih kepala Winda dan menenggelamkannya didada bidangnya.
Sigit mencium pucuk kepala yang tertutup hijab itu, ia merasakan sakitnya hati Winda saat ini.
"Sabar sayang sabar, kamu harus tenang dan segera mengikhlaskan semua ini ya." ucap Sigit sambil berulang kali mencium kepala istrinya. "Kamu tidak boleh terpuruk seperti ini terus. Bangkitlah istriku, kamu adalah seorang ibu yang tegar saat bayinya menjadi pilihan Sang Pencipta sebagai penghuni surga-Nya, karena bisa jadi Allah lebih sayang Brian dari pada sayang kita pada Brian." Winda memeluk erat tubuh suaminya, isakannya semakin menjadi-jadi.
"Aku belum bisa Git... aku belum bisa. Apalagi saat aku mendengar tangisan tadi, tangisan itu mengingatkan tangisan Brian saat tengah malam mencari ASIku...." Sigit semakin mendekap erat tubuh wanita didepannya.
"Iya itu sakit memang, Abang tau. Tapi kamu juga harus sadar jika semua ini adalah titipan sayang... Ayolah bangkit Winda. Windaku yang kuat, yang penyabar, dan Windaku yang periang. Aku juga rindu senyuman mu..." Sigit menatap bola mata istrinya yang menatapnya tajam. Ia mencoba menguatkan istrinya.
Sementara di balik pintu dapur.
Sepasang mata telah memperhatikan dua sejoli yang tenggelam dalam balutan dinginnya malam, lama ia berdiri disana mendengarkan perbincangan pasangan itu.
Hatinya tidak tega melihat pemandangan didepannya.
Tidak terasa air matanya jatuh hingga menetes di tangannya setelah menyadari asal tetesan bening itu, ia mengusapnya dan membalikkan tubuhnya meninggalkan tempat itu menuju kamarnya.
Orang itu adalah Bram, ia mendengar suara Sigit memanggil nama Winda, saat itu ia juga keluar dari kamarnya melihat adiknya sedang mencari adik iparnya, namun saat ia akan membantu mencari sosok iparnya, Sigit sudah keluar menuju taman dan ternyata menemukan istrinya disana.
"Sofia, kita harus segera pulang ke Riau besok pagi, dan aku harus hubungi om Gun agar tidak membatalkan penerbangan kita besok pagi, dan om Gun melakukan check in sekarang juga."
Sofia terkejut mendengar kalimat suaminya.
"Hah? pulang besok pagi bang? kenapa jadi berubah lagi? ada apa?" Sofia tidak mengerti kenapa suaminya tiba-tiba berubah pikiran.
Semula Bram mengiyakan untuk pulang ke Riau besok pagi, tapi karena tidak enak dengan Sigit karena masih dalam keadaan berduka maka Bram mengundur jadwal kepulangannya, namun entah mengapa kini Bram menarik kembali jadwal itu.
"Ada sesuatu yang harus kita jaga Sofia..."
Sofia mengerutkan keningnya semakin tidak mengerti.
.
.
Bersambung 🤗 🤗🤗
__ADS_1
Sarangheo 💞💞💞💞💞