
Hancur, terasa sesak dadanya mendengar kalimat suaminya, ada rasa kecewa yang menyelinap dalam relung hatinya, pikirannya kacau saat membayangkan suaminya yang berduaan dengan seorang wanita yang baru saja dia lihat diruang rapat tadi sore, dia tidak menyangka sama sekali jika wanita cantik yang sempat menarik simpatinya ternyata termasuk bagian dari salah satu masa lalu suaminya.
Sigit mendekatkan tangannya pada Winda, dia ingin memberikan rasa tenang padanya dan membuang kecanggungan yang tiba-tiba tercipta setelah ia mengungkapkan masa lalunya pada Winda.
"Sayang, ini tidak seperti yang kamu bayangkan. Kami tidak melakukan apa-apa waktu itu."
"Winda ingin pulang sekarang." ucap Winda dengan suara parau sambil mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Melihat Winda yang sudah kesal kepadanya membuat dia pasrah pada keadaan.
"Baiklah, tapi berhentilah menangis."
Sigit hanya melihat istrinya yang berulang kali mengelap air matanya dengan tissue, ia melihat mata Winda sembab karena menangis.
Ada rasa menyesal telah menceritakan masa lalunya pada Winda, ia tidak mengira jika akan seperti ini jadinya, ternyata istrinya belum siap mendengar kenyataan di masa lalunya sehingga dengan mudah Winda menangis. Namun bagaimanapun resikonya memang seharusnya ia mengatakannya toh lambat laun Winda suatu saat pasti akan mengetahuinya entah sekarang, besok atau lusa, menurut Sigit kejujuran merupakan salah satu kunci utama dalam menjalin sebuah hubungan.
Sigit memutar kemudi melajukan mobilnya keluar dari halaman masjid yang sudah dari tadi mesinnya hidup, ia mengemudikan mobilnya dengan pelan sambil mencari tempat untuk makan malam mereka.
Tepat didepan restoran Sigit menghentikan mobilnya, ia mematikan mesinnya dan mengajak Winda turun, namun Winda masih terdiam tidak merespon ajakannya.
"Makan dulu ya."
"Winda tidak lapar."
Sigit terdiam mendengar jawaban Winda sambil menggigit bibir bawahnya dengan sebelah alisnya terangkat pasrah dengan sikap istrinya yang sedang marah. Menurut Sigit percuma saja jika ia terus membujuknya, Winda sudah pasti akan menolaknya dengan berjuta alasan.
"Baiklah kita langsung pulang saja kalau begitu."
Sigit melajukan mobilnya kembali kejalan raya, dia melihat jam tangannya sudah pukul setengah delapan malam, diapun menambah kecepatan mobilnya mengingat sudah ditunggu kedatangannya oleh kedua orang tua dan mertuanya yang sudah datang dari kemarin mengingat besok ada acara wisudanya dan Winda di kampus.
Sigit sudah mempersiapkan semuanya tanpa sepengetahuan istrinya dengan dibantu mami dan ibu mertuanya ketika dia mengantar Winda ke rumah sakit pagi tadi.
Winda memalingkan wajahnya dari suaminya, selama perjalanan pandangannya selalu melihat didepan hingga sampailah mobil mereka melewati gerbang besi memasuki halaman luas papi Winata.
Winda tidak bergeming dari tempatnya ketika mesin mobil sudah dimatikan Sigit, dia masih diam duduk di samping kemudi walaupun Sigit sudah memanggilnya berkali-kali. Sigit meraih tangan Winda namun dengan cepat tangannya selalu dihempaskan oleh Winda. Sigit tahu jika istrinya masih kesal dengan dirinya.
"Win... sayang... sudah sampai rumah, ayo turun dulu."
"Gak. Winda ingin pulang dikontrakan saja."
"Kamu tidak ingin menemui ibu?"
__ADS_1
Mendengar ucapan Sigit menyebut panggilan ibu membuat Winda terkejut, dia tau bahwa panggilan ibu yang diucapkan Sigit adalah sebutan untuk ibunya, Winda menolehkan kepalanya kearah suaminya.
Sigit tersenyum kecil melihat Winda menoleh padanya, wajahnya terlihat tenang sambil menganggukkan kepalanya seakan tau apa yang ada dalam pikiran Winda.
"Iya, ibu dan bapak sudah menunggumu, mereka sudah datang ke rumah dari kemarin sore, abang yang memberi kabar kepada mereka jika besok kita wisuda." jelas Sigit pada Winda.
Winda memandang Sigit sekilas kemudian buru-buru membuka pintu mobil ingin sekali menemui kedua orang tuanya, namun pintunya tidak bisa ia buka karena kuncinya dikendalikan oleh Sigit. Diapun melihat Sigit lagi yang tersenyum memandang dirinya.
"Matamu sembab, pasti itu akan mengundang pertanyaan orang tua kita. Apa yang akan kamu katakan jika mereka bertanya?"
Sigit menunjuk kaca spion diatasnya memberitahukan keadaan Winda yang terlihat jelas matanya sembab terlihat habis menangis. Winda pun melihat matanya sekilas di kaca lalu mengalihkan pandangan ke arah pintu membuang muka dari Sigit.
"Tenang aja, Winda akan menjawabnya dengan baik. Jangan hawatir." jawab Winda masih terdengar kesal kepadanya.
Sigit memencet tombol yang berada dipintu disampingnya, membiarkan Winda membuka pintu mobil dan berjalan mendahuluinya memasuki rumah besar papi Winata.
Sigit memaklumi sikap Winda yang meninggalkan dirinya didalam mobil begitu saja, bagaimanapun seorang anak walaupun sudah menikah pasti akan senang jika bertemu orang tuanya apalagi mengingat sudah lama juga mereka tidak bertemu. Sigit melangkahkan kakinya memasuki rumah papinya, namun begitu sampai dibalik pintu ia mendapati Winda yang sedang berdiri diam seperti sengaja menunggu dirinya, Sigit menghentikan langkahnya berdiri disamping Winda mencari tahu apa sebabnya.
Sigit memperhatikan Winda dengan mengangkat alisnya seakan menanyakan kenapa berhenti didepan pintu. Winda hanya diam terpaku menatap wajah Sigit didepannya kemudian menundukkan kepalanya.
"Ada apa hm? kenapa berhenti disini?"
Sigit menggamit lengan Winda yang masih membisu tidak menjawab pertanyaannya.
"Hey... ada apa?" tanya Sigit semakin penasaran, tidak lama Winda pun mengangkat kepalanya menatap pemilik kedua bola mata didepannya.
"Aku tidak ingin membuat orang tua kita sedih dan tidak tenang ketika mengetahui keadaan rumah tangga kita seperti ini, itu hanya akan membuat mereka selalu memikirkan kita tidak baik walaupun kita sudah baik-baik saja, dimana kita sudah tidak ada masalah lagi." jelas Winda.
Sigit terdiam, tersentuh hatinya mendengar alasan kenapa istrinya berhenti menunggunya dibalik pintu.
"Paling tidak ini aku lakukan demi orang tua kita, walaupun masalah diantara kita berdua belum selesai sampai disini, tetaplah bersikap seperti rencana awal kalian, bersikaplah seolah-olah aku belum mengetahui kedatangan ibu dan bapak." lanjut Winda mengatakan rencananya sambil meletakkan tangan Sigit dipundaknya lalu kedua tangannya memeluk pinggang Sigit dan menyandarkan kepalanya di dada Sigit.
Sigit memandang kepala Winda yang tertutup hijab sedang bersandar di dadanya, dia tidak mengira jika istrinya bisa berpikir seperti itu, iapun mengikuti keinginan Winda dan memapahnya berjalan menuju kamarnya yang melewati ruang makan seperti dua sejoli yang sedang jatuh cinta.
Sesuai permintaan Winda, begitu mereka sampai diruang makan Winda terkejut melihat kedua orang tuanya berada di sana, dia melepaskan pelukan tangannya dari pinggang suaminya lalu menghambur ke pelukan ibu dan bapaknya.
Winda benar-benar merasa senang bertemu dengan ibu bapaknya, jadi tidak begitu sulit untuknya berpura-pura senang saat dirinya bertemu mereka walaupun keadaan kedua matanya sembab. Paling tidak menurutnya orang tuanya melihat dirinya baik-baik saja.
"Assalamualaikum ibu, bapak Winda kangen... mi, pi..." ucap Winda sambil mencium punggung tangan orang tuanya bergantian yang diikuti Sigit kemudian.
__ADS_1
"Waalaikumsalam nak..." jawab mereka serempak.
Mereka berbincang-bincang dan bercanda beberapa saat, setelah itu keempat orang tua mereka terheran melihat mata Winda yang sembab, sehingga suasana hening seketika dan memperhatikan yang sedang dibicarakan.
"Mata kamu kenapa sembab begitu Win? seperti habis nangis?"
"Kalian baik-baik saja kan?"
"Iya, matanya sembab, tidak seperti biasanya."
Pertanyaan dari ibu dan mami beruntun setelah memperhatikan Winda. Pak Idris terdiam tidak berkata-kata karena jika ikut bertanya itu berarti dirinya terkesan sudah mencampuri urusan rumah tangga putrinya, jadi menurutnya tindakan yang tepat saat ini baginya adalah diam. Sementara papi Winata terheran dan menanyakannya pada putranya yang dijawab Sigit dengan mengangkat kedua tangan dan pundaknya seperti bahasa tubuh, seolah-olah menjawab tidak terjadi apa-apa.
Melihat tingkah suaminya, Winda pun segera menjawab.
"Iya bu, mi, pak, pi... Winda memang habis menangis, itu karena abang yang tidak mau nurutin Winda yang masih ingin berlama-lama di taman Monas tadi." jawab Winda sambil cemberut sambil menundukkan kepalanya.
Jawaban Winda justru membuat keempat orang tua mereka tertawa mendengarnya yang diikuti senyum kecil Sigit.
"Ha ha ha ha ha... Winda, Winda masih kayak anak kecil aja kamu."
"Aku tidak ingin membuat orang tua kita sedih dan tidak tenang ketika mengetahui keadaan rumah tangga kita seperti ini, itu hanya akan membuat mereka selalu memikirkan kita tidak baik walaupun kita sudah baik-baik saja, dimana kita sudah tidak ada masalah lagi."
Sigit teringat kalimat istrinya ketika mereka berada dibalik pintu, dia memperhatikan Winda yang sedang tersenyum kepada orang tuanya.
Sigit memperhatikan keseruan antara istrinya dan keempat orang tuanya, dia memandang istrinya tidak berkedip sambil berkata dalam pikirannya sendiri.
" Winda, benar apa yang kamu bilang, merekalah segalanya, dengan melihat mereka gembira itu bisa membuat hati kita tenang, tetapi jika sikap kita memperlihatkan kekalutan hati kita, itu akan membuat mereka bersedih, sudah saatnya kita membuat mereka tersenyum karena mereka sudah merawat kita sedari kandungan hingga dewasa, dan kita tidak akan bisa membalas jasa mereka selama ini."
.
.
.
.
Bersambung...🤗🤗
Saranghe...💞💞
__ADS_1